Compartir

Bab 6

Autor: NamNamjoo
last update Fecha de publicación: 2026-07-03 19:54:41

Tekanan hawa dingin yang menguar dari tubuh pria bersetelan jas membuat napas Sugiono mendadak terasa berat. 

Udara di sekitar halaman gubuk serasa membeku. Empat emak-emak yang tadinya antre dengan wajah menor, tergeletak tak berdaya di atas tanah. 

Mereka pingsan dengan bibir yang perlahan membiru akibat hantaman energi pelet dan teluh tingkat tinggi.

Sugiono melangkah keluar melewati daun pintu bambu yang baru saja hancur berkeping-keping. Matanya tertuju lurus pada jari manis pria misterius. Sebuah cincin dengan bentuk lilitan yang sama persis dengan miliknya terpasang, hanya saja batu akiknya berwarna merah darah, berbeda dengan milik Sugiono yang hitam pekat.

"Jadi... cincin ini ada pasangannya...?" gumam Sugiono. Suaranya tetap diusahakan tenang meski dadanya bergemuruh hebat.

Pria jas hitam menyeringai sinis. Suaranya terdengar menggema basah. "Cincin Akik Hitam Jagad Pamungkas yang kamu temukan di tepi sungai adalah milik guruku. Sepasang dengan Akik Merah Delima milikku. Orang tua tidak tahu diri sepertimu tidak berhak memegang pusaka keramat hanya untuk memijat janda-janda desa!"

Seketika, pria musuh mengayunkan tangan ke depan. Sebuah gelombang angin berhawa sedingin es melesat cepat, memotong rerumputan liar di halaman hingga rata dengan tanah. Target serangan jelas mengarah ke leher Sugiono.

Wusss....!

Sugiono tidak tinggal diam. Cincin akik hitam di jarinya mendadak berdenyut liar, menyalurkan hawa panas yang langsung menaikkan adrenalin bertarung. Dengan gerakan yang jauh lebih lincah dari usianya, Sugiono melompat mundur. 

Gelombang es menghantam tiang penyangga gubuk hingga retak dan diselimuti lapisan es tipis berwarna putih.

"Kurang ajar! Kamu sudah merusak gubuku, tempatku mencari nafkah!" bentak Sugiono.

Pria musuh tersenyum meremehkan. "Mati saja kamu, Tua Bangka!"

Tanpa menunggu lama, pria jas hitam kembali merapat. Gerakannya sangat cepat. Tangannya yang berbalut cincin merah delima mengarah lurus ke ulu hati Sugiono. Pukulan membawa angin menderu yang sanggup meremukkan dada seekor kerbau.

Sugiono langsung memusatkan seluruh tenaga dalam dari dasar perut menuju telapak tangan kanan. Jurus tenaga dalam penghancur karang yang semalam digunakan untuk menghabisi siluman ular, kini dibenturkan langsung untuk menahan serangan pria misterius.

Blarrr!

Dua kekuatan berlawanan—panas membara dari akik hitam dan dingin membeku dari akik merah berbenturan keras di udara. Benturan energi menciptakan gelombang kejut yang membuat debu-debu di halaman gubuk beterbangan tinggi.

Sugiono merasakan telapak tangannya bergetar hebat. Langkah kakinya terseret mundur hingga beberapa meter, menyisakan dua jalur kerukan dalam di tanah basah. Sementara posisi pria jas hitam hanya bergeming di tempat, meski ekspresi wajah sedikit terkejut melihat Sugiono mampu menahan pukulan tanpa terluka.

"Lumayan juga tenaga dalammu, Sugiono. Tapi pusaka hitam belum sepenuhnya menyatu dengan darahmu!" ucap pria musuh sombong.

Pria misterius kembali mengangkat tangan, bersiap merapal mantra yang jauh lebih mematikan. 

Hawa merah darah mulai menyelimuti seluruh tubuh, membentuk bayangan kepala ular naga raksasa di udara.

Sugiono berdiri tegak, napasnya memburu. Dia tahu, jika hanya mengandalkan benturan tenaga mentah, dia bisa kalah karena baru sehari memegang pusaka. Matanya melirik kotak kayu kecil di dalam gubuk yang terlihat dari pintu hancur. Di dalam kotak ada mustika ular gaib hasil rampasan semalam yang belum sempat diolah.

"Kalau hawa panas cincin digabungkan dengan energi murni dari mustika ular semalam... kekuatannya pasti bisa berlipat ganda," batin Sugiono bersiasat cepat.

Sebelum bayangan naga merah meluncur, Sugiono melompat cepat ke dalam gubuk. Tangan kirinya menyambar kotak kayu, membuka penutup, lalu langsung menelan bulat-bulat kelereng merah mustika ular gaib tanpa dikunyah.

Glek!

Seketika rasa terbakar hebat menjalar di tenggorokan Sugiono. Cincin akik hitam di jarinya bergetar luar biasa hingga mengeluarkan bunyi mendenging nyaring. 

