LOGIN“Ya, Aku sanggup Pak.” tegasku lagi.
“Hemmm... Aku hargai kegigihanmu, Nak. Jarang sekali aku jumpai orang se usiamu mau bekerja seperti ini, aku sebenarnya nggak tega karena kamu masih sekolah tapi mendengar ceritamu tadi aku akan terima kamu bekerja di sini.” tutur pria setengah baya itu diiringi senyum kagumnya.
“Terima kasih, Pak. Tapi apakah bisa aku hanya bekerja setengah hari saja, karena aku musti sekolah dulu? Jika aku masuk pagi, siangnya sepulang sekolah aku langsung ke sini dan jika aku masuk siang, paginya aku ke sini dulu bekerja.” Ucapku gembira, namun aku terlebih dulu ingin memastikan apakah pria setengah baya pemilik usaha es itu mau menerimaku bekerja setengah hari.
“Ya, kamu boleh bekerja setengah hari dan memang kamu harus sekolah dulu. Kalau sampai kamu nggak sekolah karena keasyikan kerja, kamu akan aku berhentikan!” tutur pria pemilik ruko dan usaha es itu.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih,” aku sangat senang mendengar penuturan bijak dari pria setengah baya itu.
“Jangan panggil aku, Pak. Panggil saja aku dengan sebutan Ko Aheng, para pekerja di sini juga memanggilku begitu.” pintanya.
“Baik Ko, aku ganti pakaian dulu dan saat ini juga aku akan mulai bekerja.” Ujarku langsung bersemangat.
“Ya silahkan, tuh di sana saja kamu ganti pakaiannya!” ujar Ko Aheng menunjuk ruangan kecil di ujung rukonya itu, tempat biasa para pekerjanya berganti pakaian.
Ruangan itu berupa kamar mandi, namun tidak memiliki toilet untuk buang air besar hanya dipergunakan untuk buang air kecil dan mandi serta berganti pakaian, karena ukuran ruangan itu cukup sempit, mungkin di situ jika dibuatkan toilet tempat pembuangannya sulit karena memang bagian belakang ruko itu berdempetan dengan ruko-ruko lainnya.
Setelah selesai berganti pakaian yang sengaja aku bawa dari kos karena ingin mencari pekerjaan di kawasan pasar sentral, sebelum mulai bekerja Ko Aheng memanggilku untuk duduk kembali di kursi tempat aku duduk tadi.
“Ada apa, Ko?” tantaku.
“Untuk kamu ketahui juga, aku memberikan upah pada para pekerjaku di sini seharian penuh Rp. 8.000,- jika kamu bekerja setengah hari itu artinya kamu hanya akan aku upah Rp. 4.000,- saja.” tutur Ko Aheng.
“Wah, itu udah lebih dari cukup buatku Ko.” ujarku senang.
“Ya, Kamu hanya bekerja mengangkut pecahan es yang sudah dibungkus ke dalam kantong plastik itu ke lantai atas tepatnya pada penjual daging dan ikan. Es pecahan itu akan mereka gunakan untuk menyegarkan daging-daging maupun ikan-ikan yang mereka jual,” Ko Aheng menerangkan.
“Nanti setelah kamu antarkan kantong plastik berisi pecahan es ini, mereka akan memberi uang Rp. 1.000,- / kantongnya. Uang itu kamu serahkan sama aku di sini, apa kamu sudah mengerti, Ryan?” sambung Ko Aheng.
“Sudah Ko, aku mengerti dengan cara kerja yang Ko katakan.” jawabku.
“Bagus, sekarang bergabunglah dengan mereka!” akupun mengangguk lalu bergabung dengan para pekerja di ruko itu.
Pekerjaan pertama yang aku lakukan yaitu mengangkut dengan bahu pecahan-pecahan es yang terdapat di dalam kantong plastik, cukup berat memang karena kantong plastik yang berisi pecahan es itu sebanyak 3 buah. Rasa berat ditambah lagi dengan rasa dingin, aku harus membawa pecahan es itu dari lantai dasar ke lantai atas pasar sentral.
Jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun membawa beban dengan menaiki beberapa anak tangga menuju lantai atas itulah yang tidak mudah, meskipun terasa berat aku tak mau mengecewakan Ko Aheng yang telah bersedia menerimaku bekerja. Los pasar tingkat atas yang panjang dan lebar itu terdapat puluhan penjual daging dan ikan, hingga setiap 15 menit sekali ada saja para pedagang itu yang memesan pecahan es dari ruko Ko Aheng.
Ada belasan kali aku hilir-mudik membawa 3 kantong plastik berisi pecahan es itu berjejer di bahu, itu aku lakukan karena uangku terbatas dan ingin aku kumpulkan untuk membayar sewa kos. Aku makan siang segaja tidak membeli nasi, melainkan hanya dengan 4 buah gorengan yang aku beli seharga Rp. 25,- / buah, sementara yang disediakan Ko Aheng hanya air mineral untuk keperluan minum para pekerjanya.
