LOGIN" Ayah tolong Alin sekali ini aja. Tolong jangan tambah penderitaan Alin lagi. " "Ayah tolong batalkan perjodohan ini, Alin tidak sanggup melihat Freya akan tunangan dengan cowok yang sangat Alin cintai. Alin sudah patuh pada semua perintah Ayah. Kenapa Ayah masih terus memberi luka pada hati Alin. Kenapa Ayah lebih mementingkan anak tiri Ayah dibanding anak kandung sendiri." Alin gadis yang malang, ia di tinggalkan oleh kedua orang tuanya sendiri. orang tuanya kini sudah mempunyai keluarga masing – masing. Alin kini hanya tinggal dengan pembantu kesayangannya, yaitu Bi Asih dan Pak Ujang suami Bi Asih. Alin tinggal dirumah yang dulu penuh cinta dan kasih sayang, namun kini rumah itu sudah tidak ada lagi cinta yang menghiasi. Hanya kesepian dan kehampaan yang menyelimuti rumah itu. Suatu hari ia bertemu dengan seseorang yang merubah kehidupannya secara drastis. Senyum yang sudah lama tidak terpancar di wajah Alin. Kini datang menghiasi wajah Alin yang cantik. Wajah putih berseri itu kini terlihat lebih cantik, karena senyuman yang lebar datang terus menerus setiap harinya. Namun kisah cinta Alin terhalang oleh Freya, Anak tiri Ayahnya.
View MoreThe night seemed starless, wind gushing through the boughs laden with blossoms of the tree, Riya stood still in loneness. Terrace had become her temple by now; the only place she found solace and serenity. Her complaints directly hit God since she rambled lifting her head to the sky. All she could possibly sense that moment was her heave of disappointment, pain got heavy with every tear fall. By now, she’s lost hope for love. Its been a day since Advik got wedded.
Riya:
On October 5th 2015, is when I first happened to meet Advik, a real conversation resonated. We’ve been living in the same apartment for years now, but hadn’t bumped at each other. We minded our own business, until we threw ourselves up at each other on a Monday morning. Sorry he mumbled to himself, heading to his black shimmering Royal Enfield Bike.
“What are you doing there standing still?” my father called out from the car, waiting for me to get in. I swiftly hopped in and was all set and excited.
It was my first day at college. I was always been surrounded by girls right from my kindergarten. I know, that’s devastating! After 12 years of being raised in a convent with moral values and prayers, I finally landed up at a co-ed. ( I could better term it to be one of my accomplishments, having with me strict typical Indian parents) I had my whole family accompany me to college, since it was my first day- a ritual to bless the child who’s about to embark on the journey of career.
Soon after I stepped in, waving goodbyes to the family, I was led by the student council to my respective classroom.
I chose Literature as my foundation. It isn’t new in the trends now for a student to do science and then pursue arts in her college level. Unfortunately I scored high in my tenth grade which made my parents push me into science. But I made it a point that I would choose English as my basic after my schooling. I developed a love towards the language English during my sixth grade, Ms. Odelia Diaz a Portugese teacher who instilled the interest and admiration for the language. She was flawless, her accent impeccable and a woman with a great attitude and dress sense. An epitome of a modern woman with ethics.
I was probably late to class, but there was no staff gladly. The room was filled. I made my way to the last bench where already three were seated, I fit myself in. Hi, myself Riya. I thrusted my hand out. Sai, Ryan and Harini others introduced. Preethi the wholesome of her name- is all bubbly with all love overflowing, she emitted positive vibes to all those around her; Vidhya seemed a little reserved to me, being the first day I didn’t want to end up judging so quick; Ryan is such a brat, ofcourse notorious and naughtiest, the leader of the playboy club.
The first day just flew in a blink of an eye with each one’s self introductory classes. Canteen was not really a big hit, no wonder my mum’s food is always scrumptious and I ended up only having a mouth rest into Sai’s big food tunnel.
I returned home later that evening after college when I saw him at the gates of the apartment.
“Hi, This is Advik!” I know you reside here, but haven’t really spoken to you before; he extended his hand. Riya, I introduced. Sorry, I was in a hurry this morning and couldn’t stop by to even apologize properly, he said. Oh that’s fine, that’s so trivial; I turned to leave.
“You look cute” he commented, he sounded flirty this time. I simply just passed without letting a word.
I had a rough day at college, moreover I felt exhausted. I made my way to the terrace to breathe in some fresh air. Advik had already been there, on a call; giggling and chortling. I assumed it should be his girlfriend, because he seemed to be blushing.
Once he was done, an official call from my colleague, he said.
Okay, I shouldn’t have judged I thought to myself.
So, whatsup? Do you visit the terrace often? he posted.
Not really, only when I’m pissed, I relieved a sigh. We had just begun to talk about each other; my career and his.
I had always been an confessionalist from then. He turned out to be my human diary, someone whom I’ve never imagined would be.
He was not really a replica of a fictional character with blue eyes holding a guitar to impress, but definitely yes, a good taste for music and extravagantly smoking hot physique. His eyes were enticing, his lips seductive- they were unusually small. Even a casual gaze from him made me go nuts.
