LOGIN“Wah, nggak usah Om! Aku kan memang niatnya membantu bukan bekerja mengharapkan gaji.” tolak ku. “Om juga memberikan ini bukan sebagai gaji, tapi lebih dari tanda terima kasih karena kamu telah membantu Om. Dan karena Om udah dibantu, nah sekarang kami pula yang balik membantumu. Bukan begitu, Mila?” ujar Pak Syamsul sembari bertanya pada istrinya, Bu Karmila anggukan kepala sembari tersenyum.“Om harap kamu mau menerimanya! Jika kamu belum membutuhnya sekarang, kamu masukan ke dalam tabunganmu aja! Sewaktu-waktu kamu butuh, kamu bisa pergunakan.” tutur Pak Syamsul, aku melirik pada Ayah, dan Ayah pun memberi kode anggukan kepala agar menerima pemberian dari sahabatnya itu.“Baiklah aku terima, makasih banyak ya Om, Tante.” ucap ku.“Iya sama-sama, Ryan.” ulas Pak Syamsul dan Bu Karmila.****Hari itu Kota P cuaca cukup buruk, meskipun hujan lebat baru datang selepas tengah hari, namun sejak tadi pagi gerimis tak henti-hentinya turun disertai hujan dan angin kencang. Aku tiba di term
“Makanya Ayahmu bagi Om bukan hanya sekedar teman biasa, tapi lebih dari itu. Oh ya, bagaimana dengan kamu, Ryan apakah kamu lulus dengan nilai yang tinggi di sekolah?” tanya Pak Syamsul.“Alhamdulilah Syam, Ryan mendapatkan nilai tertinggi ketiga dan menjadi siswa undangan untuk masuk ke perguruan tinggi negeri ternama di kota itu.” Ayah yang menjawab.“Wah, bagus itu! Terus bagaimana, apakah urusan kuliahmu itu udah selesai? Karenakan harus daftar ulang dulu sebelum kegiatan kuliah dimulai?” Pak Syamsul kembali bertanya.“Udah selesai semuanya Om, tinggal menunggu waktu kuliah dimulai saja. Semua biaya semester pertama dan almamater telah aku lunasi dan rencananya aku akan kembali 4 hari lagi, soalnya minggu depan kegiatan kuliah akan dimulai.” jawab ku.“Udah lunas? Memangnya Mas Ardi punya simpanan uang untuk melunasi biaya yang dibutuhkan Ryan untuk daftar ulang itu?” kali ini Pak Syamsul bertanya pada Ayah.“Ada sih simpanan uangku hasil panen beberapa bulan yang lalu, tapi buka
“Iya Mbak, aku juga berharap demikian. Sejak istri Tuan yang dulu meninggal, Tuan Bram tak pernah terlihat sesemangat ini. Apalagi pergi ke tempat beginian, kesehariannya selalu ia habiskan waktu di kantor. Katanya jika berada di rumah lama-lama, pikirannya selalu tertuju pada almarhumah istrinya.” tutur Bi Sumi.“Kasihan juga melihatnya, begitu sabarnya Tuan Bram menghadapi Nyonya Dola yang hingga kini masih tak bisa menerima Tuan sebagai suaminya.” ucap Bi Lastri.Sementara di meja yang lain Bram dan Dola pun tampak ngobrol sambil menikmati makan malam mereka, obrolan mereka tak lagi menjurus pada masa lalu yang tentunya membuat masing-masing merasa sedih dan kembali trouma, hingga malam mulai larut pun mereka masih di lantai atas itu menikmati pesona danau.Hanya rasa kantuk yang melerai kebetahan mereka di lantai atas hotel itu, hingga mereka pun memutuskan untuk kembali ke kamar beristirahat, memang diakui Dola suasana di sana mampu merefres pikirannya yang sempat dirundung kesedi
“Kamu sering ke sini ya, Bram?” justru Dola yang memulai pembicaraan, dan hal itu tentu membuat Bram senang.“Sering sih nggak, tapi aku pernah ke sini. Kamu sendiri?” Bram balik bertanya.“Aku nggak pernah ke sini, paling juga seringnya duduk-duduk di pinggir pantai.” jawab Dola.“Gimana, indah nggak suasana di sini?” tanya Bram, Dola anggukan kepala sembari tersenyum.“Di sini pesonanya indah dan lebih sejuk, mungkin efek hutan-hutan yang ada di sekeliling danau ini. Udaranya juga sangat segar!” ucap Dola, sembari mengitari pandangannya ke sekeliling danau.“Terakhir aku ke sini dulu dengan Yanti,” ujar Bram dengan tatapan lurus ke tengah danau.“Yanti? Siapa dia?” tanya Dola.“Dia istriku yang meninggal tahun yang lalu itu, sejak saat itulah aku nggak pernah lagi ke tempat ini.” jawab Bram yang nampak sekali menahan kesedihan di raut wajahnya.“Maaf, aku nggak bermaksud membuatmu sedih dengan pertanyaanku barusan.” ucap Dola merasa tak enak.“Nggak apa-apa, Dola. Aku udah dapat me
