Share

Bab II

Author: Alya Tan
last update Last Updated: 2026-02-03 10:45:48

Aku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.

Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini.

Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja.

"Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian.

"Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong apa-apa trus langsung pergi." Ceritaku dengan penuh semangat.

"Wow, kok bisa kebetulan gitu ya, mbak? Ternyata masih banyak orang baik di luar sana." Jawabnya sambil menyimpan tas di loker yang disediakan khusus untuk pegawai tokoku.

"Iya ya, Drey. Untung aja aku ketemu orang baik." Kataku penuh syukur.

"Eh, mbak, pesanan bu Hartanto aku aja yang bikin ya?" Kata Audrey setelah memakai salah satu apron.

"Boleh, boleh. Biar aku yang handle punya Mbak Desy. Emang Bu Hartanto ada event apa?" Tanyaku.

"Buat dekor arisan dirumahnya, mbak. Big vase arrangement gitu. Dia pokoknya serahin semua detailnya ke kita, tapi dia maunya yang sesuai sama interior rumahnya yang nuansa gold." Jawab Audrey.

"Hmm... aku sih saranin kamu pake purple orchid, striped pink stargazer lily, sama ruscus, Drey. Sisanya kamu kreasiin sendiri." Kataku sambil menunjuk beberapa bunga yang kusebutkan.

"Siap, mbak. Nanti aku cariin vas yang sesuai." Katanya sambil berjalan ke arah chiller.

Aku sendiri membuat wedding bouquet untuk mbak Desy yang sudah menjadi langganan kami sejak acara lamaran dan sesi foto prewedding nya. Sayangnya kami belum mampu menerima pesanan untuk mendekor ruangan karena kekurangan karyawan. Tetapi sejauh ini kami menerima feedback yang luar biasa dari para pelanggan. Aku harus ingat untuk menambah beberapa karyawan dan mobil box saat kondisi keuangan toko lebih baik.

Kegiatan toko pagi ini ditemani iringan lagu kesukaanku dari Raisa - Love and Let Go. Bukan nuansa yang tepat memang untuk mengawali pagi hari yang cerah ini, tapi rasanya ingin kuhempaskan pikiran-pikiran nostalgiaku di kamar mandi tadi malam.

Audrey, seperti biasa tidak mempertanyakan pilihan laguku. Aku benar-benar berpikir bisa menjadikannya sahabat jika saja umur kami tidak terpaut 6 tahun. Semoga saja dia bisa bertahan lama di Marigold Florist, setidaknya sampai aku menemukan seorang asisten baru yang kompeten dan mencintai bunga seperti dia.

Aku agak khawatir karena sedikit lagi Audrey akan lulus kuliah dari jurusan pertanian di salah satu universitas swasta di Jakarta. Dia pasti sudah memikirkan masa depan yang lebih baik di suatu tempat, tapi aku belum berani bertanya tentang rencananya selepas wisuda karena takut mendengar jawabannya. Aku akan menunggu paling tidak sampai dia sendiri yang mengungkitnya.

Seperti namanya, Marigold Florist, aku berharap toko bunga impianku ini berkembang dengan cepat dan populer di kalangan manapun, tanpa sekatan umur atau keadaan ekonomi. Terbukti selama hampir 2 tahun berjalan, kami sudah melayani berbagai event. Mulai dari yang bahagia seperti pesta pernikahan, hari ulang tahun, atau perayaan lainnya, tapi juga di acara duka yang bahkan rangkaian yang dipilih bisa lebih besar dan lebih mahal. Mungkin itu sebabnya ada yang berkata kita akan lebih banyak mendapat bunga setelah meninggal ketimbang saat masih hidup.

Entahlah. Karena selama hidup aku baru beberapa kali mendapat rangkaian bunga. Itupun dari seseorang yang tidak ingin kuingat-ingat lagi. Setidaknya tidak disaat aku sedang di kelilingi para pelanggan dan rekan kerjaku, Audrey.

Ketika lagu di speaker mencapai chorus terakhir kurasakan Audrey mendongak ke arah pintu masuk toko di depan kami.

