Share

Bab 5

Penulis: NamNamjoo
last update Tanggal publikasi: 2026-06-10 17:01:54

Siluman ular sanca mendesis keras.

Mulutnya terbuka lebar memamerkan taring melengkung meneteskan bisa hitam. Racun gaib menetes mengenai meja kayu reyot Sugiono, langsung membakar papan hingga bolong berlubang mengeluarkan asap berbau busuk.

Ular gaib melesat secepat kilat menargetkan leher Sugiono. Gerakannya sangat cepat menyambar.

Namun, insting Sugiono jauh lebih gesit. Tenaga dalam pusakanya membuat tubuh renta seolah kembali berusia dua puluh tahun. Ia menghindar ke samping, membiarkan taring siluman menancap kosong memakan angin. Tangan kanan Sugiono menyambar ke depan bagai kilat, mencengkeram kuat leher bawah kepala siluman ular.

"Cuma siluman kelas teri!" bentak Sugiono.

Siluman ular meronta ganas. Ekor panjangnya melilit membelit pinggang dan kaki Sugiono, berusaha meremukkan tulang rusuk sang dukun. Hawa dingin mematikan menyusup berusaha membekukan aliran darah Sugiono.

Sugiono tertawa meremehkan. Cincin akik di jari manisnya menyala terang benderang. Dia memusatkan seluruh hawa panas ke telapak tangan. Jurus tenaga dalam penghancur karang mengalir deras.

"Rasakan panasnya!"

Seketika, hawa panas meledak dari telapak tangan Sugiono. Sisik hitam siluman ular melepuh terbakar. Suara jeritan gaib melengking memekakkan telinga memenuhi ruang gubuk bambu. Ular sanca gaib menggeliat kepanasan, lilitan ekornya merenggang lalu terlepas lemas dari tubuh sang dukun.

Hanya butuh waktu kurang dari lima detik, seluruh wujud siluman hancur menjadi kepulan asap pekat. Abu sisa tubuhnya berjatuhan menumpuk di atas lantai tanah gubuk. Pertarungan selesai sangat cepat. Sugiono berdiri tegak tanpa luka lecet sedikit pun.

Di saat bersamaan, lima kilometer dari gubuk Sugiono, tepatnya di sebuah rumah gedong Desa Karangdowo.

"Uhukk! Buaaahh!"

Ki Jarot, dukun ilmu hitam bertubuh kurus kering, mendadak memuntahkan darah segar kental. Tubuhnya terpental ke belakang menabrak dinding kamar pusaka. Mangkok kemenyan di depannya pecah terbelah dua.

Dada Ki Jarot terasa seperti dihantam palu godam raksasa. Napasnya tersengal-sengal menahan sakit luar biasa. Koneksi batin dengan siluman ular peliharaan kesayangan putus total hancur lebur.

"Kurang ajar! Siapa orang sakti berani menghancurkan peliharaanku?!" rutuk Ki Jarot sambil mengusap darah di sudut bibir. Matanya melotot penuh dendam kesumat. "Berani-beraninya dia mencampuri urusanku menghabisi janda Tejo! Aku pasti akan mencarinya sampai dapat lalu membalas dendam berkali-kali lipat!"

Kembali ke gubuk pinggir desa.

Sugiono mengibaskan tangan, mengusir sisa asap berbau anyir menyengat. Dia mengambil sapu lidi berniat membersihkan sisa abu bangkai siluman ular berserakan di lantai. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menangkap sebuah benda kecil bersinar redup di tengah tumpukan abu hitam.

Sugiono membungkuk, memungut benda aneh sebesar kelereng. Warnanya merah darah, permukaannya hangat memancarkan energi unik.

"Mustika ular gaib?" gumam Sugiono menimang-nimang kelereng merah.

Insting dukun langsung tahu fungsi benda hasil pertarungan. Benda mistis begini punya energi panas alami sangat tinggi. Kalau dicampur ke dalam ramuan jamu tradisional, efeknya bisa membangkitkan kejantanan pria sampai seratus kali lipat lebih kuat.

