Share

Bab 17

Author: Madre Shine
last update publish date: 2026-04-04 20:00:01

Darah segar menetes dari ujung hidung Juan, jatuh menghantam permukaan genangan air di lantai gua yang dingin. Matanya yang biasanya berwarna abu-abu baja kini meredup, menyisakan kekosongan yang mengerikan di balik pupilnya yang melebar.

Tangan Juan yang kasar tiba-tiba bergerak secepat kilat, mencengkeram leher Lilia dengan kekuatan yang mampu meremukkan beton. Lilia tersentak, punggungnya menghantam dinding batu yang lembap hi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Frekuensi Terlarang   Bab 18

    Langit Lembah Kabut tidak lagi sekadar kelabu; ia tampak seolah-olah sedang runtuh menimpa bumi. Ratusan kapal perang The Remnant yang keluar dari mode kamuflase menciptakan distorsi ruang yang membuat udara di sekitar Lilia bergetar hebat. Moncong-moncong senjata laser merah yang mengunci jantungnya bukanlah gertakan, melainkan vonis mati yang tertunda oleh rasa ingin tahu para penciptanya.Lilia berdiri tegak di tengah hamparan salju yang kini memerah terpantul cahaya bidik musuh. Jemarinya mencengkeram unit Uplink pemberian Juan hingga buku-bukunya memutih, merasakan getaran hangat dari perangkat itu sebagai satu-satunya jangkar realitasnya. Ia tidak lagi gemetar; amarah yang murni telah membakar rasa takutnya, menyisakan keinginan untuk menghancurkan apa pun yang mencoba merampas dunianya kembali.

  • Frekuensi Terlarang   Bab 17

    Darah segar menetes dari ujung hidung Juan, jatuh menghantam permukaan genangan air di lantai gua yang dingin. Matanya yang biasanya berwarna abu-abu baja kini meredup, menyisakan kekosongan yang mengerikan di balik pupilnya yang melebar.Tangan Juan yang kasar tiba-tiba bergerak secepat kilat, mencengkeram leher Lilia dengan kekuatan yang mampu meremukkan beton. Lilia tersentak, punggungnya menghantam dinding batu yang lembap hingga napasnya terputus seketika.Ia menatap wajah pria di depannya, mencari sisa-sisa kehangatan yang baru saja mereka bagi di laboratorium lotus yang kini hancur. Namun, di dalam mata Juan, Lilia hanya melihat barisan kode biner berwarna merah yang berkedip dengan kecepatan gila."Juan... ini aku... Elara..." bisik Lilia tersedak, jemarinya yang lemas mencoba melepaskan cengkeraman maut itu.Ju

  • Frekuensi Terlarang   Bab 16

    Lembah Kabut tidak pernah tidur dalam kesunyian yang jujur. Di sini, di bawah bayang-bayang tebing raksasa yang tampak seperti taring bumi yang patah, udara tidak hanya dingin—ia bermuatan listrik. Kabut yang menyelimuti lembah ini bukan sekadar uap air; ia adalah sup partikel nano dan residu frekuensi yang ditinggalkan oleh eksperimen-eksperimen gagal Dr. Valerius di masa lalu. Bagi manusia biasa, tempat ini adalah labirin yang mematikan bagi sistem pernapasan. Namun bagi Juan, sang Memory Weaver, aroma ozon dan statis ini terasa seperti rumah yang pahit. Juan merangkak melalui celah sempit di antara dua pipa pembuangan panas yang sudah berkarat. Napasnya teratur, sebuah teknik yang ia pelajari dari para pelarian di The Fringe untuk meminimalkan deteksi sensor gerak. Di bawah sana, di pusat lembah, struktur Laboratorium Bio-Resonator menjulang seperti bunga lotus mekanis yang baru saja mekar di tengah kolam limbah. Kelopak-kelopak bajanya

  • Frekuensi Terlarang   Bab 15

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak lagi terasa seperti ancaman yang mematikan. Sejak malam The Great Uplift, es di sini seolah menyimpan kehangatan sisa—sebuah resonansi termal yang tertinggal setelah pilar cahaya Lilia menembus atmosfer dan merobek tatanan lama dunia. Juan berdiri di bibir tebing, menatap ke bawah ke arah lembah yang dulu tertutup jelaga industri, kini tampak seperti hamparan perak yang sedang bernapas. ​Enam bulan telah berlalu sejak dunia "terbangun". Tidak ada lagi kabut asap beracun yang tebal dari Distrik 9; dari ketinggian ini, kota-kota di bawah sana tampak seperti sirkuit raksasa yang sedang mengalami reboot total. Lampu-lampu neon yang dulu berkedip agresif dengan iklan-iklan korporasi kini bersinar dengan ritme yang lebih tenang, mengikuti frekuensi denyut jantung planet yang baru. Dunia menyebutnya sebagai fajar kemanusiaan yang kedua, namun bagi Juan, ini adalah awal dari kesunyian yang paling bising dalam hidupnya. ​

  • Frekuensi Terlarang   Bab 14 🔥🥵

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak terasa dingin bagi Lilia; ia justru terasa seperti butiran data yang membeku, menyentuh kulitnya dengan frekuensi yang sunyi. Di ketinggian ini, di mana oksigen menipis dan dunia di bawah sana tampak seperti hamparan luka yang menganga, Lilia berdiri di depan gerbang Observatorium Valerius. Struktur itu tampak seperti mata raksasa yang menatap ke langit, terbuat dari kaca kristal dan kuningan yang telah menghitam oleh waktu, bersembunyi di dalam pelukan tebing es yang curam. ​Juan mematikan mesin crawler yang terbatuk untuk terakhir kalinya. Asap hitam mengepul dari kap mesin, segera disapu oleh angin pegunungan yang ganas. Ia turun dengan langkah berat, pistol pulsanya tersampir di pinggang, dan matanya terus memindai lereng di bawah mereka. Di kejauhan, titik-titik hitam mulai merayap naik menembus badai salju—pasukan The Restoration telah tiba, dan mereka membawa mesin pembantai yang lebih besar dari sebelumnya. ​"Juan," panggil Lilia. Sua

  • Frekuensi Terlarang   Bab13 🔥🥵

    Sisa-sisa api di cakrawala The Reef perlahan memudar, digantikan oleh fajar yang dingin dan berkabut. Kapal induk The Harvester kini hanyalah bangkai baja raksasa yang tenggelam di pelukan samudra, memuntahkan cairan pendingin berwarna neon yang mencemari buih ombak. Di daratan, Juan dan Lilia tidak menunggu perayaan. Mereka tahu bahwa di dunia yang dikendalikan oleh algoritma, kemenangan hanyalah jeda singkat sebelum sistem melakukan reboot.Mereka meninggalkan pesisir itu menggunakan sebuah crawler mekanis tua—kendaraan darat bermesin pembakaran internal yang kasar, tanpa satu pun sirkuit digital yang bisa dilacak oleh satelit Sektor 0. Juan memacu mesin itu menembus jalur tikus di antara tebing karang, menjauh dari aroma garam menuju pedalaman yang berdebu.Lilia duduk di kursi penumpang, tubuhnya dibungkus selimut wol tebal yang masih berbau asap ledakan. Matanya yang cokelat kini seringkali memancarkan kilatan hijau samar, bukan lagi karena serangan Echo-01, melainkan karena ener

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status