Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 47. Junior-ku Merindukanmu

Share

47. Junior-ku Merindukanmu

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2025-08-31 09:15:32

“Kenapa tidak? Lagi pula, Carol juga suka dengan anak-anak. Dia tidak masalah Shanum jika harus tinggal bersama kami dan juga kamu dalam satu rumah. Terlebih, dia mengijinkan kita segera menikah,” imbuh Danar lagi sambil membayangkan yang iya-iya.

Bukan serakah. Tetapi memiliki dua istri itu akan menjadi tantangan baru baginya. Bukankah dia bisa berlaku adil, kenapa Diana menolak terus?

“Jangan karena kamu adalah ayah biologis dari Shanum, lantas kamu bersikap seenak jidat mu sendiri.” Diana membuang nafas kasar dan mengumpat pada dirinya sendiri yang selalu saja terjebak dengan keadaan memuakkan.

Kenapa harus dipertemukan dalam kondisi seperti ini? Andaikan mereka berdua bertemu di saat Damar telah bercerai dengan Caroline, mungkin Diana tidak akan menolak ajakan pria itu untuk tinggal bersama lagi.

Ada rasa perih akibat luka yang belum mengering sempurna di hatinya. Diana kemudian beristighfar karena sempat menyalahkan takdir Tuhan yang telah mempertemukannya denga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Romauli Sirait
oh..hoh....pintar sekali sidamar ular ... merayu Diana.........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   481. Call Me ‘Honey’

    Tak hanya Ara dan Diana yang terperanjat, Sagara pun ikut tertegun di atas ranjangnya. Namun, saat perhatian semua orang terpusat pada Arnold, Sagara justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti.“Sogokan maut Ayah ke Tuan Harven berhasil,” batin Sagara penuh kepuasan. “Tinggal sogokanku ke Ara nih. Apakah membuahkan hasil?”“Ya, calon mantu. Ada yang salah, Sayang?” Arnold bertanya balik dengan nada sangat santai, seolah-olah semalam ia tidak baru saja mengamuk ingin menghancurkan dunia.“Eng—enggak, gak ada, Pi.” Ara langsung membuang muka, pipinya memanas karena malu yang luar biasa. Ia merasa harga dirinya ikut terseret jatuh. Papinya yang awalnya menggebu-gebu ingin meruntuhkan kerajaan bisnis Damar, ingin membunuh Damar, dan segala sumpah serapah lainnya, kini justru termakan omongannya sendiri. Dan lihat sekarang? Pria itu bahkan tidak tahu malu, bersikap seolah mereka adalah sahabat karib yang tak terpisahkan!Saat Ara sedang merutuki kegengsian papinya yang runtuh sek

  • ENAK, PAK DOSEN!   480. Sogokan Maut

    “Tidak!” Arnold mengangkat tangan, memberi isyarat agar Damar menjauh. “Tidak, aku tidak apa-apa. Tidak! Sudah, cukup. Aku tidk bisa …,” ucapnya dengan suara serak yang mulai stabil.Damar melipat keningnya, bibirnya berkedut, bingung. “Sudah? Maksudmu, kamu sudah baik-baik saja bagaimana? Dan tidak bisa apanya maksudmu? Kamu menolak lamaranku?” tanya Damar memastikan, ia menarik napas lega dan kembali duduk meski matanya tetap waspada.“I—iya, maksudku tidak, tidak. Lamaranmu kuterima,” jawab Arnold cepat, seolah takut tawaran itu akan menguap jika ia menunda sedetik saja. Ia menatap Damar lurus-lurus, mencoba mencari celah kebohongan di sana. “Tapi, kamu tidak omong kosong, ‘kan? Semua aset itu beneran bakal pindah tangan ke Ara?”Damar mendengus pelan, ia memperbaiki posisi kerah jasnya dengan gaya angkuh yang khas. “Apa aku terlihat seperti seorang penipu? Nama Setyawan taruhannya, Nold. Aku tidak pernah bermain-main dengan angka.”Arnold terdiam sejenak, menimbang harga dirinya y

  • ENAK, PAK DOSEN!   479. Mahar—No! Pemindahan Aset—Yes!

