LOGINEva hanya senyum-senyum saja saat tubuhnya dibopong dan dibaringkan di ranjang kamar itu, ia juga merasa heran karena tumben-tumbennya Rangga tak sabaran begitu. Biasanya juga Eva yang selalu memancingnya untuk bercinta, itu pun terkadang pancingannya jarang berhasil, karena Rangga sering tak ada mutnya untuk berhubungan.Sentuhan-sentuhan Rangga semakin liar, sempat membuat Eva dibakar gejolak api asmara, namun ia meragukan suaminya itu akan bertahan lama diranjang seperti yang kerap terjadi dan ia alami. Dugaan Eva tak meleset, Rangga hanya mampu bertahan sebentar saja, bahkan lebih cepat dari biasanya.Mungkin dipengaruhi gejolak yang terlalu meledak-ledak, hingga Rangga tak mampu memberi kepuasan lebih pada istrinya, namun Eva memaklumi hal itu dan baginya tak ada masalah, karena bagaimana pun juga Rangga adalah suaminya yang sah, Ayah dari anak-anak mereka.Eva membiarkan tubuh suaminya yang terbaring lemas di ranjang, dan tak lama Rangga pun tertidur. Mama-mama cantik itu ke kam
“Apa yang dikatakan Mama mu itu benar, Siska. Butuh peran orang tua dalam membimbing putra-putri mereka! Orang tua tak perlu malu menjelaskan soal perilaku sex dan pergaulan bebas, pada anak-anak mereka yang akan menginjak dewasa. Karena dampaknya benar-benar buruk untuk masa depan mereka nantinya, Papa juga salah telah mengabaikan itu semua.” tambah Pak Indra menarik napas merasa menyesal dengan sikapnya yang selama ini tak begitu perhatian pada putri semata wayangnya itu.“Kalau boleh Bibi tahu, gimana ceritanya hingga kamu memutuskan bercerai dengan Rudi?” kali ini Bi Minah yang bertanya, karena sejak tadi Siska hanya nampak diam mendengar nasehat kedua orang tuanya.“Sejak awal aku udah mengetahui kebiasaan buruk Rudi, Bi. Namun aku tetap saja ngotot, dan aku pikir ia benar-benar mau merubah kebiasaan buruknya itu setelah menikah dengannya tapi aku salah Bi, dia sama sekali tak berubah. Janji-janji yang ia ucapkan hanya pemanis kata di bibir saja,” ujar Siska.“Kebiasaan buruk yan
Itu berawal sejak aku tak mampu membendung godaan dari Dola Guru ku sendiri, untuk bercinta di bekas gudang perpustakaan sekolah. Sejak saat itu hingga sekarang ini, hubungan badan layaknya pasangan suami istri merupakan hal yang tak asing lagi bagi ku, bahkan aku merasa ketagihan dan takan mampu membendung saat gejolak itu telah menguasai diri ku.*****Ibu Kota sore itu diselimuti mendung, gerimis yang sejak tadi turun kini semakin rapat, hanya hitungan menit saja hujan lebatpun mengguyur seluaruh kawasan kota Jakarta itu. Beruntung Pak Syamsul dan Intan telah selesai dengan urusan mereka di sebuah kampus kedokteran ternama di sana, hingga saat itu mereka hanya nampak duduk-duduk santai saja di ruangan tengah rumah Vina adik paling bungsu dari Bu Karmila.Vina pun saat itu sudah pulang dari tokonya, karena ia pun telah mengetahui cuaca selepas siang sudah mulai tidak bersahabat, yang tinggal ditokonya itu beberapa orang karyawannya saja. Vina salah satu pemilik toko pakaian grosiran
