ログインAsap pekat sisa pelarian pria jas hitam benar-benar hilang, Sugiono mengalihkan pandangan ke arah halaman.
Empat emak-emak masih tergeletak tidak sadarkan diri. Susi, sahabat Gendis, berada di posisi paling depan dengan bibir yang mulai memucat.
Sugiono mendekat lalu berjongkok di samping tubuh Susi. Cincin akik hitam di jarinya masih terasa hangat setelah menyerap mustika ular gaib. Sugiono menempelkan ibu jari kanan tepat di antara kedua alis Susi, lalu menyalurkan sedikit hawa hangat dari pusaka Jagad Pamungkas.
Srrr.......srrt....
Hawa hangat mengalir cepat, menetralisir sisa energi es yang menyumbat peredaran darah Susi. beberapa detik, warna merah alami kembali ke bibir wanita bertubuh sintal. Kelopak mata Susi bergerak sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.
"Aduh... kepala saya pusing sekali, Pakde," keluh Susi sambil memegangi dahinya. Dia duduk perlahan, menatap sekeliling pandangan bingung. "Loh, kenapa saya bisa tiduran di tanah begini? Tadi rasanya ada angin kencang sekali lewat."
"Kalian semua tadi pingsan karena angin malam yang salah," bohong Sugiono dengan nada tenang, tidak mau membuat emak-emak panik soal pertarungan supranatural.
Tiga wanita lain di belakang Susi juga mulai terbangun setelah Sugiono memberikan totokan hawa hangat yang sama. Begitu kesadaran mereka pulih seratus persen, sebuah keajaiban langsung dirasakan oleh tubuh mereka.
"Eh? Kok pinggang saya yang biasanya encok kalau bangun tidur, sekarang rasanya enteng sekali ya?" ucap salah satu janda bertubuh subur sambil memutar-mutar badannya kegirangan.
"Iya, Pakde...! Dada saya juga langsung plong, tidak ada sesak-sesak lagi seperti kemarin!" timpal wanita satunya lagi tidak mau kalah.
Susi berdiri, menepuk-nepuk daster bagian belakang yang kotor terkena tanah. Dia menatap Sugiono dengan pandangan penuh kekaguman. "Luar biasa Pakde Yono ini. Belum juga dipijat langsung, baru kena angin gubuk Pakde saja penyakit kami semua sudah sembuh total!"
Sugiono hanya terkekeh pelan sambil merapikan sarung. "Itu karena hawa murni di sekitar gubuk Pakde sedang bagus. Ya sudah, karena kalian semua sudah bugar, pengobatan hari ini dicukupkan dulu. Pulanglah, mumpung hari belum terlalu panas."
Keempat emak-emak itu pulang dengan wajah berseri-seri. Sepanjang jalan setapak, mereka tidak henti-hentinya membahas kesaktian Pakde Yono yang bisa menyembuhkan penyakit tanpa menyentuh fisik sekali pun. Berita kehebatan baru ini dipastikan akan langsung mengguncang grup arisan desa dalam beberapa jam ke depan.
Siang harinya, matahari bersinar sangat terik tepat di atas kepala. Sugiono sedang duduk di lincak depan rumah sambil menikmati kopi hitam buatan sendiri. Pintu bambu yang hancur tadi pagi belum sempat diperbaiki, hanya ditutupi kain jarik seadanya.
Tingg-tingg! Brummm.....
Suara klakson nyaring memecah keheningan pinggir hutan. Sebuah mobil pikap berwarna hitam melaju pelan, lalu berhenti tepat di halaman gubuk Sugiono yang luas. Di bagian bak belakang, tampak tumpukan karung beras berukuran besar bersanding dengan kardus-kardus minyak goreng serta mi instan.
Seorang pria muda turun dari pintu kemudi, membawa selembar kertas catatan. "Permisi, apa benar ini gubuk Pakde Sugiono tukang pijat?"
"Iya, benar. Saya sendiri. Ada keperluan apa ya, Mas?" sahut Sugiono sambil berdiri dari lincak.
"Ini ada kiriman sembako dari Bu Tejo, pemilik toko kelontong di pasar desa. Katanya sebagai tanda terima kasih karena penyakit dadanya sudah sembuh total. Ini semua sudah dibayar lunas, Pakde," jelas sang supir sambil mulai menurunkan satu per satu karung beras berukuran lima puluh kilogram ke teras gubuk.
Kedatangan mobil pikap bermuatan penuh ini tentu saja memancing perhatian warga desa seberang yang kebetulan lewat. Beberapa petani yang sedang membawa cangkul langsung berhenti di pinggir jalan setapak, menonton dengan mata melotot tidak percaya.
"Gusti... itu beras berapa kuintal ditaruh di sana? Banyak sekali!" bisik salah seorang petani dengan raut wajah iri.