"Lumayan. Bisa buat modal meracik jamu kuat khusus bapak-bapak. Setelah istrinya aku bikin lentur, suaminya aku kasih jamu mustika ular. Laris manis pasti bisnis gubukku," ucap Sugiono terkekeh membayangkan pundi-pundi uang merah segera mengalir deras memenuhi lemari.

Sugiono menyimpan mustika merah ke dalam kotak kayu kecil, lalu melangkah menuju ranjang reyot. Malam ini dia bisa tidur nyenyak memeluk segepok uang bayaran janda kaya.

Keesokan harinya, matahari baru saja naik sepenggalah. Suara riuh langkah kaki dan obrolan ramai memecah keheningan pagi di depan halaman gubuk Sugiono.

Sugiono baru selesai menyeduh kopi hitam. Dia membuka pintu bambu, sedikit terkejut melihat pemandangan di depan.

Empat orang wanita paruh baya berdandan menor sudah berdiri berbaris rapi di halaman gubuk. Semuanya membawa tas jinjing dan memakai perhiasan emas mencolok. Di barisan paling depan, berdiri sosok Susi sahabat karib Gendis bersama beberapa janda tetangga desa.

"Loh, ada acara apa pagi-pagi begini kumpul di gubuk Pakde?" tanya Sugiono pura-pura bingung, padahal hatinya sudah bersorak girang.

Susi maju selangkah, tersenyum lebar memamerkan gigi rapi. "Pakde Yono jangan pura-pura tidak tahu. Semalaman grup arisan kami heboh membicarakan Pakde! Gendis sama Bu Tejo sudah cerita panjang lebar soal kehebatan tangan Pakde menyembuhkan penyakit urat sampai tuntas."

"Iya, Pakde!" timpal seorang wanita bertubuh sintal berbaju ketat dari barisan belakang. "Kata Bu Tejo, pijatan Pakde bisa bikin badan enteng seperti perawan lagi. Saya dari semalam sudah tidak sabar mau minta diurut, pinggang saya sering encok kalau habis nyuci."

"Saya juga mau minta diurut bagian dada, Pakde. Sering sesak kalau malam," sambung wanita lainnya tak mau kalah.

Sugiono mengelus dagu perlahan, menyembunyikan senyum lebar. Rencananya sukses besar. Iklan mulut ke mulut ibu-ibu desa memang senjata marketing paling ampuh mengalahkan baliho pinggir jalan.

"Ya sudah, kalau memang pada mau berobat, antre satu-satu masuk ke gubuk. Pakde siapkan minyak urutnya dulu," ucap Sugiono kalem. "Tapi ingat syaratnya, pengobatan tenaga dalam pusaka Pakde harus kena kulit langsung tanpa penghalang kain. Kalau malu, silakan pulang berobat ke puskesmas saja."

Ibu-ibu saling pandang sejenak, lalu serempak mengangguk tanpa keraguan sedikit pun. Mendengar jaminan kesembuhan instan dari Bu Tejo dan Gendis, rasa malu mereka sudah terbang entah ke mana.

"Kalau memang bisa sembuh seperti Bu Tejo, kami siap mengikuti syarat pengobatan Pakde."

Sugiono bersiap menuangkan minyak zaitun untuk Susi. Napasnya mendadak tertahan. Cincin akik hitam di jari manis bergetar hebat, mengeluarkan suara berdenging nyaring seperti logam dipukul palu.

Dinding gubuk bambu retak-retak. Bukan karena angin, melainkan tekanan hawa dingin jauh lebih kuat daripada malam sebelumnya. Di balik kerumunan ibu-ibu yang antre, sosok pria berpenampilan rapi dengan setelan jas hitam berdiri mematung.

Menatap tajam ke arah cincin di jari Sugiono. Ibu-ibu yang antre terdiam, wajah pucat pasi, lalu serempak jatuh pingsan di tanah tanpa alasan jelas. Suasana hening mencekam. Burung di sekitar gubuk terbang menjauh.

