Share

Bab 35. Waspada

Author: SILAN
last update publish date: 2026-06-11 20:52:30

Upaya Daniel untuk menghindari Sierra semalam bisa dibilang berhasil.

Buket bunga yang ia pesan cukup efektif mengalihkan perhatian wanita itu. Malam berlalu tanpa banyak drama. Tanpa pertanyaan tentang mengapa ia selalu setengah hadir saat bersama tunangannya sendiri.

Tapi hari ini berbeda.

Tidak ada buket bunga yang bisa menyelamatkannya. Tidak ada alasan untuk menghindar.

Karena hari ini, Daniel dan Sierra harus bertemu dengan seseorang yang pengaruhnya lebih besar dari sekadar nama keluarga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 49. Perlahan terungkap

    Megan masih belum mendapatkan jawaban bagaimana Adrian bisa mengetahui kalau ia ada di tempat tadi. Pertanyaan itu menggantung di kepalanya seperti kabut yang tidak mau pergi, mengganggu, mengaburkan, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.Ia memperhatikan adiknya menyiapkan makanan di dapur kecil di sudut ruangan. Adrian bergerak dengan cekatan, memotong sayuran, menghangatkan sup, menyiapkan roti. Gerakannya terlihat seperti orang yang sudah terbiasa melakukan ini, bukan seperti pasien yang baru pulih dari koma."Makanlah." Adrian meletakkan sepiring makanan di hadapan Megan, suaranya lembut tapi tegas. "Kau terlihat tidak punya tenaga."Megan menatap adiknya sejenak. Ada begitu banyak yang ingin ia tanyakan, tapi perutnya yang keroncongan dan tubuhnya yang lemas mengalahkan segalanya.Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.Sup hangat mengalir di tenggorokannya, menghidupkan kembali tubuhnya yang sekarat. Roti yang renyah terasa seperti makanan terbaik yang pernah ia ma

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 48. Kehadiran yang hilang

    Dengan sorot mata tak berdaya, Megan masih melihat ke arah Daniel dan Andrew bergantian. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya mencari jawaban, mencari celah, mencari sesuatu yang bisa ia pegang di tengah kekacauan ini.Tapi yang ia temukan hanyalah ketidakpedulian. Dingin. Seolah ia bukan manusia, tapi benda yang sedang dipindahkan dari satu tangan ke tangan lainnya."Apa tujuan kalian menyekapku seperti ini?" Suaranya serak, lemah, tapi masih ada sisa-sisa kemarahan di dalamnya. "Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian denganku."Andrew mengedikkan bahu, gerakan santai yang justru membuat Megan semakin kesal."Kau masih dibutuhkan," katanya dengan nada datar. "Namamu masih tercantum di dalamnya."Kalimat ambigu itu membuat Megan semakin tidak mengerti.Namaku masih tercantum di dalamnya?Di dalam apa?Daftar target?Daftar korban?Atau sesuatu yang sama sekali berbeda?Ia menatap Andrew, lalu Daniel, lalu kembali ke Andrew mencari penjelasan yang tidak kunjung datang

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 47. Pengkhianatan

    Megan merasa tubuhnya lemah.Bukan lelah biasa, tapi lelah yang menghancurkan, yang membuat setiap ototnya terasa seperti kapas basah. Tidak ada tenaga bahkan untuk berdiri. Tidak ada kekuatan bahkan untuk mengangkat kepalanya terlalu tinggi.Mereka bahkan tidak memberinya makan dan minum.Berapa lama sudah? Satu hari? Dua hari? Megan tidak tahu. Yang ia tahu, perutnya terasa kosong, tenggorokannya terasa kering seperti gurun, dan setiap kali ia mencoba bergerak, dunia terasa berputar di sekelilingnya.Dan lagi, Megan juga tidak tahu di mana ia berada sekarang.Entah masih di New York, atau justru sudah di negara lain, ia sama sekali tidak tahu. Ruangan ini tidak memiliki jendela. Tidak ada suara dari luar yang bisa menjadi petunjuk. Hanya dinding beton yang dingin, lampu neon yang berkedip-kedip, dan kursi kayu yang mengikat tubuhnya.Di mana aku?Siapa mereka?Mengapa mereka melakukan ini padaku?Dan kalimat Andrew beberapa saat lalu masih menghantam kesadaran Megan, seperti pukulan

