로그인“Selamat Tinggal Kota P, kota yang selama ini telah memberi dan mengajariku berbagai hal dalam kehidupan. Aku nggak tahu apakah suatu saat aku dapat mengunjungi kota ini lagi! Kenangan-kenangan indah banyak tercipta di kota ini, begitu pula hal pahit dan manis yang ku jalani.” ucap ku dalam hati.Sepeda motor kembali aku nyalakan, lalu aku pun melanjutkan perjalanan menuju desa, tentu saja aku merasa berat meninggalkan kota yang selama ini telah banyak mengajari pengalaman hidup, kota yang selama ini membuat aku mengerti perbedaan antara hitam dan putih di segala sisi kehidupan. Namun apa hendak dikata, rasa hormat dan patuh pada kedua orang tua ku selama ini, membuat ku memilih dan mengambil keputusan untuk kembali ke desa tempat kelahiran ku.*****Sore itu Ayah dan Ibu berkunjung ke rumah Pak Syamsul, setelah kemarin sore mereka batalkan karena hujan lebat menguyur desa itu. Kedatangan mereka tentu disambut gembira oleh Pak Syamsul dan Bu Karmila, sementara Intan putri mereka belum
“Tante nggak usah sedih! Suatu saat jika aku mengunjungi kota ini kembali, aku pasti akan menemui Tante. Sampaikan salam dan permintaan maafku pada seluruh teman-teman yang ada di cafe! Moga usaha Tante selalu lancar,” ucap ku yang sekarang menyapu air mata yang membasahi pipi Eva dengan jemari ku.“Kamu janji ya, Ryan! Jika suatu saat kamu akan mengunjungi kota ini, jangan lupa untuk memberi kabar! Biar aku yang akan jemput kamu di terminal, jika kamu datang ke sini nggak dengan kendaraan pribadi,” tutur Eva, aku tersenyum sembari anggukan kepala.Malam pun menjelang, Eva pun harus kembali pulang menemui anak-anaknya. Sebelum pergi aku sempat mengatakan akan mengantar kunci kediaman ku itu besok pagi ke rumah Eva sembari aku menuju rumah Om Ramlan, Eva pun menyetujuinya dan akan menunggu ku besok pagi di rumahnya.Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan mengikat barang bawaan ku di atas sepeda motor, setelah berpamitan para seluruh penghuni kos-kosan dan mengunci pintu rumah tempat ked
“Wah, tentu saja Ayahmu marah dan memintamu untuk segera kembali ke desa. Karena memang apa yang kamu lakukan itu nggak seharusnya kamu lakukan, aku sempat berfikir cara mencegah kebiasaan yang kamu lakukan itu namun sulit, Ryan. Karena aku tahu persis akibat hubungan terlarangmu bersama Dola dulu itu, membuatmu ketagihan dan sulit sekali dirubah serta dicegah.” ujar Eva.“Iya Tante, benar-benar sulit rasanya aku melepaskan diri dari kebiasaan itu.” aku menarik napas berat sambil bersandar ke dinding ruangan.“Mungkin dengan kembalinya kamu ke desa, bisa mencegah kebiasaan yang sering kamu lakukan itu. Karena di sana ada kedua orang tuamu yang tentunya amat kamu hormati dan sayangi membimbingmu setiap saat, serta pergaulan di desa takan berdampak besar pengaruhnya dibandingkan dengan kamu bergaul di kota ini.” ujar Eva. “Ya Tante.” ucap ku singkat.“Jadi kapan rencananya kamu akan pulang ke desa?”“Rencananya besok siang, Tante. Paginya aku mampir dulu ke rumah Om Ramlan, se
“Maafkan aku, Ayah. Aku mengaku salah dengan semua yang telah aku lakukan, Aku bersedia kembali ke desa dan akan meninggalkan kota ini. Tapi aku mohon Ayah memberi waktu beberapa hari untuk menyelesaikan semua urusanku di kota ini, mulai dari minta berhenti dari perusahaan tempatku bekerja, hingga pamitan pada Ibu kosku yang selama ini telah banyak membantuku. Setelah urusan itu selesai, aku akan pulang ke desa dengan sepeda motorku itu.” Aku memohon sembari menunjuk sepeda motor yang aku parkirkan di depan teras rumah Om Ramlan.“Baik, Ayah akan beri kamu waktu untuk menyelesaikan semua urusanmu itu. Besok pagi Ayah kembali dulu ke desa, kami akan memaafkan semua kesalahan yang telah kamu lakukan itu, saat kamu tiba di desa. Kamu mungkin nggak tahu betapa sedihnya Ibumu saat mengetahui hal yang kamu perbuat di kota ini!” tutur Ayah.“Iya Ayah, aku janji akan menyelesaikan urusanku dan kembali ke desa secepatnya!” ucap ku.****Pagi-pagi sekali Om Ramlan mengantar Ayah ku ke terminal,
“Memangnya Ryan ke mana dengan wanita itu setelah dari restoran itu?” tanya Ayah.“Ke hotel, Mas. Dan maaf, jika pria dan wanita masuk ke dalam hotel hingga menginap bukan untuk acara resmi seperti halnya meeting perusahaan, mereka pasti berbuat yang tidak-tidak di sana. Dan orang yang aku suruh itu yakin betul jika mereka ke hotel bukan untuk menghadiri acara resmi seperti yang aku katakan tadi, melainkan berhubungan layaknya pasangan suami-istri.” tutur Om Ramlan.“Astaqfirullah...! Setan apa yang telah merasuki diri putraku itu, hingga ia melakukan hal yang tak senonoh begitu dengan seorang wanita! Buat malu keluarga saja, aku nggak pernah mengajarkan hal yang tak baik padanya! Sejak kecil dia anak yang rajin dan penurut!” nada bicara Ayah agak keras karena terbawa emosi.“Sabar, Mas Ardi nggak boleh tunjukan emosi itu di depan Ryan! Kita arahkan saja dia agar dapat terhindar dari hal buruk yang telah ia lakukan! Tadi malam aku nelpon Ryan memintanya untuk datang ke sini, mungkin n
Sekitar jam 5 sore Pak Syamsul dan Bu Karmila datang mengunjungi Intan di kediamannya, kebetulan jam 5 sore itu Intan telah kembali dari dinasnya di rumah sakit. Kedatangan kedua orang tuanya itu bukan hal yang mengejutkan bagi Intan, karena hal itu sering dilakukan kedua orang tuanya itu hampir tiap hari mengunjunginya.“Ayah dan Ibu makan malam nanti di sini ya? Nanti aku masakin, kebetulan kemarin aku membeli kepala ikan tuna besar dan sekarang ada di kulkas.” ujar Intan sembari menyapa kedua orang tuanya yang baru tiba di rumahnya itu.“Wah, boleh tuh! Ayah udah lama nggak pernah merasakan gulai kepala ikan buatanmu,” tutur Pak Syamsul dengan raut wajah riang.“Ibu pernah sih terniat ingin membuat gulai kepala ikan tuna, tapi di dekat rumah kita di sana jarang sekali para pedagang ikan tuna masuk berjualan. Yang ada ikan-ikan jenis lain dan kecil-kecil, itu pun enaknya kalau nggak digoreng ya dipanggang.” ujar Bu Karmila.“Di pasar Ibu Kota kabupaten ini selalu ada setiap harinya,
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng
Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya