MasukPagi itu, rumah keluarga Vogel diselimuti aroma roti bakar dan kopi hitam yang baru diseduh. Asap tipis mengepul dari cangkir di tangan Ernst, yang berdiri di dapur kecil nan rapi. Cahaya musim dingin menembus jendela, jatuh di lantai kayu yang berderit halus setiap kali ia bergerak.
Langkah tergesa terdengar menuruni tangga—lebih awal dari biasanya. Adelheid muncul, rambutnya sudah ditata dengan pita kecil dan mantel warna muda yang tampak terlalu cerah untuk pagi sedingin itu. “Ayah!” serunya riang sambil memeluk dari belakang. “Ijinkan aku pergi ke pesta pagi ini." Ernst tidak langsung menoleh. Ia hanya mengaduk kopinya perlahan, uapnya menutupi pandangan sejenak. “Pesta?” nada suaranya datar. “Biasanya orang pergi ke pesta setelah matahari terbit, bukan sebelum.” Adelheid terkekeh. “Ayah tidak mengerti anak muda. Tidak semua pesta diadakan malam hari. Lagi pula, bukankah Ayah selalu bilang anak-anak tak boleh begadang?” Ernst menatap putrinya dari balik bahu, matanya tajam tapi lembut. “Adelheid... kau pikir aku tak tahu ketika kau berbohong?” Adelheid mengerjap manis. “Sungguh, aku serius. Lagipula, aku ingin mengajak Margarethe bersamaku—jadi Ayah tak perlu khawatir.” Nama itu membuat Ernst diam sesaat. Ia menatap keluar jendela yang berembun, napasnya membentuk kabut tipis.. “Baiklah,” ujarnya akhirnya, pelan. “Tapi kau berdua harus pulang sebelum sore. Jangan buat aku datang mencarimu. Adelheid segera mengecup pipinya cepat. “Janji!” katanya, lalu berlari kecil menuju tangga, memanggil kakaknya dengan nada riang yang berusaha menutupi degup jantungnya. "Margarethe! kita pergi sekarang!" Di tengah anak tangga, Margarethe sudah menunggu—berdiri dengan sikap tenang, mengenakan gaun sederhana namun anggun. Adelheid menghampirinya, napasnya masih setengah tergesa. “Ayah setuju!” katanya dengan nada kemenangan kecil. Margarethe menaikkan alis, nyaris tidak percaya. “Benarkah?” “Benar. Jadi ayo pergi sebelum Ayah berubah pikiran,” jawab Adelheid sambil menarik tangan kakaknya. Dua saudari itu menuruni tangga bersama, mantel mereka berdesir lembut. Margarethe sempat berhenti di ambang pintu untuk meraih sepatunya. “Ayah, kami pergi. Kami akan segera kembali,” katanya singkat sebelum pintu tertutup rapat di belakang mereka. Hening kembali menyelimuti rumah. Ernst masih berdiri di dapur, menatap cangkir kopinya yang mulai mendingin. Di wajahnya terselip sesuatu antara khawatir dan pasrah—seperti seseorang yang tahu bahwa kebohongan kecil pagi ini akan membawa badai besar suatu hari nanti. ***** Charlottenburg Kediaman Von Richter Langit Berlin menggantung kelabu, seakan menolak melepaskan musim panas yang telah lama mati. Angin musim gugur berhembus dingin, membawa aroma dedaunan kering menyatu dengan debu sejarah yang belum usai. Kota ini dibangun kembali dengan keanggunan khas Jerman: bangunan bergaya Barok dan Neoklasik berdiri megah seolah menatap masa lalunya sendiri. Margarethe Vogel berdiri di depan pintu besar rumah keluarga Von Richter dengan ekspresi tak terbaca. Gaun sederhana warna kelabu, mantel berpotongan elegan yang terlalu formal untuk jam sepagi ini, dan mata biru tajam yang tak gentar menghadapi dunia. Di sampingnya, seorang gadis remaja Adelheid Vogel, dengan tatapan mencurigakan, menengok ke kakaknya. “Kau yakin ini akan berhasil?” tanya Adelheid lirih. “Tidak.” Margarethe mengetuk pintu tiga kali. Matanya menatap langsung ke arah