Mag-log inProstitute? Yes that's what i am, i have no choice, I need to do this to Survive in life. Si Selene Perez ay isang Prostitute na nangarap na makaalis sa naging buhay niya, kaya laking pasasalamat niya nang makilala niya ang isang bilyonaryong makapagbabago ng buhay niya. Kahit na minsan ay sumagi sa isip niya na hindi na siya makakatagpo ulit ng tunay na pagmamahal dahil sa nakatatak na sa utak niya na isa na siyang maruming babae na walang magmamahal ng totoo. Totoong pagmamahal na sana kung hindi lang natuloy ang plano ng nanay niyang lokohin ang lalaking totoong nagmamahal sa dalaga.
view more“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?”
Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh kulit halus tersebut, Yesica langsung mengembuskan napas panjang yang terdengar lega. Seluruh aset Yesica terbuka lebar di hadapannya, sama seperti hidangan yang siap disantap. Kairo ingin mencicipi setiap bagiannya sampai merasa puas. Kairo segera menggerakkan lidah menyusuri setiap lekukan kulit itu. Ia berhenti sejenak tepat di bagian yang paling peka. Sebuah kacang merah sudah mencuat panjang di sana. Suara rintihan pun terdengar dari mulut Yesica. Mendengar itu, senyum di bibir Kairo semakin melebar. Ia memusatkan seluruh perhatiannya di bagian itu. Kairo mengisap bagian tersebut dengan kuat dan berulang kali. “Ahhhh .... Ehhhhmmm Kairo… ohhhh!” Suara seruan itu memecah keheningan ruangan rapat. Kemungkinan besar Bos-Bos yang lain belum bergerak menuju ruangan ini. Namun mereka pasti akan tiba di sini dalam waktu singkat. Kairo sebenarnya ingin membuat Yesica mencapai klimaks setidaknya satu kali sebelum kedatangan mereka. Namun ia memutuskan untuk melakukan semuanya secara perlahan dan nikmat. Yesica makin mendekatkan asetnya ke mulut Kairo sambil merintih meminta lebih. Napasnya makin cepat dan suaranya pun makin melolong. Akhirnya terdengar erangan panjang dari mulut gadis itu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat saat ia mencapai klimaks. Cairan yang menyembur dari tubuhnya pun membasahi mulut Kairo. Tubuh Yesica menjadi lemas seketika lalu jatuh menempel pada permukaan meja. Sementara itu, Kairo kembali bersandar santai di kursinya. Ia menyeka sudut mulutnya menggunakan ujung lengan kemeja, lalu lalu tersenyum lebar saat melihat Stefan, Giancha, dan Andree yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu. Mereka telah melihat seluruh kejadian tersebut sejak awal. “Udah siap buat mulai meeting kita?” pekik Stefan, sang Ceo Malaka Teknologi. *** (SATU MINGGU SEBELUMNYA) "Ehmm ... permisi, Bu. Aku Yesica Melati ... datang untuk interview di Malaka Technology Group." Yesica berhasil mengucapkan kalimat itu dengan tenang, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ini wawancara kerja keempatnya sejak ia lulus kuliah, setelah mengirimkan lima puluh surat lamaran. Jika kali ini gagal juga, dia harus pulang ke kampung halaman membantu orang tuanya di kebun dan mengubur mimpinya untuk sukses di Jakarta. Wanita resepsionis itu melirik sekilas sebelum menekan tombol interkom dan menempelkannya ke telinganya. "Ada Yesica Melati di sini, Pak." Dia diam sejenak, lalu matanya kembali menatap Yesica. "Ohh ... Baik." "Astaga, apa ada yang salah dengan baju ini?" gumam Yesica