Compartilhar

Frekuensi Terlarang
Frekuensi Terlarang
Autor: Madre Shine

Bab 1

Autor: Madre Shine
last update Data de publicação: 2026-03-02 16:00:00

Udara di Distrik 9 selalu memiliki rasa yang spesifik: campuran antara tembaga berkarat, ozon yang terbakar, dan sisa-sisa hujan asam yang tak kunjung usai. Di sini, matahari hanyalah dongeng yang diceritakan oleh para veteran perang saraf, terkubur di balik lapisan jelaga industri yang menyelimuti langit selama puluhan tahun. Di bawah permukaan jalanan yang becek oleh limbah neon, Juan duduk di balik meja kerja yang dipenuhi kabel-kabel optik yang meliuk seperti bangkai ular perak.

Cahaya dari monitor tua memantulkan warna biru pucat pada wajah Juan yang tirus. Matanya yang lelah terpaku pada fluktuasi gelombang otak yang melonjak liar di layar, membentuk pola-pola geometris yang tidak masuk akal. Di depannya, di atas kursi operasi kulit yang sudah pecah-pecah, seorang wanita terbaring tak berdaya.

Lilia.

Nama itu tertulis dengan tinta emas yang memudar pada secarik kertas kecil, terselip di saku gaun sutra putihnya yang kini compang-camping dan ternoda oli. Gaun itu adalah anomali di tempat ini. Sutra asli—bukan polimer sintetik—hanya dimiliki oleh penghuni Sektor 0, mereka yang hidup di atas awan.

"Kau seharusnya tidak berada di sini, Lilia," bisik Juan. Suaranya serak, parau khas pria yang menghabiskan malam-malamnya dengan menghisap nikotin sintetik dan terlalu sedikit bicara dengan manusia hidup.

Juan adalah seorang Memory Weaver. Di Distrik 9, ia adalah sosok yang dicari sekaligus ditakuti. Di dunia di mana kenangan adalah komoditas—di mana orang miskin menjual memori masa kecil yang indah demi sesuap nasi, dan orang kaya membeli sensasi jatuh cinta milik orang lain untuk mengusir kebosanan—Juan adalah "tukang jagal" yang bekerja di zona abu-abu. Ia bisa menjahit kembali jiwa yang retak, atau menghapus dosa yang menghantui tidur seseorang.

Namun, saat Juan menghubungkan saraf sensoriknya ke interface di tengkuk Lilia, ia tidak menemukan apa-apa. Biasanya, pikiran manusia adalah labirin yang penuh sesak dengan suara, bau, dan bayangan. Tapi Lilia? Otaknya sunyi. Kosong. Bukan sekadar lupa karena trauma, tapi bersih secara paksa. Seperti sebuah kanvas putih yang baru saja disiram pemutih tingkat tinggi hingga serat-seratnya pun menghilang.

Siapa pun yang melakukan ini pada Lilia, mereka bukan sekadar ingin dia lupa. Mereka ingin dia berhenti menjadi manusia.

Tiba-tiba, keheningan di basement itu pecah. Jemari Lilia bergerak, gemetar kecil sebelum akhirnya mencengkeram lengan Juan dengan kekuatan yang mengejutkan. Kuku-kukunya yang tajam menekan kulit Juan, menembus lapisan dermis dan menciptakan sensasi perih yang anehnya memicu lonjakan adrenalin yang sudah lama padam dalam diri Juan.

"Di mana... aku?" suara Lilia terdengar seperti gesekan biola yang tidak selaras—pecah, rapuh, namun memiliki keindahan yang menyakitkan.

Juan menatap mata Lilia yang perlahan terbuka. Pupil wanita itu melebar, menelan iris cokelat jernihnya hingga menyisakan kegelapan yang dalam. Ada ketertarikan instan yang berbahaya terpancar dari sana—bukan karena cinta, tapi karena insting purba makhluk yang baru saja lahir ke dunia yang asing.

