Share

Bab 2

Author: Nando
“Ah!”

Aku memekik tertahan sambil gemetar. Sangking takutnya, aku hampir tersandung saat terhuyung-huyung lari kembali ke kamar.

Rasa malu karena tertangkap basah mengintip, bercampur dengan sensasi mendebarkan saat tahu Leo berbuat nakal dengan celana dalamku, membuatku tak tahan lagi. Seluruh tubuhku terkulai lemas di ranjang.

Aku sangat menginginkannya!

Aku sangat ingin ada seorang pria yang tiba-tiba muncul di ranjangku sekarang juga!

Siapapun itu!

Tak peduli apapun konsekuensinya, asalkan dia sekuat Leo! Asalkan dia bisa mengisi kekosongan di dalam hatiku!

Kedua kakiku menjepit bantal di balik selimut, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak kegelisahan yang ingin meledak dari dalam tubuh. Jari-jari kakiku menekuk, tubuhku meliuk gelisah dan aku menggigit bibir kuat-kuat.

Sampai detik terakhir sebelum terlelap, aku masih berpikir seandainya saja sahabatku tidak ada di sini, Leo pasti tidak akan menahan diri untuk menerjangku, ‘kan?

Namun tak kusangka, hari itu datang lebih cepat dari yang kubayangkan.

Minggu lalu saat pulang kerja, aku baru menyadari hujan turun dengan sangat deras begitu keluar dari stasiun kereta.

Aku pun menelepon Sella, menanyakan bisakah dia membawakan payung untukku.

Namun, ternyata malah Leo yang datang menjemputku.

Angin bertiup sangat kencang, air hujan terbang menyamping. Dia hanya membawa satu payung dan saat kami sampai di kontrakan, baju kami berdua sudah hampir basah kuyup.

Begitu masuk ke rumah, aku baru tahu kalau Sella sedang tidak ada. Hanya ada Butter, poodle peliharaannya yang sedang berbaring lesu di dekat sofa.

Leo bilang bahwa Sella ada dinas dadakan tadi siang.

Setelah menerima telepon dariku tadi, Sella yang menyuruh Leo untuk menjemputku.

Usai bicara, Leo mulai mendesakku untuk segera mandi, “Cepat ganti baju basahmu, jangan sampai masuk angin.”

Aku tak berpikiran macam-macam, karena memang merasa kedinginan setelah kehujanan.

Namun, saat selesai mandi dan hendak memakai baju, aku sadar kalau tadi diriku terlalu buru-buru karena desakan Leo. Aku masuk ke kamar mandi dengan linglung tanpa membawa pakaian dalam ganti sama sekali.

Saat itu, sebuah ide berani terlintas di benakku. Jika sudah begini, lebih baik tidak pakai sekalian saja.

Setelah ragu-ragu cukup lama, akhirnya aku hanya melilitkan handuk di tubuhku.

Namun, handuk ini terlalu kecil. Jika dipakai menutupi dada, pantatku akan terekspos.

Setelah beberapa kali mencoba membenarkannya, akhirnya aku hanya bisa menutupi tubuhku dengan sangat pas-pasan. Sedikit gerakan saja sudah bisa terlihat semuanya.

Keluar dari kamar mandi, aku melihat Leo sedang bertelanjang dada bermain abroller di ruang tamu. Mendengar suara langkahku, dia menoleh dan melihat seluruh tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Tatapannya tidak ditutup-tutupi sama sekali, sangat agresif seperti api liar yang berkobar.

Wajahku terasa terbakar dan kakiku agak lemas. Karena dia sedang berada dalam posisi setengah merangkak di lantai, dari sudut itu, dia bisa melihat dengan jelas rahasia di balik handukku.

Entah kenapa, aku malah tak menghindari tatapannya.

Aku malah langsung duduk di sofa, bermain dengan Butter menggunakan kakiku, sambil memperhatikan Leo berolahraga.

“Kamu belum puas dijilat dia?”

Mendengar ucapan Leo, wajahku kembali memerah. Saat Butter baru diadopsi, aku dan sahabatku bercanda, membiarkan Butter menjilat kaki kami bergantian.

Kami bahkan berpura-pura sangat menikmatinya sambil berteriak manja, berlomba siapa yang suaranya paling menggoda.

Ternyata, adegan itu direkam oleh sahabatku dan dikirimkan ke Leo.

“Sepertinya kamu memang sangat suka dijilat….”

Leo melepaskan abrollernya dan mendekatkan wajahnya ke sela-sela kakiku.

Matanya menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang dalam.

Hembusan napasnya yang panas menerpa kakiku, seolah-olah meniup sampai ke lubuk hatiku. Itu membuat hatiku merasa kosong dan gelisah. Ada rasa tidak nyaman, agak lemas dan sangat menginginkannya.

“Aku… aku mau ke kamar dulu….”

Meski aku sudah persiapkan diri untuk tidur dengan Leo, entah kenapa saat itu diriku benar-benar merasa agak panik.

