LOGINNamaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku.
Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan. Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sangat muda dan labil. Mungkin itu sebabnya almarhum ayahku, yang dulunya adalah seorang pegawai di kepolisian, memilih wanita lain untuk dijadikan pelarian saat bertengkar dengan ibuku. Yap, ayahku sudah meninggal saat aku berumur 4 tahun karena serangan jantung. Ibu sempat membawaku ke pemakaman beliau di kota tempatnya bertugas saat itu, sekaligus kota tempat wanita simpanan ayahku berada. Aku tidak menangis sedikitpun karena aku memang tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah seumur hidupku. Aku hanya ingat bahwa ibuku menangis sambil menampar wanita itu di depan para pelayat karena telah menjadi perusak rumah tangganya. Sejak saat itu kami hidup tenang berdua di Bogor dengan dana pensiun ayahku yang tidak seberapa, karena memang hanya istri sah yang berhak mendapatkannya. Ada baiknya juga ibuku tidak mengajukan perceraian saat itu. Lagipula, yang kudengar dari ibu, aku tidak pernah punya saudara tiri dari perempuan itu. Mungkin ayahku tidak benar-benar mencintai wanita itu, ataupun ibuku. *** Hanya beberapa detik setelah kuunggah foto buket itu ke halaman media sosial kami, seseorang menekan tombol like. User name nya tidak kukenali, hanya terdiri dari beberapa huruf, simbol, dan angka random tanpa foto maupun deskripsi di profilnya. Aku tidak terlalu memikirkan siapa yang empunya akun karena sebagian besar pengikut media sosial kami memang tidak kukenali, hanya bersyukur karena seseorang juga menyukai buket buatanku. Tepat 30 menit dari waktu yang telah disepakati, sang pelanggan bulanan akhirnya datang untuk menjemput pesanannya. Aku langsung mengarahkannya ke meja kasir dan menyerahkan buket tulip putih yang telah dimekarkan terlebih dahulu itu. Aku sangat puas dengan hasilnya, tetapi tentu saja pendapat pelangganku yang lebih penting. "Gimana, mas? Sesuai sama yang mas mau ngga?" Tanyaku penasaran. "Bagus banget, mbak. Makasih ya." Jawabnya malu-malu. "Bisa bayar QRIS kan?" "Bisa, mas. Silakan di scan kodenya." Ucapku seraya mengucapkan sejumlah nominal yang harus dibayarkan atas jasaku serta menunjukkan kode QR yang tersedia di meja kasir. Pria berjas hitam itu menekan beberapa tombol di ponselnya, memindai kode QR, dan membayar sesuai kesepakatan. Berhubung tulip adalah salah satu bunga impor yang mahal, aku agak segan dalam memberikan harga tersebut. Namun sang pelanggan langsung membayar tanpa keberatan sedikitpun. "Makasih ya, mas. Semoga permintaan maafnya diterima." Ucapku tersenyum seraya memberikan selembar kecil kertas struk. "Aku harap juga gitu, mbak." Jawabnya singkat sambil berbalik menuju pintu keluar. Aneh. Ekspresi pria itu langsung berubah setelah mendengar ucapanku. Pria itu juga tidak membalas senyumku saat meninggalkan toko. Apa dia hanya berpura-pura menyukai buket itu? Apa hasil karyaku begitu mengerikan dimatanya? Atau dia hanya sedang gugup mempersiapkan kata-kata permintaan maaf itu? Entahlah. Kuharap yang terakhir. Senyumku seketika pudar saat mataku melihat nama familiar di struk pembayaran QRIS tadi. Jantungku serasa berhenti berdetak setiap kali nama itu muncul. Napasku tercekat dan mataku mengedip beberapa kali seolah tidak yakin dengan apa yang kulihat. Tanpa sengaja kujatuhkan pena yang ada di atas meja kasir dengan tangan kiriku sambil memegang struk di tangan yang lain. Nama yang selalu kuhindari sekarang muncul kembali saat hatiku sudah berangsur-angsur pulih. Arion Richie. Aku tidak mungkin salah membaca rangkaian huruf ini. Nama yang sangat unik dan langka, sama halnya dengan namaku. Karena itulah aku benar-benar tidak yakin ada nama yang sama persis di Jakarta. Dia yang sebenarnya memesan bunga ini? Atau pria tadi hanya meminjam rekening Pak Arion? Atau lebih baik lagi, pria tadi juga bernama Arion Richie? Semoga saja begitu. Aku tidak ingin berpapasan dengan pria itu lagi. Kumohon Tuhan, dengarkan permintaanku ini. "Mbak kenapa?" Audrey mengagetkanku dari belakang. "Mbak kayak habis liat hantu". Matanya melotot sekaligus khawatir. Butuh beberapa detik bagiku untuk menenangkan jantungku dan mengatur