Share

Bab III

Author: Alya Tan
last update Last Updated: 2026-02-05 03:26:20

Namaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku.

Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan.

Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sangat muda dan labil. Mungkin itu sebabnya almarhum ayahku, yang dulunya adalah seorang pegawai di kepolisian, memilih wanita lain untuk dijadikan pelarian saat bertengkar dengan ibuku.

Yap, ayahku sudah meninggal saat aku berumur 4 tahun karena serangan jantung. Ibu sempat membawaku ke pemakaman beliau di kota tempatnya bertugas saat itu, sekaligus kota tempat wanita simpanan ayahku berada. Aku tidak menangis sedikitpun karena aku memang tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah seumur hidupku. Aku hanya ingat bahwa ibuku menangis sambil menampar wanita itu di depan para pelayat karena telah menjadi perusak rumah tangganya.

Sejak saat itu kami hidup tenang berdua di Bogor dengan dana pensiun ayahku yang tidak seberapa, karena memang hanya istri sah yang berhak mendapatkannya. Ada baiknya juga ibuku tidak mengajukan perceraian saat itu. Lagipula, yang kudengar dari ibu, aku tidak pernah punya saudara tiri dari perempuan itu. Mungkin ayahku tidak benar-benar mencintai wanita itu, ataupun ibuku.

***

Hanya beberapa detik setelah kuunggah foto buket itu ke halaman media sosial kami, seseorang menekan tombol like. User name nya tidak kukenali, hanya terdiri dari beberapa huruf, simbol, dan angka random tanpa foto maupun deskripsi di profilnya. Aku tidak terlalu memikirkan siapa yang empunya akun karena sebagian besar pengikut media sosial kami memang tidak kukenali, hanya bersyukur karena seseorang juga menyukai buket buatanku.

Tepat 30 menit dari waktu yang telah disepakati, sang pelanggan bulanan akhirnya datang untuk menjemput pesanannya. Aku langsung mengarahkannya ke meja kasir dan menyerahkan buket tulip putih yang telah dimekarkan terlebih dahulu itu. Aku sangat puas dengan hasilnya, tetapi tentu saja pendapat pelangganku yang lebih penting.

"Gimana, mas? Sesuai sama yang mas mau ngga?" Tanyaku penasaran.

"Bagus banget, mbak. Makasih ya." Jawabnya malu-malu. "Bisa bayar QRIS kan?"

"Bisa, mas. Silakan di scan kodenya." Ucapku seraya mengucapkan sejumlah nominal yang harus dibayarkan atas jasaku serta menunjukkan kode QR yang tersedia di meja kasir.

Pria berjas hitam itu menekan beberapa tombol di ponselnya, memindai kode QR, dan membayar sesuai kesepakatan. Berhubung tulip adalah salah satu bunga impor yang mahal, aku agak segan dalam memberikan harga tersebut. Namun sang pelanggan langsung membayar tanpa keberatan sedikitpun.

"Makasih ya, mas. Semoga permintaan maafnya diterima." Ucapku tersenyum seraya memberikan selembar kecil kertas struk.

"Aku harap juga gitu, mbak." Jawabnya singkat sambil berbalik menuju pintu keluar.

Aneh. Ekspresi pria itu langsung berubah setelah mendengar ucapanku. Pria itu juga tidak membalas senyumku saat meninggalkan toko. Apa dia hanya berpura-pura menyukai buket itu? Apa hasil karyaku begitu mengerikan dimatanya? Atau dia hanya sedang gugup mempersiapkan kata-kata permintaan maaf itu? Entahlah. Kuharap yang terakhir.

Senyumku seketika pudar saat mataku melihat nama familiar di struk pembayaran QRIS tadi. Jantungku serasa berhenti berdetak setiap kali nama itu muncul. Napasku tercekat dan mataku mengedip beberapa kali seolah tidak yakin dengan apa yang kulihat. Tanpa sengaja kujatuhkan pena yang ada di atas meja kasir dengan tangan kiriku sambil memegang struk di tangan yang lain. Nama yang selalu kuhindari sekarang muncul kembali saat hatiku sudah berangsur-angsur pulih.