"Katanya itu hadiah dari Bu Tejo karena disembuhkan Pakde Yono. Dulu kita mengejek Yono dukun gadungan, ternyata sekarang dia malah ketiban rezeki nomplok dari janda kaya," sahut warga lain sambil menggigit bibir menahan dongkol.
Sugiono yang mendengar bisikan-bisikan warga hanya tersenyum puas di dalam hati. Nasib malangnya kini benar-benar sudah berbalik seratus delapan puluh derajat berkat cincin akik hitam Jagad Pamungkas.
Sore harinya, setelah supir pikap pulang dan seluruh sembako tertata rapi di dalam gubuk, suasana kembali tenang.
Sugiono baru saja selesai memindahkan karung beras terakhir ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna putih metalik berbelok memasuki halaman rumahnya.
Mobil semewah itu sangat jarang terlihat di daerah pinggiran desa seperti ini. Pintu kemudi terbuka, lalu turunlah sosok wanita muda berkulit putih bersih dengan rambut sebahu yang dicat kecokelatan.
Wanita itu adalah Widuri. Janda muda berusia dua puluh lima tahun dari desa seberang yang terkenal kaya raya karena mendapatkan harta warisan melimpah setelah suaminya meninggal setahun lalu. Widuri memakai kaos ketat berwarna merah muda yang mencetak jelas bentuk tubuh bagian atasnya yang sintal, dipadukan dengan celana kulot longgar.
Widuri melangkah anggun mendekati teras gubuk, aroma parfum mahal langsung tercium menusuk hidung Sugiono.
"Selamat sore, apa benar ini tempat Pakde Yono yang viral itu?" tanya Widuri dengan suara mendayu manja, mata indahnya menatap Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Benar, Mbak. Saya Sugiono. Ada keluhan apa datang jauh-jauh kemari?" tanya Sugiono, berusaha menjaga wibawa sebagai dukun sakti meski matanya sempat melirik ke arah dada Widuri yang membusung kencang..
Widuri memegangi pinggang belakangnya, lalu menggeser tubuhnya sedikit gelisah. "Ini, Pakde... sudah tiga minggu ini bagian pinggang bawah saya sering kaku. Kalau malam hari, rasa nyerinya suka menjalar turun sampai ke paha bagian dalam. Rasanya ngilu sekali, sampai saya susah tidur."
Widuri menatap pintu gubuk yang ditutupi kain jarik dengan ragu. "Kata Bu Tejo di grup chat, pijatan tenaga dalam Pakde bisa menyembuhkan segala macam sumbatan urat secara instan. Apa sore ini Pakde ada waktu untuk memeriksa bagian bawah saya?"
"Ada apa? Kamu memanggilku, Dita? Aku kan sudah berapa kali bilang, kalau aku hanya pulang sekali dalam setahun! Aku sedang banyak pekerjaan, kamu ini pikirannya selalu kemana-mana!" bentak Bayu dengan nada tinggi, melemparkan ponselnya ke atas meja tamu.Dita mengerjap, menatap suaminya dengan dada bergemuruh. "Kamu selalu bertanya kapan aku pulang, aku dengan siapa... Tentu saja aku bersama sekretarisku! Itupun hanya membahas pekerjaan...!"Bayu mendengus kesal karena terus dicecar pertanyaan, sementara ponsel di sakunya kembali berdering nyaring beberapa kali dalam sehari."Mas, apa kamu tidak mulai memikirkan untuk rumah tangga kita?" suara Dita melemah, matanya berkaca-kaca menatap pria di depannya. "Kita sudah cukup banyak uang untuk memperoleh kehidupan kita, kalau memang kita mencukupinya. Lagian aku sudah lebih dari cukup dengan uang yang kamu berikan selama ini."Bayu mendecak pinggang, menatap tajam istrinya. "Dita, ini bukan hanya perkara uang! Ini masalah tanggung jawab.