    “Mansion di Menteng? Itu bukan sekadar rumah, itu adalah simbol kasta tertinggi di ibu kota yang bahkan aku saja tidak punya satu pun di sana. Dan mobil tadi, harganya … ya ampun! Masih ditambah satu apartemen di PIK yang harganya miliaran. Goddamn! Dia seserius itu, atau hanya sedang menggertakku dengan angka-angka di atas kertas?”Arnold perlahan meraih gelas wine-nya, namun bukannya meminumnya, ia hanya menatap pantulan dirinya di cairan merah tersebut. “Kamu mencoba membeli anakku, Damar?” tanya Arnold lirih, ia mencoba bersikap biasa meski dalam hatinya ingin menjerit, girang bukan main. “Kamu pikir aset-aset ini bisa membayar trauma yang mungkin dialami Ara karena putramu?”“Bukan membeli,” sahut Damar tegas. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap lurus ke dalam mata biru Arnold. “Ini hanya sebagai jaminan. Jaminan bahwa kalau pun dunia ini runtuh dan hubungan anak-anak kita tidak bisa diselamatkan, setidaknya Ara dan calon cucuku tidak akan pernah kekurangan satu helai rambu

  • ENAK, PAK DOSEN!   478. Mahar 5 Miliar

    Suasana di dalam ruang private restoran cepat saji itu terasa sangat kontras. Di luar, riuh rendah suara pengunjung dan aroma ayam goreng menyeruak, namun di dalam ruangan ini, udara seolah membeku. Damar duduk dengan punggung tegak namun santai di depan Arnold. Di tengah meja bundar yang besar itu, setangkai mawar merah dalam vas kecil tampak kontras di antara dua pria yang sedang memendam ego masing-masing.Begitu seorang waiters masuk dengan langkah hati-hati dan menyerahkan buku menu, Damar bahkan tidak meliriknya. Ia hanya menatap lurus pada pria bermata biru di hadapannya.“Sajikan yang paling spesial dan jangan lupa sajikan wine terbaik kalian ke sini,” titah Damar dengan suara berat yang mutlak.“Baik, Sir. Mohon tunggu sebentar,” sahut waiter itu sambil membungkuk hormat, merasa terintimidasi oleh aura dua pria di dalam ruangan tersebut.Selama lima menit menunggu, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Tak ada tegur sapa. Arnold sibuk dengan ponselnya, jemarinya

  • ENAK, PAK DOSEN!   477. Gak Hamil, Gue Hamili Lagi

    Sambil menikmati santap siang itu, Diana mencoba mencairkan suasana. Ia menopang dagu, menatap Ara dengan binar penuh minat. “Ngomong-ngomong, Nak, Tante belum tahu banyak soal kamu. Katanya kamu kuliah jurusan hukum. Udah semester berapa?” Ara menghentikan suapan dimsum ke mulutnya. Ia menelan makanannya perlahan sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sopan. “Semester lima, Tante,” jawabnya singkat, agak canggung. Diana melirik Damar dengan raut wajah sedikit resah. Pasalnya, Ara mendadak menjadi sosok yang sangat irit bicara dan penuh batasan, kontras sekali dengan betapa berapi-apinya gadis itu saat berdebat dengan Sagara tadi. Merasa masih ada yang mengganjal, Diana bertanya lagi dengan nada hati-hati, “Kalau memang beneran hamil ... kamu yakin mau dinikahin Sagara dan cuti kuliah?” Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Ara terhenti. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menatap Diana dengan sorot mata yang mendadak dewasa. “Bener, Tante. Itu keputusan terbaik menurut aku,

  • ENAK, PAK DOSEN!   476. Gak Ada Kata Batal

    Ara memutar bola mata malas. Ia yakin, di otak Sagara isinya hanya seputar sel4ngkangan saja. “Udah, gue mau pulang! Kita udah sepakat. Kalau hamil, kita nikah. Kalau gak hamil—”“Kita ulang sampai hamil, terus kita bisa nikah. Fix! No debat!” potong Sagara dengan nada final. Ia menyeringai tipis, sepasang matanya yang sayu namun tajam mengunci pergerakan Ara, seolah-olah kata ‘batal’ tidak pernah ada dalam kamusnya.Di koridor, Damar menarik napas panjang. Ia menangkap binar obsesi yang terlalu pekat dari suara putranya. Ia melirik Diana yang tampak ragu.“Yang, telinga kita bisa panas kalo kelamaan di sini. Udah, ayo masuk,” bisik Damar.“Tapi, Mas. Apa kita nggak ganggu mereka?” Diana meremas jemarinya cemas. “Kayaknya mereka lagi panas banget pembahasannya. Aku rasa momennya gak pas, Mas.”Damar menggeleng tegas, urat di pelipisnya sedikit berdenyut. “Justru kalau kita nggak masuk, Ara bakal kabur. Kedekatan kita semua akan lebih cepat terjalin kalau kita segera masuk. Kita harus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status