Home / Romansa / GODAAN DI SEPERTIGA MALAM / 10. PETAK UMPET DIMULAI

Share

10. PETAK UMPET DIMULAI

Author: Mystique
last update publish date: 2026-07-29 13:00:42

Rasa panik seketika menguasai tubuh Kirana. Seluruh persendiannya mendadak lemas. Suara deru mesin mobil yang merapat di pelataran garasi terasa bagaikan polisi yang akan memberinya hukuman mati.

"Z-Zayn... Mas Reyhan sudah datang," bisik Kirana dengan napas memburu, matanya membelalak menatap pintu depan dengan tubuh yang gemetar hebat. "Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia..."

Sebelum kalimat panik Kirana selesai, Zayn dengan sangat tenang dan sigap melangkah maju. Ia mencen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   18. EGO YANG TAK MAU KALAH

    Ruangan mendadak membeku setelah pujian dari Manajer Senior untuk Kirana itu di ucapkan. Wajah Reyhan yang tadinya begitu sombong kini merah padam, menegang kaku akibat tamparan fakta yang dilayangkan bawahannya sendiri. Pujian jujur Manajer Senior itu menyayat egonya yang setinggi langit.Tak mau harga dirinya makin terinjak di depan istri yang dianggapnya rendah dan adik kandungnya sendiri, Reyhan berdeham keras. Matanya menatap tajam pada Manajer Senior beserta dua sekretarisnya."Kalian ini banyak bicara sekali! Sejak kapan staf boleh ikut campur menilai penampilan pribadi keluarga pimpinan?!" bentak Reyhan, suaranya  dipenuhi amarah yang tertahan.Manajer Senior dan kedua sekretarisnya seketika tersentak kaget. Wajah mereka memucat menyadari aura berbahaya dari sang Direktur Utama."M-maafkan kami, Pak Reyhan... Kami tidak bermaksud..." cicit Manajer Senior. Tubuhnya gemetar sembari membungkuk dalam-dalam."Taruh semua dokumen lapora

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   17. BUNGA YANG MEKAR

    Mobil sport yang dikendarai Zayn membelah jalanan pusat kota menuju kawasan bisnis paling bergengsi. Di sampingnya, Kirana memegang tali sabuk pengamannya erat-erat. Jemarinya saling bertaut, memancarkan sisa-sisa rasa bingung sekaligus penasaran atas rencana yang dirancang adik iparnya itu.Zayn menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah butik dan salon eksklusif berlantai tiga dengan dinding kaca tinggi yang menampilkan gaun-gaun mahakarya perancang ternama. Tanpa menunggu Kirana bertanya, Zayn keluar dan membukakan pintu, menuntun wanita itu masuk ke dalam kemewahan yang selama ini asing baginya.Tiga orang stylist profesional langsung menyambut mereka atas perintah khusus Zayn. Selama dua jam penuh, Kirana membiarkan tubuhnya dipoles. Rambut hitamnya yang biasanya hanya dikuncir asal kini ditata menjadi gelombang lembut yang jatuh sempurna di atas bahu. Gaun rumahan yang kusam berganti dengan dres berbahan chiffon lembut berwarna rose gold bernuansa

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   16. JEJAK DI PAGI HARI

    Sinar fajar perlahan menerobos celah tirai kamar utama, membawa kepastian bahwa malam terlarang itu telah berlalu. Kirana terbangun lebih awal. Tubuhnya terasa lelah, namun ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Rasa takut yang biasanya membelenggu setiap kali mendengar derap langkah Reyhan kini telah menguap. Tatapan matanya di depan cermin kamar mandi tampak begitu tenang. Jauh lebih tangguh dari biasanya.Di balik gaun tidurnya, di atas meja dapur beberapa jam lalu, Kirana telah membuang seluruh rasa bersalahnya. Ia telah menyerahkan hatinya pada Zayn, dan kenyataan rahasia itu memberinya kekuatan baru untuk menghadapi pria yang berstatus suaminya.Saat Kirana keluar dari kamar mandi, Reyhan baru saja terbangun dari tidurnya. Pria itu duduk di tepi ranjang dengan wajah keruh, mengusap pelipisnya yang berdenyut akibat kelelahan usai bekerja dan beraktivitas hingga larut malam."Mas mau kubuatkan kopi hitam?" tanya Kirana. Wajahnya tenang, tanpa ada g