pintu utama seakan bisa melihat siapa yang berdiri di baliknya. “Tapi jika aku tidak datang...mungkin kau akan hilang, dan dunia bahkan tak akan sadar kau pernah ada.” Pintu dibuka oleh seorang pelayan, tapi segera sosok Leonhardt von Richter, melangkah ke ambang. pria yang dikenal dikalangan militer sebagai perwira cemerlang—dan di dunia bayangan sebagai sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu. la berdiri dengan tubuh tegap dan netral seperti patung perunggu yang dihidupkan. Setelan gelapnya nyaris tak menyentuh debu. Rambut coklat tua disisir rapi ke belakang, Mata birunya yang teduh tampak tidak terkejut, tapi juga tidak sepenuhnya tenang. “Kau datang lebih cepat dari yang kubayangkan.” ucapnya datar seperti laporan intelijen, tenang, terukur, tanpa ruang untuk basa-basi. Margarethe mengangkat alis, “Dan kau belum belajar menyapa tamu dengan sopan, rupanya.” Di sampingnya, Adelheid nyaris tertawa—sudut bibirnya sempat terangkat. Tapi ia menahannya... Ini bukan saatnya.Asap rokok melayang tipis, menggantung malas di udara pengap. Bau logam tua, kabel terbakar, dan ozon dari mesin-mesin yang dipaksa hidup kembali bercampur—aroma yang hanya dikenal oleh mereka yang terlalu lama tinggal di sisi gelap sejarah. Friedrich von Richter duduk diam di kursi kulit tua. Punggungnya tegak, meski usia mulai menagih nyeri yang tak pernah ia akui. Tongkat kayu hitam berukir bersandar di sisi meja—bukan sebagai penopang, melainkan simbol kendali yang belum ia lepaskan. Di hadapannya, layar-layar monitor CRT menyala redup. Hitam-putih. Sedikit bergoyang. Kamera statis menampilkan lorong bawah tanah museum: Leonhardt berjalan paling depan, Margarethe menyusul dengan kewaspadaan dingin, dan Adelheid—terlalu santai untuk situasi yang seharusnya mematikan. Friedrich tidak berkedip. Langkah pelan terdengar di belakangnya. Seorang wanita tua melangkah keluar dari bayangan. Rambut peraknya disanggul rapi, wajahnya pucat seperti kertas arsip yang terl
Leonhardt berhenti di depan pintu besi tua yang nyaris menyatu dengan dinding. Karat memakan engselnya, namun di tengahnya terpasang panel kecil yang jelas bukan teknologi lama. Ia mengeluarkan salinan peta—dokumen buatan tangan Friedrich. Coretan pensilnya masih terlihat jelas. “Di balik ini,” katanya pelan, “ruang penyimpanan inti. Arsip dan jalur komunikasi lama.” Ia memutar knop perlahan. Tik. Tik. Tik. Bunyi alarm kecil terdengar—nyaris seperti jam rusak. Tapi cukup untuk membuat mereka bertiga membeku. “Itu apa?” Margarethe menoleh cepat. Leonhardt menatap alat di tangannya. Wajahnya mengeras. “Sensor gerak. Dimodifikasi. Bukan sistem museum.” CLANG. Pintu di belakang mereka menutup otomatis. Kunci elektromagnetik menggeram berat. Adelheid menjatuhkan diri duduk di atas peti amunisi tua, menepuk debu dengan santai. “Jebakan klasik. Aku berharap setidaknya ada sentuhan artistik.” Leonhardt mencoba sistem override manual. Tak bereaksi. Margarethe meny
Ia berhenti di depan sebuah patung besar: ksatria bersayap, satu kakinya menginjak kepala naga batu. Tulisan Latin di bawahnya telah terkelupas oleh waktu. Margarethe menatap patung itu. Lalu peta di tangannya. Lalu ke kanan. Lalu ke kiri. “…Tunggu,” gumamnya pelan. “Aku tadi lewat sini juga, kan?” Beberapa menit kemudian— Ia kembali berdiri di depan patung yang sama. Margarethe berhenti total. Senter di tangannya menyorot wajah batu itu. Bayangannya jatuh aneh, membuat ekspresi ksatria tersebut tampak nyaris… mencela. Ia memicingkan mata. “Jangan menilai,” bisiknya. “Aku tahu ini salah jalur.” Ia menghela napas, lalu mengaktifkan alat komunikasi kecil di sakunya. “Herr von Richter,” katanya datar. “Kau mendengarku?” Suara Leonhardt muncul cepat. “Dengar. Kau di mana?” “Dekat patung ksatria besar bersayap.” Diam sepersekian detik. “Ada tiga patung bersayap di sana,” jawab Leonhardt. “Detail.” “Yang menginjak kepala naga.” Hen
