เข้าสู่ระบบDulu, selain membantu Megan melewati masa-masa sulit, Diana juga rela meluangkan waktunya untuk keluar-masuk rumah sakit demi menjaga Adrian. Saat itu keadaan Diana sendiri sebenarnya tidak jauh lebih baik. Ia bahkan kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi tetap memilih membantu tanpa pernah mengeluh ataupun meminta imbalan apa pun. Karena itulah, ketika kini Megan memiliki cukup banyak uang, orang pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah Diana. Ia ingin memberikan sesuatu yang dapat mengubah kehidupan sahabatnya itu menjadi lebih baik.Megan menyerahkan sebuah kunci akses kepada Diana sambil tersenyum. “Sekarang, kau tidak perlu lagi membagi barang-barangmu dengan tempat tidur hanya untuk bisa beristirahat. Tempat ini cukup luas untuk menjadi tempat tinggal barumu,” ucap Megan.Tatapannya kemudian menyapu apartemen mewah yang baru saja ia belikan. Ia tidak membutuhkan tempat sebanyak ini untuk dirinya sendiri, sedangkan Diana selama ini justru hidup dalam ru
Jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Megan turun dari lantai dua. Ia semula mengira rumah akan masih tenang seperti biasanya, tetapi langkahnya terhenti begitu melihat ruang tamu yang ternyata sudah cukup ramai. Seorang pengacara duduk di salah satu sofa, ditemani dua orang lainnya, termasuk Daniel dan asistennya. Beberapa berkas tersusun rapi di atas meja, membuat Megan langsung merasa ada sesuatu yang penting sedang dibicarakan.“Ada apa mereka datang?” bisik Megan pelan. Ia masih berdiri di tangga, menatap orang-orang di ruang tamu dengan rasa penasaran.Daniel yang menyadari kehadirannya segera menggeser posisi duduknya, memberikan ruang di sebelahnya. “Sini,” katanya singkat sambil menepuk sisi sofa. Tatapannya membuat Megan tahu bahwa kedatangan mereka memang berkaitan dengannya.Megan berjalan mendekat dan duduk di sebelah Daniel. Begitu ia mengambil posisi, pengacara yang sejak tadi menunggu langsung membuka salah satu berkas dan menyerahkan sebuah dokumen kepadanya
“Hai.”Suara Daniel terdengar ramah ketika ia menghampiri mereka. Senyumnya pun terlihat jauh lebih hangat dan tulus dibandingkan ketika pria itu masih bersama Sierra. Kehadirannya yang tenang seketika membuat suasana malam terasa lebih ringan, terutama bagi Megan yang sejak tadi masih memikirkan banyak hal tentang pria tersebut.“Kau habis dari mana? Apa kau tidak tahu, saudari perempuanku ini sudah merindukanmu?” goda Adrian.“Ah, benarkah?” Daniel terkekeh geli. Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi, Adrian langsung mengaduh ketika Megan menginjak kakinya dengan cukup keras. Wajah pria itu seketika berubah menahan sakit, sementara Megan meliriknya tajam, tidak suka karena adiknya sengaja mempermalukannya di depan Daniel.“Jangan dengarkan omong kosongnya,” sahut Megan sambil melotot ke arah Adrian. “Kau ini jangan mengada-ada.”Daniel menatap Megan dengan senyum yang semakin lebar. “Artinya kau tidak mengharapkanku?”“Apa? Tidak, bukan begitu. Maksudku...” Megan langsung
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika malam turun di atas kawasan tempat tinggal Megan. Lampu-lampu dari rumah mewah di sekelilingnya menyala terang, memantulkan cahaya ke jalanan yang mulai sepi. Suasana di tempat baru ini masih terasa asing bagi Megan, tetapi anehnya, ada kenyamanan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Ia berdiri di halaman sambil menggenggam segelas cokelat hangat, membiarkan hawa dingin malam menyentuh kulitnya. Megan memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam, mencoba menikmati ketenangan yang sudah begitu lama tidak ia rasakan.Ketika membuka mata dan menatap halaman rumah itu, pikirannya kembali pada masa lalu. Ia masih bisa membayangkan tawa keluarganya yang dulu memenuhi tempat ini, kehangatan yang sederhana tetapi begitu berarti. Hanya saja, ada satu hal yang terasa aneh baginya. Di antara begitu banyak kenangan yang mulai kembali, ia sama sekali tidak bisa mengingat momen-momen kebersamaannya dengan Daniel.Belasan tahun telah berlalu, dan Megan tahu
