Se connecterMalam itu, Diana diminta datang ke apartemen milik Damar.
Namun saat dia masuk, dia dikejutkan dengan lembaran dokumen di atas meja yang telah dipersiapkan oleh Damar kala itu. "Apa harus memakai surat pernyataan, Pak?" tanya Diana menatap banyaknya berkas tersebut. "Iya. Saya tidak mau mengambil resiko." Damar menyesap rokok elektrik miliknya. "Bisa saja kamu ingkar, bukan?" "Anda meragukan saya? Ya sudah, mana pulpennya?" putus Diana tanpa berpikir panjang, dia membubuhkan saja tanda tangan serta cap jempol. "Apa kamu tak mau membaca poin demi poin yang—" "Bapak, kita itu mau bercinta atau berdiskusi saja?" desak Diana dengan kesal. Kali ini, Diana sudah tidak tahan. Hentakan Damar malam itu membuatnya ketagihan ingin lagi dan lagi. Setidaknya satu ronde untuk malam ini, maka tak apa bukan? "Kamu terburu-buru sekali, Diana. Bukankah lebih enak jika kita lebih dekat dahulu sebelum melakukan penyatuan? Aku rasa, setidaknya kita butuh—" Diana lekas berpindah dan duduk di pangkuan Damar dengan menatap tajam. "Aku tidak suka berbasa basi. Bagiku, lebih cepat lebih baik dan saya bisa pulang," tuturnya berbisik lirih di dekat telinga Damar. "Itulah akibatnya jika kamu tak membaca persyaratan yang aku berikan. Bukankah disana tertera jika kamu akan melayaniku satu malam penuh?" tanya Damar sambil meremas bokong besar yang terbungkus hotpants tipis tersebut. "Ap- apa? Semalaman penuh?" Diana meneguk ludah. Apakah dia akan dijadikan budak seks? "Ya. Termasuk keluar di dalam dan tidak memakai pengaman. Kau sudah menandatanganinya!" tegas Damar yang membuat Diana hendak menjauh. "Kok gitu sih, Pak? Kalau saya hamil gimana? Gak, gak! Pakai karet pengaman! Titik!" "Itu pandai-pandainya kamu saja. Aku akan merekomendasikan dokter terbaik untukmu nanti untuk berkonsultasi masalah kontrasepsi yang aman. Bagaimana? Karena kontrak kita buka satu atau dua bulan. Tapi, satu semester ke depan. Masa depanmu tergantung dengan pelayananmu di atas ranjang, Diana." Tegas, lugas dan membuat Diana tak berkedip sedikit pun. "Tenang saja, itu semua akan ku bayar dengan mahal sesuai janjiku. Asalkan kau bisa memuaskan ku, maka ... aku mau memberimu lebih. Oh. Kau sudah basah, ternyata.” Damar menyeringai. Menelusupkan jemari nakalnya untuk menggerayangi lekuk tubuh sang gadis muda. Perlahan, meremas dua gundukan kenyal di kanan dan di kiri. Saat Diana mengalungkan kedua lengan di leher, bibir penghisap tembakau berapi tersebut lantas memagut bibir tipis Diana hingga brutal. Sampai suatu ketika, mereka saling melepas pakaian yang melekat pada tubuh keduanya. Bertelanjang menuju ke atas pembaringan, bibir saling memagut tanpa henti. Bahkan tanpa rasa canggung, Diana mendesah penuh kenikmatan mana kala serangan bibir Damar yang sangat ahli. “Eumh ….” "Apa kamu sudah siap?" tanya Damar sambil mendorong tubuh Diana untuk merebah di atas ranjang. Sebelum adegan tumbuk menumbuk, Diana mencegah dada Damar agar tak menekannya. "Tapi, Pak. Bagaimana jika ... keluarkan di luar saja? Saya belum antisipasi sama sekali," tutur Diana nampak takut. Jika melakukan dengan sang kekasih, tentu kekasihnya itu akan memakai pengaman dan menjaganya supaya tidak hamil. Tapi kali