Se connecter“Untuk Tante ketahui, sampai kapan pun jua aku nggak akan pernah benci pada Tante. Justru aku berterima kasih sekali atas kebaikan Tante selama ini, kalau nggak karena kesediaan Tante menerimaku bekerja di rumah dan memberiku uang dari hasil kerja ku itu, mungkin aku udah menemui kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah dari sejak awal. Jadi kalau aku menolak uang pemberian Tante yang sekarang, itu nggak lain karena aku nggak mau berhutang budi terlalu besar lagi pada Tante.” tutur ku, Dola hanya diam tertunduk menahan sesak yang semakin terasa di dadanya.“Sudah cukup lah kebaikan yang Tante berikan selama ini padaku, hingga aku akan segera tamat dari SMEA dan moga saja hasil akhir nanti nggak mengecewakan kedua orang tuaku di desa.” sambung ku.“Ryan, apakah di hatimu saat ini nggak ada sedikitpun lagi rasa sayang padaku? Apakah rasa cinta yang kamu miliki selama ini begitu cepatnya musnah, oleh karena kejadian yang menimpa hidupku? Kamu mungkin nggak tah
Minggu siang aku benar-benar tepati kata-kata ku mengajak Desy nonton di bioskop, inisiatif itu aku ambil terlebih dahulu sebagai penghilang rasa suntuk jika aku harus memaksakan berdiam diri di rumah, karena terlalu berat aku rasakan jika untuk melupakan masalah hanya dengan berdiam diri tanpa ada kegiatan apapun.Kalaupun Desy mengetahui masalah yang tengah aku hadapi, sepertinya tak bakal berpengaruh pada wanita cantik berkaca mata itu, yang terpenting saat itu aku yang ia cintai berada di dekatnya. Mungkin sepintas bisa dikatakan Desy hanya sebagai pelarian oleh ku, namun aku tak sebegitu buruknya juga memperlakukan teman wanita ku.Tujuan ku menonton di bioskop hari minggu itu hanya ingin melupakan kepenatan pikiran ku dalam beberapa hari ini, aku hanya tak mau masalah ku dengan Dola mengganggu aktifitas belajar di sekolah, seperti yang aku alami saat hari pertama masuk setelah masalah itu tiba, hampir tak ada sedikitpun konsentrasi ku mengikuti mata pelajaran di kelas.Kekuatira
Tiba di sekolah aku pun terlambat 10 menitan waktu pelajaran pertama dimulai, karena hal itu baru pertama kalinya aku lakukan, Guru yang mengajar di jam itu pun mengizinkan ku masuk ke kelas. Selama mengikuti pelajaran hingga jam istirahat tiba, aku kurang konsentrasi seperti biasanya, pikiran ku masih saja berkecamuk seperti halnya saat aku berada di kos.Di perpustakaan sekolah pun Desy yang senantiasa menemani juga merasa heran akan sikap ku yang cenderung lebih pendiam dari hari-hari biasanya, tentu hal itu menimbulkan keinginannya untuk bertanya pada aku yang duduk di sampingnya itu.“Kamu kenapa Ryan? Kok dari tadi diam saja? Kamu lagi nggak enak badan?” tanya Desy.“Aku nggak kenapa-kenapa kok, Desy. Mungkin karena kemarin pulang dari sekolah aku kehujanan, jadi badan sedikit nggak enak. Mungkin juga bakal flu ringan, tapi nggak akan sampai sakit kok,” jawab ku tersenyum tapi tetap menatap ke arah buku yang ada di genggaman ku.“Loh, kok sampai kehujanan?”“Aku buru-buru pulang
“Tapi...!” belum selesai Dola berucap, aku melepaskan lengan ku dari genggaman Dola, kemudian melangkah ke halaman rumah.Petir tiba-tiba hadir seiring kilat lalu disusul dengan hujan lebat, aku yang berjalan di halaman rumah itu otomatis basah kuyup diguyur hujan, aku berusaha melindungi tas sekolah ku yang berisi pakaian seragam dan buku-buku dengan mendekapnya di dada sambil berjalan agak membungkuk ke depan.“Ryan............!” teriak Dola di sela petir dan hujan lebat, aku menoleh ke belakang sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah meninggalkan halaman dan pintu pagar rumah mewah itu.Dola pun jatuh pingsan dan beruntung Bi Lastri dan Bi Sumi juga ada di beranda rumah itu, hingga tubuh Dola keburu mereka sambut dan tak terjatuh ke lantai. Dola dibawa masuk dan direbahkan di dalam kamar, kedua pembantu itu secara bergantian menjaganya hingga Nyonya rumah itu kembali siuman.Dengan pakaian yang basah kuyup aku naik ke angkot menuju kos, aku tak peduli dengan tubuh ku yang terpent
