Masuk“Maafkan aku, Ayah. Aku mengaku salah dengan semua yang telah aku lakukan, Aku bersedia kembali ke desa dan akan meninggalkan kota ini. Tapi aku mohon Ayah memberi waktu beberapa hari untuk menyelesaikan semua urusanku di kota ini, mulai dari minta berhenti dari perusahaan tempatku bekerja, hingga pamitan pada Ibu kosku yang selama ini telah banyak membantuku. Setelah urusan itu selesai, aku akan pulang ke desa dengan sepeda motorku itu.” Aku memohon sembari menunjuk sepeda motor yang aku parkirkan di depan teras rumah Om Ramlan.“Baik, Ayah akan beri kamu waktu untuk menyelesaikan semua urusanmu itu. Besok pagi Ayah kembali dulu ke desa, kami akan memaafkan semua kesalahan yang telah kamu lakukan itu, saat kamu tiba di desa. Kamu mungkin nggak tahu betapa sedihnya Ibumu saat mengetahui hal yang kamu perbuat di kota ini!” tutur Ayah.“Iya Ayah, aku janji akan menyelesaikan urusanku dan kembali ke desa secepatnya!” ucap ku.****Pagi-pagi sekali Om Ramlan mengantar Ayah ku ke terminal,
“Memangnya Ryan ke mana dengan wanita itu setelah dari restoran itu?” tanya Ayah.“Ke hotel, Mas. Dan maaf, jika pria dan wanita masuk ke dalam hotel hingga menginap bukan untuk acara resmi seperti halnya meeting perusahaan, mereka pasti berbuat yang tidak-tidak di sana. Dan orang yang aku suruh itu yakin betul jika mereka ke hotel bukan untuk menghadiri acara resmi seperti yang aku katakan tadi, melainkan berhubungan layaknya pasangan suami-istri.” tutur Om Ramlan.“Astaqfirullah...! Setan apa yang telah merasuki diri putraku itu, hingga ia melakukan hal yang tak senonoh begitu dengan seorang wanita! Buat malu keluarga saja, aku nggak pernah mengajarkan hal yang tak baik padanya! Sejak kecil dia anak yang rajin dan penurut!” nada bicara Ayah agak keras karena terbawa emosi.“Sabar, Mas Ardi nggak boleh tunjukan emosi itu di depan Ryan! Kita arahkan saja dia agar dapat terhindar dari hal buruk yang telah ia lakukan! Tadi malam aku nelpon Ryan memintanya untuk datang ke sini, mungkin n
Sekitar jam 5 sore Pak Syamsul dan Bu Karmila datang mengunjungi Intan di kediamannya, kebetulan jam 5 sore itu Intan telah kembali dari dinasnya di rumah sakit. Kedatangan kedua orang tuanya itu bukan hal yang mengejutkan bagi Intan, karena hal itu sering dilakukan kedua orang tuanya itu hampir tiap hari mengunjunginya.“Ayah dan Ibu makan malam nanti di sini ya? Nanti aku masakin, kebetulan kemarin aku membeli kepala ikan tuna besar dan sekarang ada di kulkas.” ujar Intan sembari menyapa kedua orang tuanya yang baru tiba di rumahnya itu.“Wah, boleh tuh! Ayah udah lama nggak pernah merasakan gulai kepala ikan buatanmu,” tutur Pak Syamsul dengan raut wajah riang.“Ibu pernah sih terniat ingin membuat gulai kepala ikan tuna, tapi di dekat rumah kita di sana jarang sekali para pedagang ikan tuna masuk berjualan. Yang ada ikan-ikan jenis lain dan kecil-kecil, itu pun enaknya kalau nggak digoreng ya dipanggang.” ujar Bu Karmila.“Di pasar Ibu Kota kabupaten ini selalu ada setiap harinya,