Arion Richie. Aku tidak mungkin salah membaca rangkaian huruf ini. Nama yang sangat unik dan langka, sama halnya dengan namaku. Karena itulah aku benar-benar tidak yakin ada nama yang sama persis di Jakarta. Dia yang sebenarnya memesan bunga ini? Atau pria tadi hanya meminjam rekening Pak Arion? Atau lebih baik lagi, pria tadi juga bernama Arion Richie? Semoga saja begitu. Aku tidak ingin berpapasan dengan pria itu lagi. Kumohon Tuhan, dengarkan permintaanku ini.

"Mbak kenapa?" Audrey mengagetkanku dari belakang. "Mbak kayak habis liat hantu". Matanya melotot sekaligus khawatir.

Butuh beberapa detik bagiku untuk menenangkan jantungku dan mengatur napasku yang sempat tercekat.

"Ngga apa-apa kok, Drey. Vertigo mbak lagi kambuh aja." Ucapku berbohong. "Aku keluar dulu sebentar, sekalian mau cari makan siang. Kamu mau makan apa? Biar mbak beliin sekalian." Tanyaku berharap Audrey tidak curiga dan bertanya lebih banyak. Lagian jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.55. Waktu yang tepat untuk istirahat makan siang sekaligus menghirup udara luar.

Aku yakin akan curhat panjang lebar jika tetap berada di ruangan yang sama dengan Audrey. Dan aku tidak ingin hal itu terjafi. Satu-satunya orang yang kupercaya untuk menceritakan rahasiaku adalah Poppy, sahabatku. Walaupun selama ini kami lebih banyak bercerita melalui telepon dan panggilan video karena dia sedang kuliah di luar negeri.

Poppy, sahabatku sejak awal masuk kuliah S1, adalah sosok yang paling mengenal dan menyayangiku selain ibuku. Aku bisa bercerita apapun padanya dan dia tidak akan menghakimiku, terlebih menyebarkan rahasiaku. Begitupun sebaliknya. Aku sangat menghargai dan bersyukur dengan kehadirannya dihidupku.

Aku tidak bisa bercerita pada ibuku. Dia pasti akan sangat marah dan kecewa jika tahu kisah cintaku yang melibatkan mantan bosku yang sudah menikah dan memiliki anak perempuan berusia 2 tahun saat itu, yang berarti saat ini anak itu sudah berusia 4 tahun. Familiar dengan cerita ini bukan?

Ya. Alasan terbesarku tidak menceritakan ini pada ibuku adalah karena kisah kelam keluarga kami terulang lagi di generasiku. Entah ini semua karma, kutukan, atau apapun namanya. Sesuatu yang seharusnya aku hindari. Yang semua perempuan di muka bumi ini HARUS hindari.

Nyatanya aku tidak bisa menolak pesona pria dewasa, kaya raya, dan berjiwa pemimpin itu. Plus sudah beristri dan mempunyai anak. Aku terpikat pada tutur katanya yang manis yang hanya ditujukan padaku di kantor tempatku bekerja dulu. Aku bahkan hampir menyerahkan keperawananku padanya. Sungguh tragis.

Jika saja aku bertahan saat itu, mungkin aku juga akan dipermalukan di depan orang-orang oleh istri sah Pak Arion. Sesuatu yang sudah kusesali sejak 2 tahun yang lalu. Memikirkannya pun aku bergidik. Kisahnya benar-benar mirip dengan skandal ayahku dan perempuan simpanannya.