Langkah mereka melintasi ambang pintu, dan Megan langsung merasakan dunia lamanya bergetar. Rumah itu telah berubah total. Dinding-dinding yang dulu ia hafal lika-likunya kini hadir dalam warna dan bentuk yang asing. Namun di antara semua yang baru, beberapa benda kecil dari masa lalunya masih setia di tempat. Benda-benda itu terpajang rapi, seperti fosil masa kecil yang sengaja dibiarkan utuh untuk dikenang.Belasan tahun telah berlalu. Megan menarik nafas dalam-dalam, dan dadanya terasa hangat. Meskipun tata ruangnya berbeda, meskipun lorong-lorong itu bukan lagi lorong yang ia kenal, ada sesuatu yang tetap sama. Kehangatan. Aroma kayu tua yang bercampur dengan wewangian bunga dari taman belakang. Dan di sudut hatinya, bayangan Ayah dan Ibu masih hidup, masih tersenyum, masih memanggil namanya dengan lembut."Aku masih menyimpan beberapa barang," ucap Daniel dari belakangnya, suaranya tenang seperti permukaan danau di pagi hari. "Rumah ini memang sudah sangat berbeda dari yang kau i
“Bagaimana dengan stempelnya? Kau sudah menyerahkan benda itu pada Sierra tadi,” ucap Adrian setelah menyadari ada sesuatu yang tidak beres.Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat kembali apa yang terjadi beberapa saat sebelumnya. Tubuhnya masih terasa nyeri, terutama di bagian bahu dan punggung. Nafasnya belum sepenuhnya teratur, tetapi pikirannya sudah kembali tertuju pada satu benda yang sejak awal menjadi alasan mereka mempertaruhkan nyawa.Megan yang berdiri di sampingnya segera menoleh. Melihat raut wajah Adrian yang mulai cemas, ia merangkul pundak pria itu dengan lembut, seolah ingin meyakinkannya bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.“Stempel itu tidak penting. Yang terpenting kau selamat.”Suaranya terdengar tenang, tetapi kelelahan jelas tergambar di wajahnya. Rambutnya sedikit berantakan, pakaiannya masih menyisakan bekas pertarungan, sementara beberapa memar mulai terlihat di lengannya. Megan sudah terlalu lelah untuk memikirkan benda apa pun. Setelah semua yan
Seorang pria. Berjalan dengan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak panik.Namun jelas, mengikutinya.Darah Megan langsung berdesir dingin, panik. Sial! Apakah ia ketahuan?Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan mempercepat langkahnya. Dari cepat… menjadi lari.Sepatu botnya menghantam aspal kasar, nafa
Kata-kata pria itu terus berputar di kepala Megan.Bekerja denganku.Bukan ancaman biasa. Bukan pula sekadar tawaran. Ada sesuatu di balik nada suaranya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Megan berdiri.Kenapa dia tidak melaporkannya?Kenapa justru… menginginkannya?Siapa sebenarnya pria itu?“Megan.
Tiga hari kemudian.Cahaya keemasan membanjiri aula megah tempat pesta ulang tahun Pangeran Andrew digelar. Kristal berkilau dari langit-langit tinggi, musik klasik mengalun lembut, dan tawa para tamu elit berpadu dengan denting gelas anggur.Di balik kemewahan itu, Megan berdiri di antara para pel
Sepanjang hari, jantung Megan tak pernah tenang. Setiap langkah di belakangnya terasa seperti ancaman. Ia yakin sekali saja tertangkap, semuanya berakhir.Namun malam datang… dan tak ada yang mencarinya.Di ruangan sempit, uang berhamburan di atas meja. Trix dan Byne tertawa ringan.“Banyak hari in