napasku yang sempat tercekat. "Ngga apa-apa kok, Drey. Vertigo mbak lagi kambuh aja." Ucapku berbohong. "Aku keluar dulu sebentar, sekalian mau cari makan siang. Kamu mau makan apa? Biar mbak beliin sekalian." Tanyaku berharap Audrey tidak curiga dan bertanya lebih banyak. Lagian jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.55. Waktu yang tepat untuk istirahat makan siang sekaligus menghirup udara luar. Aku yakin akan curhat panjang lebar jika tetap berada di ruangan yang sama dengan Audrey. Dan aku tidak ingin hal itu terjafi. Satu-satunya orang yang kupercaya untuk menceritakan rahasiaku adalah Poppy, sahabatku. Walaupun selama ini kami lebih banyak bercerita melalui telepon dan panggilan video karena dia sedang kuliah di luar negeri. Poppy, sahabatku sejak awal masuk kuliah S1, adalah sosok yang paling mengenal dan menyayangiku selain ibuku. Aku bisa bercerita apapun padanya dan dia tidak akan menghakimiku, terlebih menyebarkan rahasiaku. Begitupun sebaliknya. Aku sangat menghargai dan bersyukur dengan kehadirannya dihidupku. Aku tidak bisa bercerita pada ibuku. Dia pasti akan sangat marah dan kecewa jika tahu kisah cintaku yang melibatkan mantan bosku yang sudah menikah dan memiliki anak perempuan berusia 2 tahun saat itu, yang berarti saat ini anak itu sudah berusia 4 tahun. Familiar dengan cerita ini bukan? Ya. Alasan terbesarku tidak menceritakan ini pada ibuku adalah karena kisah kelam keluarga kami terulang lagi di generasiku. Entah ini semua karma, kutukan, atau apapun namanya. Sesuatu yang seharusnya aku hindari. Yang semua perempuan di muka bumi ini HARUS hindari. Nyatanya aku tidak bisa menolak pesona pria dewasa, kaya raya, dan berjiwa pemimpin itu. Plus sudah beristri dan mempunyai anak. Aku terpikat pada tutur katanya yang manis yang hanya ditujukan padaku di kantor tempatku bekerja dulu. Aku bahkan hampir menyerahkan keperawananku padanya. Sungguh tragis. Jika saja aku bertahan saat itu, mungkin aku juga akan dipermalukan di depan orang-orang oleh istri sah Pak Arion. Sesuatu yang sudah kusesali sejak 2 tahun yang lalu. Memikirkannya pun aku bergidik. Kisahnya benar-benar mirip dengan skandal ayahku dan perempuan simpanannya. Bedanya, ayahku benar-benar tidak menginginkanku dan tidak pernah berupaya menemuiku. Setidaknya itu yang aku tahu. Aku hanya kenal ayahku dari foto berpigura hitam di hari pemakamannya, yang akhirnya dibawa ibuku ke rumah kami di Bogor. Aku pun masih sangat kecil waktu itu sehingga tidak yakin apakah aku mirip dengannya atau tidak. Tapi orang-orang mengatakan aku sangat mirip dengan ibuku. Syukurlah. Namun, ayahku malah mewariskanku salah satu sifat terburuknya. Pengkhianat.Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya
Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu
Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt
Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p
Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan
Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me
Hari pembukaan Marigold Florist berlangsung dengan cara yang sangat kontras dibandingkan pesta-pesta mewah keluarga Richie yang dulu sering kuhadiri. Tidak ada sampanye, tidak ada karpet merah, dan tidak ada lampu lampu flash kamera yang menyilaukan. Hanya ada kehangatan yang jujur, aroma kopi yang
Satu bulan terakhir ini adalah waktu paling melelahkan sekaligus paling membahagiakan dalam hidupku. Jakarta yang biasanya kurasakan sebagai monster beton yang dingin, kini terasa sedikit lebih bersahabat karena aku punya tujuan. Nama toko yang awalnya ingin kugunakan samaran, akhirnya kuputuskan un
Semalaman, aku seperti orang yang sedang demam, namun bukan karena sakit. Pikiranku terus-menerus memutar gambaran toko kecil di sudut gang itu. Bayangan dinding batunya yang kokoh, lokasinya yang tersembunyi namun strategis, hingga cahaya lampu jalan yang memantul di kaca depannya yang berdebu. Jak
Bekerja di Le Jardin de Sari adalah maraton estetika yang tidak pernah berhenti. Dalam tiga bulan pertama, aku merasa seperti spons yang menyerap setiap tetes ilmu. Aku belajar bahwa bunga untuk pernikahan harus memancarkan harapan, bunga ulang tahun harus meledak dengan kegembiraan, dan bunga pema







