MasukPOV CloveAku gelagapan setengah mati. Aku buru-buru menarik pandanganku dan membetulkan posisi duduk dengan kepanikan yang membuncah."M-maksud Anda apa?!" protesku cepat, berusaha menutupi rasa malu-ku. "S-saya sedang melihat ke luar jendela! Anda jangan salah paham!"Pak Dewa menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Membentuk senyuman tipis yang sinis tetapi penuh godaan.Tanpa mengalihkan fokusnya dari tablet, ia bertanya santai, "Memang saya bilang apa?"Dadaku makin berdebar kencang. Wajahku terasa panas dan kebas hingga ke ceruk leher, merasa terpojok oleh jebakan kata-kata pria itu. "Tadi maksud Anda 'puas', apa?!" tagihku bersungut-sungut. Aku merasa Pak Dewa sedang mesum mengungkit kejadian di atas ranjang lagi.Ia perlahan mematikan layar tabletnya, lalu menoleh santai. "Apa kamu puas ... makan malamnya?" tanya pria itu tenang.Aku membeku. Mataku terbelalak lebar. Aku merasa ada yang berubah! Aku sangat yakin seratus persen bahwa maksud pertanyaan Pak Dewa tadi sama sekali
POV CloveAku menoleh lambat, sedikit terkejut dengan kehadiran mobil mewah yang tiba-tiba berhenti dan menutupi pandanganku.Di saat yang bersamaan, kaca jendela mobil bagian belakang yang gelap gulita perlahan-lahan bergerak turun secara otomatis.Aroma kemewahan yang sangat kuhafal dari setiap inci memoriku langsung terembus keluar dari dalam kabin berpendingin udara itu. Di balik jendela, duduk seorang pria berjas yang menatapku dingin dari balik kegelapan kabin. Manik matanya tajam, penuh keangkuhan yang tak tersentuh.Siapa lagi kalau bukan Dewangga Clinton Davidson. Pria itu tidak tersenyum sedikit pun. Wajahnya datar, seolah-olah ia adalah penguasa malam yang sedang menatap rakyatnya."Masuk!" ucap pria itu pendek, bernada dingin dan tak terbantahkan.Jantungku seolah melompat dari rongganya. Rasa tidak enak hati dan kecanggungan yang luar biasa langsung menyerbu dadaku. Set
POV Author”Hah?! Gak mungkin, May!" sahut Clove cepat, dadanya mendadak berdebar kepanikan. "Jangan ngomong sembarangan, ah. Itu sangat tidak mungkin. Pria sekelas beliau mana mungkin suka sama perempuan kayak aku? Aku ini masih istri orang, baru kena skandal. Lagian, beda kelas jauh banget!" tutur wanita itu, mengelak."Kenapa gak mungkin?" bantah Maya bersemangat. "Kamu itu cantik, berbakat, pinter memasak, dan punya aura yang elegan. Jangan minder gitu, dong!”“Ingat ya, Clo, seandainya ... seandainya nih, ternyata Pak Dewa emang ada rasa sama kamu dan punya niat ngedeketin kamu setelah kamu cerai dari Reno, JANGAN RAGU BUAT NERIMA DIA!""Maya!" tegur Clove, wajahnya memerah. Dia menoleh ke sekeliling, takut jika ada Dewa di sekitar sana.Napasnya langsung berhenti mendadak saat melihat pria itu melintas. ‘Duh, dia denger gak, ya?’ batinnya, gugup."Aku serius, Clo!" tegas Maya sa
POV AuthorClove salah tingkah luar biasa. Matanya terbelalak, refleks menolehkan kepalanya menatap lekat Dewa yang sedang menatapnya balik.Dewa menatap wanita itu dengan keangkuhan mutlak, dengan sorot mata yang begitu dalam. Ia berucap dengan suara baritonnya yang dingin dan mengintimidasi."Saya tidak suka milik saya disentuh orang lain. Saya juga benci perempuan murahan!"Ucapan tajam yang meluncur dari bibir Dewa membuat tubuh Clove menegang kaku. Kalimat itu terus bergetar di dalam kepalanya, membakar pipinya hingga merona.Clove memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya erat-agar rasa salah tingkahnya tidak terlihat jelas. ‘Miliknya?’ batinnya bergejolak. ‘Nikah aja belum, tapi laki-laki ini udah berani bersikap sesposesif ini? Dan mulutnya itu ... astaga, kenapa bisa ada cowok yang bicaranya selantam itu?’Ada kekesalan yang meletup di dadanya akibat cemoohan Dewa yang konstan. Namun di saat ber
POV AuthorTak lama kemudian, seorang pria berjas sangat rapi dengan kacamata berbingkai tipis melangkah mendekati meja mereka. Pria itu adalah Satria. Pengacara papan atas sekaligus kepala tim hukum pribadi Dewa yang kebetulan juga hadir sebagai tamu undangan VIP.Dengan gayanya yang dingin dan tanpa basa-basi, Dewa mengarahkan pandangannya pada Satria. "Ini Nona Clove. Mulai detik ini, kamu tangani kasus perceraiannya. Pastikan prosesnya selesai secepat mungkin."Clove terkesiap. Ia menatap Dewa dan Satria bergantian, tak menyangka pembahasan sepenting dan sesensitif ini disajikan di tengah acara pesta besar.Dewa lalu mengalihkan tatapan tajamnya pada wanita itu. "Sampaikan semua tuntutanmu terhadap pria itu, pada Satria. Apa saja yang mau kamu ambil dari pria itu."Clove mendadak salah tingkah, meremas jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan. Ia merasa sangat tidak nyaman dan risih.
POV AuthorClove terperanjat. Pipinya seketika terbakar panas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan kedua telapak tangannya dalam posisi memohon dengan raut wajah panik luar biasa."P-Pak ... tolong jangan bahas hal itu di sini," cicit wanita itu setengah berbisik, matanya bergerak liar memindai sekeliling area presidential dining. "Saya takut ada orang lain yang mendengar ...."Melihat wajah cemas dan kepanikan Clove, ekspresi Dewa mendadak berubah.Setelah puas menelanjangi dan menyerahkan kekalahan telak pada Reno di luar tadi, aura angkuh dan dominannya kembali menyelimuti wajah tampan itu. Pria itu kembali ke mode dinginnya yang tak tersentuh."Makanlah," ucap Dewa datar. Ia meraih pisau dan garpu untuk mulai menyantap hidangan steak wagyu di piringnya.Clove membeku. Ia menatap piring di hadapannya tanpa menyentuh alat makan sedikit pun. Keraguan dan ketakutan masih menggelayuti piki