Energi panas dari mustika ular langsung diserap habis batu akik hitam, menciptakan gelombang tenaga baru yang mengalir deras memenuhi setiap pembuluh darah. Otot lengan Sugiono mendadak mengeras kuat, ukurannya membesar seketika dengan urat-urat yang menonjol tegang.

Pria jas hitam yang melihatnya langsung mengibaskan tangan. Bayangan naga merah raksasa melesat cepat menghantam gubuk. "Mati!"

Sugiono yang sudah dipenuhi tenaga baru langsung berputar arah menghadap keluar. Dia memasang kuda-kuda kokoh, menarik tangan kanan ke belakang pinggang, lalu menghantamkan pukulan ke depan dengan kekuatan penuh.

"Jurus Penghancur Karang Tingkat Dua!" bentak Sugiono menggelegar.

BOOMMM!

Hawa panas setara kobaran api raksasa meledak dari telapak tangan Sugiono. Pukulan tenaga dalam berlapis mustika ular membentur hancur bayangan naga merah hingga buyar menjadi asap. Tidak berhenti di sana, sisa gelombang pukulan Sugiono melesat maju menghantam dada pria jas hitam tanpa ampun.

Brakkk!

Pria jas hitam langsung terpental sejauh lima meter ke belakang. Tubuhnya menghantam pohon melinjo hingga tumbang. Pria musuh terduduk di tanah sambil memegangi dadanya, lalu memuntahkan darah segar berulang kali.

Krek!

Suara retakan terdengar. Cincin akik merah delima di jari manis pria musuh tampak retak bergaris putih, sinarnya langsung meredup drastis.

Wajah pria jas hitam berubah pucat pasi, matanya melotot ketakutan menatap Sugiono yang berdiri tegak dikelilingi hawa panas. "Ba-bagaimana mungkin... kamu bisa menyerap energi mustika secepat ini?!"

Sugiono berjalan pelan mendekat dengan tatapan mata tajam mengancam. "Siapa yang menyuruhmu datang kemari? Juragan Broto?"

Pria jas hitam buru-buru bangkit berdiri sambil sempalan menahan sakit di dada. Dia menyeka darah di bibir dengan punggung tangan. "Urusan kita belum selesai, Sugiono! Kelompok kami pasti akan datang lagi mengambil kembali pusaka Jagad Pamungkas!"

Wusss....!

Pria musuh melemparkan gumpalan asap hitam ke tanah, menciptakan ledakan kabut pekat yang menghalangi pandangan. Begitu asap tertiup angin hilang, sos

ok pria bersetelan jas sudah lenyap melarikan diri meninggalkan halaman gubuk.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pakde sang Penakluk    117 Tawaran Gendis

    "Satu, dua, tiga... pas sepuluh lembar. Seratus ribuan," cengir preman itu sambil memasukkan uang tersebut ke saku jaketnya. Ia menatap Sugiono dengan nada sinis. "Nah, begini dong kalau ditagih itu langsung bayar! Jangan bilang nanti-nanti, ngeles mulu kayak bajaj. Kan enak kalau begini, kita sama-sama nagih nggak perlu pakai kekerasan fisik segala."Temannya mengangguk-angguk setuju sambil melirik tajam ke arah Gendis yang masih berdiri ketakutan di sudut ruangan."Kalau begitu, berhubung urusan hari ini sudah beres, kami pulang dulu. Satu minggu lagi kami datang lagi menagih sisa utangnya!" ucap preman itu dengan nada mengancam.Tanpa membuang waktu, keduanya berbalik badan dan melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara deru mesin motor bebek Supra tua terdengar meraung-raung di halaman, meninggalkan kepulan asap tipis saat mereka tancap gas meninggalkan perkampungan.Suasana di dalam rumah kembali sunyi. Gendis yang sedari tadi menahan napas dan gemetar hebat langsung terdud

  • Pakde sang Penakluk    116 Tagihan hutang

    Gendis menatap lekat lembar uang di telapak tangannya. Suaranya bergetar pelan."Pakde... aku sangat malu nerima uang ini," ucap Gendis tertunduk, air matanya kembali meleleh di pipi.Sugiono langsung berdiri dari duduknya. Tanpa membuang waktu, ia dengan sigap menyuruh Gendis menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat."Tutup pintunya, Nduk," perintah Sugiono tegas.Namun, sebelum Sugiono sempat melangkah keluar melewati ambang pintu, suara dobrakan keras terdengar dari luar.Brak!Pintu kayu tipis itu terbuka paksa. Dua orang preman bertubuh gempal dengan tato ular melingkar di leher langsung nyelonong masuk ke dalam rumah."Heh, Gendis! Di mana suami sialanmu itu, hah?!" bentak preman pertama berbadan penuh tato sambil melotot tajam.Gendis terperanjat kaget, mundur sampai menubruk dinding. "B-bang Sobir belum pulang...""Halah, alasan saja! Bilang saja kalau kamu sengaja menyembunyikan suami buronan itu!" timpal preman kedua dengan suara parau. "Ini sudah minggu ketiga, lho!

