เข้าสู่ระบบLima belas menit kemudian, bel pintu berbunyi.Aku berdiri untuk membuka pintu, tapi tiba-tiba tubuhku terasa lemas dan terjatuh di sofa.Melihat hal itu, hal pertama yang dilakukan sahabatku bukanlah menolongku, melainkan membukakan pintu untuk Leo. Baru setelah itu, dia bertanya dengan nada pura-pura cemas.Aku menjawab, “Nggak apa-apa, mungkin hanya karena nggak sarapan, jadi darah rendah.”Sella langsung memotong, “Tapi, sepertinya gejalamu sangat parah, lho! Aku pergi beli obat dulu, ya. Tunggu sebentar!”Dia bahkan tak bertanya di rumah ada obat atau tidak, langsung meninggalkanku berdua dengan Leo. Seolah-olah sangat khawatir aku akan mati.Baru saja dia pergi, Leo langsung menghampiri untuk memapahku. Aku menolaknya, tapi dia malah memaksa menggendongku, katanya mau membawaku ke kamar untuk istirahat.Jika sebelumnya di kamar mandi Leo hanya sekedar mencoba-coba dan tidak benar-benar berniat melakukan sesuatu padaku. Tapi kali ini, tujuannya sangat jelas, dia benar-benar ingin
Aku pura-pura tidak melihat aktingnya yang payah itu. Aku menunjukkan seolah hatiku telah luluh dan setuju untuk membiarkannya pindah ke sini dalam beberapa hari, tetap dengan syarat pacarnya dilarang menginap.Sella bilang tidak masalah, tapi kemudian dia mencoba bertanya, “Aku nggak akan sanggup membawa barang sendirian saat pindahan, kalau pacarku hanya sampai depan pintu untuk bantu angkat barang, boleh?”Aku berlagak tidak tahu apa rencana mereka dan mengizinkannya.Akhir pekan pun tiba. Sella yang penuh niat busuk itu muncul di depan pintu rumahku bersama pacarnya.Aku berkata, “Kamarnya ada di lantai dua.”Sella mulai berakting menjadi wanita lemah yang tak berdaya. Dengan wajah memelas, dia berkata padaku, “Lantai dua, ya? Lihat, barangku sebanyak ini, ada selimut dan bantal juga. Boleh nggak pacarku masuk sebentar untuk angkut ke atas? Dia akan langsung pergi setelah itu, nggak akan berlama-lama.”Aku mengizinkannya.Setelah itu, aku kembali ke kamar sendirian dan menutup pint
Belum sampai seminggu setelah aku pindah, Sella terus-menerus mengirim pesan. Dia bilang ingin datang mencariku, sekalian melihat seperti apa tempat tinggalku yang baru.Aku tahu pasti ada maksud lain di balik itu, tapi tetap saja tidak tega menolaknya. Kupikir tak perlu sampai bersikap terlalu keras. Setidaknya kami masih bisa mengobrol sebagai teman. Jadi, aku pun memberinya alamat dan membiarkannya datang.Sejak dia melangkah masuk, aku sudah merasakan aura kesal yang dia pendam.Sambil melihat-lihat rumah dua lantai milikku, dia berdecak kagum dan berkata, “Enak sekali tinggal di sini, luas sekali. Aku jadi iri. Aku juga mau tinggal di tempat seperti ini.”Aku mendengus pelan. Dalam hati berpikir, benar-benar orang yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki.Kami mengobrol sebentar, lalu aku mencari alasan dengan bilang bahwa diriku harus bekerja online, sebagai cara halus untuk menyuruhnya pulang.Dengan nada sinis, Sella berkata, “Apa sih? Baru datang sebentar sud
Alasan mengapa aku tak berani membongkar masalah ini adalah karena ide tinggal bersama ini datang dariku.Sebenarnya aku sangat mampu untuk menyewa rumah sendiri, tapi diriku tipe orang yang takut kesepian dan khawatir akan bahaya jika tinggal sendirian. Itulah sebabnya dulu aku mengajak Sella untuk tinggal bersamaku.Aku tahu sebenarnya kontrakan Leo ada di dekat sini dan Sella bisa saja tinggal di sana. Jadi, agar dia mau tetap menemaniku, aku membayar penuh uang sewa rumah ini. Sementara Sella hanya perlu membayar biaya air dan listrik.Itulah sebabnya, selama ini aku selalu membiarkan Leo datang ke sini untuk bermesraan dengan Sella.Namun sejujurnya, kalau dibilang aku tidak muak, itu bohong.Sudah berkali-kali aku terbangun tengah malam karena suara dari kamar sebelah. Sangking kesalnya, aku sering berdiri di depan pintu kamar mereka dan ingin bilang kalau tidak perlu tinggal bersama lagi.Namun pada akhirnya, aku selalu diam dan berjalan balik ke kamar.Mungkin aku akan baik-bai
Tepat saat itu, tiba-tiba Butter menggonggong kencang ke arah kami.Seketika, aku tersadar sepenuhnya. Aku meronta sekuat tenaga dan menendang kaki Leo dengan keras.Karena sedang dalam kondisi santai dan tidak waspada, Leo mundur selangkah karena kesakitan dan melepaskan cengkeramannya. Aku pun langsung mencoba melarikan diri.Tak disangka, meski Leo membungkuk kesakitan sambil memegangi perutnya, dia masih sempat mengulurkan satu tangan untuk menahan pergelangan tanganku, tidak membiarkanku pergi.Rasa takut yang tadinya menyelimuti, kini berubah menjadi amarah. Aku memaki dengan penuh amarah, “Kamu gila?! Kalau berani macam-macam, aku lapor polisi sekarang juga!”Leo melotot ke arahku, menegakkan tubuhnya perlahan, lalu berkata dengan nada mengejek, “Apain pura-pura? Kemarin waktu mengintip, kamu terlihat sangat senang. Tadi juga kamu yang menggodaku… kok sekarang tiba-tiba berubah jadi begitu galak?”Aku langsung membalas, “Kapan aku menggodamu? Kamu mau bilang soal handuk yang lep
“Ah!”Aku memekik tertahan sambil gemetar. Sangking takutnya, aku hampir tersandung saat terhuyung-huyung lari kembali ke kamar.Rasa malu karena tertangkap basah mengintip, bercampur dengan sensasi mendebarkan saat tahu Leo berbuat nakal dengan celana dalamku, membuatku tak tahan lagi. Seluruh tubuhku terkulai lemas di ranjang.Aku sangat menginginkannya!Aku sangat ingin ada seorang pria yang tiba-tiba muncul di ranjangku sekarang juga!Siapapun itu!Tak peduli apapun konsekuensinya, asalkan dia sekuat Leo! Asalkan dia bisa mengisi kekosongan di dalam hatiku!Kedua kakiku menjepit bantal di balik selimut, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak kegelisahan yang ingin meledak dari dalam tubuh. Jari-jari kakiku menekuk, tubuhku meliuk gelisah dan aku menggigit bibir kuat-kuat.Sampai detik terakhir sebelum terlelap, aku masih berpikir seandainya saja sahabatku tidak ada di sini, Leo pasti tidak akan menahan diri untuk menerjangku, ‘kan?Namun tak kusangka, hari itu datang lebih cepat da
“Cepat puaskan aku….”Larut malam, aku berlutut di atas ranjang membelakangi seorang pria, menunggingkan pantatku setinggi mungkin. Namun, dia hanya memegangi pinggulku, sengaja tidak mau segera masuk.“Panggil aku ayah.”“Ayah, kumohon.”“Mohon apa?”Kata-katanya membuatku merasa seperti anjing be







