Home / Romansa / GELORA HASRAT SANG MAFIA / 28 | Kau yang bersinar

Share

28 | Kau yang bersinar

Author: Vieneze
last update publish date: 2023-11-20 16:41:59
Luigi Kasto, seorang pimpinan dari Red Dragon, sebuah organisasi kriminal yang menyelundupkan senjata dan mengoperasikan rumah perjudian. Dia lelaki yang paling ditakuti di seluruh Rosentown. Tindakannya selalu lebih sulit dipahami, liar, dan keji.

Tak seorang pun berani menentangnya.

Namun, pria yang di hadapannya itu tidak pernah menunjukkan rasa takut padanya. Pria yang dulu pernah dia 'pelihara' dan dia besarkan untuk menjadi sama dengannya. Ya, pria itu selalu membangkang terhadap perkat
Vieneze

yuk follow author di : Instagram : author_vieneze

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    41 | Ikutlah bersamaku, Sansan.

    Mereka meninggalkan pantai ketika langit mulai berubah warna. Gelap perlahan menipis di ujung cakrawala, meninggalkan semburat abu-abu kebiruan yang memantul di permukaan laut. Sunny berjalan di sisi Ryuse dengan langkah pelan. Mantel pria itu masih menyelimuti tubuhnya, terlalu besar untuk bahunya yang kurus.Ryuse tidak banyak bicara. Ia hanya menyesuaikan langkah agar Sunny tidak perlu terburu-buru. Sesekali matanya turun, memastikan gadis itu masih berjalan di sampingnya dan tidak kembali menoleh ke laut.Ketika mereka tiba di rumah, Rury sudah menunggu di beranda. Begitu melihat Sunny, ia segera berlari menghampiri.“Kak!”Sunny berhenti. Rury memeluk pinggangnya tanpa berkata apa-apa. Tubuh kecil itu masih berbau matahari dan debu, sementara bahunya bergetar menahan tangis yang sejak tadi ditunggu-tunggunya.Sunny menunduk, lalu membelai rambut adiknya. ”Maaf membuatmu khawatir.”Rury menggeleng cepat. “Jangan pergi lagi tanpa bilang kepadaku.”Sunny menutup mata sejenak. Jemar

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    40 | Bertemu Kembali

    Suara ombak datang dan pergi dalam gelap, menyeret buih putih ke pasir sebelum menariknya kembali ke laut. Angin malam menampar wajah Sunny, tetapi ia tetap berdiri di sana dengan ujung gaun yang basah dan syal merah Jane yang diremas di antara jemarinya.Ryuse berhenti beberapa langkah darinya. Napasnya memburu setelah berlari menyusuri jalan setapak, tetapi pemandangan di hadapannya membuat seluruh tubuhnya terasa kaku.Sunny tampak begitu rapuh di hadapan laut yang luas. Rambutnya kusut diterpa angin, kulitnya pucat, dan matanya menatap ombak tanpa benar-benar melihatnya.“Sunny.”Kali ini gadis itu menoleh.“Ryuse?” Suaranya nyaris hilang di antara gemuruh ombak.Ryuse melangkah mendekat, lalu berhenti ketika air kembali menyapu kaki Sunny. “Jangan berdiri terlalu jauh. Airnya semakin pasang.”Sunny menunduk, memperhatikan buih yang pecah di sekitar pergelangan kakinya. “Aku hanya ingin melihat laut.”“Rury bilang kau sering datang ke sini sampai malam.”“Rury menyuruhmu datang?”

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    39 | Dunia Sunny runtuh

    Bunyi monitor itu berubah menjadi garis panjang yang tidak putus-putus.Sunny berdiri di sisi ranjang dengan wajah memucat. Tangannya masih menggenggam jemari Jane, tetapi genggaman itu perlahan kehilangan balasan. Seolah tubuh ibunya sedang menjauh sedikit demi sedikit, sementara Sunny tidak punya cara untuk menariknya kembali."Dokter! Tolong!"Pintu ruang perawatan terbuka lebar. Dua perawat bergegas masuk, disusul dokter yang tadi memeriksa Jane. Mereka segera mendorong Sunny ke belakang. Seseorang menarik tirai, memisahkan dirinya dari ranjang yang selama ini menjadi tempat ibunya berbaring."Tunggu di luar, Nona.""Tidak! Itu ibu saya!" Sunny berusaha menerobos, tetapi Paman Huben menahan bahunya dari belakang."Sunny, biarkan dokter bekerja.""Lepaskan aku, Paman! Aku harus berada di sana!"Dari celah tirai yang belum tertutup sempurna, Sunny melihat tubuh Jane tersentak di atas ranjang. Perawat menekan dadanya, dokter memberi instruksi cepat, dan selang-selang bening bergoyang

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    38 | Hal yang membuat Sunny cemas

