Compartilhar

Bab 178

Autor: Kharamiza
last update Data de publicação: 2026-06-12 22:00:43
Seketika itu, Acha menegakkan punggungnya begitu tatapan tajam Elvano masih tertuju padanya hingga beberapa saat kemudian.

Cara pria itu memandangnya membuatnya semakin salah tingkah.

Jemarinya tanpa sadar saling mencubit di depan tubuh sendiri.

“Aku ... haus,” katanya lirih.

Namun, begitu kalimat itu keluar, Acha sontak ingin menepuk dahinya.

Dari sekian banyak hal yang bisa dikatakan, ia malah terdengar seperti anak kecil yang baru bangun tidur?

Tetapi, Elvano sama sekali tidak ter
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
kakak-kakak yang masih setia menunggu buku ini. malam ini aku belum bisa update. lagi nggak enak badan dan susah mikirnya~ besok sekalian aku update beberapa bab ya~
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 227

    Suara kantin yang sejak tadi ramai mendadak terasa jauh dari Acha.Sendok di tangannya masih berada di atas piring, tetapi ia seperti tidak lagi berniat menyuapkan makanan itu ke mulutnya.Matanya hanya terpaku pada dua orang di balik dinding kaca itu.Rasanya, dadanya seperti baru saja dihantam benda keras.Ia sudah berusaha untuk tidak berharap. Sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak punya hak untuk cemburu.Namun, melihat pemandangan itu secara langsung ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mencoba menerimanya di dalam kepala.“Wanita itu datang bareng Pak Elvano, Kak” ujar Esther lagi, memecah hening yang sempat tercipta di antara mereka.Datang bareng? Acha bertanya-tanya dalam hatinya. Apa mungkin wanita itu ke Surabaya juga?“Kakak tahu, nggak, dia siapa?” tanya Esther akhirnya. Raut wajahnya terlihat penasaran.Acha menggeleng pelan. “Pacarnya Pak Elvano kali.”Begitu mengatakannya, dada Acha langsung terasa perih. Ada sisi lain hatinya yang seperti menolak and

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 226

    Acha masih menatap layar ponselnya dengan wajah bingung. Beberapa saat kemudian, ia mengernyitkan kening sebelum akhirnya mengembuskan napas kecil. Ah, masa bodoh. Kalau Elvano memang marah hanya karena pertanyaannya tadi, itu bukan urusannya. Lagipula, pria itu juga aneh. Masa melarangnya dekat-dekat dengan Evander yang notabene adalah adiknya sendiri? Dia punya dendam apa coba sama Evander? Acha akhirnya meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian menarik selimut hingga menutupi perut. Tubuhnya kembali direbahkan di atas kasur. Ia sudah terlalu lelah untuk menebak-nebak alasan pria itu tiba-tiba memutuskan sambungan video mereka. Pria itu benar-benar sulit ditebak. Acha memejamkan mata, dan malam itu pun lewat tanpa memberinya jawaban, setidaknya sedikit. Akhir pekan berlalu begitu saja. Senin pagi, Acha sudah kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Begitu tiba di gedung kantor pusat Alvarion, suasana pagi itu sudah cukup padat. Suara langkah karyawa

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 225

    Setelah itu, Elvano benar-benar berangkat ke kantor cabang di daerah Jawa Timur itu. Sementara Acha masih berada di rumah orang tua pria tersebut.Tadinya, ia ingin ikut pulang setelah Elvano pergi. Namun, Widya menahannya dengan alasan masih ingin menghabiskan waktu bersama. Katanya, sore nanti Acha akan diantar pulang.Acha sempat mengiyakan.Masalahnya, ketika sore tiba, alih-alih diantar pulang, ia malah diminta menginap.Acha sebenarnya ingin menolak saja. Namun, melihat wajah Widya yang sudah memohon-mohon, ia jadi tidak tega.Entah bagaimana ceritanya, permintaan menginap itu bahkan berakhir dengan Widya menyuruhnya tidur di kamar Elvano.Sekarang, Acha sudah berada di dalam kamar pria itu.Ruangan tersebut bersih dan tertata rapi, didominasi warna abu-abu dengan beberapa perabot berwarna gelap. Tidak banyak hiasan, tetapi semuanya terlihat mahal dan fungsional.Terlihat sangat Elvano.Acha berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya duduk di tepi ranjang.Matanya berkeliling se