Pria ini benar-benar terasa sangat mengancam.

Namun, baru saja aku duduk di ranjang, Leo langsung mendorong pintu masuk dan menyodorkan ponselnya, “Sella telepon, dia tanya kamu sudah sampai rumah belum.”

Aku segera mengambil ponsel itu dan bicara pada sahabatku.

Baru bicara beberapa patah kata, tangan Leo dengan sangat alami terulur ke arahku. Awalnya dia merapikan rambutku, lalu dengan sekali sentak, dia langsung menarik handukku hingga terlepas.

Aku mematung seketika.

Berani… sekali dia melakukan hal itu saat aku sedang bertelepon dengan sahabatku?

Belum sempat aku bereaksi, dia maju setengah langkah lagi, mendorongku hingga jatuh ke ranjang, lalu mencengkeram pinggang rampingku dan membalikkan tubuhku dengan paksa.

Saat itu, aku benar-benar menyerah. Ini adalah posisi kesukaanku.

Apalagi sekarang aku dalam posisi menungging di atas ranjang, benar-benar tidak berdaya di hadapan Leo.

Dia hanya perlu mendorong tubuhnya sedikit untuk memilikiku sepenuhnya.

Sementara itu, sahabatku masih terus bicara di telepon tentang produk krim penghilang bulu yang bagus dan ingin merekomendasikannya padaku.

Aku tak tahu harus merespon apalagi, hanya bisa bergumam sambil mencoba mendorong Leo dengan tangan di belakang punggung.

Namun, dia malah menahan tanganku, menghisap jari-jariku dan memaksaku untuk menyentuh benda miliknya. Hal itu membuat separuh tubuhku terasa geli.

Sebuah rasa geli yang menusuk langsung ke lubuk hatiku.

Ternyata, sensasi dipaksa oleh seorang pria rasanya senikmat ini!!

Tanpa memedulikan suara sahabatku yang memanggil-manggil di ponsel, aku dengan patuh menunggingkan pantatku ke arah belakang.

Leo mencengkeram pinggangku dengan kedua tangan.

Seketika itu juga, aku merasa jiwaku melayang tinggi dan rasa maluku telah hancur sepenuhnya….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 7

    Lima belas menit kemudian, bel pintu berbunyi.Aku berdiri untuk membuka pintu, tapi tiba-tiba tubuhku terasa lemas dan terjatuh di sofa.Melihat hal itu, hal pertama yang dilakukan sahabatku bukanlah menolongku, melainkan membukakan pintu untuk Leo. Baru setelah itu, dia bertanya dengan nada pura-pura cemas.Aku menjawab, “Nggak apa-apa, mungkin hanya karena nggak sarapan, jadi darah rendah.”Sella langsung memotong, “Tapi, sepertinya gejalamu sangat parah, lho! Aku pergi beli obat dulu, ya. Tunggu sebentar!”Dia bahkan tak bertanya di rumah ada obat atau tidak, langsung meninggalkanku berdua dengan Leo. Seolah-olah sangat khawatir aku akan mati.Baru saja dia pergi, Leo langsung menghampiri untuk memapahku. Aku menolaknya, tapi dia malah memaksa menggendongku, katanya mau membawaku ke kamar untuk istirahat.Jika sebelumnya di kamar mandi Leo hanya sekedar mencoba-coba dan tidak benar-benar berniat melakukan sesuatu padaku. Tapi kali ini, tujuannya sangat jelas, dia benar-benar ingin

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 6

    Aku pura-pura tidak melihat aktingnya yang payah itu. Aku menunjukkan seolah hatiku telah luluh dan setuju untuk membiarkannya pindah ke sini dalam beberapa hari, tetap dengan syarat pacarnya dilarang menginap.Sella bilang tidak masalah, tapi kemudian dia mencoba bertanya, “Aku nggak akan sanggup membawa barang sendirian saat pindahan, kalau pacarku hanya sampai depan pintu untuk bantu angkat barang, boleh?”Aku berlagak tidak tahu apa rencana mereka dan mengizinkannya.Akhir pekan pun tiba. Sella yang penuh niat busuk itu muncul di depan pintu rumahku bersama pacarnya.Aku berkata, “Kamarnya ada di lantai dua.”Sella mulai berakting menjadi wanita lemah yang tak berdaya. Dengan wajah memelas, dia berkata padaku, “Lantai dua, ya? Lihat, barangku sebanyak ini, ada selimut dan bantal juga. Boleh nggak pacarku masuk sebentar untuk angkut ke atas? Dia akan langsung pergi setelah itu, nggak akan berlama-lama.”Aku mengizinkannya.Setelah itu, aku kembali ke kamar sendirian dan menutup pint