Di Distrik 9, kontak fisik adalah kemewahan sekaligus ancaman. Sentuhan bukan sekadar soal kulit bertemu kulit; di zaman di mana setiap pori-pori bisa menjadi pintu masuk bagi peretas saraf, sentuhan adalah pertukaran energi dan privasi yang paling intim.

"Kau ada di tempat di mana masa lalu tidak lagi penting," jawab Juan. Ia berusaha menjaga suaranya tetap datar, meski detak jantungnya sendiri mengkhianati ketenangannya, berdentum keras di balik tulang rusuknya yang kurus. Ia bisa merasakan panas tubuh Lilia merambat dari lengan hingga ke pundaknya. "Tapi masalahnya adalah, kau tidak punya masa lalu untuk dijual, dan kau tidak punya uang untuk membeli yang baru."

Lilia tidak melepaskan cengkeramannya. Sebaliknya, ia bangkit sedikit, menarik tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Juan. Bau mawar hutan dan ozon tercium dari kulitnya—aroma yang terlalu mahal, terlalu murni untuk distrik yang berbau sampah logam ini.

Lilia menatap bibir Juan dengan rasa ingin tahu yang mentah, seolah ia sedang mempelajari fungsi dari organ tubuh tersebut. Tangannya yang bebas merayap naik, jemarinya yang halus menyentuh garis rahang tegas Juan yang belum dicukur. Juan membeku. Sebagai seorang profesional yang telah membedah ribuan pikiran, ia tahu bahwa terlibat secara emosional dengan 'pasien' adalah tiket satu arah menuju kehancuran sistemik.

"Kalau begitu," bisik Lilia, napasnya yang hangat menerpa kulit Juan, "buatkan aku memori yang baru. Mulai dari malam ini."

Permintaan itu bukan sekadar kata-kata; itu adalah undangan ke dalam jurang. Juan merasakan pertahanannya runtuh bit demi bit. Logikanya memerintahkannya untuk mencabut kabel, memberikan Lilia beberapa kredit jalanan, dan mengusirnya keluar sebelum pasukan keamanan Sektor 0 melacak jejaknya. Namun, cara Lilia menatapnya—seolah Juan adalah satu-satunya hal yang nyata dan solid di dunia yang penuh halusinasi dan bit data ini—membuat Juan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Tangannya yang gemetar berpindah, melingkar di pinggang Lilia yang ramping, menarik tubuh wanita itu lebih dekat hingga tidak ada lagi udara yang tersisa di antara mereka. Di ruangan yang remang-remang itu, hanya suara detak jam mekanis yang berkarat dan napas mereka yang memburu yang terdengar, bersaing dengan dengung statis dari monitor tua di sudut ruangan.

Juan menunduk, menatap bibir Lilia yang pucat dan sedikit terbuka. Keintiman ini terasa terlarang, sebuah frekuensi yang seharusnya tidak pernah mereka bagi. Di Distrik 9, cinta adalah malware yang merusak sistem, tapi saat ini, Juan bersedia membiarkan seluruh sistemnya hancur.

"Membangun memori baru itu sakit, Lilia," gumam Juan tepat di depan bibirnya. "Kau yakin ingin merasakan sakit itu bersamaku?"

Lilia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik tengkuk Juan, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang terasa seperti tabrakan dua galaksi yang mati. Rasanya pahit karena nikotin dan manis karena keputusasaan.

Juan tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan lagi soal angka, frekuensi, atau sekadar bertahan hidup di bayang-bayang. Ini akan menjadi soal obsesi. Sebuah pengejaran terhadap sesuatu yang hilang di dalam diri Lilia, dan sesuatu yang baru saja ditemukan di dalam dirinya sendiri. Mereka adalah dua fragmen yang rusak, mencoba membangun sebuah keutuhan di dunia yang sudah hancur.

Lilia menarik napas panjang di sela ciuman mereka, tangannya kini mencengkeram rambut hitam Juan. "Sakit..." bisiknya lirih, "artinya aku masih ada."