buru-buru mengecek kancing blus putihnya dan memastikan rok pensilnya tidak bergeser. Benar saja, salah satu kancing terasa agak ketat di bagian dada, tapi mau bagaimana lagi? Cuma itu ukuran terbaik yang ada. Dia belum punya uang untuk membeli baju baru atau menjahitnya. Untuk saat ini, dia bersyukur masih bisa membeli tiket kereta untuk bulan depan. "Silakan naik sekarang." Wanita itu menyodorkan kartu akses dengan senyum tipis. "Pakai lift di belakang, ya. Kartu ini untuk ke lantai paling atas. Jangan lupa dikembalikan saat keluar." "Makasih." Yesica mengambil kartu dan berjalan menuju lift. Di sana banyak orang berlalu lalang, tapi lift yang ditunjuknya kosong melompong. Dia pun menarik napas panjang sebelum menekan tombol itu. Matanya mengamati lobi yang ramai. Sebuah harapan besar mulai membuncah. "Semangat ... Aku harus bisa jadi salah satu dari mereka. Kerja, lalu nongkrong bareng sama teman-teman baru, setelah pulang kantor," batinnya. Tentu saja dia harus cari teman dulu, tapi di perusahaan sebesar ini pasti banyak cewek seusianya yang mau berteman. Pintu lift terbuka. Inilah saatnya. Yesica menggesek kartunya, dan lift mulai bergerak naik. " Pengalamannya memang minim, tapi justru itu alasannya dia butuh pekerjaan ini. "Ya Tuhan, semoga saja diterima." Dari semua lowongan yang dia lamar, ini yang paling dia inginkan. Malaka Technology Group adalah perusahaan keamanan siber ternama. Posisi asisten eksekutif ini bukan cuma soal administrasi, tapi bisa jadi batu loncatan untuk kariernya ke depannya. Ting! Lift sampai di tujuan. Saat pintu terbuka, Yesica hampir tak kuasa menahan kekagumannya. Lantai ini sangat mewah, modern, dan terlihat sangat berkelas. Langkah kakinya terdengar nyaring di lantai. Di tengah ruangan ada meja resepsionis kecil yang mengelilingi beberapa ruang kerja dan satu ruang rapat besar. Jendelanya yang luas menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di sekitar SCBD. "Nona Melati." Suara berat itu terdengar jelas, membuat Yesica refleks berbalik. Pandangannya, pertama kali jatuh ke dada bidang yang tersampir rapi dalam setelan jas mahal itu. Pelan-pelan dia mendongak, melihat dagu yang tercukur rapi, bibir tebal yang tersenyum ramah, hidung mancung, hingga sepasang mata biru bening yang sangat memikat. Rambut hitamnya diikat rapi. Pria ini sungguh tampan luar biasa. Wajah Yesica pun langsung memanas. "Gawat, kalau bosnya sekeren ini, bisa kacau kerjaanku nanti. Bisa-bisa kertas yang aku pegang belepotan karena ngiler, dan aku bakal terus natap dia kayak orang kelaparan!" batinnya. Pria itu mengulurkan tangan. Yesica buru-buru menenangkan diri. "Tenang ... Aku butuh kerjaan ini." Saat tangan mereka bersentuhan, ada aliran aneh yang terasa. Alis pria itu terangkat, dan senyumnya makin lebar. "Aku Kairo Raveen, Direktur Teknologi." "Senang bertemu." Jantung Yesica berpacu cepat. Dia buru-buru melepaskan jabatannya, takut kalau kelamaan ia bisa melantur yang tidak-tidak. Kairo menunjuk ke arah ruang rapat. "Ayo ikut aku!" "Ayo dong, ke mana aja deh asal sama kamu," jawab Yesica dalam hatinya. Untung saja Kairo langsung berbalik, memberinya waktu sebentar untuk mengatur napas sebelum mengikutinya. Saat Kairo menarikkan kursi untuknya, Yesica duduk dengan hati-hati. Ada