  • Pakde sang Penakluk    115. Gendis

    Sugiono merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di atas meja kayu kecil."Buatmu, Nduk," kata Sugiono pelan sambil mendorong uang itu mendekat ke arah Gendis.Mata Gendis membelalak kaget. Ia spontan menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya. "Loh, Pakde... tidak usah, Pakde! Simpan saja buat keperluan Pakde sendiri."Sugiono menatap iparnya dengan sorot mata teduh. "Ambil saja, Nduk. Tidak enak menolak rezeki. Lagian kamu sama Sobir kan baru saja kena musibah kemarin," ujarnya tegas tapi lembut.Gendis menunduk, merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya diselimuti rasa terharu yang amat sangat. Di tengah himpitan hidup yang menghimpitnya dan sang suami, hanya kakak ipar tua ini yang datang menengok dan memberi perhatian nyata. Gendis tahu persis watak Sobir suaminya dan Sugiono memang sangat berbeda jauh, meskipun keduanya mengalir darah yang sama. Sobir sering kali egois dan pemarah, seme

  • Pakde sang Penakluk    114. 100 Juta

    Mobil.. Udin perlahan meninggalkan halaman gubuk. Asap knalpotnya mengepul tebal sebelum hilang di tikungan jalan desa.Samsul langsung merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan kilat. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka aplikasi m-banking. Begitu logo loading selesai berputar, mata Samsul melotot nyaris keluar. Rahangnya jatuh."Buset... Yon!" teriak Samsul histeris. Ia melompat dari kursi bambu, berlari menghampiri Sugiono sambil menyodorkan layar ponselnya. "Lihat nih! Kamu lihat ini, Yon!"Sugiono yang sedang merapikan asbak dan sisa puntung rokok, menoleh pelan. "Ada apa sih, Sul? Teriak-teriak kayak orang kesurupan.""Matamu itu yang kesurupan! Baca ini nolnya ada berapa, Mbah!" Samsul menggebrak meja saking girangnya. "Seratus juta, Yon! Seratus juta rupiah! Si Udin ini pejabat atau bandar korupsi sih?! Cuma modal mijet jelly lembek tiga menit, bayarannya seratus juta!"Sugiono melirik layar ponsel itu sebentar. Tidak ada raut kaget yang berlebihan di wajah

  • Pakde sang Penakluk    113 Telur Bebek

    Samsul keluar dari dapur dengan langkah cepat. Di tangannya terdapat sebuah gelas kaca besar berisi cairan kental berwarna kuning kecokelatan."Ini dia, Pak Udin. Ramuan khusus VIP Platinum! Tiga butir kuning telur bebek asli, lada hitam tumbuk kasar, sama madu klanceng pilihan," seru Samsul sambil meletakkan gelas itu dengan bangga di atas meja.Bau amis seketika menguar di udara, bercampur dengan aroma tajam lada.Sugiono mengambil sebuah sarung kotak-kotak yang terlipat di atas dipan, lalu melemparkannya ke pangkuan Udin."Silakan, Pak. Diminum dulu ramuannya sampai habis," perintah Sugiono dengan nada datar. "Habis itu Bapak ganti celananya pakai sarung ini."Udin menatap gelas besar itu dengan ragu. "Baunya amis banget ya, Pakde.""Amis di mulut cuma sebentar, Pak. Manisnya di rumah nanti malam kerasa sampai subuh," timpal Samsul sambil mengedipkan mata, menyemangati layaknya pelatih tinju. "Ayo, tarik napas, langsung sikat habis!"Udin memencet hidungnya sendiri, memejamkan mata

  • Pakde sang Penakluk    112 Pasien dari kota

    Samsul menarik sebuah kursi bambu di teras gubuk dan mempersilakan tamunya duduk. Pria bernama Udin itu mendaratkan pantatnya dengan hati-hati.Samsul langsung menyodorkan segelas kopi hitam panas yang baru diseduhnya. "Silahkan diminum dulu, Pak, kopinya. Sambil ngerokok juga santai aja di sini."Udin mengangguk kaku, senyumnya tampak canggung. "Hehe, iya. Terimakasih, Mas."Sore itu Udin tampil sangat rapi. Ia mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang, setelan khas pejabat pemerintah dari kota, sangat kontras dengan pemandangan sekitar gubuk Sugiono yang dikelilingi sawah dan pepohonan pisang.Sugiono melangkah keluar dari dalam gubuk, mengenakan sarung pudar dan kaus oblong. Ia duduk di kursi kayu berhadapan dengan Udin. Tangan tuanya mengangkat gelas seng berisi kopi, lalu menyesapnya perlahan."Bapak tahu dari mana tempat pemijatan saya?" tanya Sugiono dengan nada datar sambil menatap tajam tamunya.Udin merapikan letak kacamatanya yang sedikit merosot. "Saya lihat di iklan

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status