ANMELDENSetelah pemakaman, Clara beserta ayah dan kakaknya pergi ke rumah sakit bersama Tuan Besar Irawan. Di bangsal, tampak Baron sedang menghibur Yena, yang sangat terpukul secara emosional.Tuan Besar Irawan bertanya kepada Melvin, "Apa kata dokter?""Mungkin dia mengalami gangguan mental karena nggak bisa menerima kematian ibunya."Tuan Besar Irawan melirik ke arah bangsal. Ekspresinya penuh ketidakberdayaan. "Belakangan ini, Keluarga Irawan makin sering mengalami masalah. Entah siapa dalang di balik semua masalah ini."Pria tua itu menarik napas dalam-dalam dan tidak berniat masuk ke bangsal untuk menjenguknya. Dia berbalik dan berpesan, "Biarkan ayahnya menemaninya. Utus orang untuk berjaga di sini. Jangan biarkan dia melakukan bunuh diri lagi."Tuan Besar Irawan berhenti di samping Alex dan berkata, "Alex, aku perlu bicara denganmu."Alex mengangguk. Setelah Tuan Besar Irawan pergi, dia menatap Victor dan berkata, "Antar adikmu pulang nanti.""Aku mengerti."Alex dan Tuan Besar Irawan
Sopir berulang kali mengangguk dan mengemudikan mobil ke persimpangan untuk melakukan putar balik.Namun, saat Robert dan kelompoknya tiba di klinik kecantikan untuk mencari Dokter Saskia, mereka mendapati bahwa dia sudah tidak ada di sana. Robert berdiri dengan tangan di pinggang, menendang tempat sampah di koridor, dan tampak sangat marah.Helen mengetahui perselingkuhannya dengan Sandra, tetapi dia masih tetap memprovokasi mereka dengan cara yang tidak biasa ini. Wanita itu pasti menemukan bukti.Klinik kecantikan adalah tempat yang sering dikunjungi Helen.Tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman, tetapi dia terlambat selangkah.Dia tiba-tiba teringat bahwa dia bertemu dengan Clara di klinik kecantikan.Jangan-jangan dia?Terlepas itu benar atau tidak, saat ini dia lebih memilih untuk percaya bahwa itu benar daripada percaya bahwa itu tidak benar.Sudah saatnya dia menyingkirkan dua kakak beradik itu.Tiga hari kemudian, berita kematian Helen menyebar luas. Mengenai penyeb
Menanggapi penjelasan ini, Clara merasa Jason sedang mempermainkannya. Dia membuka kantong dokumen yang tersegel dan merogoh isinya. Dia menemukan bahwa itu hanyalah sebuah alat perekam suara.Setelah memastikan tidak ada barang lain di dalam kantong dokumen itu, dia yang tidak memahami alasannya pun menekan tombol putar dan menaikkan volume.Detik berikutnya, suara desahan seketika memenuhi mobil. Dia tertegun sejenak. Wajahnya jelas menunjukkan rasa canggung. Dia buru-buru mencoba mematikannya.Mungkin karena terlalu gugup, alat perekam suara itu terjatuh ke bawah.Dia membungkuk untuk mengambilnya dan tanpa diduga mendengar suara seorang wanita. Dia mengenali suara itu. Itu suara Sandra. Yang lebih mengejutkan, suara yang terdengar selanjutnya adalah suara paman kelimanya, Robert!Saat Clara memungut alat perekam itu, rekaman tiba-tiba berhenti. Dibandingkan dengan kejadian canggung barusan, jelas bahwa 'perselingkuhan terlarang' antara Sandra dengan Robert adalah rahasia terbesar.