senyum kecil yang terlihat mengembang di bibir Kairo saat dia berjalan mengelilingi meja dan duduk di hadapannya. "Maaf ya, yang lain sebentar lagi datang. Mereka lagi rapat." Kairo menyatukan kedua tangannya di atas meja. Yesica sadar pikirannya mulai melantur membayangkan tangan-tangan itu menyentuh tubuhnya sendiri. Ini wawancara kerja, dan kualifikasinya pun sebenarnya pas-pasan. Tapi untungnya saat wawancara di telepon dengan Giancha Prajiwaksono, dia terlihat cukup menjanjikan meski minim pengalaman. Yesica sudah berjanji kalau dia akan berusaha untuk cepat beradaptasi dan tidak akan mengecewakan. Secara teknis ijazahnya lengkap, tapi pengalaman kerjanya belum seberapa dibanding ekspektasi mereka. Ini adalah langkah besar, mimpi besar, dan kalau diterima, masa depannya pasti cerah. Kairo tersenyum santai. "Ceritain sedikit tentang diri kamu dong sambil nunggu. Ehemmm ... Nggak bakal lama kok." Yesica menyilangkan kaki dan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Aku lulusan magister manajemen dengan nilai terbaik dari Universitas Negeri Malang. Selama liburan, aku sering magang di beberapa perusahaan di Jakarta." Kairo mengangkat tangan, memotong pelan. "Terus kenapa nggak kerja di tempat kamu magang dulu?" Pertanyaan klasik yang selalu muncul. Bahkan sampai saat ini Yesica belum menemukan jawaban yang pas. "Visi mereka berbeda dengan apa yang aku mau. Aku nggak mau cuma lakuin hal kecil dan duduk di depan komputer delapan sampai sepuluh jam sehari. Aku butuh tantangan lebih dari sekadar bikin laporan dan menyeduh kopi. Tapi ... aku juga jago bikin kopi lho." "Oke, noted. Aku bisa jadi monster kalau belum minum kopi pagi-pagi." Kairo bersandar santai, lalu matanya menyapu seluruh tubuh Yesica dari atas ke bawah. Yesica merasakan bulu kuduknya merinding. "Maaf kami terlambat." Suara itu terdengar familiar. Yesica langsung mengenalinya sebagai suara Giancha Prajiwaksono yang dia dengar lewat telepon. Suara yang merdu. Yesica berdiri menyambut. Lututnya rasanya lemas sekali. Di depannya sekarang berdiri tiga pria yang tampak baru keluar dari majalah Playboy. Semua tinggi, ganteng, dan berwibawa sama seperti Kairo. Jantung Yesica pun berdegup kencang bukan main. "Stefan Wongso, CEO." Pria berambut pirang rapi dengan mata biru tua yang tajam melangkah maju dan mengulurkan tangan. Yesica berusaha keras agar tidak terlihat kepanasan atau malah pingsan, lalu menjabat tangan pria itu dengan percaya diri. Sentuhan tangan besar yang kuat itu membuat gairah menjalar ke seluruh tubuhnya.“Selene, samahan mo'ko, mamimili ako ng mga gamit para sa anak ko.” Naka ngiting pag aya sa'kin ni Elara. Siguro ay malaki na naman ang kita nito kaya ganito siya kasaya“Sige, antayin moko sa labas magbibihis lang ako.”“Bilisan mo ha!” Halata sakanya na sobra siyang excited na mabilhan ng mga bagong gamit ang anak niya kaya naman ay napa ngiti na lamang ako, “Oo na!”Kulay puting dress lang ang sinuot ko na pinares sa sling bag“Alam mo sis, kahit anong simple ng suot mo talaga e ang ganda ganda mo pa din e no, tignan mo yung matandang nag titinda ng fishball don, titig na titig dyan sa bugelya mong may sumisilip.” Napailing na lamang ako dahil sa pinag sasabi ni Elara, naglakad lang kame since hindi naman ganon kalayuan ang mall. “Nga pala, dumalaw kahapon ang papa ni Ara.” habang naglalakad ay bigla niyang nasabi yun“Ginulo ba kayo?” Tanong ko. Yun na agad ang naisip kong itanong dahil sa tuwing dadalawin ng ex niyang yon yung anak nila e nang gugulo lang din yon. Na kesyo gusto
