Share

19. Dalang yang Sebenarnya

Penulis: Callista_ Ivan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-21 08:08:18

Langkah kakiku berhenti tepat di depan pintu kamar Bowo. Nafasku terasa berat, dadaku berdebar begitu kencang seolah hendak meledak. Suara tawa yang terdengar dari balik pintu ini seperti pisau yang menusuk telingaku.

Tawa seorang pria yang jelas adalah suara Bowo. Dan tawa seorang wanita yang membuat seluruh tubuhku merinding.

"Aku kangen sama kamu, Bowo. Kamu jangan pergi-pergi lagi dong." suara itu terdengar lagi, dengan sangat manja, begitu lembut hingga membuat jantungku serasa lepas dari tubuh.

Tubuhku membeku, bahkan seolah nyaris tak bisa bergerak. Lidahku rasanya kelu, kakiku gemetar lemas.

"Suara itu ... mirip seperti suara Shira," ucapku dengan tercekat.

Tapi itu tidak mungkin!

Shira tidak mungkin berada di sini. Tapi, kenapa telingaku begitu yakin kalau itu suaranya?

Tanganku bergerak ragu hendak menyentuh gagang pintu. Suara detak jantungku semakin keras. Aku ingin membuka pintu ini, dan ingin menguak semua kebohongan yang selama ini membelit hidupku. Tapi entah kenapa s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   32. Sikap yang Aneh

    “Ya Tuhan, kemana Shira?”Dilanda kepanikan, Panji pun cepat-cepat berlari keluar kamar. Ia menyusuri seluruh sudut rumah dengan napas yang memburu. Seluruh penjuru rumah itu sudah ia cek. Ruang tamu, dapur, kamar mandi, tapi semuanya kosong.Tidak ada tanda-tanda keberadaan Shira di rumah ini. Bahkan pakaian Shira juga masih utuh, tak ada barangnya yang hilang sama sekali. Hanya ada rumah yang terasa terlalu rapi untuk sebuah kepergian mendadak.“Shira!” panggilnya lagi, kali ini suaranya nyaris dengan nada tinggi.Ia masih berharap jika Shira ada di rumah itu dan mau merespon panggilannya, tapi sepertinya semua usahanya itu nihil.Panji segera meraih ponselnya dan menelepon ponsel Shira, tapi ponselnya tidak bisa dihubungi. Panggilan tetap tidak bisa tersambung. Layar hanya menampilkan tulisan ponsel tidak aktif yang terasa seperti tamparan.Kepalanya mendadak terasa penuh. Banyak pilihan-pilihan yang berputar cepat dan saling bertabrakan.“Rumah orang tuanya. Ya, mungkin saja Shira

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   31. Shock

    “Astaga! Itu kan …?”Kedipan merah dari kamera kecil itu terasa seperti ejekan bagi Panji. Lampunya menyala pelan dan teratur, seolah sadar bahwa sedang diperhatikan. Dan seolah kamera itu sengaja ingin memastikan kalau Panji tahu, bahwa setiap detik di ruangan itu tidak benar-benar aman. Panji yakin, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka di luar sana.“Pak, itu kamera?” suara Panji terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan.Tangannya menunjuk ke arah kamera kecil itu. Supervisor mengikuti kemana arah jari telunjuknya. Dahi pria itu langsung berkerut. Ia berdiri dan mendekat ke lemari besi, lalu memeriksa kamera kecil yang menempel di sudut atasnya. “Kamera ini bukan inventaris kantor,” gumamnya pelan. “Seharusnya nggak ada kamera di sini.”“Apa?" Mata Panji membulat lebar, ia cukup terkejut dengan jawaban dari supervisor itu.Kalau benar semua ini direkam, berarti jebakan ini bukan hanya untuk menjatuhkannya secara pribadi, tapi juga untuk menyeret nama kantor. Dan di titik

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   30. Semua Belum Selesai!