ini? Dia tak mau kecolongan. Bodohnya dia yang memang tak suka membaca, sehingga langsung menandatanganinya saja tanpa memikirkan resiko ke depannya. "Jika kamu tidak subur, kenapa harus takut?" tanya Damar sambil menelusupkan jemarinya pada celah yang berada di pangkal paha Diana. Bahkan tanpa persetujuan, Damar memasukkan dua jarinya dan mulai memaju mundurkan pelan supaya Diana lekas menyala. "Ssssh. Bagaimana jika Bapak saja yang pakai pengaman?" Masih dalam hal bernegosiasi. Diana takut tertular penyakit kelamin. Sebab Damar tentunya bukan lelaki biasa. Pemuda berstatus single dengan umur yang masih tergolong sangat muda tersebut pastinya sudah malang melintang di dunia persel*ngkangan. Entah dirinya calon sugar Baby Damar Setyawan yang ke berapa. Demi nilai yang memuaskan, Diana rela mengobral diri pada pria tampan ini. "Sssh, Pak!" Diana memekik. Kocokan pada alat kelaminnya semakin cepat dan membuatnya belingsatan. "Kau tahu jika memakai pengaman tentu tidak nyaman, Jadi, jangan memintaku menggunakan itu. Aku lebih suka mengeluarkannya di dalam. Itu lebih melegakan," jelas Damar yang masih melakukan aktivitasnya mengoyak celah sempit Diana menggunakan dua ruas jari telunjuk dan jari tengah. Bahkan, bunyi kecipak khas terdengar serta erangan manja Diana menambah hawa nafsunya semakin memuncak. "Tapi, apakah Bapak aman dari—" "Kamu pikir aku penyakitan? Selama ini aku hanya melakukannya dengan satu wanita. Entah dengan dirimu sendiri. Yang sudah berapa banyak burung bersarang di sini. Apa iya baru aku saja? Atau, kau pernah melakukannya dan operasi keperawanan?” tutur Damar mencibir. Ia tahu, semua bisa dilakukan bila banyak uang. Diana hanya bisa memekik. Dia meremas ujung bantal sebagai penyaluran rasa tak nyaman. Tubuhnya melengkung beberapa kali. Bahkan Damar sengaja mempermainkannya. Disaat hendak mendapatkan pelepasan, justru Damar memelankan laju gerakan tangan. Sampai pada akhirnya, Diana pun pusing sebab pelepasan yang tertunda. Napas terengah dan kedutan pada inti tubuhnya semakin menjadi. Namun, seolah Pak Dosen galak ini mau melepaskan kedua jari itu dari lubang surgawinya. "Pak, jangan main-main!" ucap Diana kelojotan. Dia bahkan mendorong tangan Damar supaya tidak mempermainkannya dan menyiks* seperti ini. Namun sial, Damar suka sekali mempermainkannya. "Katakan, sudah berapa banyak yang masuk ke sini?" tanya Damar ingin tahu. Ia menduga, sudah banyak lelaki yang mencicipi tubuh molek tersebut. "Baru Bapak aja. Auh .. emph. Pak, lepas!" Diana semakin tersiks*. Saat dia hendak mendapat pelepasan, Damar memelankan lagi kocokan itu sehingga dia ingin sekali menaiki dosennya sendiri dan bergerak liar di sana. "Jawab dulu. Berapa—" “Ya ampun! Gak percayaan banget! Cuma Bapak aja! Ssshh! Paaak, masukin cepet!" ibanya saat Damar hampir membuatnya lemas, namun gagal lagi. "Bohong!" "Saya jujur. Sssh. Lepas, Pak. Sssh," ucap Diana meronta dengan tubuh yang sudah basah akibat keringat. Sudah terbakar api birahi, Damar lantas menarik jarinya dan mengelap menggunakan sprei. Dia lantas bergerak cepat, menindih Diana dengan kuat. Lalu, melesakkan batang panjang pada kedua celah di pangkal paha Diana tanpa aba-aba. "Ih besar." racau Diana