Mag-log inTekanan hawa dingin yang menguar dari tubuh pria bersetelan jas membuat napas Sugiono mendadak terasa berat.
Udara di sekitar halaman gubuk serasa membeku. Empat emak-emak yang tadinya antre dengan wajah menor, tergeletak tak berdaya di atas tanah.
Mereka pingsan dengan bibir yang perlahan membiru akibat hantaman energi pelet dan teluh tingkat tinggi.
Sugiono melangkah keluar melewati daun pintu bambu yang baru saja hancur berkeping-keping. Matanya tertuju lurus pada jari manis pria misterius. Sebuah cincin dengan bentuk lilitan yang sama persis dengan miliknya terpasang, hanya saja batu akiknya berwarna merah darah, berbeda dengan milik Sugiono yang hitam pekat.
"Jadi... cincin ini ada pasangannya...?" gumam Sugiono. Suaranya tetap diusahakan tenang meski dadanya bergemuruh hebat.
Pria jas hitam menyeringai sinis. Suaranya terdengar menggema basah. "Cincin Akik Hitam Jagad Pamungkas yang kamu temukan di tepi sungai adalah milik guruku. Sepasang dengan Akik Merah Delima milikku. Orang tua tidak tahu diri sepertimu tidak berhak memegang pusaka keramat hanya untuk memijat janda-janda desa!"
Seketika, pria musuh mengayunkan tangan ke depan. Sebuah gelombang angin berhawa sedingin es melesat cepat, memotong rerumputan liar di halaman hingga rata dengan tanah. Target serangan jelas mengarah ke leher Sugiono.
Wusss....!
Sugiono tidak tinggal diam. Cincin akik hitam di jarinya mendadak berdenyut liar, menyalurkan hawa panas yang langsung menaikkan adrenalin bertarung. Dengan gerakan yang jauh lebih lincah dari usianya, Sugiono melompat mundur.
Gelombang es menghantam tiang penyangga gubuk hingga retak dan diselimuti lapisan es tipis berwarna putih.
"Kurang ajar! Kamu sudah merusak gubuku, tempatku mencari nafkah!" bentak Sugiono.
Pria musuh tersenyum meremehkan. "Mati saja kamu, Tua Bangka!"
Tanpa menunggu lama, pria jas hitam kembali merapat. Gerakannya sangat cepat. Tangannya yang berbalut cincin merah delima mengarah lurus ke ulu hati Sugiono. Pukulan membawa angin menderu yang sanggup meremukkan dada seekor kerbau.
Sugiono langsung memusatkan seluruh tenaga dalam dari dasar perut menuju telapak tangan kanan. Jurus tenaga dalam penghancur karang yang semalam digunakan untuk menghabisi siluman ular, kini dibenturkan langsung untuk menahan serangan pria misterius.
Blarrr!
Dua kekuatan berlawanan—panas membara dari akik hitam dan dingin membeku dari akik merah berbenturan keras di udara. Benturan energi menciptakan gelombang kejut yang membuat debu-debu di halaman gubuk beterbangan tinggi.
Sugiono merasakan telapak tangannya bergetar hebat. Langkah kakinya terseret mundur hingga beberapa meter, menyisakan dua jalur kerukan dalam di tanah basah. Sementara posisi pria jas hitam hanya bergeming di tempat, meski ekspresi wajah sedikit terkejut melihat Sugiono mampu menahan pukulan tanpa terluka.
"Lumayan juga tenaga dalammu, Sugiono. Tapi pusaka hitam belum sepenuhnya menyatu dengan darahmu!" ucap pria musuh sombong.
Pria misterius kembali mengangkat tangan, bersiap merapal mantra yang jauh lebih mematikan.
Hawa merah darah mulai menyelimuti seluruh tubuh, membentuk bayangan kepala ular naga raksasa di udara.
Sugiono berdiri tegak, napasnya memburu. Dia tahu, jika hanya mengandalkan benturan tenaga mentah, dia bisa kalah karena baru sehari memegang pusaka. Matanya melirik kotak kayu kecil di dalam gubuk yang terlihat dari pintu hancur. Di dalam kotak ada mustika ular gaib hasil rampasan semalam yang belum sempat diolah.
"Kalau hawa panas cincin digabungkan dengan energi murni dari mustika ular semalam... kekuatannya pasti bisa berlipat ganda," batin Sugiono bersiasat cepat.
Sebelum bayangan naga merah meluncur, Sugiono melompat cepat ke dalam gubuk. Tangan kirinya menyambar kotak kayu, membuka penutup, lalu langsung menelan bulat-bulat kelereng merah mustika ular gaib tanpa dikunyah.
Glek!
Seketika rasa terbakar hebat menjalar di tenggorokan Sugiono. Cincin akik hitam di jarinya bergetar luar biasa hingga mengeluarkan bunyi mendenging nyaring.