    Sunny menatap punggung Anne sampai menghilang di balik mobil. Perasaan kesal yang bercampur was-was menguasai pikirannya. Sunny mengenal Anne, sebaik dia mengenal bibi Joice. Jika Anne mengatakan akan membalasnya, maka itu bukan hanya ancaman kosong belaka dan itu membuat Sunny gelisah.Sejak tiba di rumah Paman Huben, tangannya tidak berhenti bergerak. Ia menimbang ikan, mencatat pesanan, mengangkat peti-peti kecil berisi hasil kebun, lalu berlari dari gudang ke halaman ketika salah satu pelanggan datang terlambat mengambil pesanannya. Bau asin ikan bercampur tanah basah dan keringat yang menempel di tengkuknya, tetapi Sunny tidak memedulikannya.Pikiran tentang Anne masih mengganjal di kepalanya."Sunny, kau dengar aku?"Suara Paman Huben membuatnya tersentak. Pria itu berdiri di samping meja kayu, memegang buku catatan yang ujungnya sudah melengkung."Maaf, Paman. Ada apa?""Pesanan ini harus diantar sebelum siang. Kau bisa membawanya?"Sunny mengangguk cepat. "Bisa."Ia baru saja

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    37 | Anne menuntut atas kematian bibi Joice

    Dua pria suruhan Luigi masih berdiri kaku dalam bayangan gudang, jantung mereka berdegup kencang menyaksikan sosok-sosok diam yang mengelilingi rumah Paman Huben dari berbagai penjuru. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan mencolok. Hanya kehadiran yang terasa begitu pekat, seperti udara sebelum badai."Kita harus pergi," bisik salah satu dari mereka, suaranya nyaris tercekat. "Sekarang.""Bagaimana dengan perintah Bos?""Persetan dengan perintah. Kalau kita tetap di sini, yang pulang bukan laporan, tapi mayat kita." Dia sudah mulai melangkah mundur perlahan, matanya tak lepas dari bayangan-bayangan itu. "Orang-orang Ryuse sudah tahu kita di sini. Ini bukan lagi soal mengintai—ini jebakan."Rekannya tidak membantah. Mereka berdua bergerak mundur dengan hati-hati, menyusuri sisi gudang yang gelap, lalu menyelinap ke arah mobil van yang terparkir jauh dari jangkauan pandang. Mesin dinyalakan pelan-pelan, hampir tanpa suara, dan kendaraan itu melaju menjauh dari Sanabu tanpa lampu utama men

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    36 | Sunny terpaksa berbohong atas perasaannya

    Sunny terjaga dengan napas memburu, selimut tipis kusut di sekitar kakinya. Mimpi itu lagi—bayangan buram yang tidak jelas bentuknya, hanya perasaan tercekik dan suara langkah kaki yang mendekat tanpa wajah yang bisa dikenali. Jantungnya masih berdebar kencang saat dia duduk, menatap kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya bulan tipis dari celah jendela.Dia mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Tenggorokannya terasa kering. Perlahan, Sunny bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju pintu kamar, berniat mengambil air minum di dapur.Namun langkahnya terhenti di lorong.Cahaya lilin yang redup menari-nari dari arah ruang tamu, memantul lembut di dinding kayu rumah mereka. Sunny mengintip dari balik tirai kain yang memisahkan lorong dengan ruang depan, dan mendapati ibunya, Jane, masih duduk di sana—bukan tidur, melainkan menatap kosong ke arah jendela yang gelap, jemarinya memutar-mutar secangkir teh yang sudah dingin."Ibu?" Sunny melangkah masuk, suaranya pelan.Jane ter

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    16 | Perpisahan yang tak diinginkan

    Pagi berikutnya ketika matahari telah bersinar kembali, badai hujan telah berhenti. Sunny buru-buru mengintip keluar jendela, melihat situasi di luar. Beberapa ranting pohon berserakan di jalan, daun-daun berhamburan di tanah, dan plang papan nama penginapan tergeletak menyedihkan di atas tanah. Sun

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    15 | Ciuman yang membara

    Sunny membeku. Pikirannya seolah tidak berkordinasi baik dengan tubuhnya. Dia ingin menghindar, tapi bagian dirinya yang lain seolah tidak ingin menjauh. Dalam jarak sedekat ini, Sunny bisa melihat fitur menawan wajah Ryuse dalam kegelapan. Mata Ryuse berkelebat dengan cahaya yang aneh ketika menata

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    9 | Biarkan aku membalas kebaikanmu

    “Aku tak akan peduli soal ketakutanmu atau pun keberanianmu padanya,” Sunny berusaha meyakinkan Marco bahwa dirinya tidak tertekan oleh ancaman apapun. “Aku hanya peduli dengan bagaimana kau jatuh.”“Kau ... ”Marco hampir memukul wajah Sunny, namun Ryuse cekatan menangkap tangan Marco dan menghemp

  • GELORA HASRAT SANG MAFIA    8 | Ryuse dan keputusan gegabahnya

    “Tuan-tuan, silakan duduk dengan tenang dan bersabar. Kalian bisa memiliki gadis ini asal kesepakatan harga kita cocok. Lihatlah, betapa wajah ini begitu lugu.” Marco menyentuh wajah Sunny. “Dan—dia masih polos, sangat polos seperti kertas yang belum dicoret.”Ryuse merasakan tekanan darah di dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status