مشاركة

Chapter 107

last update تاريخ النشر: 2026-05-09 10:00:34

Dada telanjang, naik turun berat—Jonathan.

Sprai Éthera Silk Reserve, di atasnya, napas naik turun berat—Christine.

Tulang selangka berkilauan keringat satu hujan dengan Terik Celestra Warm Halo Lamp. Panas, pengap, lembab. Dua tokoh saling berebut udara, masing-masing lenyap dalam tatapannya.

“C-Christ...” —Jonathan, suaranya paling banyak hilang.

‘Oh, Christine pasti merasa puas.’ Otaknya

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 110

    “Aku izin ngerokok—“ Davindoff & Dughill dalam saku diambil. Sebatang rokok tampak, Julius kembalikan lagi tak lama kemudian. Lelaki itu garuk-garuk tengkuk tak nyaman dihadapkan dengan perut besar Sienna. “Enggak jadi. Pinjam tablet-mu saja, dong.”“Whoa—keren. Dah lama banget pengen coba tab-nya Sam.” Suara dari game Last & Furious menggemakan sekujur ruang tamu itu. Tablet terbaru Orvantis Slate Pro dipangku Julius yang sudah nyaman dengan posisinya. “Sie, ayo main. Kau punya tab satu lagi, kan?” Julius bertanya. Bantal sebelah pinggang Sienna disentuh-sentuh oleh telapak kakinya. Sesekali, lirik Sienna yang sibuk menyeruput sup kentang.“Oi, dicuekin,” kesal, Julius. “Sini, main. Don’t even think buat kabur. Samuel bayar banyak buat aku jaga kau hari ini. Te

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 109

    “Hal pertama harus dipahami; newborn baby masih sangat fragile—““—Tulang dan otot belum terbentuk semua. Kontrol mereka belum stabil. Untuk itu, para new parents harus memiliki ketelitian. Alat ini juga, Bu, Pak, bisa membantu Bapak Ibu dalam menggendong bayi nanti, ya.”Satu lembar dibuka.Panduan, salah satunya dari Aurelia Maternity Line, sebuah brand berafiliasi dengan Yayasan Budi Abdi Medika—yang Ganta sewa sebulan penuh secara pribadi. Sebuah replika bayi dilengkapi suara, di bawahnya, diletakkan kain katun. Peragaan keempat untuk sesi hari ini dimulai.Satu dokter memegangi kepala boneka yang di-setting menangis. Perawan lain, membantu dari depan. Dr. Elara Voss bergerak terlatih, lembut, perlahan, mengangkat replika boneka bayi menangis dari cradle.“Ibu Sienna mau bantu?” Dr. Elara Voss mengarahkan sang bayi ke depan, ters

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 108

    “J-Jo—“Lengan ditarik.“K—kkghhh.”Leher ditekan.“Fucking dammit...”Lidah digigit.Bantal silk milk diletakkan di bawah lekuk punggung Christine—di sana, Jonathan, menghujam lagi. Pose vagina down arrow membuat gerak panggul Jonathan makin cepat, makin licin, tak tersisa celah pun dari kelamin mereka.“Ugh—ughk!” christine terbatuk-batuk. Sakit tadi mulai mereda dari pinggangnya. Tersisa hanyalah sesak, panas, dari gerak maju-mundur, dorong-masuk, penis hard rock Jonathan. Beberapa detik—mungkin merasa pegal—gerak panggul Jonathan perlahan berhenti. Christine pakai untuk meraih bantal-bantal di sekitarnya.Ronde pertama selesai, Jonathan menyerbu lagi. Kuat cengkeraman tangan Christine sebagai ganti mulut mengerang, terbenam pada lapisan kain sprai dan bantal. Pinggangnya ditekan habis ole

