로그인Setelah bertemu Raka, Elvano langsung kembali ke penthouse.Ia juga tidak mengerti. Sejak pagi tadi, rasanya penthouse jadi tempat yang ingin segera ia datangi lagi.Padahal dulu, tempat itu sekadar tempatnya untuk beristirahat, bukan tempat untuk pulang.Karena itu, langkahnya tanpa sadar sedikit lebih cepat saat memasuki unit tersebut.Tangannya membawah sebuah kantong belanja besar—kopi botol, beberapa roti, dan camilan ringan yang sempat ia beli di minimarket saat perjalanan pulang tadi. Biasanya ia tidak terlalu memperhatikan hal seperti ini, tetapi tiba-tiba saja ia teringat Acha, sehingga semua itu terasa perlu.Mungkin Acha akan butuh, pikirnya singkat.Pintu penthouse di belakangnya tertutup dengan suara pelan.“Acha,” panggilnya sambil melepas sepatu dan meletakkannya rapi di rak.Tidak ada jawaban.Langkah Elvano berhenti sejenak di ambang ruang tamu.Sofa tampak rapi seperti tidak pernah disentuh. Tidak ada tanda seseorang baru saja duduk di sana. Penthouse itu tetap sep
Meski sudah selesai sarapan sejak beberapa saat lalu, Elvano masih duduk di meja makan.Pandangannya sempat jatuh pada mangkuk bubur di depannya yang sudah kosong sebelum tanpa sadar bergeser ke sosok Acha di seberang meja.Wanita itu masih menikmati sarapannya. Buburnya bahkan belum berkurang banyak sejak beberapa menit lalu.Suasana menjadi lebih hening beberapa saat.Namun, entah sejak kapan, keheningan di penthouse itu terasa berbeda.Tak lagi sekosong seperti biasanya.Pandangan Elvano sempat tertahan pada wajah Acha beberapa detik sebelum akhirnya beralih ke gelas tehnya sendiri.Ingatan semalam kembali terlintas begitu saja di benaknya.Wanita itu beberapa kali sempat terbangun karena mimpi buruk.Tidak sampai benar-benar sadar, tetapi cukup untuk membuat tubuhnya menegang dan napasnya berubah tidak teratur.Setiap kali itu terjadi, jemarinya selalu refleks mencengkeram sesuatu.
Elvano tak segera menjawab pertanyaan dari Acha.Meski begitu, tatapannya tetap tertuju pada wanita itu, tenang dan sulit ditebak seperti biasanya.Menyadari Elvano terus menatapnya, Acha cepat-cepat menunduk. Ia selalu tak bisa menatap wajah Elvano lama-lama karena itu akan membuatnya gugup setengah mati. “Biarkan saja.” Elvano menjawab ringan pada akhirnya.Acha sampai berkedip pelan.Ia nyaris tidak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya.Biarkan saja?Seenteng itu dia mengatakannya?Lalu, bagaimana dengan dirinya? Bukankah orang-orang bisa saja menganggap ia memanfaatkan keadaan untuk mendekati Elvano?Terlebih lagi, Elvano sudah tidak memiliki istri sekarang.“Keselamatanmu lebih penting,” tambah Elvano, bahkan sebelum Acha sempat menyahut.Ucapannya itu terdengar begitu mantap, seolah tidak membutuhkan pertimbangan sedikit pun.Acha sontak terdiam.Dalam pikiran Elvano, rupanya memang sesederhana itu.Keselamatannya lebih penting daripada hal-hal lain yang sedang ia
Setelah beberapa saat, Elvano akhirnya meletakkan kantong bubur di atas meja makan, lalu menoleh pada Acha yang masih duduk di sofa ruang tengah.“Saya mandi dulu,” ujar Elvano.Acha yang sejak tadi mati-matian menghindari pandangan dari kaos hitam Elvano yang menempel samar pada tubuhnya buru-buru mengangguk.“I-iya,” jawabnya sedikit gugup.“Kamu bisa sarapan dulu.”Acha mendongak refleks. “Sa-saya tunggu kamu saja.”Begitu kalimat itu keluar, Acha langsung membeku.Tunggu?Kenapa terdengar seperti ia sangat ingin sarapan berdua dengan Elvano?Namun, di luar dugaan, Elvano hanya menatapnya beberapa saat, sambil berujar singkat. “Baiklah.”Entah perasaannya saja atau tidak, tetapi Acha merasa sudut bibir pria itu sedikit terangkat sebelum akhirnya berlalu menuju kamar.Tak lama kemudian, keduanya kini sudah duduk berhadapan di meja makan.Uap hangat dari bubur ayam masih mengepul pelan.Elvano membuka tutup plastik minuman lalu mendorong salah satunya ke arah Acha.“Ini punyamu.”Ach
Acha tidak tahu berapa lama dirinya tertidur. Yang jelas, ketika matanya perlahan terbuka, cahaya matahari sudah lebih dulu memenuhi ruangan.Sinar hangat pagi menembus dinding kaca besar penthouse, jatuh membentuk bayangan panjang di lantai.Ia berkedip beberapa kali, masih sedikit linglung, lalu menguap pelan sambil meregangkan tubuhnya.Pandangannya menyapu sekeliling ruangan.Langit-langit tinggi. Sofa besar. Ruang tengah yang luas dan rapi. Semuanya terasa asing.Baru beberapa detik kemudian ingatannya perlahan kembali.Ia berada di penthouse Elvano.Semalam, ia ketiduran di sofa setelah tak bisa tidur di kamar.Namun, begitu menunduk, Acha sempat membeku.Sebuah selimut tebal menutupi tubuhnya hingga dada.Ia mengerjap beberapa kali.Posisi tidurnya juga terasa jauh lebih nyaman dibanding terakhir kali ia ingat sebelum tertidur. Bahkan, ada sebuah bantal kecil di bawah kepalanya.Ingatannya seketika kembali pada suara samar yang sempat ia dengar semalam.“Selamat malam, Acha.”J
Seketika itu, Acha menegakkan punggungnya begitu tatapan tajam Elvano masih tertuju padanya hingga beberapa saat kemudian. Cara pria itu memandangnya membuatnya semakin salah tingkah. Jemarinya tanpa sadar saling mencubit di depan tubuh sendiri. “Aku ... haus,” katanya lirih. Namun, begitu kalimat itu keluar, Acha sontak ingin menepuk dahinya. Dari sekian banyak hal yang bisa dikatakan, ia malah terdengar seperti anak kecil yang baru bangun tidur? Tetapi, Elvano sama sekali tidak terlihat memikirkannya sejauh itu. Pria itu hanya bertanya singkat. “Air dingin atau hangat?” “Biasa aja.” Elvano mengangguk pelan. “Oke.” Pria itu menutup setengah laptopnya lalu bangkit dari sofa. Sementara itu, Acha tetap berdiri canggung beberapa detik sebelum memutuskan berjalan mendekat dan duduk di sofa besar yang ada di ruang tengah. Suasana penthouse begitu tenang malam itu. Hanya suara langkah kaki Elvano yang akhirnya kembali dari dapur sambil membawa segelas air. “Ini minu







