LOGIN
Your Decision Defines Who You Really are...
Khilafkah jika menginginkan milik orang lain secara sadar? Khilafkah jika membiarkan diri kita terbuai oleh cinta semu yang tidak akan bisa dimiliki? Khilafkah jika perasaan terlarang dibiarkan berkembang dalam waktu lama? Atau mungkin itu semua hanya godaan nafsu yang tidak ingin kita kendalikan dan malah bersembunyi di belakang kata cinta? Kisahku bermula sebagai seorang sekretaris dan berakhir sebagai penjual bunga. Namun diantaranya ada kisah cinta yang tidak indah dan sulit dijelaskan kata-kata. Mataku tiba-tiba tertuju ke luar pintu kaca tebal itu, pada langit yang malam ini terlihat sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Tanpa kusadari sesuatu yang basah terasa nyata di pelupuk mataku. Lagi-lagi aku harus membuang setidaknya dua tetes air mata mengingat sosok itu. Pria yang kucoba abaikan dan sangat ingin kulupakan, namun jelas saja belum bisa. Aku membenci diriku karena masih mencintainya, tapi aku lebih membenci takdir karena tidak mengizinkan kami untuk bersama. Awalnya aku merasa tidak bersalah karena mencintai seorang pria beristri, selama pria itu juga mencintaiku tentunya. Hanya saja belakangan aku disadarkan akan menyakiti hati wanita lain serta hati seorang gadis kecil yang lugu. Bagaimana kalau aku kembali saja ke rumah ibu, lalu hidup sebagai anak kecil lagi seperti dahulu? Gadis manja yang tidak bisa bertahan tanpa ibu di sisinya. Gadis bersemangat yang tidak memerlukan kehadiran seorang ayah sebagai mentornya. Bercerita jujur tentang alasanku mengundurkan diri dari kantor lamaku dan memohon ampun padanya. Akankah aku bisa pulih kembali? Akankah ibu memaafkanku? Aku lelah dengan semua pikiran-pikiran ini. Aku hanya bisa berharap malam ini tidak akan turun hujan. Cukuplah kehidupan percintaanku yang sial, jangan sampai aku harus pulang dalam keadaan basah kuyup. Aku sudah bosan terlihat menyedihkan. Audrey, satu-satunya pegawai paruh waktu yang membantuku tetap waras di toko ini, menyadarkanku dari lamunan seraya pamit untuk pulang duluan. Kucoba menghilangkan jejak tangisan dengan mengusap air di bawah mataku yang ternyata telah mengering. Entah sudah berapa lama aku termenung seperti itu. Sepertinya Audrey tidak pernah menyadari kekonyolanku ini atau setidaknya dia berpura-pura mengabaikannya, secara hampir setiap kali toko sepi pengunjung aku seperti sedang tidak berada di bumi. Itulah yang membuatku merasa nyaman bekerja dengannya. Selain dia kompeten dalam hal pekerjaan (bahkan kurasa dia lebih mencintai toko ini dariku), dia juga tidak suka mencampuri urusan orang lain. Kulihat jam di ponselku yang menunjukkan pukul 19.10 dan menyadari ternyata memang sudah waktunya untuk mengakhiri pekerjaan hari ini. Setelah kulihat Audrey naik ke mobil Jazz merah milik pacarnya, aku bergegas melepas apron yang telah kupakai seharian, mengambil tas jinjingku dan berjalan ke luar. Kulihat kembali sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal sebelum membalik papan yang bertuliskan open di pintu kaca dan menekan saklar lampu yang berada tepat di samping kiri pintu itu. Kututup toko bungaku, toko yang telah menghidupiku selama 2 tahun ini. Walaupun penghasilannya tidak dapat dibandingkan dengan pekerjaan lamaku sebagai budak korporat di perusahaan besar, namun aku merasa pasti akan lebih tenang dan aman di sini. Setidaknya itu yang kuharapkan sampai saat ini. Sambil menghela napas kuusap gagang pintu seraya memeriksa ketiga gembok sudah terkunci dengan sempurna. Namun, segera setelah kuinjakkan kaki di trotoar, kusadari dewi fortuna tidak mengenalku (atau dia benar-benar berusaha menghindar dariku). Hujan turun tiba-tiba dengan begitu derasnya. Aku biasanya pulang dengan berjalan kaki karena gedung apartemen sewaanku hanya berjarak 8 menit dari tempatku mencari nafkah. Akupun memang belum mampu membeli kendaraan dari penghasilanku di "Marigold Florist". Kurasa musim hujan tahun ini sudah mulai tiba di awal November. Dan seperti musim-musim hujan sebelumnya, aku benar-benar menyesal tidak menyisakan sedikit ruang untuk tempat tidurku di dalam toko. Aku lebih memilih menjadikan setiap sudut sebagai tempat chiller dan