Tiba-tiba terlintas di pikiran Pak Syamsul untuk menjodohkan aku dengan Intan putri semata wayangnya, dengan begitu tentu saja pikir Pak Syamsul aku akan pulang ke desa dan terhindar dari kebiasaan buruk ku di kota, ditambah lagi Pak Syamsul berfikir aku sosok pria yang suka bekerja keras, meskipun tidak bekerja di perusahaan besar ia bisa saja meminta ku mengelola semua perkebunan kelapa sawit miliknya yang ratusan hektar luasnya.“Aku punya solusi dari permasalahan yang terjadi pada Ryan itu, Mas. Bagaimana kalau kita jodohkan saja Ryan dengan Intan?” tanya Pak Syamsul, kembali Ayah terlihat kaget oleh ucapan berupa pertanyaan dari sahabatnya itu.“Apa? Kamu ingin menjodohkan Ryan dengan Intan? Kamu bercanda ya, Syam?!” ujar Ayah tak percaya akan yang ucapkan sahabatnya itu.“Aku nggak lagi bercanda, tapi aku serius mengusulkan itu Mas. Di segi usia mereka udah layak bekerluarga, dan dengan begitu di samping Ryan akan meninggalkan kota itu dan tinggal di desa ini, hubungan kekeluarg
Sementara aku karena terlalu banyak wanita-wanita yang selama ini bukan hanya sekedar dekat tapi telah terlalu jauh dalam berhubungan, hingga aku juga sulit membedakan dan mencari wanita mana yang terbaik dan cocok untuk dijadikan pendamping hidup ku kelak, sementara sosok wanita yang pernah hadir di hati ku seperti Dola dan Rini keduanya sudah tak mungkin lagi untuk aku jadikan istri.Jika Dola kini telah bahagia bersama Bram, sementara Rini juga kabar terakhir yang aku ketahui telah menemui seorang pria yang bakal menikahinya tak lama lagi. Hal itu pula lah yang membuat ku semakin jauh untuk memikirkan soal pendamping hidup kelak, yang ada sekarang aku terus saja menjalani hari-hari dalam pergaulan bebas yang tak tentu ujungnya.****Sore minggu itu entah kenapa Om Ramlan dan keluarga yang saat itu tengah menikmati menu-menu special sebuah restoran mewah di Kota P, memergoki ku dengan Clara yang juga ada di dalam restoran mewah itu. Tentu saja Om Ramlan curiga melihat sikap kami yan
Apa yang disarankan Ayahnya memang Intan lakukan, setelah mandi ia rebahkan diri di kamarnya, meskipun tidak dengan memejamkan mata namun dengan rebahan beberapa menit tubuhnya akan terasa fres kembali. Intan ke luar dari kamarnya saat terdengar azan magrib yang dikumandangkan dari sebuah masjid tak jauh dari rumah keduanya itu, Intan pun mengikuti kedua orang tuanya itu melangkah ke masjid guna melaksanakan sholat magrib berjama’ah.Hal itu selalu rutin ia lakukan setiap kali ia berada di rumah kedua orang tuanya itu, bahkan sepulang dari masjid melaksakan sholat magrib sebelum makan malam Intan menyempatkan diri dulu untuk mengaji beberapa buah ayat Al-qur’an. Mengaji juga hal yang sudah menjadi kebiasaan gadis cantik berlesung pipi itu, baik sewaktu ia di desa maupun pada saat kuliah dan tinggal bersama Bibinya di Ibu Kota.Sepulang dari masjid Pak Syamsul beserta keluarga makan malam bersama, hal itu tentu saja terasa berbeda suasananya dibandingkan malam-malam yang lalu, karena b
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng
Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya
“Nggak ada apa-apa,” ujar ku.“Lalu kenapa berhenti?”“Aku rasa kita udah bertindak terlalu jauh, buat aku sih nggk akan jadi masalah tapi buat kamu nantinya bisa jadi masalah besar yang tentu akan menjadi sebuah penyesalan,” jawab ku menahan semua hasrat yang tadi sulit aku bendung, Lani kembali d







