Mag-log inPertemuan itu bukan saja melahirkan solusi atas semua hal yang sulit ia selesaikan sendiri, berkaitan dengan hasrat yang terkadang datang tiba-tiba membelenggu dirinya dalam kesepian yang harus dituntaskan. Tapi juga aku sosok pria yang sering membuatnya berfantasi itu juga setuju, jika suatu ketika diajak kencan dan menjalin hubungan tanpa melibatkan perasaan karena kami sama-sama ingin menyelesaikan kuliah masing-masing.Memiliki wajah cantik dan postur tubuh yang menawan, Bagi Siska takan begitu sulit jika hanya ingin bersenang-senang dengan seorang pria, malahan sejak ia bercerai dan kembali kuliah tak sedikit pria yang berusaha untuk dekat dengannya, tapi tak satu pun di antara mereka yang direspon. Hal itu bukan saja dikarenakan ia takut karena telah berjanji pada kedua orang tuanya untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan seorang pria sebelum ia menyelesaikan kuliahnya, tapi juga belum ada satu pun di antara pria-pria yang ingin dekat itu ia sukai.Siska memang tak menutup dir
“Mungkin kamu sebagai wanita lebih kuat untuk menahan, jika gejolak keinginan untuk melakukan itu datang. Tapi sangat sulit bagi pria, seperti halnya aku yang telah merasakan sensasinya bercinta dengan lawan jenis.” sambung ku.“Oh, jadi kamu pernah melakukan sebelumnya dengan mantan Gurumu itu? Tapi kenapa juga saat aku mengajakmu bercinta di kos-kosan dulu, kamu kelihatan bingung seolah-olah kamu belum pernah melakukannya sama sekali?” tanya Siska.“Ya, dan itu udah sering kami lakukan. Aku bukannya bingung, melainkan cemas kalau-kalau nanti ketauan. Soalnya pada waktu itu di tempat jualan Mas Sugeng sedang ramai-ramainya,” jawab ku.“Kamu tadi bilang lebih sulit menahan jika keinginan itu datang, lalu bagaimana pula caramu mengatasinya?” tanya Siska lagi.“Aku sekarang udah benar-benar hancur, Siska. Akibat percintaan yang pernah aku lakukan dengan mantan Guruku itu, membuat aku selalu ketagihan dan nggak dapat menghindar untuk selalu melakukannya pada wanita manapun juga. Sekarang
Setengah jam kemudian para penghuni kos-kosan yang umumnya juga mahasiswa di kampus tempat aku kuliah tampak ramai pulang dari kampus, mereka selalu menyapa ku setiap kali melintas ke luar masuk pintu pagar halaman kos-kosan itu, dan aku pun dengan ramah membalas sapaan mereka.Meskipun tak sedikit di antara mereka yang ingin mengenal ku lebih dekat, namun belum ada satu pun yang berani melakukan itu, mungkin karena aku diketahui sebagai keponakan dari Eva ibu kos mereka, hingga rasa segan masih mengalahkan keinginan mereka untuk datang menghampiri setiap kali aku duduk di teras rumah tempat kediaman ku itu.“Mereka cantik-cantik ya, Ryan? Masa nggak ada yang kamu sukai? Atau salah satu di antara mereka sekarang udah ada yang jadi pacarmu, ya?” tanya Siska meskipun dengan nada becanda, namun rasa penasarannya cukup serius.“Nggak ada, Siska. Mereka semua aku anggap saudara sendiri, karena memang aku ditugasi Tante Eva untuk menjaga dan mengawasi mereka di sini. Lagi pula belum ada kei