"Permisi." Seorang pelanggan membuyarkan lamunanku. Dia mencapai meja kami dalam beberapa langkah saja. "Saya ingin memesan buket untuk seseorang." Kali ini seorang pria berjas hitam rapi yang wajahnya familiar. "Tolong buatkan sesuai selera Anda. Harga tak jadi masalah." Tambahnya tanpa sempat aku merespon.

"Oh, oke. Apakah saya boleh tahu untuk acara apa, mas?". Akhirnya aku bersuara.

"Tak ada yang istimewa. Hanya sebagai permintaan maaf yang tulus." Ucapnya sambil tertunduk malu.

"Baik. Apakah masnya mau tunggu? Estimasinya sekitar 20-25 menit." Terangku.

"Hmm, saya akan kembali setengah jam lagi kalau begitu." Dan dia langsung pergi begitu saja. Aku benar-benar tidak ingat kapan dan dimana pernah bertemu pria ini. Mungkin pelanggan lama.

"Beruntung banget wanita itu." Ucap Audrey di sebelahku setelah pria tadi keluar dari toko.

"Siapa?" Tanyaku bingung.

"Yang mau dikasih bunga sama cowok itu lho, mbak. Tiap bulan dipesankan bunga yang beda-beda." Jawabnya.

"Emang kamu tahu darimana?" Tanyaku sambil menghadap ke arahnya.

"Mbak Canna ngga ingat cowok itu sama sekali? Padahal dia tiap bulan ke sini lho buat pesan buket. Dan mbak dibebasin buat berkreasi tanpa batasan budget." Katanya tanpa bisa menyembunyikan kekagumannya.

"Emang udah berapa kali sih? Kok aku ngga sadar ya?" Tanyaku penasaran sambil menghadap ke arah pegawaiku itu.

"Hmmm, ngga pasti sih, mbak. Mungkin sekitar 4 atau 5 bulan terakhir." Jawabnya tidak yakin. "Biasanya emang aku yang ambil pesanannya sih."

"Mungkin aja ngga dikirim ke orang yang sama kan?" Balasku.

"Tapi cowok itu selalu pesan di tanggal yang sama kok, mbak." Katanya belum menyerah.

"Kok tau banget kayaknya. Naksir kamu?" Godaku.

"Iri doang, mbak. Hehe. Soalnya pacarku bilang aku udah nggak butuh buket soalnya pasti mual tiap hari liat dan cium aroma bunga. Padahal kan mau juga, mbak." Katanya setengah frustrasi.

Menarik. Tanggal 11 berarti memiliki arti yang penting bagi pria itu dan sang penerima bunga, kalau memang benar yang dikatakan Audrey. Tapi kenapa buket untuk permintaan maaf? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah setelah menerima buket mereka akan berbaikan? Atau malah sang penerima akan bertambah marah? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku, tapi harus kuelakkan demi membuat pesanan dari yang katanya pelanggan bulanan kami.

Buket untuk pemberkatan nikah mbak Desy baru setengah jadi dan akhirnya harus kutunda dulu demi buket permintaan maaf.  Pernikahannya baru akan dilaksanakan besok pagi jadi aku masih ada waktu untuk menyelesaikannya. Tapi berhubung aku juga harus membuat buket untuk resepsi dan after party sekaligus, rasa-rasanya aku akan kembali begadang malam ini. Sekiranya karyaku dapat membuat seorang pelanggan dimaafkan, aku akan sangat bangga.

Aku beralih mencari bunga-bunga yang disimbolkan sebagai permintaan maaf yang tulus di chiller. Untungnya ada tulip putih yang baru saja diantar kemarin oleh supplier langgananku. Sebagian sudah kupakai di buket pemberkatan mbak Desy, tapi masih tersisa beberapa tangkai dan sepertinya cukup. Tinggal kutambahkan sedikit baby's breath dan ruscus lalu kulilit dengan kertas berwarna putih juga. Terakhir kuikat ujung buket dengan pita merah muda untuk mempermanisnya.

Setelah puas dengan hasil akhirnya, seperti biasa aku meminta tolong pada Audrey untuk mengambil foto tanganku yang memegang buket tersebut sebagai portofolio yang nantinya akan kuunggah ke media sosial MarigoldFlorist.jkt. Kulihat jam dinding yang berada di atas pintu masuk toko dan ternyata masih tersisa 10 menit sebelum pelanggan pria tadi datang mengambil pesanannya.

