Home / Mafia / Falling for the Mafia’s Embrace / Bab 36. Mimpi yang sama

Share

Bab 36. Mimpi yang sama

Author: SILAN
last update publish date: 2026-06-12 22:19:47

Langit malam terbentang gelap di atas rumah megah itu, gelap seperti beludru yang menutupi sesuatu yang belum siap dilihat dunia.

Tidak ada bulan yang bersinar. Hanya ribuan bintang yang bertaburan, menghiasi langit seperti berlian kecil yang berkilauan di antara pekatnya malam. Cantik. Tenang. Menipu.

Di halaman samping rumah, suasana terasa hangat dan damai, terlalu damai, seolah alam semesta sedang memberi jeda sebelum badai. Lampu taman memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, menerangi m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 51. Awal perang?

    Ruangan itu tampak hangat dan hening, kontras sempurna dengan kekacauan yang sedang terjadi di luar sana. Lampu-lampu berwarna kuning lembut memancarkan cahaya yang menenangkan, karpet tebal menyerap setiap suara langkah, dan aroma kayu cendana bercampur dengan wangi whiskey tua memenuhi udara.Hanya ada dua orang yang duduk di sofa yang sama, berdekatan, tapi tidak bersentuhan. Seperti dua bintang yang berbagi orbit yang sama tanpa pernah benar-benar bertabrakan.Hanya saja salah satunya tidak diam saja.Daniel duduk dengan tubuh condong ke depan, sibuk merakit sebuah senjata. Jari-jarinya bergerak dengan terampil, memasang slide, mengunci magasin, memeriksa mekanisme tembak dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Setiap klik, setiap gesekan logam, setiap gerakan tangannya menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia melakukan ini.Di sebelahnya, Sierra memperhatikan dengan tatapan yang sulit dibaca. Matanya mengikuti gerakan tangan Daniel, lalu naik ke wajahnya yang fokus, lalu

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 50. Kecurigaan

    Asap rokok membumbung ke udara, berputar-putar dalam gulungan tipis sebelum akhirnya menghilang di bawah lampu ruangan yang remang. Cahaya redup itu menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding, membuat ruangan terasa lebih sempit dari yang sebenarnya, seperti ruang yang semakin menyusut di sekitar mereka yang ada di dalamnya.Niel Bosch berdiri di depan jendela besar, membelakangi anak buahnya. Di luar, langit Barcelona mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berkilauan seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Tapi pria tua itu tidak melihat keindahan malam. Matanya tertuju pada pantulannya sendiri di kaca, wajah tua dengan bekas luka tipis di dagu, mata yang dingin seperti es di musim dingin, dan rahang yang mengeras karena amarah yang tertahan.Jari manis kirinya, atau lebih tepatnya, bekas jari manisnya masih terbungkus bahan hitam. Kenangan tentang kehilangan itu masih segar. Tapi bukan kehilangan jari yang membuatnya marah malam ini.Bukan.Dengan gerak

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 49. Perlahan terungkap

    Megan masih belum mendapatkan jawaban bagaimana Adrian bisa mengetahui kalau ia ada di tempat tadi. Pertanyaan itu menggantung di kepalanya seperti kabut yang tidak mau pergi, mengganggu, mengaburkan, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.Ia memperhatikan adiknya menyiapkan makanan di dapur kecil di sudut ruangan. Adrian bergerak dengan cekatan, memotong sayuran, menghangatkan sup, menyiapkan roti. Gerakannya terlihat seperti orang yang sudah terbiasa melakukan ini, bukan seperti pasien yang baru pulih dari koma."Makanlah." Adrian meletakkan sepiring makanan di hadapan Megan, suaranya lembut tapi tegas. "Kau terlihat tidak punya tenaga."Megan menatap adiknya sejenak. Ada begitu banyak yang ingin ia tanyakan, tapi perutnya yang keroncongan dan tubuhnya yang lemas mengalahkan segalanya.Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.Sup hangat mengalir di tenggorokannya, menghidupkan kembali tubuhnya yang sekarat. Roti yang renyah terasa seperti makanan terbaik yang pernah ia ma