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   15. GODAAN DI SEPERTIGA MALAM

    Rasa sakit di dada Kirana perlahan luluh oleh kehangatan yang menjalar dari bibir Zayn. Sentuhan pria itu di lehernya begitu lembut namun menuntut, seolah berusaha menghapus setiap jejak hinaan yang baru saja dilontarkan Reyhan di kamar atas. Jemari Zayn mengusap sisa air mata di wajah Kirana, lalu merayap naik menangkup rahang gadis itu dengan lembut namun posesif.Dengan gerakan sigap, ia mengangkat tubuh Kirana, mendudukkannya di atas meja dapur yang dingin. Panasnya sentuhan Zayn membuat Kirana mendesah pelan, meremas bahu tegap adik iparnya itu untuk menahan tubuhnya yang mendadak lemas.Ciuman Zayn berlanjut semakin dalam, makin lapar, dan dipenuhi gelombang emosi yang meluap. Jemari pria itu mulai bergerak berani, menyusup ke balik gaun tidur tipis Kirana, mengusap pinggulnya dengan sentuhan yang membakar kulit. Sengatan gairah yang kuat seketika menguasai indra Kirana.Saat jemari Zayn mulai bergerak lebih jauh menuju tahap yang lebih dalam, percik

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   14. BAYANGAN DI SEPERTIGA MALAM

    Mobil yang dikendarai Zayn akhirnya sampai di pelataran garasi rumah saat langit mulai sore. Jantung Kirana sedikit lega karena tidak melihat mobil Reyhan di sana. Namun rasa khawatir itu tidak sepenuhnya hilang."Zayn... bagaimana kalau Mas Reyhan ternyata sudah di dalam?" bisik Kirana dengan suara gemetar, jemarinya cemas meremas tali kantong belanjaan.Zayn menoleh, mengulas senyum menenangkan yang begitu hangat. Tangannya terulur mengusap lembut tangan Kirana yang dingin. "Tenang, Na. Lihat kan? Garasi masih kosong. Mobil Kak Reyhan belum ada. Berarti dia tidak ada di dalam rumah. Tebakanku tidak pernah salah."Kirana mengembuskan napas panjang. Ia sedikit lega tapi masih tetap merasa khawatir. Zayn membantu Kirana membawa barang belanjaannya ke kamar utama. Kirana menyimpan gaun-gaun itu di tempat aman. Tempat yang tidak akan diketahui Reyhan, sebelum akhirnya mereka berpisah ke kamar masing-masing untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa.Wa

  • GODAAN DI SEPERTIGA MALAM   13. KENCAN MANIS

    Kirana menyimpan rapat-rapat janji manis Zayn di hatinya siang itu. Janji yang menjadi pemuas dahaga kasih sayang sekaligus penawar luka yang dibuat Reyhan selama bertahun-tahun.Pagi harinya, suasana meja makan kembali diselimuti keheningan yang mencekam dan kaku. Reyhan sudah duduk di kursi utama dengan setelan jas rapi. Tangannya sibuk menggeser layar tablet, sama sekali tidak melirik Kirana yang melangkah perlahan membawakan piring berisi sarapan.Saat Kirana meletakkan piring tersebut dengan hati-hati di hadapannya, jari Kirana tidak sengaja menyenggol pinggiran cangkir kopi Reyhan hingga airnya sedikit terpercik di atas meja.TAK!Reyhan menghempaskan tabletnya ke atas meja dengan keras, membuat Kirana tersentak kaget dan spontan melangkah mundur dengan wajah pucat."Bisa kerja yang benar tidak?" tegur Reyhan dengan suara berat yang tajam dan dingin. Matanya menatap Kirana dengan tatapan penuh amarah. "Hanya menyajikan sarapan saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status