Udara dingin menyelusup dari celah-celah mobil tua yang terparkir di balik bayang-bayang bangunan museum. Cat dindingnya mengelupas, batu-batu tuanya menyerap cahaya lampu jalan seperti sejarah yang enggan memantul kembali. Leonhardt berdiri di luar kendaraan, mantel panjangnya tergerai pelan diterpa angin. Tangannya terselip di saku, namun langkahnya mondar-mandir kecil—tidak jauh, tidak cepat—seperti jarum jam yang kehilangan pusat putaran. Tatapannya berkali-kali melirik ujung jalan yang kosong. Ia memeriksa jam tangannya. Terlambat. Lebih dari satu jam dari waktu yang disepakati. Ia menghela napas panjang. Uap putih keluar dari mulutnya, memudar cepat di udara malam—seperti penyesalan yang datang terlalu lambat untuk diperbaiki. Apa mereka benar-benar masih marah…? Mungkin caraku bicara terlalu tajam. “Tidak normal sejak hari pertama.” Leonhardt mengernyit. Itu… terlalu jujur. Ia berhenti berjalan, bersandar sebentar pada bodi mobil, menundukkan kepala. Unt
“Jadi,” ucapnya akhirnya, datar. “Eksperimen itu nyata.” Leonhardt mengangguk perlahan. “Dan aku pikir kau salah satu yang selamat.” Ia berhenti sejenak. “Tapi bukan cuma itu. Ada data tentang—” “Mengenai aku?” Margarethe memotong lembut, tanpa memberi ruang. Leonhardt menatapnya lama. Ada luka di sana—bukan yang baru, hanya yang akhirnya tak bisa lagi disembunyikan. “Bukan hanya kau,” katanya pelan. “Mereka menciptakan prototipe. Anak-anak yang dibentuk sejak kecil—dengan propaganda, disiplin, kesiapan. Untuk perang yang tak pernah datang.” Napas Margarethe tertahan. Jemarinya mengepal. “Dan kau pikir aku salah satunya?” “Awalnya,” jawab Leonhardt. “Sekarang aku bahkan tak yakin siapa sebenarnya dirimu.” Ia menelan napas. “Dan itu yang paling menakutkanku.” Ia membuka map kembali. Sebuah peta tua dikeluarkan—lusuh, penuh lipatan. Jalur-jalur samar menghubungkan Berlin dengan kawasan Alpen, tinta merahnya memudar. “Ini jalur pengiriman informasi lama,” katanya. “
Malam itu, langit Berlin tampak lebih kelam dari biasanya. Awan menggumpal rendah—berat, pekat—seperti rahasia yang enggan pecah. Tak ada angin. Tak ada bintang. Hanya diam yang menggantung, menekan, seolah kota itu sendiri menahan napas. Sebuah mobil hitam melaju perlahan menuju Prenzlauerburg. Ke rumah tua milik Ernst Vogel. Dari luar, bangunan itu tampak biasa. Dinding kusam. Jendela-jendela yang tak mencolok. Halaman kecil yang nyaris tenggelam dalam bayangan. Dulu, tempat itu terasa netral—bahkan hangat. Kini, ia berdiri sebagai saksi bisu: diam, namun mengetahui terlalu banyak. Mobil berhenti. Leonhardt tidak langsung turun. Ia duduk di dalam, punggung menyandar, bahu tetap tegang. Di pangkuannya, sebuah map tua terlipat rapi. Secara fisik ringan—hanya kertas dan debu sejarah. Namun bobotnya lebih berat dari senjata apa pun yang pernah ia bawa. Tangannya menggenggam map itu erat. Buku-buku jarinya memucat—bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya telah lupa







