LOGINKarla kembali menghela napas panjang,"Kau benar, aku memang jahat dan awalnya memang begitu. Tapi, semakin hari aku semakin menyadari semua itu tidak ada gunanya. Aku bisa saja tetap tinggal bersama David, tapi aku tidak melakukannya. Jika aku mau, saat melihat David mencium Amelia , aku bisa melabrak. Tapi, aku memilih pergi, karena aku tau David tidak pernah sepenuh hati mencintaiku. Jadi, katakan kepadaku dia , Jasmine adalah Amelia, bukan? Di mana anaknya? Siapa yang sudah menghamili dia hingga dia pergi? Apa David?" Patricia terkesiap, namun ia segera memasang ekspresi biasa saja. Masih dengan sikap angkuh yang biasa ia perlihatkan kepada Karla."Kenapa kau sampai berpikir David? Kau kan tau David.""Mana aku tau, kemungkinan bisa saja terjadi. Aku ingat terakhir kali kita tour, Amelia menghilang seharian. Malam itu aku menunggu David hingga jam 3 pagi. Ternyata dia baru masuk ke kamar jam 9 pagi, alasannya mabuk. Tapi, malam itu tidak satupun yang melihat David di mana
Karla langsung melotot saat Markonah mengatakan langsing tanpa rasa bersalah. Mie goreng yang hampir saja masuk ke dalam mulutnya ia letakkan kembali. Lalu, dengan cepat tangannya kembali mencubit hidung pesek Markonah."Jadi, maksud kamu saya sekarang genduut?!""Aduuh, salah lagi. Maksud Markonah, ibu kan sekarang udah langsing lagi, tapi temennya Mbak Tacy yang mirip ibu itu, badannya persis kaya ibu waktu belum hamil non Davila," jawab Markonah cengengesan setelah Karla melepaskan cubitannya."Ya sudah, nggak usah bahas langsing atau gemuk, terus kenapa temennya Tacy?""Anu ... Temen Mbak Tacy itu bisa nyanyiin lagu favorit non Davila yang biasa Ibu nyanyiin, trus Non Davila tidur. Malah tadi pagi, Mbak Tacy mampir kasi rekaman suara mbak itu buat non Davila kalo lagi rewel." Untuk kedua kalinya Karla berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya dan memicingkan matanya sambil mengerutkan dahinya."Ibu mau saya bawain rekamannya?" tanya Markonah."Ya sudah, mana?""Dimakan , Bu ,
Hasil editan Pras tampak jelas Jasmine dan Amelia setelah proses edit sangat mirip. Karla yakin ia hanya perlu memancing Jasmine. Dan entah mengapa ia yakin bahwa Patricia terlibat dalam hal ini. Karla tau bahwa Patricia dan Amelia cukup dekat. Bahkan, sikap Patricia sangat berbeda ketika dengannya dan saat bersama Amelia. Patricia sangat ramah dan senang bicara dengan Amelia sementara padanya sikap Patricia amat sangat menyebalkan. Karla meraih ponselnya dan menghubungi Patricia dengan nomor baru miliknya. Karla hanya meninggalkan pesan bahwa ia ingin bertemu dan juga meminta Patricia untuk tidak memberi tahu David nomor barunya. Patricia yang kebetulan sedang bersama Amelia langsung memperlihatkan pesan Karla kepadanya."Kakakmu mengajakku bertemu besok, entah apa yang akan dia bicarakan. Tapi, tadi David sempat mengamuk di apartemen. Markonah yang melaporkan kepadaku, dia baru berhenti membanting barang saat mendengar tangisan Davila. Sepertinya Karla menolak untuk
Prasta pun membuka file yang ada di laptopnya dan memperlihatkan foto Amelia kepada Karla."Coba kau edit supaya tubuhnya menjadi langsing, hilangkan pipi bakpaonya," pinta Karla.Meski dengan dahi berkerut dan juga rasa penasaran , Prasta melakukan juga apa yang diminta oleh Karla. "Coba kau buat hidungnya menjadi sedikit mancung, lalu rambutnya kau buat sedikit panjang."Prasta melakukan apa yang Karla minta. Ketika Karla melihat hasil akhir dari editan foto itu ia merasa dadanya terasa sesak."Ehm, satu lagi, hilangkan tahi lalat yang ada di dekat bibirnya," pinta Karla. Prasta mengangguk dan kembali melakukan apa yang diminta Karla."Amelia jika tubuhnya langsing ternyata cantik sekali, dia mirip denganmu jika begini," komentar Prasta."Bisa kau cetak foto itu untukku? sebelum dan sesudah kau edit.""Oh, Tuhan, Karla! Kau sebenarnya mau apa, sih? Membuat orang penasaran saja," ujar Prasta."Aku hanya ingin melihat jika Amelia tiba- tiba menjadi langsing, akan seca