Matahari pagi menyinari halaman samping rumah yang dipenuhi pohon jambu. Sugiono memegang gunting tanaman, sibuk merapikan dahan liar. Siti berjalan mendekat membawa mug keramik berisi kopi hangat."Nyonya sangat suka mengoleksi pohon jambu, jadinya ya begitulah, Pakde. Kalau lelah, istirahat saja," kata Siti sambil menyerahkan kopi. "Ngomong-ngomong, Pakde asalnya dari kampung mana? Sepertinya bukan orang asli Jakarta.""Saya merantau dari desa Wakanda, desa terpencil di Jawa Tengah," jawab Sugiono singkat.Siti tersenyum malu-malu, matanya melirik memperhatikan postur tubuh Sugiono yang padat dan berisi di balik celana kainnya. "Walah, pantas saja. Kalau cari rezeki memang harus siap kerja apa saja."Bipp... Bipp...!Suara klakson mobil meraung keras dari arah gerbang depan."Dari tadi saya klakson, kenapa pagarnya tidak dibuka? Kamu ini sudah lama bekerja di sini, Ujang!" bentak suara seorang pria dari dalam mobil.Ujang berlari tergopoh-gopoh membuka pagar. "Maaf, Tuan... Saya tad
"Yono, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dita cemas. Tatapannya tertumbuk pada tas ransel kosong dan kerangkeng besi di tangan Sugiono.Sugiono menunduk, merapikan tali ransel di bahu. "Aku sudah dipecat dari proyek pembangunan, Bu Dita."Ibu Dita yang berdiri di samping putrinya langsung mendelik kaget, sebelah tangan menutup mulut. "Astaga! Siapa yang berani memecatmu...?""Ceritanya panjang, Bu. Kalau begitu, karena sudah tidak ada barang yang mau diangkat, saya pamit permisi dulu mau cari jalan," jawab Sugiono datar, berniat segera melangkah pergi menghindari kerumitan."Eh, jangan pergi dulu!" cegah Ibu Dita cepat, menahan lengan putrinya. "Dita, kamu ajak Pakde ini untuk ikut bersama kita di rumah saja. Kasihan, loh, sudah jam segini tapi dia malah mau pergi entah ke mana."Dita mengangguk cepat, mendukung penuh usul sang ibu. "Betul kata Mama, Yono. Sebaiknya kamu ikut kami masuk ke mobil belakang, ambil alih juga kerangkeng besi mu itu. Kucing belang, kucingmu kan?""Iya,
Wanita berambut kecoklatan itu menghentikan usaha sejenak. Ia menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu merosotkan sedikit kacamata minus yang bertengger di hidung pesek. Mengamati penampilan Sugiono dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik. Perut wanita itu tampak sedikit buncit di balik balutan blus kerja, sementara bibir yang merona merah.Wanita itu melihat perawakan Sugiono yang kurus kering, pakaian kerja yang sudah kusut berdebu semen, serta kerangkeng besi berisi kucing yang diletakkan tidak jauh dari sana."Loh, memangnya Pakde bisa? Saya ragu kalau Pakde mau mengangkat koper ini. Berat sekali isi koper, penuh dengan buku laporan dan dokumen kantor," kata wanita itu dengan nada sangsi. "Tapi memang kebetulan, saya sedang mencari orang buat ngangkat barang karena troli di stasiun tadi penuh semua.""Tentu saja bisa, Bu. Saya masih kuat mengangkat koper. Jangan lihat dari luar saja. Otot saya masih sanggup membawa beban berat seperti ini," ujar Sugiono
Perampok bertato yang memegang celurit itu melangkah menyusuri lorong bus, merampas dompet dari tangan para penumpang secara paksa. Begitu tiba di deretan kursi Sugiono, ia melihat buruh paruh baya itu duduk dengan tenang tanpa menyerahkan apa pun."Heh, kakek tua! Tuli ya? Dompet dan tasmu, serahkan cepat sebelum kusebelah lehermu!" bentak sang perampok sambil mengarahkan ujung celuritnya ke depan wajah Sugiono.Sugiono mendengus pelan sambil mengusap hidungnya dengan sebelah tangan, sementara tangan satunya tetap memegang kerangkeng besi Dita."Majulah," tantang Sugiono datar.Melihat perawakan Sugiono yang terlihat tua dan ringkih, perampok itu tertawa meremehkan. Ia menganggap ucapan buruh itu sebagai bentuk keputusasaan."Wah, cari mati rupanya si kakek tua ini!" geram sang perampok. Ia melayangkan tendangan keras mengarah ke dada Sugiono.Namun, sebelum sepatu bot perampok itu menyentuh sasaran, kaki Sugiono bergerak cepat. Dengan tenaga dari cincin di jarinya, kaki Sugiono meng
"Hei, jangan hanya menyuap kepala lele itu ke mulutmu! Daging bagian punggung yang empuk untukku, ingat perjanjian kita," protes Dita dari dalam kerangkeng besi dengan suara berbisik tajam.Sugiono mendengus pelan, memisahkan bagian daging lele yang bersih lalu menyarungkannya ke sela-sela jeruji besi menggunakan lidi sate. "Makan saja yang banyak biar tenagamu pulih. Jangan banyak protes kalau tidak mau kutinggal di pinggir jalan."Dita menyambar potongan ikan itu dengan gerigi taringnya yang menyamar, menggerutu pelan sambil mengunyah makanan. "Awas saja kalau kita sudah sampai di tempat tujuan. Akan kuubah wujudmu jadi kodok sawah karena sudah memperlakukan siluman sepertiku begini!"Abang penjual pecel lele yang kembali datang membawakan es teh manis melirik sekilas ke arah kerangkeng, lalu tersenyum maklum melihat Sugiono seolah sedang menanggapi gerutuan kucingnya sendiri."Silakan diminum es tehnya, Pakde. Maklum ya, kucingnya aktif banget dari tadi malam," ujar si abang penjua