"Kembalikan benda itu...," suaranya dingin.

Sugiono mengerutkan kening. Kekuatan besar menekan gubuk hingga tiang bambu berderit nyaring. Ki Jarot hanyalah pion kecil, ternyata pria di depan adalah pengendali sesungguhnya yang sudah lama mengincar pusaka cincin. Kehadiran pria misterius ini jauh melampaui kemampuan dukun rendahan yang mencoba menyerang semalam.

"Kau siapa?" tantang Sugiono, tangan diam-diam memusatkan tenaga dalam ke ujung jari.

Pria itu tersenyum tipis, lalu satu jentikan jari membuat pintu bambu gubuk hancur berkeping-keping. Serpihan bambu terbang menancap di dinding tanah.

"Waktumu habis, Sugiono."

Pria itu mengangkat tangan kanannya.

Di jari manisnya terpasang cincin yang bentuknya sama persis dengan milik Sugiono.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 59

    "Ada apa? Kamu memanggilku, Dita? Aku kan sudah berapa kali bilang, kalau aku hanya pulang sekali dalam setahun! Aku sedang banyak pekerjaan, kamu ini pikirannya selalu kemana-mana!" bentak Bayu dengan nada tinggi, melemparkan ponselnya ke atas meja tamu.Dita mengerjap, menatap suaminya dengan dada bergemuruh. "Kamu selalu bertanya kapan aku pulang, aku dengan siapa... Tentu saja aku bersama sekretarisku! Itupun hanya membahas pekerjaan...!"Bayu mendengus kesal karena terus dicecar pertanyaan, sementara ponsel di sakunya kembali berdering nyaring beberapa kali dalam sehari."Mas, apa kamu tidak mulai memikirkan untuk rumah tangga kita?" suara Dita melemah, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya. "Kita sudah cukup banyak uang untuk memperoleh kehidupan kita, kalau memang kita mencukupinya. Lagian aku sudah lebih dari cukup dengan uang yang kamu berikan selama ini."Bayu mendecak pinggang, menatap tajam istrinya. "Dita, ini bukan hanya perkara uang! Ini masalah tanggung jawab.

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 58

    Matahari pagi menyinari halaman samping rumah yang dipenuhi pohon jambu. Sugiono memegang gunting tanaman, sibuk merapikan dahan liar. Siti berjalan mendekat membawa mug keramik berisi kopi hangat."Nyonya sangat suka mengoleksi pohon jambu, jadinya ya begitulah, Pakde. Kalau lelah, istirahat saja," kata Siti sambil menyerahkan kopi. "Ngomong-ngomong, Pakde asalnya dari kampung mana? Sepertinya bukan orang asli Jakarta.""Saya merantau dari desa Wakanda, desa terpencil di Jawa Tengah," jawab Sugiono singkat.Siti tersenyum malu-malu, matanya melirik memperhatikan postur tubuh Sugiono yang padat dan berisi di balik celana kainnya. "Walah, pantas saja. Kalau cari rezeki memang harus siap kerja apa saja."Bipp... Bipp...!Suara klakson mobil meraung keras dari arah gerbang depan."Dari tadi saya klakson, kenapa pagarnya tidak dibuka? Kamu ini sudah lama bekerja di sini, Ujang!" bentak suara seorang pria dari dalam mobil.Ujang berlari tergopoh-gopoh membuka pagar. "Maaf, Tuan... Saya tad

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 57

    "Yono, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dita cemas. Tatapannya tertumbuk pada tas ransel kosong dan kerangkeng besi di tangan Sugiono.Sugiono menunduk, merapikan tali ransel di bahu. "Aku sudah dipecat dari proyek pembangunan, Bu Dita."Ibu Dita yang berdiri di samping putrinya langsung mendelik kaget, sebelah tangan menutup mulut. "Astaga! Siapa yang berani memecatmu...?""Ceritanya panjang, Bu. Kalau begitu, karena sudah tidak ada barang yang mau diangkat, saya pamit permisi dulu mau cari jalan," jawab Sugiono datar, berniat segera melangkah pergi menghindari kerumitan."Eh, jangan pergi dulu!" cegah Ibu Dita cepat, menahan lengan putrinya. "Dita, kamu ajak Pakde ini untuk ikut bersama kita di rumah saja. Kasihan, loh, sudah jam segini tapi dia malah mau pergi entah ke mana."Dita mengangguk cepat, mendukung penuh usul sang ibu. "Betul kata Mama, Yono. Sebaiknya kamu ikut kami masuk ke mobil belakang, ambil alih juga kerangkeng besi mu itu. Kucing belang, kucingmu kan?""Iya,