Eva hanya senyum-senyum saja saat tubuhnya dibopong dan dibaringkan di ranjang kamar itu, ia juga merasa heran karena tumben-tumbennya Rangga tak sabaran begitu. Biasanya juga Eva yang selalu memancingnya untuk bercinta, itu pun terkadang pancingannya jarang berhasil, karena Rangga sering tak ada mutnya untuk berhubungan.Sentuhan-sentuhan Rangga semakin liar, sempat membuat Eva dibakar gejolak api asmara, namun ia meragukan suaminya itu akan bertahan lama diranjang seperti yang kerap terjadi dan ia alami. Dugaan Eva tak meleset, Rangga hanya mampu bertahan sebentar saja, bahkan lebih cepat dari biasanya.Mungkin dipengaruhi gejolak yang terlalu meledak-ledak, hingga Rangga tak mampu memberi kepuasan lebih pada istrinya, namun Eva memaklumi hal itu dan baginya tak ada masalah, karena bagaimana pun juga Rangga adalah suaminya yang sah, Ayah dari anak-anak mereka.Eva membiarkan tubuh suaminya yang terbaring lemas di ranjang, dan tak lama Rangga pun tertidur. Mama-mama cantik itu ke kam
“Apa yang dikatakan Mama mu itu benar, Siska. Butuh peran orang tua dalam membimbing putra-putri mereka! Orang tua tak perlu malu menjelaskan soal perilaku sex dan pergaulan bebas, pada anak-anak mereka yang akan menginjak dewasa. Karena dampaknya benar-benar buruk untuk masa depan mereka nantinya, Papa juga salah telah mengabaikan itu semua.” tambah Pak Indra menarik napas merasa menyesal dengan sikapnya yang selama ini tak begitu perhatian pada putri semata wayangnya itu.“Kalau boleh Bibi tahu, gimana ceritanya hingga kamu memutuskan bercerai dengan Rudi?” kali ini Bi Minah yang bertanya, karena sejak tadi Siska hanya nampak diam mendengar nasehat kedua orang tuanya.“Sejak awal aku udah mengetahui kebiasaan buruk Rudi, Bi. Namun aku tetap saja ngotot, dan aku pikir ia benar-benar mau merubah kebiasaan buruknya itu setelah menikah dengannya tapi aku salah Bi, dia sama sekali tak berubah. Janji-janji yang ia ucapkan hanya pemanis kata di bibir saja,” ujar Siska.“Kebiasaan buruk yan
Selama ini aku hanya tahu hubungan badan itupun dengan Dola dan wanita yang usianya terpaut jauh dengan diri ku, hubungan yang hanya melibatkan gejolak terlarang tanpa melibatkan perasaan selain tujuan mencapai puncak dari hubungan terlarang itu. Sementara yang ku hadapi sekarang ini adalah sosok g
“Bi..!”“Iya Nyonya.” Bi Lastri berjalan agak cepat ke ruang tamu tempat Dola duduk sambil membaca koran.“Ada apa, Nyonya?” tanya Bi Lastri saat tiba di ruang tamu itu.“Tadi Ryan sebelum berangkat sekolah ada tinggalkan pesan buatku nggak, Bi?”“Nggak tuh, setelah Ryan membersihkan sisa-sisa rump
Siang itu aku pulang dari sekolah bersamaan dengan selesainya jam mengajar Bu Dola, hingga aku tak perlu naik angkot untuk menuju rumah Guru ku itu melakukan tugas ku bekerja di sana, seperti biasa sebelum memulai pekerjaan aku dan Dola makan siang bareng di meja makan.“Hari ini kira-kira apa yang
“Ya udah, minggu besok aku akan penuhi ajakanmu. Memangnya kamu ingin ngajak aku jalan ke mana hari minggu besok?” tanya ku.“Serius nih kamu mau?”“Loh, emangnya kamu pikir aku becanda barusan?”“Asyik, hari minggu besok temani aku nonton di bioskop juga ya seperti Lani?”“Ya, aku akan temani kamu