“Emangnya dia selalu bayar segitu, pria yang diajaknya kencan dalam se malam?” tanya Eva yang merasa uang diberikan Jenny untuk ku itu cukup banyak.“Nggak juga sih, malahan pria yang aku temui di night club membantu rencanaku mendekatinya tadi malam hanya dibayar Rp. 200.000,- sekali kencan.” jawab ku.“Hemmm... Berarti dia sangat puas dengan layananmu tadi malam, makanya kamu diberi uang segitu banyaknya.” ujar Eva diiringi senyumnya.“Walaupun banyak tapi uang ini dari Om ku sendiri, untung aja aku dapat membongkar kelakuannya sekarang, kalau dibiarkan berlarut-larut bukan nggak mungkin Om Ramlan bisa bangkrut dipeloroti untuk kesenangannya sendiri.” tutur ku kesal.“Ya juga sih, secara dia mencari kesenangan itu bukan uangnya sendiri melainkan dari suaminya.” Tambah Eva.“Gimana mau punya uang sendiri jika dia sejak dinikahi Om Ramlan hanya enak-enakan saja di rumah, padahal kalau dia mau seperti Tante membuka usaha, aku rasa dari dulu ia bisa wujudkan itu karena Om Ramlan pasti m
“Iya Mas, aku janji akan merahasiakannya dari Ryan. Ide yang Mas katakan itu sangat bagus dan tepat, Aku rasa udah sepantasnya pula kita ke desa mengunjungi dan membantu Mas Ardi sekeluarga. Selama ini boleh dikatakan nggak ada sedikitpun yang kita berikan pada mereka, selain hubungan keluarga yang masih terjalin baik hingga sekarang ini.” ujar Tante Dewi menyetujui usulan suaminya itu.“Akhir bulan ini kita mengunjungi Mas Ardi di desa, bawa anak-anak sekalian agar mereka tahu pula keadaan desa tempat kelahiran Papanya.” ucap Om Ramlan, Tante Dewi mengangguk setuju dan merasa senang akan diajak pulang ke desa mengunjungi keluarga ku.****Sekitar jam 4 sore Om Ramlan mengunjungi Jenny di kediamannya, rumah tempat kediaman istri mudanya itu memang tak sebesar rumah yang dihuni Tante Dewi, tapi segala isi dan kemewahan di rumah itu tak kalah jauh dengan yang ada di rumah Tante Dewi. Setelah menghentikan mobil yang ia kemudikan sendiri di halaman rumah itu, Om Ramlan segera ke luar lalu
Tante Dewi tak habis pikir kenapa aku sampai se nekat itu demi membongkar kelakuan Jenny, dalam hatinya saat itu merasa bersalah karena ia paling menginginkan aku membantunya menyelediki Jenny, namun ia tak mampu berucap apa-apa saat itu selain ikut menyaksikan aku mengirim foto-foto yang ada di ponsel ku ke ponsel milik suaminya itu.Sementara Om Ramlan belum kepikiran sampai ke situ, yang ada di benaknya saat itu secepatnya ingin mengurus perceraiannya dengan bukti yang ia dapatkan dari ku. Sedangkan aku berusaha untuk tetap tenang mempersiapkan diri jika Om Ramlan akan bertanya banyak hal kepada ku.Semua foto yang ada di ponsel telah aku kirimkan ke ponsel Om Ramlan, aku kembali meneguk kopi hangat dan menyulut sebatang rokok agar pikiran ku agak tenang, karena bagaimanapun juga aku tetap merasa kuatir kalau-kalau Om Ramlan mempermasalahkan hal yang telah aku lakukan itu.“Nah, sekarang foto-foto ini udah ada di ponsel Om nanti sore aku akan menemui Jenny. Makasih Ryan, kamu udah
“Aku udah nggak tinggal di sana lagi, Aldo.” jawab Cindy.“Kok bisa begitu? Kamu pindah ke mana?” Cindy tak segera menjawab ia mencoba menarik napas yang seketika terasa berat, ia tak tahu harus memulai dari mana, tiba-tiba saja ia dilanda keraguan.“Loh, kok kamu diam saja Cindy? Kamu nggak mau ya
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan le
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk







