Se connecterSugiono merogoh saku jaket kulitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah. Ia menaruh lima lembar uang seratus ribuan itu di atas meja kayu kecil."Buatmu, Nduk," kata Sugiono pelan sambil mendorong uang itu mendekat ke arah Gendis.Mata Gendis membelalak kaget. Ia spontan menggeleng sambil melambaikan kedua tangannya. "Loh, Pakde... tidak usah, Pakde! Simpan saja buat keperluan Pakde sendiri."Sugiono menatap iparnya dengan sorot mata teduh. "Ambil saja, Nduk. Tidak enak menolak rezeki. Lagian kamu sama Sobir kan baru saja kena musibah kemarin," ujarnya tegas tapi lembut.Gendis menunduk, merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya diselimuti rasa terharu yang amat sangat. Di tengah himpitan hidup yang menghimpitnya dan sang suami, hanya kakak ipar tua ini yang datang menengok dan memberi perhatian nyata. Gendis tahu persis watak Sobir suaminya dan Sugiono memang sangat berbeda jauh, meskipun keduanya mengalir darah yang sama. Sobir sering kali egois dan pemarah, seme
Mobil.. Udin perlahan meninggalkan halaman gubuk. Asap knalpotnya mengepul tebal sebelum hilang di tikungan jalan desa.Samsul langsung merogoh ponsel dari saku celananya dengan gerakan kilat. Jari-jarinya menari cepat di atas layar, membuka aplikasi m-banking. Begitu logo loading selesai berputar, mata Samsul melotot nyaris keluar. Rahangnya jatuh."Buset... Yon!" teriak Samsul histeris. Ia melompat dari kursi bambu, berlari menghampiri Sugiono sambil menyodorkan layar ponselnya. "Lihat nih! Kamu lihat ini, Yon!"Sugiono yang sedang merapikan asbak dan sisa puntung rokok, menoleh pelan. "Ada apa sih, Sul? Teriak-teriak kayak orang kesurupan.""Matamu itu yang kesurupan! Baca ini nolnya ada berapa, Mbah!" Samsul menggebrak meja saking girangnya. "Seratus juta, Yon! Seratus juta rupiah! Si Udin ini pejabat atau bandar korupsi sih?! Cuma modal mijet jelly lembek tiga menit, bayarannya seratus juta!"Sugiono melirik layar ponsel itu sebentar. Tidak ada raut kaget yang berlebihan di wajah
Samsul keluar dari dapur dengan langkah cepat. Di tangannya terdapat sebuah gelas kaca besar berisi cairan kental berwarna kuning kecokelatan."Ini dia, Pak Udin. Ramuan khusus VIP Platinum! Tiga butir kuning telur bebek asli, lada hitam tumbuk kasar, sama madu klanceng pilihan," seru Samsul sambil meletakkan gelas itu dengan bangga di atas meja.Bau amis seketika menguar di udara, bercampur dengan aroma tajam lada.Sugiono mengambil sebuah sarung kotak-kotak yang terlipat di atas dipan, lalu melemparkannya ke pangkuan Udin."Silakan, Pak. Diminum dulu ramuannya sampai habis," perintah Sugiono dengan nada datar. "Habis itu Bapak ganti celananya pakai sarung ini."Udin menatap gelas besar itu dengan ragu. "Baunya amis banget ya, Pakde.""Amis di mulut cuma sebentar, Pak. Manisnya di rumah nanti malam kerasa sampai subuh," timpal Samsul sambil mengedipkan mata, menyemangati layaknya pelatih tinju. "Ayo, tarik napas, langsung sikat habis!"Udin memencet hidungnya sendiri, memejamkan mata
Samsul menarik sebuah kursi bambu di teras gubuk dan mempersilakan tamunya duduk. Pria bernama Udin itu mendaratkan pantatnya dengan hati-hati.Samsul langsung menyodorkan segelas kopi hitam panas yang baru diseduhnya. "Silahkan diminum dulu, Pak, kopinya. Sambil ngerokok juga santai aja di sini."Udin mengangguk kaku, senyumnya tampak canggung. "Hehe, iya. Terimakasih, Mas."Sore itu Udin tampil sangat rapi. Ia mengenakan kemeja batik cokelat lengan panjang, setelan khas pejabat pemerintah dari kota, sangat kontras dengan pemandangan sekitar gubuk Sugiono yang dikelilingi sawah dan pepohonan pisang.Sugiono melangkah keluar dari dalam gubuk, mengenakan sarung pudar dan kaus oblong. Ia duduk di kursi kayu berhadapan dengan Udin. Tangan tuanya mengangkat gelas seng berisi kopi, lalu menyesapnya perlahan."Bapak tahu dari mana tempat pemijatan saya?" tanya Sugiono dengan nada datar sambil menatap tajam tamunya.Udin merapikan letak kacamatanya yang sedikit merosot. "Saya lihat di iklan
Malam semakin larut. Suara jangkrik bersahutan di luar gubuk. Di ruang tamu, Samsul sudah mendengkur keras di atas tikar. Di dalam kamar yang pintunya tertutup rapat, Sugiono sedang duduk bersila di atas dipan bambu. Matanya terpejam, mengatur napas menstabilkan energi gaib di tubuhnya setelah seharian memakai kekuatan cincin hitam.Tiba-tiba, seekor kucing hitam melompat ke atas kasur. Kucing itu mengeong pelan, lalu seketika diselimuti kabut ungu tipis. Perlahan, wujudnya membesar dan berubah.Dalam hitungan detik, kucing hitam itu lenyap, berganti menjadi sosok wanita dewasa yang luar biasa cantik. Rambutnya hitam panjang tergerai sebahu, kulitnya putih mulus, dan lekuk tubuhnya yang padat hanya dibalut oleh kain sutra ungu tipis yang tembus pandang.Dita merangkak pelan mendekati Sugiono. Aroma wangi melati bercampur mawar langsung memenuhi kamar yang sempit itu."Yono..." bisik Dita dengan suara serak yang sangat menggoda. Jari lentiknya menyusuri bahu Sugiono perlahan. "Seharia
Kabar tentang hancurnya Ki Suro dan dukun pesisir itu tidak banyak diketahui warga. Namun, ada satu kabar lain yang justru menyebar luar biasa cepat dari mulut ke mulut di warung kopi: sembuhnya "burung perkutut" Pak Kades yang tadinya mati total.Malam itu, saat Sugiono dan Samsul sedang duduk santai ngopi di beranda gubuk, sebuah mobil Pajero hitam mengkilap berhenti agak jauh dari halaman. Seseorang turun mengendap-endap. Pria buncit itu memakai jaket tebal, topi ditarik rendah, dan masker penutup wajah.Tok! Tok! Tok!"Permisi... Mbah Yono ada?" bisik pria itu sambil menengok ke kanan-kiri.Samsul membukakan pintu. "Ada. Cari siapa, Pak? Kok malam-malam pakai masker rapat begini?"Pria itu buru-buru masuk, lalu melepas topi dan maskernya. Samsul langsung melongo."Loh? Bos Husen? Juragan beras dari kecamatan sebelah kan?" tebak Samsul kaget.Bos Husen yang biasanya tampil gagah, mendadak berlutut di lantai gubuk. Wajahnya memelas nyaris menangis."Yono, tolong saya, Yon! Cuma kamu