Karla benar-benar penasaran, jika memang Amelia yang datang, kenapa penjaga makam mengatakan bahwa yang datang gadis cantik. Bahkan, setelah hampir dua tahun menghilang, Amelia membalas pesan yang ia kirim lewat aplikasi Facebook miliknya. Tiba-tiba, Karla teringat kepada Jasmine."Dia ... tapi tidak mungkin dia Amelia," gumam Karla. Ia sedang berusaha mengira-ngira persamaan wajah Jasmine dan Amelia. "Sepertinya aku harus mencari tau tentang Jasmine." Karla kembali bergumam. Tiba di lokasi syuting, Karla tidak begitu terkejut saat melihat kehadiran David di sana. Ia melangkah perlahan dan menghampiri David."Ada apa? Kau masih membutuhkan aku, Dave?" tanya Karla tanpa emosi sedikit pun dalam nada bicaranya. David menatap Karla tajam, belum pernah ia melihat wanita itu tampak tenang dan tidak berapi-api."Kau tidak sayang kepada Davila?" tanya David."Pertanyaan yang sama, Dave. Kau tidak sayang kepadaku? Dave, aku wanita, Davila anak kita juga kelak akan tumbuh men
David semakin merasa penasaran dengan Amelia. Ia merasa bahwa Amelia bukan orang asing."Kenapa sih dia marah-marah terus kepadaku?" tanya David pada Patricia. Gadis itu menghela napas panjang."Kau sadar tidak apa yang kau katakan itu membuat orang lain menilaimu sebagai lelaki yang tidak menghargai wanita sama sekali," kata patricia."Aku? Tidak menghargai wanita?" Patricia memutar bola matanya dengan kesal."Begini, David yang terhormat. Kau tadi mengatakan bahwa kau sama sekali tidak mencintai Karla. Tapi, kau sudah memiliki anak dari Karla, bukan? Sekarang, amit-amit dulu ya, aku tanya padamu, jika Davila besar lalu ia hidup bersama dengan seorang pria tanpa ikatan pernikahan yang sah dan mereka memiliki anak, lalu lelaki itu menolak untuk menikahi Davila, apa kau akan diam saja?" tanya Patricia. David langsung melotot dengan kesal kepada Patricia. "Kau sudah gila? Tentu saja aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, aku akan menyeret lelaki itu untuk bertanggung jaw
"Anggap saja kejadian malam itu tidak pernah terjadi," kata David sambil meletakkan cek itu di atas meja. Ia menatap Amelia, ia melihat air mata mulai menetes di kedua netra indah Amelia. Tapi,gadis itu tampak sangat tenang,berbeda dengan reaksi yang ia berikan saat pertama kali.Amelia hanya menat
David merasa gelisah. Semua crew sudah bersiap di belakang panggung termasuk juga Karla. Tapi, Amelia tidak juga bisa dihubungi. Bahkan,yang membuat David kaget setengah mati saat melihat kamar Amelia dibersihkan dan room service mengatakan penghuni kamar sudah cek out . Ponsel Amelia sendiri t
"Kenapa kau bisa tidur di kamar ini?!" seru David saat melihat seorang gadis bertubuh gemuk tidur di sampingnya. Sementara gadis yang sedang tertidur itupun langsung terbangun saat mendengar teriakan David. Sama dengan reaksi David ,gadis itupun berteriak histeris. Apa lagi saat ia menarik selimut
"Kita harus mencarinya, adikmu itu," tegas David kepada Karla."Selama berbulan- bulan ini kita terus berusaha mencarinya,David. Tapi, kita tidak juga berhasil menemukan dia. Mungkin dia memang tidak mau ditemukan, kita harus bagaimana?" jawab Karla putus asa. Sejak Amelia menghilang, David mem







