LOGIN“Apa? Mama Maya kritis? Ya, ya. Aku akan ke sana. Oke, tunggu!” pekik Diana lagi setelah sang pengasuh memberitahunya.
Diana langsung saja menuju ke rumah sakit setelah seorang pengasuh memberitahukan jika mereka berdua diminta oleh Damar untuk pergi ke sana.Tidak ingin membuang waktu, maka Diana langsung saja menuju ke rumah sakit tersebut menggunakan taksi komersial yang kebetulan lewat di sekitar sekolah sana.Setelahmenghubungi di mana letak kamar perawatan Mama Maya, langkah kaki berbalut kan sandal selop tersebut menuju ke sebuah lift.Memang Mama Maya dirawat di ruangan ICU akibat terjatuh di sekolahan Shanum tadi.Akibat benturan di kepala yang cukup keras, maka Mama Maya harus dilarikan ke rumah sakit terdekat dan kondisinya kritis.Sesampainya di sana, Damar sudah menyambutnya di ambang pintu. “Mama ingin bicara padamu,” tuturnya.Tanpa banyak bicara, Diana segera masuk dan duduk di dekat seorang wanita tua yang tengah berbaring dan menggunaka“Bagaimana kondisi putra saya? Apa bisa diselamatkan, Dokter ... Rendy?” Diana menatap penuh harapan pada Dokter Rendy—begitulah nama yang ia lihat di ID card dokter yang ia guncangkan lengannya ini.Merasa istrinya membuat sang dokter tidak nyaman, Damar segera menariknya. Ia menasehati, “Yang, jangan begini. Kita dengarkan beliau bicara dulu.”Diana akhirnya mengalah. Dia memeluk suaminya, tapi tatapan sayunya tepat mengarah pada netra Dokter Rendy yang dibingkai oleh kacamata tebal.“Dok, silakan jelaskan,” kata Damar. Tak lupa, ia memberi satu kedipan pada Dokter Spesialis Saraf itu untuk tidak mengatakan segalanya.Setelah berdeham guna menetralisir rasa tak nyaman, Dokter Rendy mengangguk tipis pada Damar, ia kemudian menjelaskan singkat, namun tidak semuanya secara detail. “Secara garis besar, Tuan Muda selamat. Hanya saja, ... beliau belum sadar. Sejauh ini, tidak ada komplikasi yang terjadi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kalau tubuh Tuan Muda Sagara akan mengalami efek sam
Dokter Satria menoleh cepat, masih menggenggam selang oksigen.m di tangannya ketika dia mendekati latar monitor yang tampaknya abnormal. “Ada apa, Dok? Jantung dan parunya sudah kembali stabil, ‘kan?”“Benar. Sirkulasinya pulih, tapi ….” Dokter Rendy menajamkan penglihatannya. Ia menatap tajam pada layar monitor yang tampak aneh. Setelah menganalisis apa yang terjadi, barulah ia menjelaskannya pada Dokter yang ada di sampingnya itu. “Sepertinya respons otonom pada ototnya hilang, Dok. Thallium itu sempat memblokade jalur perintah dari otak ke ekstremitas bawahnya. Terjadi kelumpuhan saraf perifer,” jelasnya terperinci.Dokter Satria kemudian mengecek semuanya, memastikan benar atau tidaknya diagnosis yang dilihat Dokter Rendy tadi.Matanya kini terpaku pada layar monitor yang menunjukkan garis nyaris statis pada aktivitas saraf perifer Sagara. Kemudian setelah memastikan, barulah ia merespons dengan ekspresi yang sangat cemas di wajahnya. “Maksudmu ... tidak ada hantaran listrik k
Di depan ruang perawatan Sagara, Ara, Damar dan Diana menatap para petugas medis—entah itu perawat atau dokter, silih berganti masuk ke ruang ICU. Mereka berdiri dengan gusar, ikut mondar mandir dengan tegang dan bahkan tidak mengerti apa yang terjadi di dalam sana. “Bunda, maafin aku, Bun.” “Nak Ara, gak usah merasa bersalah terus. Semua yang terjadi sama Sagara itu sudah kehendak takdir,” kata Diana dengan lembut. Ia mengusap punggung Ara dan bahunya, memberikan sedikit rasa tenang meskipun ia sendiri tidak tenang sama sekali. Meski Diana mengusap punggungnya, tapi pikiran Ara tidak bisa berhenti memikirkan Damar. Detik berikutnya, kedua orang tuanya datang dan Ara langsung memeluk mereka. “Ara ….” “Mi, Pi … aku yang buat Sagara begini.” “Jangan salahkan dirimu sendiri.” Kim menasehati putrinya. Ia telah mendengar semua yang terjadi.