Dokter Saskia terkejut sejenak, lalu tersenyum dan berkata, "Ternyata, kamulah keponakannya. Kalau begitu, silakan ikut aku."Clara mengikuti Dokter Saskia ke ruang penyimpanan VIP. Brankas Helen bernomor 29. Hanya Dokter Saskia yang mengetahui kata sandinya.Setelah Dokter Saskia memasukkan kata sandi, brankas pun terbuka, memperlihatkan dokumen yang disegel di dalamnya."Dokumen ini dia tinggalkan saat dia datang untuk fototerapi dua hari yang lalu. Dia khusus berpesan padaku dan mengatakan hanya anggota keluarganya yang boleh mengambilnya. Aku nggak tahu apa isi dokumen ini, karena kami nggak boleh mengakses privasi pelanggan kami."Clara memasukkan dokumen itu ke dalam tasnya. "Terima kasih banyak. Sudah merepotkanmu.""Sama-sama."Clara mengambil dokumen itu dan naik lift ke lantai bawah. Namun, begitu dia keluar dari lift, dia berpapasan dengan Robert yang berjalan ke arahnya.Dia berhenti sejenak. Ekspresinya jelas menunjukkan keterkejutan.Kemunculan Robert di klinik kecantikan
Tuan Besar Irawan menghentikan perdebatan di ruang tamu. Dia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Saat dia membukanya kembali, kesedihan yang terpancar di matanya telah digantikan oleh ketajaman yang lebih dalam. "Sebelum laporan keluar, siapa pun nggak boleh sembarangan menarik kesimpulan. Melvin, hubungi pengacara dan detektif swasta terbaik. Di satu sisi, bekerja samalah dengan penyelidikan polisi. Di sisi lain, masalah ini aku serahkan padamu untuk diselidiki."Suaranya tidak keras, tetapi mengandung otoritas dan tekad yang tak terbantahkan.Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu, tetapi kali ini, keheningan itu membawa sedikit nuansa keseriusan dan ketegangan yang terpendam.Melihat pemandangan di hadapannya, Clara merasakan hawa dingin menjalar dari lubuk hatinya. Kematian Helen bagaikan batu besar yang dilemparkan ke danau yang tenang, benar-benar menghancurkan kedamaian semu Keluarga Irawan.Tak lama kemudian, semua orang di ruang tamu telah bubar.Clara mengiku
Gifari Bay.Clara pulang ke rumah jam 7 malam. Victor dan Alex sedang membicarakan sesuatu di ruang tamu, dengan seorang pelayan dari kediaman utama berdiri di samping mereka.Dia merasakan suasana muram di ruang tamu. Mengingat apa yang dikatakan Helen siang tadi, dia pun dengan hati-hati bertanya, "Apa ... yang terjadi?"Alex duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Untuk sesaat, dia tidak mampu mencerna berita buruk itu.Clara berjalan ke sisi Victor dan menatapnya.Victor perlahan membuka bibirnya yang terkatup rapat. "Bibi Helen ... mengalami kecelakaan."Clara terpaku di tempat.Polisi menutup Danau Peso dan menyisakan kerumunan penonton di tepi danau. Tak lama kemudian, sebuah derek menarik mobil yang rusak dari danau. Itu adalah mobil Aston Martin senilai miliaran, yang mana juga mobil yang sering dikendarai Helen.Berita itu diunggah secara online dalam berbagai bentuk oleh para saksi mata dan menimbulkan kehebohan besar.Topik “Putri sulung Keluarga Irawan meninggal setelah mob
Kasur di belakangnya mengempes. Tubuh dua insan saling menempel erat. Clara refleks merasakan perubahan Jason. Tubuhnya menjadi kaku seperti zombi yang telah mati ribuan tahun. "Jason, apa Sindy nggak memuaskanmu?"Dia tahu pria itu selalu meremehkan pemaksaan dalam hal-hal seperti itu.Namun sekara
Clara tidak menyangka Jason akan begitu kejam.Demi Sindy, pria itu akan melakukan apa saja."Clara, kenapa kamu bicara seperti itu?" Ayahnya Clara tidak memihak putrinya. Sebaliknya, malah membantu Jason memarahinya karena sudah terlalu kasar. Ayahnya kemudian menoleh pada Jason dan berkata sambil
Wajah Pak Frans berubah muram. "Clara, meski kamu nggak butuh reputasi, rumah sakit butuh!""Oh, kamu tahu juga rumah sakit butuh reputasi. Kupikir rumah sakit itu rumahmu. Kok bisa-bisanya kamu melakukan pertunjukan seperti itu?""Kamu…""Dasar jalang! Apa lagi yang mau kamu jelaskan!" Nyonya Minah
Jason tiba-tiba angkat bicara.Sindy tampak menegang. Dia diam-diam mengamati ekspresi pria itu. Namun, Jason tampak tenang dan tidak punya emosi apa pun.Nyonya Minah berseru, "Dia merayu suamiku!"Mata Jason perlahan berubah gelap.Pak Frans maju ke depan dan berjalan ke sisi Jason. "Pak Jason, ma