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 56

    Wanita berambut kecoklatan itu menghentikan usaha sejenak. Ia menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu merosotkan sedikit kacamata minus yang bertengger di hidung pesek. Mengamati penampilan Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Perut wanita itu tampak sedikit buncit di balik balutan blus kerja, sementara bibir yang merona merah.Wanita itu melihat perawakan Sugiono yang kurus kering, pakaian kerja yang sudah kusut berdebu semen, serta kerangkeng besi berisi kucing yang diletakkan tidak jauh dari sana."Loh, memangnya Pakde bisa? Saya ragu kalau Pakde mau mengangkat koper ini. Berat sekali isi koper, penuh dengan buku laporan dan dokumen kantor," kata wanita itu dengan nada sangsi. "Tapi memang kebetulan, saya sedang mencari orang buat ngangkat barang karena troli di stasiun tadi penuh semua.""Tentu saja bisa, Bu. Saya masih kuat mengangkat koper. Jangan lihat dari luar saja. Otot saya masih sanggup membawa beban berat seperti ini," ujar Sugiono

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 55

    Perampok bertato yang memegang celurit itu melangkah menyusuri lorong bus, merampas dompet dari tangan para penumpang secara paksa. Begitu tiba di deretan kursi Sugiono, ia melihat buruh paruh baya itu duduk dengan tenang tanpa menyerahkan apa pun."Heh, kakek tua! Tuli ya? Dompet dan tasmu, serahkan cepat sebelum kusebelah lehermu!" bentak sang perampok sambil mengarahkan ujung celuritnya ke depan wajah Sugiono.Sugiono mendengus pelan sambil mengusap hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tetap memegang kerangkeng besi Dita."Majulah," tantang Sugiono datar.Melihat perawakan Sugiono yang terlihat tua dan ringkih, perampok itu tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan buruh itu sebagai bentuk keputusasaan."Wah, cari mati rupanya si kakek tua ini!" geram sang perampok. Ia melayangkan tendangan keras mengarah ke dada Sugiono.Namun, sebelum sepatu bot perampok itu menyentuh sasaran, kaki Sugiono bergerak cepat. Dengan tenaga dari cincin di jarinya, kaki Sugiono meng

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 54

    "Hei, jangan hanya menyuap kepala lele itu ke mulutmu! Daging bagian punggung yang empuk untukku, ingat perjanjian kita," protes Dita dari dalam kerangkeng besi dengan suara berbisik tajam.Sugiono mendengus pelan, memisahkan bagian daging lele yang bersih lalu menyarungkannya ke sela-sela jeruji besi menggunakan lidi sate. "Makan saja yang banyak biar tenagamu pulih. Jangan banyak protes kalau tidak mau kutinggal di pinggir jalan."Dita menyambar potongan ikan itu dengan gerigi taringnya yang menyamar, menggerutu pelan sambil mengunyah makanan. "Awas saja kalau kita sudah sampai di tempat tujuan. Akan kuubah wujudmu jadi kodok sawah karena sudah memperlakukan siluman sepertiku begini!"Abang penjual pecel lele yang kembali datang membawakan es teh manis melirik sekilas ke arah kerangkeng, lalu tersenyum maklum melihat Sugiono seolah sedang menanggapi gerutuan kucingnya sendiri."Silakan diminum es tehnya, Pakde. Maklum ya, kucingnya aktif banget dari tadi malam," ujar si abang penjua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status