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 5

    Belum sampai seminggu setelah aku pindah, Sella terus-menerus mengirim pesan. Dia bilang ingin datang mencariku, sekalian melihat seperti apa tempat tinggalku yang baru.Aku tahu pasti ada maksud lain di balik itu, tapi tetap saja tidak tega menolaknya. Kupikir tak perlu sampai bersikap terlalu keras. Setidaknya kami masih bisa mengobrol sebagai teman. Jadi, aku pun memberinya alamat dan membiarkannya datang.Sejak dia melangkah masuk, aku sudah merasakan aura kesal yang dia pendam.Sambil melihat-lihat rumah dua lantai milikku, dia berdecak kagum dan berkata, “Enak sekali tinggal di sini, luas sekali. Aku jadi iri. Aku juga mau tinggal di tempat seperti ini.”Aku mendengus pelan. Dalam hati berpikir, benar-benar orang yang tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki.Kami mengobrol sebentar, lalu aku mencari alasan dengan bilang bahwa diriku harus bekerja online, sebagai cara halus untuk menyuruhnya pulang.Dengan nada sinis, Sella berkata, “Apa sih? Baru datang sebentar sud

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 4

    Alasan mengapa aku tak berani membongkar masalah ini adalah karena ide tinggal bersama ini datang dariku.Sebenarnya aku sangat mampu untuk menyewa rumah sendiri, tapi diriku tipe orang yang takut kesepian dan khawatir akan bahaya jika tinggal sendirian. Itulah sebabnya dulu aku mengajak Sella untuk tinggal bersamaku.Aku tahu sebenarnya kontrakan Leo ada di dekat sini dan Sella bisa saja tinggal di sana. Jadi, agar dia mau tetap menemaniku, aku membayar penuh uang sewa rumah ini. Sementara Sella hanya perlu membayar biaya air dan listrik.Itulah sebabnya, selama ini aku selalu membiarkan Leo datang ke sini untuk bermesraan dengan Sella.Namun sejujurnya, kalau dibilang aku tidak muak, itu bohong.Sudah berkali-kali aku terbangun tengah malam karena suara dari kamar sebelah. Sangking kesalnya, aku sering berdiri di depan pintu kamar mereka dan ingin bilang kalau tidak perlu tinggal bersama lagi.Namun pada akhirnya, aku selalu diam dan berjalan balik ke kamar.Mungkin aku akan baik-bai

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 3

    Tepat saat itu, tiba-tiba Butter menggonggong kencang ke arah kami.Seketika, aku tersadar sepenuhnya. Aku meronta sekuat tenaga dan menendang kaki Leo dengan keras.Karena sedang dalam kondisi santai dan tidak waspada, Leo mundur selangkah karena kesakitan dan melepaskan cengkeramannya. Aku pun langsung mencoba melarikan diri.Tak disangka, meski Leo membungkuk kesakitan sambil memegangi perutnya, dia masih sempat mengulurkan satu tangan untuk menahan pergelangan tanganku, tidak membiarkanku pergi.Rasa takut yang tadinya menyelimuti, kini berubah menjadi amarah. Aku memaki dengan penuh amarah, “Kamu gila?! Kalau berani macam-macam, aku lapor polisi sekarang juga!”Leo melotot ke arahku, menegakkan tubuhnya perlahan, lalu berkata dengan nada mengejek, “Apain pura-pura? Kemarin waktu mengintip, kamu terlihat sangat senang. Tadi juga kamu yang menggodaku… kok sekarang tiba-tiba berubah jadi begitu galak?”Aku langsung membalas, “Kapan aku menggodamu? Kamu mau bilang soal handuk yang lep

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 2

    “Ah!”Aku memekik tertahan sambil gemetar. Sangking takutnya, aku hampir tersandung saat terhuyung-huyung lari kembali ke kamar.Rasa malu karena tertangkap basah mengintip, bercampur dengan sensasi mendebarkan saat tahu Leo berbuat nakal dengan celana dalamku, membuatku tak tahan lagi. Seluruh tubuhku terkulai lemas di ranjang.Aku sangat menginginkannya!Aku sangat ingin ada seorang pria yang tiba-tiba muncul di ranjangku sekarang juga!Siapapun itu!Tak peduli apapun konsekuensinya, asalkan dia sekuat Leo! Asalkan dia bisa mengisi kekosongan di dalam hatiku!Kedua kakiku menjepit bantal di balik selimut, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak kegelisahan yang ingin meledak dari dalam tubuh. Jari-jari kakiku menekuk, tubuhku meliuk gelisah dan aku menggigit bibir kuat-kuat.Sampai detik terakhir sebelum terlelap, aku masih berpikir seandainya saja sahabatku tidak ada di sini, Leo pasti tidak akan menahan diri untuk menerjangku, ‘kan?Namun tak kusangka, hari itu datang lebih cepat da

  • Dusta Di Kontrakan Bersama Pacar Sahabatku   Bab 1

    “Cepat puaskan aku….”Larut malam, aku berlutut di atas ranjang membelakangi seorang pria, menunggingkan pantatku setinggi mungkin. Namun, dia hanya memegangi pinggulku, sengaja tidak mau segera masuk.“Panggil aku ayah.”“Ayah, kumohon.”“Mohon apa?”Kata-katanya membuatku merasa seperti anjing be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status