saat merasakan benda besar nan panjang menembus, menyodok sampai rasanya mentok ke ulu hati. Damar lagi menyeringai. Dia akan mengerjai gadis ini sampai pagi. Sentakan dan hujaman kasar itu justru membuatnya lebih bergairah. Miliknya terasa dimanjakan dengan begitu nikmat. Ini sensasi yang luar bisa dibandingkan dengan dua kekasihnya dulu yang selalu dia puja. Dari segi diameter dan panjang, Pak Damar lah pemenangnya. Sampai setengah jam kemudian, mereka terkapar mendapatkan pelepasan masing-masing.Di sebuah restoran tak jauh dari rumah sakit, suasana begitu kontras dengan ketegangan di kamar rawat. Diana dan Damar duduk berhadapan di sebuah private room. Meski usia pernikahan mereka sudah menginjak 18 tahun, namun kemesraan mereka tidak pernah luntur.“Kayak pengantin baru aja, Yang, harus disuapin segala,” goda Damar. Namun, ia tidak menolak saat sendok berisi makanan diarahkan ke mulutnya. Ia sangat bersyukur, hampir dua dekade bersama, hubungan mereka tetap harmonis tanpa pertengkaran yang berarti.“Ini salah satu cara agar hubungan kita tetap langgeng, Mas. Kalau nggak gini, ya dingin hubungan kita. Jadi ... aaaaa! Buka mulutnya, Mas,” pinta Diana manja.“Aku lebih suka buka baju, Yang!” bisik Damar nakal.“Ish! Mas!” Diana mencubit lengan suaminya, wajahnya merona merah.Sambil menikmati hidangan, raut wajah Damar kembali serius. “Ngomong-ngomong, anak-anak sepakat nikah nggak ya, Yang? Kok aku takut Ara nggak mau, atau Ara malah ngajakin Sagara pindah agama.”“Nggak usa
Sagara menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari gerak-gerik Ara. Tangan kirinya yang tak terinfus bergerak gelisah, meremas seprai hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol, sementara napasnya masih terasa sedikit berat akibat luka di dadanya.“Syarat apa lagi sih, Ra? Lo kaya gak ikhlas gitu deh nikah sama gue,” katanya dramatis.Ara pun mengangkat bahunya tak acuh. “Ya emang gue gak ikhlas nikah sama lo. Pernikahan ini ‘kan gak gue pengenin. Lagian, kita nikah kalo gue hamil. Kalo gak, gak ada pernikahan!”“Ck, oke, oke.” Setelah berdecak, Sagara mendesak Ara. “Terus kalah jadi nikah, syarat apa sih yang Lo kasih ke gue?”“Banyak sih, Gar.” Ara terkekeh pelan. Ia melihat betapa frustasinya Sagara. Tapi, apa ia peduli? Tidak! Sagara telah membuat hidupnya berantakan Dan kini ia pun harus mengeruk keuntungan dari kesempatan yang diambil Sagara tersebut. “Hah? Banyak? Lo sengaja buat gue kesel ya?”“Iya!”“Ampun deh, Ra! Ja
Sagara akhirnya melunak, ia meminta Ara duduk, lalu mengajaknya bicara dari hati ke hati, “Hm. Maka dari itu, lo ikut gue. Beres kan?”“Gue ngerasa nggak pantes buat belajar hal-hal suci kalau status gue aja udah sehancur ini.”Sagara tertegun. Candaan di kepalanya seketika hilang saat melihat gurat kesedihan dan rasa rendah diri di wajah Ara. Ia meraih dagu Ara, memaksa gadis itu menatap matanya.“Denger ya,” suara Sagara berubah berat dan serius. “Tuhan gue itu Maha Pengampun, sama aja sih sama Tuhan Lo. Di agama gue, nggak ada kata terlambat buat memperbaiki diri. Dan soal ‘kotor’ seperti yang lo bilang ….”Sagara mengusap ibu jarinya di pipi Ara. “Lo nggak kotor, kok. Gue yang salah karena nggak bisa nahan diri, tapi gue bakal perbaiki itu dengan halalin lo. Jadi ….”“Apa?” Ara memandang Sagara dengan ragu.“Kita mulai dari nol bareng-bareng. Gue juga bukan cowok alim, gue juga masih berantakan. Jadi, kita belajar bareng supaya jadi pasangan yang bisa menebus dosa dengan benar. Gi