He waited at the door gate, everyday for my return. I would always stop by to have a quick convo.
Alin tersenyum manis pada semua siswa dan siswi yang ada di kelas nya itu dan ia sekali lagi memperhatikan sekeliling, ia memperhatikan wajah calon teman nya itu. Kemudian Alin melihat Freya yang berada di bangku belakang barisan kedua, ia sedang menatap Alin dengan sinis. Alin mengabaikan nya, ini hari pertama ia sekolah. Alin tidak mau merusaknya, hari ini pun mood Alin sedang bagus sekali. Ia senang bisa satu sekolah dengan Samuel tapi tidak dengan Freya. “Ayo Alin, silahkan duduk. Disana ada 2 bangku kosong, kamu bebas bisa duduk dengan siapa saja. “ Ujar Bu Riska seraya tersenyum pada Alin. “Baik Bu, terimakasih. “ Alin tersenyum dan menundukkan kepalanya ke arah Bu Riska. Alin melihat ada seorang cewek yang ia perhatikan, sedari tadi cewek itu terus menerus menunduk. Alin memilih duduk dengan gadis itu, Padahal sebelah kursi Samuel itu kosong, tapi Alin lebih memilih bersamanya. Alin melihat ke arah Samuel, yang terhalang oleh 2 meja di sebelah
Tittt... Tittt... Tittt...Alin membuka jendela rumah nya, terlihat mobil hitam ternyata itu adalah mobil Anton. Kemudian Alin membuka pintu dan keluar menghampiri Anton.“Ayah gak mau masuk dulu? “Ujar Alin.“Nggak, Ayah gak bisa lama lama. Ayo cepat, suruh Pak Ujang bawakan koper koper kamu. “Alin mengangguk, kemudian ia mengambil tas kecilnya di dalam kamarnya.Alin menatap sekeliling kamarnya, ia dengan berat hati harus meninggalkan kamar kesayangan nya. Alin sudah berpesan pada Bi Asih.Bi, kalau Alin sudah tinggal di rumah Ayah. Tolong rawat kamar Alin ya Bi, jangan ada barang hilang satu pun dari kamar Alin dan jangan ada yang berubah posisinya. Posisi yang sudah Ibu atur dulu, Alin tidak mau merubahnya sedikit pun. Foto dan boneka ini jangan ada yang berubah ya Bi.Semalam, saat Alin dan Bi Asih sedang memasukkan baju – baju Alin ke dalam koper. Alin dan Bi Asih Asyik berbincang
Alin hanya bisa pasrah, ia mengikuti apa yang Ayah nya suruh. Sekarang ia ingin sedikit menuruti apa titah Ayahnya.Alin pikir dengan begini ia akan bertemu dengan Ayahnya setiap hari dan hubungannya akan lebih membaik. Urusan ia dengan Freya... Entahlah ia tidak ingin memikirkannya sekarang, ia terlalu lelah.Alin sedang duduk di kursi taman yang ada di dekat rumahnya.Ia termenung. Memang, Alin yang sekarang sudah berbeda jauh dengan Alin yang dulu.Sekarang yang di perlukan Alin hanya memikirkan dirinya sendiri, tanpa harus memikirkan orang lain sekali pun itu orang tuanya sendiri.Ibu kemana? Kenapa Ibu gak pernah temui Alin. Alin kangen sekali Bu. Alin iri dengan anak anak yang lain. Mereka setiap hari bertemu dengan Ibunya, sedangkan Alin? Menanyakan kabar pun Ibu tidak pernah. Alin yang malang, ia setiap hari Alin selalu berkunjung ke taman tersebut, selain Cafe Langit.Tiba tiba hujan datang menyapa. Hanya geri
Angin malam yang bertiup lembut itu terasa mengelus kulit putih gadis cantik yang tengah memandangi langit. Pemandangan diatas bukit ini sungguh indah, disertai alunan musik yang begitu merdu menambah keindahan malam.Suasana Cafe Langit ini adalah suasana yang paling favorit bagi setiap orang.Alin terus menerus memandangi langit, ia terus menatap melihat indahnya bintang yang bersinar. Hanya ditempat ini ia bisa melupakan sejenak masalah yang ada di dalam hidupnya yang terus datang silih berganti. Disini ia mendapatkan ketenangan dan kenyamanan yang tidak ia dapatkan dari siapa pun.“Kenapa sih Sam, kehidupan gue begitu rumit. Padahal keinginan gue sepele, gue cuma minta perhatian bokap sama nyokap gue lagi. Apa itu sulit?”“Kalau saja saat itu bokap gue gak ngelakuin hal yang menjijikan, mungkin hidup gue gak akan seperti sekarang Sam. “ Keluh Alin pada Samuel, sekarang ia menatap kembali langit dengan pandan
“Aduh ada yang lagi sok jagoan nih. ““Orang lemah kok sok sok an ngebully sih. ““Dah tahu kali ya kalau si Ana gak bakalan ngelawan, jadi terus aja ngebully anak polos ini, DASAR CUPU!. “ ujar Alin ketika melihat tangan Syifa terus menerus menar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.