“Setelah melakukan uji laboratorium ...,” Dokter berkacamata itu menghela napas berat, lalu meletakkan selembar kertas hasil uji toksikologi di atas meja agar ayah dari pasiennya itu ikut melihat hasilnya. “Kami menemukan jejak Thallium Sulfate dalam aliran darah Tuan Muda Sagara, Tuan.”Damar mengerutkan kening, menunggu penjelasan lebih lanjut. Tapi lantaran resah, bibir pun tak sabar unuk menanyakan, “Thallium Sulfate? Apa itu?” “Ini adalah sejenis logam berat yang sangat toksik. Sifatnya tidak berasa dan tidak berbau, sehingga pasien tidak akan menyadari saat zat ini masuk ke tubuhnya,” jelas dokter dengan nada serius. Dia menunjukkan sesuatu pada Damar dari tab-nya, menunjukkan contoh cairan Thallium Sulfate yang dimaksud, sambil terus memberikan pemahaman bagi ayah pasien yang sangat awam mengenai ini. Damar mengamati gambar di tab dokter tersebut. Saat matanya menelisik jenis zat yang berbahaya itu, telinganya tetap mendengar dengan seksama p
“Kenapa kamu membiarkan perawat tidak jelas masuk ke sini, Nak? Sadarkah apa yang kamu lakukan ini salah? Membiarkan sembarang orang masuk, itu tindak kelalaian,” cecar Damar dengan tatapan yang menghujam jantung Ara. Bukan, bukan bermaksud menyalahkan. Tapi, ia hanya kecewa karena Ara yang secerdas itu bisa-bisanya lalai. Terlebih lagi anak buahnya yang tidak becus membuatnya makin emosi. Entahlah, Damar merasa kepalanya ingin meledak sekarang!Sedangkan Ara sendiri tersentak mendengar ucapan Damar. Tatapan Damar seolah menuntut pertanggungjawaban penuh atas kelalaian yang nyaris merenggut nyawa putranya.Lirih cicitan keluar dari bibirnya, “M–maaf, Om. Aku … aku gak tahu kalau ini bakalan terjadi. Aku sempat curiga, Om. Tapi kupikir karena dia melakukan hal yang wajar sebagai seorang tenaga medis—seperti mengecek tekanan darah, menanyakan makanannya habis atau tidak, dan ada keluhan apa, kurasa itu wajar, ‘kan? Makanya aku
Salah satu dokter lainnya bergumam dengan nada tidak percaya, “Bagaimana mungkin ada perawat yang bisa keluar masuk dengan bebas di lorong ini? Semua dijaga ketat, Dok!”“Iya. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan? Bahkan sebelum masuk, harus memiliki tanda pengenal, ijin, dan juga tes sidik jari kalau memang perawat itu benar-benar tenaga medis di sini. Apa iya ada yang ingin mencelakai Tuan Sagara, Dok?”“Saya tidak tahu juga, Dok. Kita cari tahu itu nanti,” sahut dokter utama dengan suara tegas namun penuh tekanan. “Yang penting sekarang kita urus pasien. Jangan sampai terlambat, atau kita dan nyawa keluarga kita sendiri yang terancam. Hubungi terus pihak laboratorium. Begitu hasil keluar, kita harus langsung menanganinya dengan tepat.”“Baik, Dok!”Bersamaan itu pula, terdengar suara pintu terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding. Diana dan Damar muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah, wajah mereka menyiratk