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 48. Kehadiran yang hilang

    Dengan sorot mata tak berdaya, Megan masih melihat ke arah Daniel dan Andrew bergantian. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya mencari jawaban, mencari celah, mencari sesuatu yang bisa ia pegang di tengah kekacauan ini.Tapi yang ia temukan hanyalah ketidakpedulian. Dingin. Seolah ia bukan manusia, tapi benda yang sedang dipindahkan dari satu tangan ke tangan lainnya."Apa tujuan kalian menyekapku seperti ini?" Suaranya serak, lemah, tapi masih ada sisa-sisa kemarahan di dalamnya. "Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian denganku."Andrew mengedikkan bahu, gerakan santai yang justru membuat Megan semakin kesal."Kau masih dibutuhkan," katanya dengan nada datar. "Namamu masih tercantum di dalamnya."Kalimat ambigu itu membuat Megan semakin tidak mengerti.Namaku masih tercantum di dalamnya?Di dalam apa?Daftar target?Daftar korban?Atau sesuatu yang sama sekali berbeda?Ia menatap Andrew, lalu Daniel, lalu kembali ke Andrew mencari penjelasan yang tidak kunjung datang

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 47. Pengkhianatan

    Megan merasa tubuhnya lemah.Bukan lelah biasa, tapi lelah yang menghancurkan, yang membuat setiap ototnya terasa seperti kapas basah. Tidak ada tenaga bahkan untuk berdiri. Tidak ada kekuatan bahkan untuk mengangkat kepalanya terlalu tinggi.Mereka bahkan tidak memberinya makan dan minum.Berapa lama sudah? Satu hari? Dua hari? Megan tidak tahu. Yang ia tahu, perutnya terasa kosong, tenggorokannya terasa kering seperti gurun, dan setiap kali ia mencoba bergerak, dunia terasa berputar di sekelilingnya.Dan lagi, Megan juga tidak tahu di mana ia berada sekarang.Entah masih di New York, atau justru sudah di negara lain, ia sama sekali tidak tahu. Ruangan ini tidak memiliki jendela. Tidak ada suara dari luar yang bisa menjadi petunjuk. Hanya dinding beton yang dingin, lampu neon yang berkedip-kedip, dan kursi kayu yang mengikat tubuhnya.Di mana aku?Siapa mereka?Mengapa mereka melakukan ini padaku?Dan kalimat Andrew beberapa saat lalu masih menghantam kesadaran Megan, seperti pukulan

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 46. Penculikan 2

    Kepala Megan berdenyut saat ia membuka mata.Sakit.Bukan sakit biasa, tapi sakit yang menusuk, seperti ada palu kecil yang memukul-mukul bagian dalam tengkoraknya. Penglihatannya kabur, dunia berputar perlahan sebelum akhirnya mulai terasa lebih nyata.Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kotor, retak, dengan noda-noda kelembaban yang membentuk pola-pola aneh. Lampu di atasnya menyala redup, berkedip-kedip sesekali seperti sedang sekarat.Kemudian, baunya.Bau rokok menyengat di dalam ruangan tersebut. Asap yang sudah tua, yang telah meresap ke dinding-dinding, ke karpet-karpet kotor, ke setiap serat kain di ruangan itu. Berpadu dengan aroma alkohol murah yang tidak nyaman, baunya seperti tempat yang sudah lama tidak dibersihkan, tempat di mana orang-orang datang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka ingat di pagi hari.Megan mengerjap.Keningnya mengernyit. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, mencoba mencari siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.Kosong.Tidak

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 20. Pandangan misteri

    Megan keluar dari kamar dengan langkah pelan, masih setengah mengantuk. Rambutnya tergerai berantakan melewati bahu, sementara tubuhnya hanya dibalut kemeja putih milik Daniel yang ia ambil sembarangan dari lemari pria itu tadi malam. Ukurannya jauh lebih besar di tubuhnya, membuat bagian pahanya t

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 19. Tidak bisa dilawan

    Udara di apartemen terasa hangat meskipun AC menyala. Mungkin karena lampu ruang tamu yang redup, atau mungkin karena Daniel yang biasanya begitu mendominasi, kini duduk diam di tepi sofa, membiarkan Megan merawatnya tanpa protes.Kemeja Daniel sudah tergeletak di lantai sejak sepuluh menit lalu. M

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 18. Bisnis

    Lusa tiba lebih cepat dari yang Megan harapkan. Pagi itu, Daniel memberinya jaket anti peluru tipis tanpa penjelasan. "Pakai ini," katanya datar, lalu berjalan keluar apartemen tanpa melihat apakah Megan menurut atau tidak.Megan memakainya. Bukan karena patuh, tapi karena tatapan Daniel pagi itu b

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 16. Tantangan kehidupan baru

    Kontrak itu sudah ditandatangani. Tinta masih basah di ujung kertas, tapi Megan sudah merasa seperti burung yang kakinya terikat benang. Ia duduk diam, hanya memutar otak, apa lagi yang akan dia lakukan padaku?Daniel menyandarkan tubuh di kursi, menyilangkan kaki dengan santai. Tapi santainya pria

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status