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 224

    Elvano tak langsung menjawab, namun tatapannya sempat turun ke tangan Acha yang masih basah, sebelum kembali naik ke wajah wanita di hadapannya itu.“Tadi Raka menghubungi saya,” ujarnya kemudian.Acha menatapnya tanpa berkata-kata. Hanya menunggu kelanjutan perkataan pria itu.“Katanya saya perlu ke kantor cabang di Surabaya.”“Oh,” jawab Acha singkat.Baru sekarang ia paham siapa yang sebenarnya menghubungi Elvano tadi.Dia Raka. Bukan Nadine seperti yang sempat melintas di kepalanya.Entah kenapa, bahunya terasa sedikit lebih ringan, seolah ada sesuatu yang sejak tadi menekan pundaknya perlahan dilepaskan.“Sekarang?”Elvano mengangguk. “Iya.”Acha membuang tisu ke tempat sampah, kemudian bersandar ringan pada sisi meja wastafel.Masalah di kantor cabang itu memang sudah dibahas dalam rapat kemarin. Jadi, ia tidak terlalu terkejut mendengar Elvano harus pergi ke sana. Hanya saja, mendadak saja ada perasaan tidak nyaman ketika membayangkan pria itu akan pergi lagi setelah kejadian

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 223

    “Bercandamu nggak lucu, Evander!” seru Elvano, nada suaranya terdengar sinis.“Kalau begitu, Mbak Acha saja yang menilai.” Evander kembali menoleh kepada Acha dengan santai. “Atau Mas takut kalah saing, ya?”Elvano langsung melirik tajam.Sementara itu, Evander malah tertawa kecil, seolah tatapan kakaknya itu justru semakin menghiburnya.Acha menghela napas pelan melihat dua kakak beradik itu, tanpa tahu harus berbuat apa menanggapinya.“Ah, sudah-sudah.” Jonathan akhirnya menengahi. “Kalian ini kalau ketemu pasti bertengkar terus.”“Bukan saya yang mulai, Pi,” sahut Evander cepat.“Mulut kamu itu, lho,” balas Elvano.Evander mengangkat kedua tangan. “Saya akan diam.”“Bagus.”“Tapi Mbak Acha belum jawab.”“Evander!”Tawa Evelyn langsung pecah. Widya ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala.Acha hanya bisa tersenyum. Namun, ketika tanpa sengaja melirik Elvano, pria itu masih menatap Evander dengan wajah yang jelas-jelas tidak senang.Ia pun buru-buru menundukkan wajah. Entah k

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 222

    Mobil Elvano akhirnya berhenti di depan rumah orang tuanya.Acha yang sejak tadi memandangi jalan dari balik kaca jendela perlahan mengangkat kepala. Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia datang. Halamannya, teras yang cukup luas, bahkan pot-pot tanaman di dekat pintu masuk pun masih berada di tempat yang sama.Elvano mematikan mesin, lalu turun lebih dulu. Beberapa detik kemudian, pintu mobil di sisi Acha terbuka.“Silakan.”Acha menatap tangan Elvano yang masih memegang gagang pintu, lalu mengangkat wajah kepadanya.Ah, pria itu masih saja perhatian kepadanya.Seharusnya jangan begini terus, karena hal-hal kecil seperti itu justru membuat Acha semakin sulit menempatkan dirinya sendiri. Apalagi setelah pertanyaan yang ia ajukan di mobil tadi bahkan belum mendapatkan jawabannya.“Terima kasih.”Acha turun tanpa banyak bicara lagi.Mereka baru berjalan beberapa langkah menuju teras ketika pintu rumah sudah lebih dulu terbuka dari dalam, seperti orang di dalam sudah mengetahui k

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status