Share

Bab 8

Author: Kharamiza
last update Last Updated: 2026-01-02 22:54:35

Begitu terbangun di pagi hari, Acha langsung merasakan ada sesuatu yang aneh menekan perutnya. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya.

Napasnya tertahan. Ada rasa tak nyaman yang muncul begitu saja, bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata.

Ia terdiam beberapa saat, menatap langit-langit kamar, seakan berusaha mencerna semuanya. Pemandangan itu jelas bukan yang biasa ia lihat setiap pagi.

Ketika kesadarannya berangsur penuh, dada Acha mengencang. Udara di sekitarnya begitu asing.

Ia menelan ludah. Tubuhnya tampak terlalu ringan, sementara selimut yang menutupinya terasa begitu tipis, seolah tak benar-benar memberi rasa aman sedikit pun.

Keraguan sempat menahan gerakannya sebentar, namun rasa itu kalah oleh dorongan ingin memastikan.

Dengan hati-hati, Acha mengintip ke bawah selimut.

Ia tersentak.

Acha refleks bergerak menjauh, tetapi karena terlalu panik, ia jadi ceroboh. Keseimbangannya hilang, dan tubuhnya terguling ke samping ranjang. Kepalanya membentur meja kecil di sisi ranj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 9

    Setelah kepergian Elvano, Acha tetap duduk di lantai kamar hotel beberapa saat, membiarkan dinginnya marmer menyusup ke kulitnya.Napasnya belum sepenuhnya stabil ketika akhirnya ia memaksa diri berdiri. Tas lengan di meja digenggam seadanya saat melangkah gontai keluar kamar hotel, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi.Memasuki lift, Acha sempat melirik ke dinding kaca lift. Bayangan wajahnya tampak pucat, bahkan ia sendiri merasa asing dengan tubuh yang berdiri di sana.Begitu keluar dari hotel, Acha melihat orang-orang berlalu-lalang, kendaraan melintas seperti biasanya. Hanya dadanya yang sesak, seolah ada sesuatu menghantuinya terus menerus.Dalam perjalanan menuju apartemen, Acha lebih banyak diam, berbicara hanya ketika menyebutkan alamat pada pengemudi taksi. Suasana hatinya terlalu buruk untuk sekadar berbasa-basi.Di tengah kekalutannya itu, keinginan untuk berhenti bekerja dan menjauh dari Elvano muncul begitu saja. Rasa

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 8

    Begitu terbangun di pagi hari, Acha langsung merasakan ada sesuatu yang aneh menekan perutnya. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Napasnya tertahan. Ada rasa tak nyaman yang muncul begitu saja, bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata.Ia terdiam beberapa saat, menatap langit-langit kamar, seakan berusaha mencerna semuanya. Pemandangan itu jelas bukan yang biasa ia lihat setiap pagi. Ketika kesadarannya berangsur penuh, dada Acha mengencang. Udara di sekitarnya begitu asing.Ia menelan ludah. Tubuhnya tampak terlalu ringan, sementara selimut yang menutupinya terasa begitu tipis, seolah tak benar-benar memberi rasa aman sedikit pun.Keraguan sempat menahan gerakannya sebentar, namun rasa itu kalah oleh dorongan ingin memastikan.Dengan hati-hati, Acha mengintip ke bawah selimut.Ia tersentak.Acha refleks bergerak menjauh, tetapi karena terlalu panik, ia jadi ceroboh. Keseimbangannya hilang, dan tubuhnya terguling ke samping ranjang. Kepalanya membentur meja kecil di sisi ranj

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 7

    Acha berdiri kaku mendengar ucapan Elvano. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang membuat tengkuknya terasa dingin. ‘Tolong?’ batin Acha. Ia tahu Elvano sedang di bawah pengaruh obat. Dengan pengetahuan itu, Acha jadi semakin gelisah. Ia tidak mengerti permintaan tolong seperti apa yang dimaksud Elvano, firasat buruk pun perlahan merayap di kepalanya. “Saya harus ngapain, Pak?” tanyanya pelan. Elvano menarik napas berat. Ia semakin tak tenang ketika genggaman Elvano di pergelangannya belum juga terlepas. Sentuhan itu membuatnya tak nyaman, tetapi ia menahan diri. “Bawa saya ke tempat aman sekarang,” kata Elvano singkat. “Hotel. Yang paling dekat.” Permintaan itu membuat Acha makin gugup. Ini jauh dari rencana awalnya yang hanya berniat menjemput dan memastikan Elvano pulang. Namun, melihat kondisinya yang kian memburuk, Acha juga tidak tega mengabaikan, apalagi sampai meninggalkannya. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya. Meski dadanya masih berdebat, ia tetap membantu Elvano berd

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Raka melangkah mendekat dengan senter di tangannya. “Saya sudah cek panel listrik lantai eksekutif. Sepertinya, ada gangguan di jalur utama. Saya sudah hubungi teknisi gedung, mereka lagi menuju ke sini, Pak.” “Baik,” jawab Elvano singkat, lalu menoleh pada Acha. “Kamu pulang saja. Besok dilanjutkan.” Acha mengangguk cepat. Tanpa berani menatap siapa pun, ia meraih tas dan melangkah tergesa menuju lift. Untungnya, meski lampu padam, lift masih sempat berfungsi dengan daya cadangan, seolah memberinya kesempatan segera menjauh dari hadapan Elvano. Pintu menutup perlahan, dan barulah Acha sadar dadanya masih naik turun tak beraturan. Tiba di apartemen, Acha melempar tas

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habis untuk mengatur ulang jadwal, mengantar berkas, hingga sekadar memastikan kebutuhan Elvano terpenuhi tepat waktu. Jadwal atasannya yang super padat itu pelan-pelan menguras energinya. Acha bukannya ingin mengeluh, namun rasa lelah yang menjalar terkadang membuatnya ingin tumbang. Begitu tiba di apartemen, sepatu dilepas asal, tas diletakkan ke sembarang tempat. Acha langsung menjatuhkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit sambil sesekali menarik napas panjang Matanya memejam sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat. Untuk sekali ini, ia hanya ingin diam, tanpa gangguan. Namun, meski hari-harinya terasa melelahkan, keesokan paginya, Acha tetap bangun dan kembali ke kantor, seolah t

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, ini dokumen yang perlu ditandatangani hari ini.”Elvano mengangguk singkat. Tatapannya sekilas menyapu isi dokumen tersebut, lalu meraih pulpen. Ia menandatangani tanpa satu pun komentar. Hanya suara gesek kertas dan goresan tinta yang terdengar cepat. Begitu selesai, Acha segera mengambil kembali berkas itu dan berbalik menuju pintu.Sesaat setelah pintu ruangan tertutup, Acha mengembuskan napas lega. Tumben sekali Elvano tidak mengajukan koreksi atau catatan apa pun. Biasanya, selalu ada saja yang harus dibahas. Sempat terlintas di benaknya, mungkin karena baru saja ia berbicara dengan istrinya. Barangkali, suasana hatinya sedang lebih baik, dan orang sekitarnya ikut kecipratan imbasnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status