Bedanya, ayahku benar-benar tidak menginginkanku dan tidak pernah berupaya menemuiku. Setidaknya itu yang aku tahu. Aku hanya kenal ayahku dari foto berpigura hitam di hari pemakamannya, yang akhirnya dibawa ibuku ke rumah kami di Bogor. Aku pun masih sangat kecil waktu itu sehingga tidak yakin apakah aku mirip dengannya atau tidak. Tapi orang-orang mengatakan aku sangat mirip dengan ibuku. Syukurlah. Namun, ayahku malah mewariskanku salah satu sifat terburuknya. Pengkhianat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab V

    Beberapa minggu pertama perkenalan kami di lingkungan PT. Rich Karya, semuanya berjalan lancar. Semua orang bersikap profesional, walaupun ada pula yang lumayan ketus, tapi masih dalam batas yang wajar. Untungnya aku dan Kenny diberi mentor yang sangat sabar dan kompeten, baik di lingkungan kantor maupun saat turun ke lapangan. Tugas kami memang kebanyakan di lapangan untuk mengawasi proyek-proyek perusahaan yang tengah dikerjakan.Itulah sebabnya aku belum pernah bertemu dengan para petinggi perusahaan ini. Akupun tidak berharap mereka akan menemui kami pegawai magang yang hanya dikontrak 6 bulan, kecuali perusahaan berniat merekrut kami sebagai pegawai tetap. Itu bukan hal yang mustahil, hanya saja kami (terutama aku yang lulusan universitas swasta) belum cukup pengalaman untuk bekerja di perusahaan sebesar ini. Pikirku.Hingga suatu hari datanglah seorang pria tampan yang kurasa berusia akhir 20an atau awal 30an saat kami kebetulan sedang bertugas di kantor. Arion Richie namanya, k

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab IV

    Layaknya seseorang yang baru saja lulus dari universitas, aku mendaftar untuk program magang di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta bernama PT. Rich Karya Industri & Kontraktor. Aku tidak berharap banyak berhubung masuk perusahaan ini adalah impian banyak orang, terutama mahasiswa jurusan teknik di seluruh negeri. Dan ya, dari ratusan orang yang mendaftar, ternyata aku adalah salah satu dari dua orang diterima untuk magang dengan perjanjian kontrak selama 6 bulan. Sebagai lulusan Teknik Lingkungan, aku ditempatkan di departemen HSE (Health, Safety, and Environment). Singkatnya, tugas utama kami adalah memastikan proyek memenuhi regulasi lingkungan, mengelola dampak pembangunan, serta melakukan audit teknis. Membosankan bukan? Tapi tugas kami tidak bisa dianggap remeh, karena keberhasilan sebuah proyek dapat dinilai dari awal perencanaan, pengawasan, hingga tahap audit akhir. Dan tentu saja departemen kami selalu terlibat dalam semua proses ini. Seorang lagi yang lul

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab III

    Namaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku. Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan. Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sang

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab II

    Aku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini.Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja."Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian."Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong ap

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab I

    Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang. Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami. Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu l

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Pengantar & Prolog

    Your Decision Defines Who You Really are...Khilafkah jika menginginkan milik orang lain secara sadar?Khilafkah jika membiarkan diri kita terbuai oleh cinta semu yang tidak akan bisa dimiliki?Khilafkah jika perasaan terlarang dibiarkan berkembang dalam waktu lama?Atau mungkin itu semua hanya godaan nafsu yang tidak ingin kita kendalikan dan malah bersembunyi di belakang kata cinta?Kisahku bermula sebagai seorang sekretaris dan berakhir sebagai penjual bunga. Namun diantaranya ada kisah cinta yang tidak indah dan sulit dijelaskan kata-kata.Mataku tiba-tiba tertuju ke luar pintu kaca tebal itu, pada langit yang malam ini terlihat sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Tanpa kusadari sesuatu yang basah terasa nyata di pelupuk mataku. Lagi-lagi aku harus membuang setidaknya dua tetes air mata mengingat sosok itu. Pria yang kucoba abaikan dan sangat ingin kulupakan, namun jelas saja belum bisa.Aku membenci diriku karena masih mencintainya, tapi aku lebih membenci takdir karena tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status