Masuk“Ya harus begitu, Mila. Banyak loh orang-orang yang kehidupannya mampu seperti Mila dan Syamsul, namun anak-anak mereka justru ogah-ogahan sekolah, apalagi sampai melanjutkan ke perguruan tinggi.” ujar Ayah, yang melihat di desa itu beberapa orang yang terbilang mampu kehidupannya tak begitu menyokong anak-anak mereka dalam hal pendidikan, mereka seolah-olah acuh dan membiarkan begitu saja.“Ya Mas, nggak jauh-jauh kok tetangga di sebelah ini juga membiarkan anak-anak mereka putus sekolah. Padahal mereka cukup mampu dari segi ekonomi dibandingkan yang lain! Tapi sudahlah Mas, yang terpenting sekarang kita memikirkan bagaimana putra-putri kita kelak berhasil dalam pendidikan mereka.” tutur Bu Karmila, Ayah mengangguk.“Oh ya, kamu udah sarapan Ryan?” sambung Karmila bertanya pada ku.“Sudah Tante, tadi minum segelas kopi hangat dan sepotong panganan yang dibuatkan Ibu.” jawab ku.“Hanya itu saja?”“Iya Mila, Ryan ini memang sejak dulu tak pernah mau sarapan pagi. Paling juga segelas ko
“Oh ya, bagaimana kalau aku saja yang menggantikan pekerjaan Ayah di rumah Om Syamsul itu? Sementara Ayah bisa bekerja seperti biasanya, menyadap karet ataupun ke sawah bersama Ibu? Hingga nanti aku akan kembali ke kota 2 hari menjelang kegiatan kuliah dilaksanakan!” tawar ku pada Ayah.“Ayah sih setuju-setuju aja, tapi apa kamu nggak capek? Mending istirahat aja di rumah menjelang kamu kembali lagi ke kota!” tutur Ayah.“Aku justru bakal suntuk kalau nggak ada kegiatan apa-apa di sini,” ujar ku.“Ya udah kalau begitu, besok pagi Ayah antar kamu ke rumah Syamsul. Di sana nanti kamu akan dibantu beberapa orang untuk menimbang karet yang dibawa dari kebun, kamu hanya bertugas mencatat saja. Lalu sorenya mengatur jumlah muatan truk-truk yang akan berangkat mengantar karet-karet itu ke kota,” tutur Ayah.“Baik Ayah, aku rasa nggak terlalu sulit melakukan pekerjaan itu.” Ayah hanya anggukan kepala, karena ia memaklumi tugas seperti itu akan sangat mudah dilakukan oleh putra sulungnya itu.
Lewat beberapa menit dari jam 5 sore aku tiba di desa di rumah orang tua ku, seperti biasa kedatangan ku tentu disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ayah dan Ibu, dan tentu pula akan memberikan suasana yang beda di rumah itu.Aku pun diminta beristirahat dulu, karena perjalanan dengan bus yang kadang lebih dari 7 jam itu tentu melelahkan, namun sebelum gelap aku telah merasakan tubuh ku segar terlebih selepas mandi dan berganti pakaian. Aku duduk di ruang depan bersama kedua orang tua ku, sementara adik-adik ku saat itu tengah mengerjakan tugas dari sekolahnya masing-masing.Karena cuaca di desa itu gerimis sejak sore tadi, udara terasa dingin ketika malam menghampiri, aku minta dibuatkan kopi hangat oleh Ibu begitu pula dengan Ayah. Aku meneguk kopi hangat itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celana, Ayah dan Ibu kaget karena ternyata aku mengeluarkan sebungkus rokok, mengambilnya sebatang lalu menyulutnya.“Ryan..! Kamu merokok sekarang?” seru Ibu.“Iya Bu. Bolehkan, Aya
Senin pagi kampus perguruan tinggi negeri ternama Kota P ramai dikunjungi calon-calon mahasiswa baru, baik calon mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang mendapat undangan maupun calon mahasiswa yang lulus tes ujian masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu mereka melakukan daftar ulang yang diadakan panitia kampus, dengan ketentuan harus membayar sejumlah uang untuk semester dan biaya almamater.Setiap calon mahasiswa tentu berbeda-beda jumlah besaran uang yang akan dibayar terutama calon mahasiswa undangan dengan calon mahasiswa yang berhasil lulus ujian masuk. Termasuk juga dengan aku yang saat itu menjadi salah satu calon mahasiswa undangan dari SMEA Negeri Kota P, besaran uang yang harus ia bayar Rp. 500.000,- dengan rincian Rp. 450.000,- uang semester dan Rp. 50.000,- uang untuk almamater.Sekembalinya dari kampus aku yang berencana ingin pulang ke desa dan akan kembali ke kota itu 2 hari menjelang kegiatan perkuliahan dilaksanakan, hanya singgah sebentar di bangunan tempa