“Excuse me, Why did you hit me?” Takhang tanong ko sa babaeng nanlalasik ang mga mata ngayon sa harapan ko. Ni hindi pamilyar sa'kin ang babaeng 'to kaya ano naman ang magiging dahilan niya para sampalin ako“Hindi mo alam?!” Galit na sigaw niya after that he pointed the Bar, “Hindi ba't nilalandi mo dyan ang asawa ko?!”That's it. Isa na naman pala sa mga asawa ng customer dito. Hindi na naman nakipag laro ng maayos ang asawa nito. “Miss, hindi ko alam na may asawa yang asawa mo na sinasabi mo. Don't blame me kasi nagt-trabaho lang din ako. At isa pa, hindi mo dapat hinahayaan na magpunta sa bar ang asawa mo, alam mo kung paano umiikot ang bar.”“Wala akong pakealam sa mga pinagsasabi mo. Malandi ka lang!” Akmang sasabunutan ako nito pero agad din akong naalerto at nakaiwas. “Huwag kang manggugulo dito.” Pag wa-warning ko. Ayaw na ayaw ni nanay nang mga nanggugulo sa lugar niya, itong babaeng 'to lang ang magsisisi sa huli.“Umalis kana, at kung sino man yang asawa ang sinasabi mo,
“Nabasa mo na ba yung kumakalat na balita sa social media ngayon?” Pareho kameng sa abala sa pag-aayos nang magtanong si Elara. “Anong balita? alam mo namang bihira lang ako mag online.” Saad ko pa matapos mag lipstick “May kumakalat na balita na engaged na daw si Mr. Billionaire.” Aniya. tila napatigil ako't dahan-dahang inilapag ang lipstick Engaged? “Kanino?” Tanong ko at humarap sakanya “Uhm, actually, kay Zephanie, yung sikat na model na hinahangaan mo.” Zephanie Caprice? That famous model. Sobrang ganda, mayaman, maganda ang katawan, makinis, halos nasa kanya na ang lahat. Kaya ang dami ring humahanga sakanya, di na rin malabong naging sikat siyang modelo. Huminga ako ng malalim saka tumango. Narinig ko pang huminga din ito ng malalim, “Ano na ngayon ang gagawin mo?” Tanong ni Elara na tila nag-aalala “Gagawin saan?” Takhang tanong ko. Wala naman dapat akong pakealam, kahit pa ikasal na si Dark. Wala naman kameng mas malalim na ugnayan ni Dark. Isa lang ako
“Ngayon ba ang date niyo ni Mr. Montenegro?” Tanong ni mama nang makalapit sa'kin. Kakatapos ko lang din magbihis, at ang masasabi ko nalang talaga sa suot kong ito ay sobrang ganda! Napapa ngiti ako kapag nakikita ko ang sarili sa salamin. Paano ba naman kasi, pakiramdam ko ay mas lalo akong gumanda sa suot at kulay nito na bagay na bagay. Sariling puri? Kidding aside, ang ganda lang talaga ng dress na ito. “Opo ngayon po. ” Sagot ko. Matapos kong pagmasdan ang sarili sa salamin ay sunod ko namang dinampot ang aking sling bag nang bigla ring may bumisina sa labas “Baka sundo mo iyon.” Saad ni nanay Wala naman akong sundo, hindi rin naman ako susunduin ni Dark dahil ang sabi niya ay doon na kame magkikita sa lugar na sinabi niya. “Selene! Sundo mo nga, bilisan mo na dyan.” Kung ganon ay pinasundo niya pa nga ako sa iba. Nagmamadaling lumabas na din ako ng kwarto, mabuti nalang at tapos na rin akong mag-ayos. Chineck ko pa sa bag ko kung nandito ba yung wallet ko, ka


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Rebyu