Energi panas dari mustika ular langsung diserap habis batu akik hitam, menciptakan gelombang tenaga baru yang mengalir deras memenuhi setiap pembuluh darah. Otot lengan Sugiono mendadak mengeras kuat, ukurannya membesar seketika dengan urat-urat yang menonjol tegang.
Pria jas hitam yang melihatnya langsung mengibaskan tangan. Bayangan naga merah raksasa melesat cepat menghantam gubuk. "Mati!"
Sugiono yang sudah dipenuhi tenaga baru langsung berputar arah menghadap keluar. Dia memasang kuda-kuda kokoh, menarik tangan kanan ke belakang pinggang, lalu menghantamkan pukulan ke depan dengan kekuatan penuh.
"Jurus Penghancur Karang Tingkat Dua!" bentak Sugiono menggelegar.
BOOMMM!
Hawa panas setara kobaran api raksasa meledak dari telapak tangan Sugiono. Pukulan tenaga dalam berlapis mustika ular membentur hancur bayangan naga merah hingga buyar menjadi asap. Tidak berhenti di sana, sisa gelombang pukulan Sugiono melesat maju menghantam dada pria jas hitam tanpa ampun.
Brakkk!
Pria jas hitam langsung terpental sejauh lima meter ke belakang. Tubuhnya menghantam pohon melinjo hingga tumbang. Pria musuh terduduk di tanah sambil memegangi dadanya, lalu memuntahkan darah segar berulang kali.
Krek!
Suara retakan terdengar. Cincin akik merah delima di jari manis pria musuh tampak retak bergaris putih, sinarnya langsung meredup drastis.
Wajah pria jas hitam berubah pucat pasi, matanya melotot ketakutan menatap Sugiono yang berdiri tegak dikelilingi hawa panas. "Ba-bagaimana mungkin... kamu bisa menyerap energi mustika secepat ini?!"
Sugiono berjalan pelan mendekat dengan tatapan mata tajam mengancam. "Siapa yang menyuruhmu datang kemari? Juragan Broto?"
Pria jas hitam buru-buru bangkit berdiri sambil sempalan menahan sakit di dada. Dia menyeka darah di bibir dengan punggung tangan. "Urusan kita belum selesai, Sugiono! Kelompok kami pasti akan datang lagi mengambil kembali pusaka Jagad Pamungkas!"
Wusss....!
Pria musuh melemparkan gumpalan asap hitam ke tanah, menciptakan ledakan kabut pekat yang menghalangi pandangan. Begitu asap tertiup angin hilang, sos
ok pria bersetelan jas sudah lenyap melarikan diri meninggalkan halaman gubuk.
"Ada apa? Kamu memanggilku, Dita? Aku kan sudah berapa kali bilang, kalau aku hanya pulang sekali dalam setahun! Aku sedang banyak pekerjaan, kamu ini pikirannya selalu kemana-mana!" bentak Bayu dengan nada tinggi, melemparkan ponselnya ke atas meja tamu.Dita mengerjap, menatap suaminya dengan dada bergemuruh. "Kamu selalu bertanya kapan aku pulang, aku dengan siapa... Tentu saja aku bersama sekretarisku! Itupun hanya membahas pekerjaan...!"Bayu mendengus kesal karena terus dicecar pertanyaan, sementara ponsel di sakunya kembali berdering nyaring beberapa kali dalam sehari."Mas, apa kamu tidak mulai memikirkan untuk rumah tangga kita?" suara Dita melemah, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya. "Kita sudah cukup banyak uang untuk memperoleh kehidupan kita, kalau memang kita mencukupinya. Lagian aku sudah lebih dari cukup dengan uang yang kamu berikan selama ini."Bayu mendecak pinggang, menatap tajam istrinya. "Dita, ini bukan hanya perkara uang! Ini masalah tanggung jawab.