Akhirnya kuputuskan untuk mengunggah langsung saja beberapa foto yang diambil Audrey tadi yang sepertinya layak untuk dipamerkan. Biasanya hal itu kulakukan setelah jam kerja atau saat aku susah tidur di malam hari, tapi berhubung aku akan bekerja sampai larut malam ini lebih baik kulakukan saja sekarang. Toh hanya perlu beberapa menit untuk mengeditnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab V

    Beberapa minggu pertama perkenalan kami di lingkungan PT. Rich Karya, semuanya berjalan lancar. Semua orang bersikap profesional, walaupun ada pula yang lumayan ketus, tapi masih dalam batas yang wajar. Untungnya aku dan Kenny diberi mentor yang sangat sabar dan kompeten, baik di lingkungan kantor maupun saat turun ke lapangan. Tugas kami memang kebanyakan di lapangan untuk mengawasi proyek-proyek perusahaan yang tengah dikerjakan.Itulah sebabnya aku belum pernah bertemu dengan para petinggi perusahaan ini. Akupun tidak berharap mereka akan menemui kami pegawai magang yang hanya dikontrak 6 bulan, kecuali perusahaan berniat merekrut kami sebagai pegawai tetap. Itu bukan hal yang mustahil, hanya saja kami (terutama aku yang lulusan universitas swasta) belum cukup pengalaman untuk bekerja di perusahaan sebesar ini. Pikirku.Hingga suatu hari datanglah seorang pria tampan yang kurasa berusia akhir 20an atau awal 30an saat kami kebetulan sedang bertugas di kantor. Arion Richie namanya, k

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab IV

    Layaknya seseorang yang baru saja lulus dari universitas, aku mendaftar untuk program magang di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta bernama PT. Rich Karya Industri & Kontraktor. Aku tidak berharap banyak berhubung masuk perusahaan ini adalah impian banyak orang, terutama mahasiswa jurusan teknik di seluruh negeri. Dan ya, dari ratusan orang yang mendaftar, ternyata aku adalah salah satu dari dua orang diterima untuk magang dengan perjanjian kontrak selama 6 bulan. Sebagai lulusan Teknik Lingkungan, aku ditempatkan di departemen HSE (Health, Safety, and Environment). Singkatnya, tugas utama kami adalah memastikan proyek memenuhi regulasi lingkungan, mengelola dampak pembangunan, serta melakukan audit teknis. Membosankan bukan? Tapi tugas kami tidak bisa dianggap remeh, karena keberhasilan sebuah proyek dapat dinilai dari awal perencanaan, pengawasan, hingga tahap audit akhir. Dan tentu saja departemen kami selalu terlibat dalam semua proses ini. Seorang lagi yang lul

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab III

    Namaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku. Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan. Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sang

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab II

    Aku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini.Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja."Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian."Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong ap

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab I

    Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang. Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami. Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu l

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Pengantar & Prolog

    Your Decision Defines Who You Really are...Khilafkah jika menginginkan milik orang lain secara sadar?Khilafkah jika membiarkan diri kita terbuai oleh cinta semu yang tidak akan bisa dimiliki?Khilafkah jika perasaan terlarang dibiarkan berkembang dalam waktu lama?Atau mungkin itu semua hanya godaan nafsu yang tidak ingin kita kendalikan dan malah bersembunyi di belakang kata cinta?Kisahku bermula sebagai seorang sekretaris dan berakhir sebagai penjual bunga. Namun diantaranya ada kisah cinta yang tidak indah dan sulit dijelaskan kata-kata.Mataku tiba-tiba tertuju ke luar pintu kaca tebal itu, pada langit yang malam ini terlihat sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Tanpa kusadari sesuatu yang basah terasa nyata di pelupuk mataku. Lagi-lagi aku harus membuang setidaknya dua tetes air mata mengingat sosok itu. Pria yang kucoba abaikan dan sangat ingin kulupakan, namun jelas saja belum bisa.Aku membenci diriku karena masih mencintainya, tapi aku lebih membenci takdir karena tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status