Pahit memang perjuangan hidup yang aku rasakan saat itu, namun aku tak ingin mengecewakan kedua orang tuaku di desa, yang telah bersusah payah mencari biaya untuk kelanjutan sekolahku di Kota P itu. Boleh dikatakan hanya akulah satu-satunya siswa di kota yang bekerja di luar jam sekolah menjadi kuli angkat di pasar.
Pekerjaan itu pun selesai saat jam telah menunjukan pukul 17:30 Wib sore, setelah membersihkan wajah di kamar mandi akupun dipanggil oleh Ko Aheng.
“Nah, ini gaji yang kamu terima untuk setengah hari bekerja.” tutur Ko Aheng sembari memberiku Rp. 4.000,- dari kantong celananya.
“Terima kasih, Ko. Besok aku akan masuk bekerja lagi sepulang dari sekolah,” ucapku yang sangat gembira menerima upah pertama bekerja di tempat usaha pria setengah baya keturunan tiongha itu.
“Ya, kamu boleh masuk kapan saja asal kamu tetap sekolah dan tidak boleh bolos. Jika masuk pagi, kamu bisa ke sini siangnya dan jika masuk siang kamu tentu harus ke sini pagi-pagi sekali.” tutur Ko Aheng yang senang melihat aku begitu rajin.
Dengan pakaian yang lembab akupun meninggalkan ruko milik Ko Aheng itu, aku menuju jalan raya yang ada di depan pasar untuk naik angkot menuju kos. Di dalam angkot aku begitu gembira mendapatkan upah hasil jerih payahku bekerja hari itu, meskipun tak dapat dipungkiri pekerjaan itu memang cukup berat, butuh ke hati-hatian agar barang yang dibawa tidak jatuh begitu pula dengan diriku sendiri saat meniti belasan anak tangga.
Setibanya di kos aku segera mandi dan berganti pakaian, ku menghitung uangku yang kesemuanya berjumlah Rp. 13.700,- masih kurang Rp. 7.000- lagi agar aku bisa membayar sewa kos bulan ini.
Aku menggaruk-garuk kepalaku sendiri yang sebenarnya tidak gatal, semua itu karena reflek saja mengingat uang untuk bayar kos-kosanku masih kurang.
“Gimana ya? Apa aku harus pinjam sama Om Ramlan kekurangan uang buat bayar kos?”
“Ah....”
Sepuluh menit kemudian aku pun keluar dari dalam masjid menuju mobil travel, dan sekitar 15 menit kemudian mobil travel yang aku tumpangi pun tiba di depan rumah Intan. Dengan jantung yang berdebar-debar kencang aku turun dari mobil travel lalu melangkah memasuki halaman rumah itu, rasa rindu dan cemas karena kuatir kedatangan ku tak diterima lagi oleh istri ku.Hari baru gelap karena waktu magrib baru saja berlalu, pintu rumah kediaman Intan saat itu masih terbuka karena Intan biasa membuka praktek di rumahnya hingga jam 9 malam. Aku yang telah sampai di teras rumah, perlahan-lahan meletakan koper pakaian dan boneka micky mouse yang tadi aku pangku seturun dari mobil travel, jantung ku semakin berdebar-debar saat aku melangkah ke arah pintu rumah itu.Baru saja aku mau mengucapkan salam, Kania yang beberapa detik ke luar dari kamarnya melihat aku berdiri di depan pintu, spontan saja bocah perempuan cantik yang menggemaskan itu berteriak memanggil sambil berlari ke arah ku.“Papa.....