“Ryan pindah kos? Aku nggak ada dikasih tahunya, Mas. Mas Sugeng tahu nggak tempat kosnya yang baru?” tanya Dola yang tak kalah kagetnya mengetahui aku diam-diam telah pindah dari kos-kosan itu.“Tempatnya sih aku nggak tahu persis, Bu. Ryan hanya bilang cari kos-kosan yang dekat dengan kampus,” jawab Sugeng.Dola hanya diam sepertinya tengah memikirkan ke mana aku pindah kos, jika kampus yang dikatakan Sugeng, di Kota P itu banyak sekali terdapat kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta, Dola tiba-tiba ingat perguruan tinggi negeri yang memberikan undangan pada siswa-siswanya yang berprestasi saat ujian akhir di sekolahnya, dengan buru-buru Dola menghabiskan sate pesanannya itu.“Nih Mas uangnya! Aku pamit dulu ya, kali aja aku bisa temuin nanti tempat kos Ryan itu.” tutur Dola berdiri dari duduknya sembari membayar sate pesanannya pada Sugeng.“Loh, kok buru-buru sih Bu?” tanya Sugeng.“Takut nanti kemalaman mencari kos Ryan yang baru itu, soalnya dia kan nggak nyebutin tempat y
Hal itu jelas tak mudah dilakukan, mengingat aku telah terlanjur menaruh hati pada mantan Guru ku itu, dengan cara menghindar seperti yang aku lakukan saat ini bisa jadi akan menimbulkan resiko dibenci oleh wanita yang pertama kali mampu menimbulkan rasa sayang di hati ku itu.“Semua pakaianmu udah kamu masukan ke dalam lemari, Ryan?” tanya Eva.“Udah Tante.”“Nah, sekarang yuk ikut aku! Akan aku perkenalkan kamu dengan para penghuni kos-kosan di sebelah!” ajak Eva, aku mengangguk lalu mengikuti Eva melangkah menemui para penyewa kos-kosannya.Sebagian besar penghuni kos-kosan itu memang belum kembali ke sana, karena masih berada di daerah atau desa mereka masing-masing. Karena memang hampir 75% dihuni oleh mahasiswi yang baru akan tiba 2 minggu ke depan saat kegiatan kuliah dimulai, sementara yang ada di sana para wanita muda yang bekerja di kantor instansi pemerintah dan swasta.Eva memperkenalkan aku kepada mereka sebagai keponakannya sendiri, dan aku ditugaskan untuk mengawasi dan
Selama ini aku hanya tahu hubungan badan itupun dengan Dola dan wanita yang usianya terpaut jauh dengan diri ku, hubungan yang hanya melibatkan gejolak terlarang tanpa melibatkan perasaan selain tujuan mencapai puncak dari hubungan terlarang itu. Sementara yang ku hadapi sekarang ini adalah sosok g
“Bi..!”“Iya Nyonya.” Bi Lastri berjalan agak cepat ke ruang tamu tempat Dola duduk sambil membaca koran.“Ada apa, Nyonya?” tanya Bi Lastri saat tiba di ruang tamu itu.“Tadi Ryan sebelum berangkat sekolah ada tinggalkan pesan buatku nggak, Bi?”“Nggak tuh, setelah Ryan membersihkan sisa-sisa rump
Siang itu aku pulang dari sekolah bersamaan dengan selesainya jam mengajar Bu Dola, hingga aku tak perlu naik angkot untuk menuju rumah Guru ku itu melakukan tugas ku bekerja di sana, seperti biasa sebelum memulai pekerjaan aku dan Dola makan siang bareng di meja makan.“Hari ini kira-kira apa yang
“Ya udah, minggu besok aku akan penuhi ajakanmu. Memangnya kamu ingin ngajak aku jalan ke mana hari minggu besok?” tanya ku.“Serius nih kamu mau?”“Loh, emangnya kamu pikir aku becanda barusan?”“Asyik, hari minggu besok temani aku nonton di bioskop juga ya seperti Lani?”“Ya, aku akan temani kamu