“Ya harus begitu, Mila. Banyak loh orang-orang yang kehidupannya mampu seperti Mila dan Syamsul, namun anak-anak mereka justru ogah-ogahan sekolah, apalagi sampai melanjutkan ke perguruan tinggi.” ujar Ayah, yang melihat di desa itu beberapa orang yang terbilang mampu kehidupannya tak begitu menyokong anak-anak mereka dalam hal pendidikan, mereka seolah-olah acuh dan membiarkan begitu saja.“Ya Mas, nggak jauh-jauh kok tetangga di sebelah ini juga membiarkan anak-anak mereka putus sekolah. Padahal mereka cukup mampu dari segi ekonomi dibandingkan yang lain! Tapi sudahlah Mas, yang terpenting sekarang kita memikirkan bagaimana putra-putri kita kelak berhasil dalam pendidikan mereka.” tutur Bu Karmila, Ayah mengangguk.“Oh ya, kamu udah sarapan Ryan?” sambung Karmila bertanya pada ku.“Sudah Tante, tadi minum segelas kopi hangat dan sepotong panganan yang dibuatkan Ibu.” jawab ku.“Hanya itu saja?”“Iya Mila, Ryan ini memang sejak dulu tak pernah mau sarapan pagi. Paling juga segelas ko
“Oh ya, bagaimana kalau aku saja yang menggantikan pekerjaan Ayah di rumah Om Syamsul itu? Sementara Ayah bisa bekerja seperti biasanya, menyadap karet ataupun ke sawah bersama Ibu? Hingga nanti aku akan kembali ke kota 2 hari menjelang kegiatan kuliah dilaksanakan!” tawar ku pada Ayah.“Ayah sih setuju-setuju aja, tapi apa kamu nggak capek? Mending istirahat aja di rumah menjelang kamu kembali lagi ke kota!” tutur Ayah.“Aku justru bakal suntuk kalau nggak ada kegiatan apa-apa di sini,” ujar ku.“Ya udah kalau begitu, besok pagi Ayah antar kamu ke rumah Syamsul. Di sana nanti kamu akan dibantu beberapa orang untuk menimbang karet yang dibawa dari kebun, kamu hanya bertugas mencatat saja. Lalu sorenya mengatur jumlah muatan truk-truk yang akan berangkat mengantar karet-karet itu ke kota,” tutur Ayah.“Baik Ayah, aku rasa nggak terlalu sulit melakukan pekerjaan itu.” Ayah hanya anggukan kepala, karena ia memaklumi tugas seperti itu akan sangat mudah dilakukan oleh putra sulungnya itu.
Lewat beberapa menit dari jam 5 sore aku tiba di desa di rumah orang tua ku, seperti biasa kedatangan ku tentu disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ayah dan Ibu, dan tentu pula akan memberikan suasana yang beda di rumah itu.Aku pun diminta beristirahat dulu, karena perjalanan dengan bus yang kadang lebih dari 7 jam itu tentu melelahkan, namun sebelum gelap aku telah merasakan tubuh ku segar terlebih selepas mandi dan berganti pakaian. Aku duduk di ruang depan bersama kedua orang tua ku, sementara adik-adik ku saat itu tengah mengerjakan tugas dari sekolahnya masing-masing.Karena cuaca di desa itu gerimis sejak sore tadi, udara terasa dingin ketika malam menghampiri, aku minta dibuatkan kopi hangat oleh Ibu begitu pula dengan Ayah. Aku meneguk kopi hangat itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celana, Ayah dan Ibu kaget karena ternyata aku mengeluarkan sebungkus rokok, mengambilnya sebatang lalu menyulutnya.“Ryan..! Kamu merokok sekarang?” seru Ibu.“Iya Bu. Bolehkan, Aya
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
“Baru juga hidung belum dicubit yang lainnya!” seru Aldo diiringi tawa kecil mereka.“Aku kira kamu nggak ada di rumah hari ini seperti biasanya,” sambung Aldo.“Ya nggaklah, aku kan udah janji sama kamu kalau malam minggu ini akan penuhi ajakanmu, meskipun sayangnya malam minggu ini hujan lebat.”
Sepulang dari sekolah kembali aku dibawa Dola ke rumahnya, rencana ku saat itu akan melanjutkan pekerjaan yang kemarin siang terbengkalai membuat saluran pembuangan air.“Ryan, sebelum melanjutkan pekerjaanmu yang kemarin ada baiknya kita makan siang dulu!” ujar Dola.“Ya Tante,” ulas ku yang baru
Aku sempat tersenyum getir, saat aku menyantap hidangan lezat di meja bersama Om Ramlan dan sekeluarga, karena aku ingat dulu Tante Dewi pernah memperlakukan ku begitu rendah dan hina saat tinggal di rumah megah itu, dengan hanya menyediakan nasi perasan kerak serta secuil sambal sewaktu pulang dar