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 46. Penculikan 2

    Kepala Megan berdenyut saat ia membuka mata.Sakit.Bukan sakit biasa, tapi sakit yang menusuk, seperti ada palu kecil yang memukul-mukul bagian dalam tengkoraknya. Penglihatannya kabur, dunia berputar perlahan sebelum akhirnya mulai terasa lebih nyata.Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kotor, retak, dengan noda-noda kelembaban yang membentuk pola-pola aneh. Lampu di atasnya menyala redup, berkedip-kedip sesekali seperti sedang sekarat.Kemudian, baunya.Bau rokok menyengat di dalam ruangan tersebut. Asap yang sudah tua, yang telah meresap ke dinding-dinding, ke karpet-karpet kotor, ke setiap serat kain di ruangan itu. Berpadu dengan aroma alkohol murah yang tidak nyaman, baunya seperti tempat yang sudah lama tidak dibersihkan, tempat di mana orang-orang datang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka ingat di pagi hari.Megan mengerjap.Keningnya mengernyit. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, mencoba mencari siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.Kosong.Tidak

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 45. Penculikan

    Keesokan harinya, Megan masih menemani Daniel bekerja. Jadwal padat, pertemuan bisnis yang membosankan, dan senyum sopan yang ia kenakan seperti topeng, semuanya berjalan seperti biasa. Seolah malam-malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Seolah tubuhnya tidak masih mengingat sentuhan Daniel di setiap inci kulitnya.Dan malam harinya, mereka kembali melakukan rutinitas intim.Tanpa kata-kata.Tanpa janji.Tanpa penjelasan.Hanya tubuh yang saling mencari, hanya kehangatan yang mereka bagi diantara seprai sutra yang dingin.Hingga akhirnya, tanpa terasa, hari ketiga mereka di New York tiba.Malam itu, di atas tempat tidur yang luas untuk dua orang yang tidak saling memiliki, Daniel memacu dirinya di atas tubuh Megan.Gerakannya ritmis, penuh hasrat, namun juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Sesuatu yang ia tunjukkan melalui setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap kali tubuhnya bersatu dengan tubuh perempuan di bawahnya.Ia menikmati setiap keha

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 44. Malam sebelum badai

    "Mereka tidak menargetkan dirimu, tapi kenapa kita yang dikejar-kejar?"Megan melepaskan sepatunya dengan kesal, bukan karena marah pada Daniel, tapi karena frustasi. Hari pertamanya di New York, dan sudah harus berlarian di gang-gang gelap seperti sedang berada di film laga murahan. Kakinya pegal, dadanya masih sesak, dan keringatnya masih membasahi seluruh tubuh.Ia melempar sepatunya ke sudut ruangan, lalu menatap Daniel dengan tatapan yang menuntut jawaban.Daniel menoleh sekilas.Sejak ia tiba di New York, sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Musuhnya ada di mana-mana, dan mereka pasti sudah menyelidikinya. Mereka tahu jadwalnya. Mereka tahu rutenya. Mereka tahu apa yang ia coba lindungi, dan siapa yang ia coba lindungi."Tidak bisa dibiarkan. Mereka pasti sudah mulai mengetahuinya."Batinnya berkecamuk. Jika mereka sudah mulai menyelidiki Megan, maka semuanya akan lebih rumit. Jika mereka tahu siapa Megan sebenarnya, maka pertaruhan ini bukan lagi tentang bisnis.In

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 16. Tantangan kehidupan baru

    Kontrak itu sudah ditandatangani. Tinta masih basah di ujung kertas, tapi Megan sudah merasa seperti burung yang kakinya terikat benang. Ia duduk diam, hanya memutar otak, apa lagi yang akan dia lakukan padaku?Daniel menyandarkan tubuh di kursi, menyilangkan kaki dengan santai. Tapi santainya pria

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 14. Malam itu datang

    Cumbuan itu datang seperti gelombang tsunami, satu setelah lainnya, tanpa ampun. Megan ingin berteriak, tapi suaranya mati di tengah jalan. Tubuhnya seolah memiliki nyawa sendiri, merespon dengan cara yang paling membencinya. Ia luluh di bawah guyuran nafsu pria mabuk di depannya, tapi di saat yang

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 13. Tidak, mereka akan...

    Megan memutuskan untuk tidak memikirkan Daniel.Setidaknya… untuk saat ini.Ia melangkah keluar dari gedung mewah itu dengan kartu hitam di genggamannya, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya hal nyata di tengah kekacauan hidupnya. Udara Boston terasa berbeda, lebih dingin, lebih asing, namun

  • Falling for the Mafia’s Embrace   Bab 12. Uang Itu Bukan Kebebasan

    Suasana di antara mereka berubah.Bukan lagi tegang seperti sebelumnya… tapi justru terasa canggung dengan cara yang aneh. Sunyi yang menggantung di udara, seolah keduanya sama-sama menyadari sesuatu, namun memilih untuk tidak mengatakannya.Megan berdehem pelan, berusaha memecah keheningan. Tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status