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 107

    Dada telanjang, naik turun berat—Jonathan.Sprai Éthera Silk Reserve, di atasnya, napas naik turun berat—Christine.Tulang selangka berkilauan keringat satu hujan dengan Terik Celestra Warm Halo Lamp. Panas, pengap, lembab. Dua tokoh saling berebut udara, masing-masing lenyap dalam tatapannya.“C-Christ...” —Jonathan, suaranya paling banyak hilang.‘Oh, Christine pasti merasa puas.’ Otaknya bersuara. Separuh dari sex toys koleksi sang gadis berhasil debut di tubuhnya. Bekas memar, gigitan, sumbatan, jepitan. Hanya wajah Jonathan yang bebas dari bekas-bekas cinta.Jonathan terlentang dengan pandangan berkabut. Kunang-kunang menari di kepalanya. Panas di tubuh pemuda itu anehnya belum hilang juga. Pada sisi ranjang, Christine mulai masuk-memasuk, susun-susun sex toys kembali ke tempat. Permainan selesai, sang wasit mulai cuci tangan.Harusnya

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 106

    —gggrrrr.“Ha—ahhhnnn!”—ddrrrttt.“Ugh.”“Nghhh.”“Huu.”—zzztttttt.“Argh! C-Christ—““Ggrrrhhhh.”—bbzzztt.“Hmpp—AGGHHH.”“Hm.”Buka, tutup, kunci sebelah meja Orlencia Lacquer Console. Sebelah tangan memangku dagu, ekspresi tak puas. Lapisan beludru gelap Noirvelvet Lining di dalamnya—rapi, bagai rak-rak perhiasan kecil. Sang pemilik mendaratkan tatap analisis di sana.“Hm.” Christine bergumam lagi. Latar belakang suara getara, desahan, sentakan, jeritan, erangan, tak dipedulikan. Fokusnya menyerap pada deretan sex toys dalam etalase berlogo Christine’s Intimates Collection. Memilih, menghitung.Sex toys mana lagi yang harus Ia coba ke tubuh J

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 105

    Cloudrest Premier Layer matrass memantul dari punggung yang diinjak oleh sebuah telapak. Sedikit saja Jonathan bergerak, jari-jemari kaki Christine akan menekan batang lehernya. Jempol kaki ramping menusuk di situ—tepat, menyambung pembuluh darah arteri. Tanda, berani Jonathan melawan, aliran darah di otaknya jadi taruhan.Knot simpul dasi milk cotton dalam sekali tarik lepas. Dari belakang, Christine menarik angkat kemeja putih Jonathan dan membuangnya. Sebelah tangan gadis itu sibuk pada ponsel yang sedang tersambung pada seseorang. Sedikit, Jonathan ingin mengintip. Tau mangsanya berani menantang, Christine injak kepala Jonathan dengan kakinya.Hingga terselundup ke busa ranjang.“Dimana? Di kampus?” Suara Christine, setelah disambar oleh seseorang dari balik sambungan ponselnya.“Tau brankas yang itu? Iya, hitam. Yang itu. Safe code-nya udah kucabut. Kau tinggal ambil, bawa ke alamat

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 69

    Julius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu. Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi.

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 68

    Buih cairan antiseptic pencuci mulut menyisakan rasa pahit mengigit sampai ke pangkal lidah. Kepalanya terus merunduk di hadapan ember transparan, hingga seluruh cairan itu keluar. Tetes air matanya jatuh tak beraturan. Sambil terbatuk-batuk, Jonathan paksa wajahnya mendongak. “A-A

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 67

    Cumbu amatir yang mengantarkan ke sekujur tubuhnya.Bibir basah menempel terlalu lama. Tak hanya pinggangnya—pinggulnya, bergetar sebagaimana dansa di lidah mereka. Detik-detik cumbu mereka menekan terlalu lama, bukan sebab sang pemuda dibanjiri nafsu. Melainkan, Jonathan takut Christine

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 65

    “S-Sebentar—” Tangan Olivia tersendat di udara. Tamunya itu telah mangkir dari ruangan bahkan sebelum memberikan Olivia kesempatan apa-apa. Balon helium yang diikat pada kaki meja tadi, Olivia sambar. Beberapa kotak kado yang—sangat—berat wanita itu peluk. Langkahnya tertatih mengikuti gerak jala

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status