“Hemmmm.... Sejak kapan Bi Lastri merasa sungkan untuk bicara segala sesuatunya padaku, bukankah selama ini baik Bi Lastri maupun aku selalu bicara lepas nggak ada yang ditutup-tutupi. Memangnya ada masalah apa sih, Bi? Katakan saja!” pinta ku diiringi senyum.“Harusnya semua ini, Nyonya yang mengatakannya langsung pada Mas Ryan tapi dia tak merasa sanggup untuk mengatakan itu. Dan aku memaklumi hal itu, jangankan Nyonya aku pun amat berat untuk mengatakannya.” ujar Bi Lastri.“Ada apa sih sebenarnya, Bi? Ayo, katakan saja! Kayak Bi Lastri baru mengenal aku saja,” ulas ku dengan senyum, lalu mengusap-usap pundak wanita setengah baya itu.“Begini Mas Ryan, aku harap Mas Ryan nggak marah dan membuat aku takut setelah aku ceritakan semuanya!” pinta Bi Lastri.“Iya aku janji nggak akan marah, lagi pula pernahkah Bi Lastri lihat selama ini aku marah-marah di rumah ini?” ucap ku.“Iya sih, selama ini Mas Ryan memang sosok yang baik dan sangat baik malahan. Aku juga tak sampai hati untuk men
Dari tempat Om Ramlan, setibanya di kos tidak lagi nongkrong di tempat Sugeng berjualan, badan ku musti aku istirahatkan karena sejak dari desa tadi pagi aku hanya beristirahat sebentar saja, Sugeng pun maklum saat itu aku langsung beristirahat.Saat membaringkan tubuh di ranjang, sebelum dapat memejamkan mata seraut wajah Dola hadir dalam lamunan ku, aku senyum-senyum sendiri dan seakan tak sabaran menunggu siang, saat aku akan bertemu dengan wanita yang aku rindui itu. Aku juga heran kenapa rasa rindu ku pada Dola malam itu begitu besar, hingga saat mata ku terpejam Dola pun hadir dalam mimpi indah ku.Cuaca siang itu mendung namun hujan belum lagi turun membasahi bumi, mungkin karena angin masih setia bertiup hingga awan yang hendak menumpahkan seluruh isinya masih tertunda, setelah menunggu beberapa saat di tempat parkiran sosok yang ditunggu-tunggu pun tak kunjung datang, akhirnya aku memutuskan untuk pergi sendiri menggunakan angkot menuju rumah Dola.Di rumah itu tentu saja aku
“Kamu kenapa, Cindy? Kok kelihatan bingung begitu? Apa kamu masih meragukan keseriusanku untuk menikahimu besok siang?” tanya Deni yang melihat Cindy seperti memikirikan sesuatu, wajahnya pun memperlihatkan kecemasan.“Nggak kenapa-kenapa kok, sayang. Mungkin aku belum benar-benar fit, hingga wajah
Selama ini aku hanya tahu hubungan badan itupun dengan Dola dan wanita yang usianya terpaut jauh dengan diri ku, hubungan yang hanya melibatkan gejolak terlarang tanpa melibatkan perasaan selain tujuan mencapai puncak dari hubungan terlarang itu. Sementara yang ku hadapi sekarang ini adalah sosok g
“Bi..!”“Iya Nyonya.” Bi Lastri berjalan agak cepat ke ruang tamu tempat Dola duduk sambil membaca koran.“Ada apa, Nyonya?” tanya Bi Lastri saat tiba di ruang tamu itu.“Tadi Ryan sebelum berangkat sekolah ada tinggalkan pesan buatku nggak, Bi?”“Nggak tuh, setelah Ryan membersihkan sisa-sisa rump
Siang itu aku pulang dari sekolah bersamaan dengan selesainya jam mengajar Bu Dola, hingga aku tak perlu naik angkot untuk menuju rumah Guru ku itu melakukan tugas ku bekerja di sana, seperti biasa sebelum memulai pekerjaan aku dan Dola makan siang bareng di meja makan.“Hari ini kira-kira apa yang