Dengan mengemudikan mobil yang biasa aku pakai, Grace mengantar ku ke bandara. Grace sebelumnya telah berjanji bahwa dia takan meminta Cak Mul pergi dari depan show room, seperti hal yang telah aku pesankan kepadanya. Bagi Grace, Cak Mul sosok yang sangat baik dan takan mungkin juga ia tega mengusir lesehan Cak Mul dari tempat itu.Tak berselang lama menunggu di bandara, panggilan keberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi pun terdengar, Grace tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan air matanya, berbagai macam hal berkecamuk dalam hatinya. Tak mau berpisah dengan aku pria yang ia cintai, tetapi juga tak ingin mencegah ku kembali ke keluarga ku karena Grace menyadari hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, dan ia pun merasa bersalah telah memisahkan aku dari istri dan putri ku.“Aku nggak tahu harus bilang apa, Ryan. Hatiku benar-benar galau, di suatu sisi aku tak ingin kamu pergi, di sisi lain akupun sadar telah memisahkanmu dengan anak dan istrimu.” ujar Grace
“Mari, saya antarkan menuju ruangan pimpinan! Tadi Ibu memerintahkan saya jika bertemu dengan bapak supaya diantar menemu beliau,” ujar security.“Baik Pak, mari!” aku pun mengikuti security itu ke lantai paling atas dari bank yang memiliki 4 lantai itu dengan lift.“Nah, ini ruangan pimpinannya. Silahkan Bapak pencet belnya, sementara saya akan kembali ke bawah.”“Terima kasih ya, Pak.” ucap ku.“Iya sama-sama, Pak.” ucap security itu pula lalu ia turun ke lantai dasar.Aku memencet bel, lalu tak berselang lama pintu ruangan pimpinan itupun dibuka dan terlihatlah sosok wanita cantik bermata sipit tersenyum saat mengetahui tamu yang memencet bel itu adalah aku“Ayo masuk Ryan!” ajaknya.“Makasih Grace.” Ucap ku.“Udah bersikap santai aja, di ruangan ini kan hanya kita berdua.” ujar Grace yang melihat sikap ku seperti para tamu pada umumnya yaitu sungkan dan sopan.Grace pun mengajak ku duduk di kursi yang memang disediakan bagi tamu-tamu penting di ruangan pimpinan itu, aku pun duduk
“Maaf ya Mas Mul, malam ini aku ngerepotin aja.”“Nggak apa-apa. Udah sepatutnya juga aku nemani Mas Ryan jika ada permasalahan yang datang, itu gunanya teman saling berbagi terlebih saat kita jauh dari keluarga dan saudara.” ujar Cak Mul selalu menenangkan aku.“Makasih Mas. Aku jadi ingat Mas Sugeng, sikapnya dan rasa persaudaraannya mirip sekali dengan Mas Mul. Saat itu aku masih sekolah di Kota P, setiap kali kami ada permasalahan selalu saling berbagi untuk menyelesaikannya. Di perantauan kita memang musti mencari teman sekaligus dapat dijadikan saudara, apalagi tinggal di daerah kota besar seperti Kota S ini.” tutur ku sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan Cak Mul.“Iya Mas, aku juga demikian. Dulu aku juga seorang perantau semasa masih lajang, bahkan sampai ke negeri tetangga. Kita memang harus selalu baik pada orang-orang di sekeliling kita, jika kita ingin hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan dan saling berbagi.” ujar Cak Mul juga menikmati kopi hangat yang ada
Wajah cantik mungil Kania semakin terlihat jelas seakan-akan saat itu berada di depan ku, aku mencoba merangkul namun rangkulan ku hanya menerpa angin, semakin pecah tangis di kedua mata ku, kedua kaki ku benar-benar tak mampu aku gerakan untuk berdiri, rasa pilu yang menyelubungi hati ku seolah membuat ku lumpuh.Aku akhirnya jatuhkan diri menelungkup di lantai sambil meraba kedua paha ku yang terasa keram luar biasa, air mata ku tak henti-henti mengalir suara ku pun mulai terdengar parau saat beberapa kali berteriak memanggil nama buah hati ku itu. Dan tanpa aku sadari tubuh ku pun terkulai lemas, hingga tertidur di lantai kamar ku.Hampir jam 10 malam barulah aku sadar jika tubuh ku saat itu tengah terbaring di lantai di bawah ranjang, ternyata kepiluan hati yang melanda ku sore tadi sempat membuat ku pingsan. Aku bangkit menuju kamar mandi, setelah itu aku pun turun ke lantai bawah lalu menuju lesehan Cak Mul menenangkan diri.“Wah, tumben baru datang! Memangnya Mas Ryan ke mana t
Sejak awal memang Cak Mul tak mengetahui jika show room yang aku kelola milik wanita cantik bermata sipit yang malam itu datang ke lesehannya itu, makanya wajar jika Cak Mul agak kaget saat aku mengatakan jika Grace adalah pemilik show room mobil di samping kanan belakang tempat usahanya itu.“Silahkan Mas, karena apapun keputusan Ryan juga sama dengan keputusanku!” ujar Grace yang juga mengizinkan Cak Mul mendirikan tempat usaha itu.Beberapa menit berselang Cak Mul dan dua orang karyawannya kembali lagi ke meja tempat aku dan Grace duduk dengan membawa seluruh menu yang tersedia di lesehannya itu, Cak Mul mempersilahkan kami untuk menikmati yang barusan disuguhkan, aku dan Grace pun menyantap hidangan itu.“Hemmm... Kamu benar Ryan, pecel lele Mas Mul ini sangat lezat! Berbeda banget dengan yang pernah aku coba di tempat lain,” puji Grace sambil terus menikmati hidangan yang disajikan Cak Mul itu.“Aku aja sampai ketagihan makan di sini, sejak Cak Mul buka makan siang dan makan mala