Jenuh melihat perdebatan ‘unfaedah’ antara Sagara dan Ara yang nggak kunjung usai, Diana menyenggol lengan suaminya.“Mas, ayo cari makan. Laper tahu,” bisik Diana sambil menggoyangkan lengan suaminya dengan manja.Sambil mengusap kepala Diana yang dibalut hijab pashmina, Damar menyahut santai, “Anak-anak gimana, Yang? Aku nggak yakin mereka bakal nemu titik temu kalau kita tinggal. Ada baiknya kita tunggu aja keputusan mereka dulu.”Diana cemberut. Ia memajukan bibirnya hingga nyaris bisa dikuncir. “Tapi apa iya kita harus nungguin mereka debat kusir terus? Ayolah, Mas. Kita kasih mereka waktu berdua. Aku yakin Ara bisa mikir dewasa, dan Saga ... yah, dia cuma kecil di umur doang, otaknya mah udah jauh. Dia bakalan bisa nakhlukkin Ara. Secara, dia udah dapat tubuhnya Ara. Gampang mah kalau soal hati,” bujuk Diana.Kini, Damar menghela napas, melirik Sagara darj celah pintu—yang masih sibuk memandangi Ara dengan tatapan ‘lapar’. “Ya sudah, ayo. Kita beliin makanan juga buat mereka. N
Diana dan Damar di depan ruang perawatan Sagara mendadak cemas. Mereka berdua sibuk mondar mandir. Sesekali, mereka melirik ke dalam sana, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan oleh dua anak muda tersebut. Namun, mereka tidak bisa mendengarkan apapun, hanya saling menduga-duga saja. “Yang, kira-kira, apa ya yang membuat Ara datang nemuin Sagara? Apa karena rasa peduli atau memang dorongan dari orang lain?” tanya Damar dengan serius. Matanya masih mengamati pintu ruang perawatan putranya yang tertutup rapat. “Aku sih mikirnya karena Ara merasa bersalah, Mas. Clayton kan udah nyuruh anak buahnya untuk mukulin Sagara. Jadi, dari situ mungkin Ara simpati. Secara gak langsung, Clayton hampir membunuh Sagara, ‘kan. Ya gak sih, Mas?” timpal Diana. “Menurutku, itu adalah alasan logisnya mengapa Ara datang ke sini.” “Iya juga ya, Yang. Rasa simpati, dan rasa bersalah.” Damar mengangguk. Kemudian, ia tersenyum miring, “Tapi, ini
“Anak ini emang gak bisa dikasih hati! Ada kesempatan dikit, langsung godain! Dasar! Tengilnya kelewatan!” Damar merutuk pada putranya yang tidak tahu aturan itu. Setelahnya, Damar menatap Diana. Ia memberi kode agar segera menjauh. Sayangnya, Diana tidak paham. Maka, ia hanya mengangguk canggung saat Sedangkan Ara dalam hati tengah merutuk kesal, “Hm, kayaknya bocah sialan ini udah baikan. Duh, ngapain juga gue ke sini kalau cuma buat dengerin gombalan recehnya? Buang-buang waktu aja! Tahu gini gak ke sini!” “Sagara! Jaga bicaranya,” tegur Damar pada akhirnya. Meskipun nadanya tegas, tapi ia tak bisa menyembunyikan binar lega di matanya melihat Sagara kembali memiliki energi untuk menjahili orang. Diana ikut menimpali dengan senyum tak enak hati, “Ara, maafkan Sagara, ya. Dia memang agak lain daripada yang lain. Otaknya kadang suka ketinggalan di rumah kalau sudah ketemu kamu.” “Gak apa-apa, Tante,” jawab Ara singkat, meralat ucapannya menyebut Diana ‘Nyonya’ tadi. Meski ha