Matahari pagi menyinari halaman samping rumah yang dipenuhi pohon jambu. Sugiono memegang gunting tanaman, sibuk merapikan dahan liar. Siti berjalan mendekat membawa mug keramik berisi kopi hangat."Nyonya sangat suka mengoleksi pohon jambu, jadinya ya begitulah, Pakde. Kalau lelah, istirahat saja," kata Siti sambil menyerahkan kopi. "Ngomong-ngomong, Pakde asalnya dari kampung mana? Sepertinya bukan orang asli Jakarta.""Saya merantau dari desa Wakanda, desa terpencil di Jawa Tengah," jawab Sugiono singkat.Siti tersenyum malu-malu, matanya melirik memperhatikan postur tubuh Sugiono yang padat dan berisi di balik celana kainnya. "Walah, pantas saja. Kalau cari rezeki memang harus siap kerja apa saja."Bipp... Bipp...!Suara klakson mobil meraung keras dari arah gerbang depan."Dari tadi saya klakson, kenapa pagarnya tidak dibuka? Kamu ini sudah lama bekerja di sini, Ujang!" bentak suara seorang pria dari dalam mobil.Ujang berlari tergopoh-gopoh membuka pagar. "Maaf, Tuan... Saya tad
"Yono, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dita cemas. Tatapannya tertumbuk pada tas ransel kosong dan kerangkeng besi di tangan Sugiono.Sugiono menunduk, merapikan tali ransel di bahu. "Aku sudah dipecat dari proyek pembangunan, Bu Dita."Ibu Dita yang berdiri di samping putrinya langsung mendelik kaget, sebelah tangan menutup mulut. "Astaga! Siapa yang berani memecatmu...?""Ceritanya panjang, Bu. Kalau begitu, karena sudah tidak ada barang yang mau diangkat, saya pamit permisi dulu mau cari jalan," jawab Sugiono datar, berniat segera melangkah pergi menghindari kerumitan."Eh, jangan pergi dulu!" cegah Ibu Dita cepat, menahan lengan putrinya. "Dita, kamu ajak Pakde ini untuk ikut bersama kita di rumah saja. Kasihan, loh, sudah jam segini tapi dia malah mau pergi entah ke mana."Dita mengangguk cepat, mendukung penuh usul sang ibu. "Betul kata Mama, Yono. Sebaiknya kamu ikut kami masuk ke mobil belakang, ambil alih juga kerangkeng besi mu itu. Kucing belang, kucingmu kan?""Iya,
Wanita berambut kecoklatan itu menghentikan usaha sejenak. Ia menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu merosotkan sedikit kacamata minus yang bertengger di hidung pesek. Mengamati penampilan Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Perut wanita itu tampak sedikit buncit di balik balutan blus kerja, sementara bibir yang merona merah.Wanita itu melihat perawakan Sugiono yang kurus kering, pakaian kerja yang sudah kusut berdebu semen, serta kerangkeng besi berisi kucing yang diletakkan tidak jauh dari sana."Loh, memangnya Pakde bisa? Saya ragu kalau Pakde mau mengangkat koper ini. Berat sekali isi koper, penuh dengan buku laporan dan dokumen kantor," kata wanita itu dengan nada sangsi. "Tapi memang kebetulan, saya sedang mencari orang buat ngangkat barang karena troli di stasiun tadi penuh semua.""Tentu saja bisa, Bu. Saya masih kuat mengangkat koper. Jangan lihat dari luar saja. Otot saya masih sanggup membawa beban berat seperti ini," ujar Sugiono
Perampok bertato yang memegang celurit itu melangkah menyusuri lorong bus, merampas dompet dari tangan para penumpang secara paksa. Begitu tiba di deretan kursi Sugiono, ia melihat buruh paruh baya itu duduk dengan tenang tanpa menyerahkan apa pun."Heh, kakek tua! Tuli ya? Dompet dan tasmu, serahkan cepat sebelum kusebelah lehermu!" bentak sang perampok sambil mengarahkan ujung celuritnya ke depan wajah Sugiono.Sugiono mendengus pelan sambil mengusap hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tetap memegang kerangkeng besi Dita."Majulah," tantang Sugiono datar.Melihat perawakan Sugiono yang terlihat tua dan ringkih, perampok itu tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan buruh itu sebagai bentuk keputusasaan."Wah, cari mati rupanya si kakek tua ini!" geram sang perampok. Ia melayangkan tendangan keras mengarah ke dada Sugiono.Namun, sebelum sepatu bot perampok itu menyentuh sasaran, kaki Sugiono bergerak cepat. Dengan tenaga dari cincin di jarinya, kaki Sugiono meng
"Hei, jangan hanya menyuap kepala lele itu ke mulutmu! Daging bagian punggung yang empuk untukku, ingat perjanjian kita," protes Dita dari dalam kerangkeng besi dengan suara berbisik tajam.Sugiono mendengus pelan, memisahkan bagian daging lele yang bersih lalu menyarungkannya ke sela-sela jeruji besi menggunakan lidi sate. "Makan saja yang banyak biar tenagamu pulih. Jangan banyak protes kalau tidak mau kutinggal di pinggir jalan."Dita menyambar potongan ikan itu dengan gerigi taringnya yang menyamar, menggerutu pelan sambil mengunyah makanan. "Awas saja kalau kita sudah sampai di tempat tujuan. Akan kuubah wujudmu jadi kodok sawah karena sudah memperlakukan siluman sepertiku begini!"Abang penjual pecel lele yang kembali datang membawakan es teh manis melirik sekilas ke arah kerangkeng, lalu tersenyum maklum melihat Sugiono seolah sedang menanggapi gerutuan kucingnya sendiri."Silakan diminum es tehnya, Pakde. Maklum ya, kucingnya aktif banget dari tadi malam," ujar si abang penjua