Juan memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam. Jika Lilia adalah kanvas kosong, maka Juan akan menjadi tinta hitam yang menorehkan sejarah paling berbahaya di atasnya. Sejarah yang mungkin akan membakar mereka berdua hingga menjadi abu, namun setidaknya, mereka akan terbakar bersama.

Di luar, hujan asam mulai turun lebih deras, membilas jelaga dari jendela-jendela berjeruji, sementara di dalam basement yang gelap itu, sebuah frekuensi terlarang baru saja dimulai.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Frekuensi Terlarang   Bab 16

    Lembah Kabut tidak pernah tidur dalam kesunyian yang jujur. Di sini, di bawah bayang-bayang tebing raksasa yang tampak seperti taring bumi yang patah, udara tidak hanya dingin—ia bermuatan listrik. Kabut yang menyelimuti lembah ini bukan sekadar uap air; ia adalah sup partikel nano dan residu frekuensi yang ditinggalkan oleh eksperimen-eksperimen gagal Dr. Valerius di masa lalu. Bagi manusia biasa, tempat ini adalah labirin yang mematikan bagi sistem pernapasan. Namun bagi Juan, sang Memory Weaver, aroma ozon dan statis ini terasa seperti rumah yang pahit. Juan merangkak melalui celah sempit di antara dua pipa pembuangan panas yang sudah berkarat. Napasnya teratur, sebuah teknik yang ia pelajari dari para pelarian di The Fringe untuk meminimalkan deteksi sensor gerak. Di bawah sana, di pusat lembah, struktur Laboratorium Bio-Resonator menjulang seperti bunga lotus mekanis yang baru saja mekar di tengah kolam limbah. Kelopak-kelopak bajanya

  • Frekuensi Terlarang   Bab 15

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak lagi terasa seperti ancaman yang mematikan. Sejak malam The Great Uplift, es di sini seolah menyimpan kehangatan sisa—sebuah resonansi termal yang tertinggal setelah pilar cahaya Lilia menembus atmosfer dan merobek tatanan lama dunia. Juan berdiri di bibir tebing, menatap ke bawah ke arah lembah yang dulu tertutup jelaga industri, kini tampak seperti hamparan perak yang sedang bernapas. ​Enam bulan telah berlalu sejak dunia "terbangun". Tidak ada lagi kabut asap beracun yang tebal dari Distrik 9; dari ketinggian ini, kota-kota di bawah sana tampak seperti sirkuit raksasa yang sedang mengalami reboot total. Lampu-lampu neon yang dulu berkedip agresif dengan iklan-iklan korporasi kini bersinar dengan ritme yang lebih tenang, mengikuti frekuensi denyut jantung planet yang baru. Dunia menyebutnya sebagai fajar kemanusiaan yang kedua, namun bagi Juan, ini adalah awal dari kesunyian yang paling bising dalam hidupnya. ​

  • Frekuensi Terlarang   Bab 14 🔥🥵

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak terasa dingin bagi Lilia; ia justru terasa seperti butiran data yang membeku, menyentuh kulitnya dengan frekuensi yang sunyi. Di ketinggian ini, di mana oksigen menipis dan dunia di bawah sana tampak seperti hamparan luka yang menganga, Lilia berdiri di depan gerbang Observatorium Valerius. Struktur itu tampak seperti mata raksasa yang menatap ke langit, terbuat dari kaca kristal dan kuningan yang telah menghitam oleh waktu, bersembunyi di dalam pelukan tebing es yang curam. ​Juan mematikan mesin crawler yang terbatuk untuk terakhir kalinya. Asap hitam mengepul dari kap mesin, segera disapu oleh angin pegunungan yang ganas. Ia turun dengan langkah berat, pistol pulsanya tersampir di pinggang, dan matanya terus memindai lereng di bawah mereka. Di kejauhan, titik-titik hitam mulai merayap naik menembus badai salju—pasukan The Restoration telah tiba, dan mereka membawa mesin pembantai yang lebih besar dari sebelumnya. ​"Juan," panggil Lilia. Sua