    Hari-hari pertamaku di kantor baru berjalan seperti roller coaster. Ada rasa lega karena akhirnya aku bisa produktif lagi, tapi juga ada rasa was-was setiap kali melirik meja di sebelahku-tempat Dira duduk.Kami berusaha profesional di depan rekan kerja, tapi aku tahu beberapa dari mereka pasti sudah mulai berbisik-bisik. Apalagi setelah dua hari ini kami sering makan siang bareng. Rasanya semua mata seperti mengawasi kami, walau mungkin itu cuma perasaanku saja yang terlalu sensitif. Setiap tawa kecil atau percakapan singkat dengannya seolah jadi sorotan. Aku bahkan mulai berhati-hati memilih kata, takut dianggap berlebihan.Hari ketiga kerja, aku menerima gaji harian pertamaku. Tidak besar, tapi cukup membuatku tersenyum. Rasanya ada kepuasan kecil bisa menghasilkan sesuatu dari jerih payah sendiri, meski masih dalam jumlah yang sederhana. Dalam perjalanan pulang, aku mampir ke toko roti langganan dan membeli roti kesukaan Shira."Semoga ini bisa sedikit meluluhkan hatinya yang masi

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   29. Kita Bertemu Lagi

    "Sialan, kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di sini?" Aku bergumam dalam hati, mataku masih berusaha mencari si pengirim pesan yang sepertinya menguntit aku ke rumah sakit ini.Namun, cukup lama aku mencarinya, tak juga aku temukan tanda-tanda keberadaannya. Aku pun memutuskan untuk diam, dan kembali fokus pada Dira. Aku tak ingin kalau Dira sampai mengetahui hal ini.*Malam ini di rumah, aku melihat Shira yang terlihat murung. Dia duduk di kursi ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Aku baru saja selesai mandi, dan segera menghampirinya."Sayang, kamu kenapa?" tanyaku dengan hati-hati.Dia mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar tepat di depan wajahku."Jelaskan ini, Mas!"Darahku tercekat. Itu foto yang dikirim oleh si nomor misterius tadi siang."Shira, itu bukan kayak yang kamu pikir! Dia cuma nungguin ibunya dan aku cuma nemenin di rumah sakit!" jelasku cepat.Shira menatapku, ada luka dan marah yang bercampur di matanya."Aku udah berusaha percaya sama kamu lagi, Mas Panji.

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   28. Masih Diawasi

    Sudah tiga hari berlalu sejak kedok Bowo terbongkar, tapi hidupku belum jug kembali tenang. Namun, aku tetap meminta izin kepada mertuaku untuk mengajak Shira pulang, dan mereka mengizinkannya.Pagi itu, aku dan Shira sedang berada di ruang makan. Dia sedang menyiapkan sarapan, tapi suasana di antara kami seperti tipis dan rapuh. Aku bisa merasakan kalau dia mencoba bersikap normal, tapi matanya selalu seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu."Kamu masak apa, Sayang?" tanyaku sambil memeluknya dari belakang, ketika ia sedang menghadap kompor dan menyiapkan sarapan untuk kami."Aku usahakan masak yang enak, biar kamu nggak jajan di luar sana, Mas," jawab Shira sambil melepaskan pelukanku yang melingkar di perutnya.Degh!Ucapannya memang terdengar santai, tapi bagiku itu bukan sekedar perkataan biasa. Aku tau jelas kemana arah tujuan ucapan istriku itu.Shira kemudian menyibukkan diri dengan hal lainnya, membuatku hanya bisa menghela nafas dengan kecewa. Sepertinya dia memang belum te

  • Foto Istriku di Aplikasi Kencan Online   27. Mungkinkah Berakhir?

    Malam itu, rumah mertua terasa jauh lebih sunyi dibanding siang yang riuh tadi.Aku duduk di teras samping bersama Shira. Aroma teh melati yang baru diseduh Bu Yanti, ibu mertuaku menguar lembut. Tak ada kata yang keluar selama beberapa menit. Hanya suara jangkrik yang menemani hening kami.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku bisa menarik napas tanpa rasa sakit di dada. Semua kebohongan Bowo akhirnya terungkap di depan keluarga Shira.Nama baikku kembali. Tapi entah kenapa, rasa lega itu tidak sepenuhnya manis. Rasanya seperti habis bertarung dalam badai panjang, tapi sadar masih ada awan gelap di kejauhan.Shira menatapku, matanya basah tapi lembut."Mas Panji, aku..."Aku menggeleng, menahan kata-katanya."Nggak usah ngomong apa-apa dulu. Aku ngerti. Kamu... cuma kebawa arus. Semua bukti kelihatan nyata, siapa pun pasti percaya."Air mata Shira jatuh. Dia memegang tanganku erat."Aku... nyesel udah ragu sama kamu. Aku takut banget waktu semua itu keliatan nyata. Aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status