  • Frekuensi Terlarang   Bab13 🔥🥵

    Sisa-sisa api di cakrawala The Reef perlahan memudar, digantikan oleh fajar yang dingin dan berkabut. Kapal induk The Harvester kini hanyalah bangkai baja raksasa yang tenggelam di pelukan samudra, memuntahkan cairan pendingin berwarna neon yang mencemari buih ombak. Di daratan, Juan dan Lilia tidak menunggu perayaan. Mereka tahu bahwa di dunia yang dikendalikan oleh algoritma, kemenangan hanyalah jeda singkat sebelum sistem melakukan reboot.Mereka meninggalkan pesisir itu menggunakan sebuah crawler mekanis tua—kendaraan darat bermesin pembakaran internal yang kasar, tanpa satu pun sirkuit digital yang bisa dilacak oleh satelit Sektor 0. Juan memacu mesin itu menembus jalur tikus di antara tebing karang, menjauh dari aroma garam menuju pedalaman yang berdebu.Lilia duduk di kursi penumpang, tubuhnya dibungkus selimut wol tebal yang masih berbau asap ledakan. Matanya yang cokelat kini seringkali memancarkan kilatan hijau samar, bukan lagi karena serangan Echo-01, melainkan karena ener

  • Frekuensi Terlarang   Bab 12 🥵🔥

    Langit di atas The Reef bukan lagi kelabu; ia telah berubah menjadi kanvas neraka yang terbakar. Cahaya dari ledakan ranjau minyak di permukaan laut memantulkan warna jingga darah pada kabut elektronik yang diciptakan Juan. Di tengah kekacauan itu, kapal induk The Restoration—sebuah struktur monolitik berbentuk cakram raksasa yang dikenal sebagai The Orbital Harvester—perlahan turun menembus awan jelaga, mengeluarkan dengung frekuensi rendah yang membuat pasir pantai bergetar seperti ribuan semut yang gelisah.Juan berdiri di garis air, napasnya memburu, uap panas keluar dari mulutnya yang berlumuran darah. Di depannya, Silas melangkah maju dengan keanggunan seorang predator yang terbuat dari baja dan dendam. Zirah taktisnya yang berwarna perak gelap tampak kebal terhadap air laut yang memercik, sementara mata mekanisnya yang berwarna merah darah mengunci posisi Juan dengan presisi dingin."Sepuluh tahun, Weaver," suara Silas terdengar melalui modulator eksternal, datar dan tanpa nyaw

  • Frekuensi Terlarang   Bab 11 🔥🥵

    Hujan di The Reef telah berhenti, menyisakan kabut garam yang tebal dan aroma karat yang semakin tajam. Juan berdiri di depan jendela kaca buram yang bergetar setiap kali ombak besar menghantam pilar-pilar rumah panggung mereka. Di layar pemindai saraf portabelnya, titik merah itu tidak lagi berkedip lambat; ia berdenyut dengan ritme predator yang telah mengunci mangsanya.The Restoration tidak lagi sekadar mencari; mereka sedang mengonvergensi.Lilia berdiri di pintu kamar, menatap punggung Juan yang tegang. Ia masih mengenakan kemeja linen putih yang sama, namun sorot matanya tidak lagi hanya berisi luka. Ada kewaspadaan yang tajam di sana, sisa-sisa insting Echo-02 yang merespons bahaya yang mendekat."Juan," panggil Lilia. Suaranya datar namun menuntut. "Kau tidak bisa menyembunyikan lampu merah itu dariku. Frekuensi di udara sudah berubah. Aku merasakannya di pangkal tengkorakku. Dingin dan tajam, seperti pisau bedah."Juan berbalik perlahan. Tangannya masih memegang chip memori

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status