tentu saja tempat bunga-bunga kesayanganku, walaupun kutahu mereka tidak akan selamanya berada di toko kecil nan sesak ini. Cepat atau lambat mereka harus kuikhlaskan berpindah ke tangan orang lain. Entah itu kepada orang yang benar-benar menyukai bunga atau hanya berpura-pura menyukainya. Aku ingin menunggu hujan setidaknya sedikit reda sebelum aku pulang, namun sepertinya rasa lelah yang mengambil alih tubuh ini. Kupaksakan kakiku melangkah ke arah hujan sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari, namun seketika langkahku terhenti ketika seorang gadis menyodorkanku salah satu payung miliknya ke arahku. Aku mendongak untuk menemui sepasang mata dari sosok gadis manis yang ada di hadapanku. Sambil tersenyum dia meletakkan payung itu di tanganku dan segera melambai pergi dengan cepat sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih. Kurasa aku bahkan belum sempat berkedip karena terpesona dengan kecantikannya. Aku tetap terdiam di bawah guyuran hujan hingga melihat sang gadis menghilang di sudut jalan. Sontak aku terkejut ketika air mulai membasahi kulit kepalaku. Cepat-cepat kubuka payung pemberian sang gadis tadi sambil mengucap terima kasih dalam hati. Mungkin dia seorang pegawai di salah satu gedung tinggi di kawasan ini, tebakku. Tapi jika dipikir lagi, toko bungaku merupakan satu-satunya bangunan kecil di lingkungan ini tapi posisinya yang berada di sudut jalan membuatnya lumayan ramai pengunjung. Pikiranku terbuyarkan ketika melihat mobil itu lagi terparkir di seberang jalan tokoku. Entah mengapa aku yakin itu mobil yang sama yang kulihat hampir setiap malam ketika aku berjalan pulang selama beberapa bulan ini. Mobil berlogo Audi warna hitam pekat dengan kaca yang juga sangat gelap namun entah seri apa karena aku memang tidak begitu mengerti jenis-jenis mobil. Sang pemilik selalu menyalakan lampu jarak jauhnya seingatku, mungkin untuk menghindari seseorang mengenali pelatnya. Apa dia seorang penguntit atau bahkan lebih parah, seorang penculik? Aku bergidik ngeri memikirkan hal itu. Aku berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang kutahu akan menghantuiku setiap pulang dari toko mulai hari ini. Tapi kalau dipikir lagi, sang pemilik mobil tidak pernah sekalipun mengikutiku sampai ke apartemen. Bahkan aku belum pernah melihatnya keluar dari dalam mobil. Mungkin dia hanya sedang menunggu seseorang yang bekerja di gedung depan tokoku. Entahlah. Kulangkahkan kedua kaki lebih cepat dari biasanya. Semakin mendekati gedung apartemenku, hujan malah semakin deras. Sialnya aku jadi tidak bisa singgah membeli makan malam di kedai yang biasa. "Sepertinya aku masih punya beberapa butir telur di kulkas," pikirku. Aku tidak peduli lagi walaupun tadi pagi sarapanku juga telur. Aku hanya ingin tiba di rumah, mandi, lalu tidur. Mungkin makan malam akan kulewatkan saja.Beberapa minggu pertama perkenalan kami di lingkungan PT. Rich Karya, semuanya berjalan lancar. Semua orang bersikap profesional, walaupun ada pula yang lumayan ketus, tapi masih dalam batas yang wajar. Untungnya aku dan Kenny diberi mentor yang sangat sabar dan kompeten, baik di lingkungan kantor maupun saat turun ke lapangan. Tugas kami memang kebanyakan di lapangan untuk mengawasi proyek-proyek perusahaan yang tengah dikerjakan.Itulah sebabnya aku belum pernah bertemu dengan para petinggi perusahaan ini. Akupun tidak berharap mereka akan menemui kami pegawai magang yang hanya dikontrak 6 bulan, kecuali perusahaan berniat merekrut kami sebagai pegawai tetap. Itu bukan hal yang mustahil, hanya saja kami (terutama aku yang lulusan universitas swasta) belum cukup pengalaman untuk bekerja di perusahaan sebesar ini. Pikirku.Hingga suatu hari datanglah seorang pria tampan yang kurasa berusia akhir 20an atau awal 30an saat kami kebetulan sedang bertugas di kantor. Arion Richie namanya, k
Layaknya seseorang yang baru saja lulus dari universitas, aku mendaftar untuk program magang di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta bernama PT. Rich Karya Industri & Kontraktor. Aku tidak berharap banyak berhubung masuk perusahaan ini adalah impian banyak orang, terutama mahasiswa jurusan teknik di seluruh negeri. Dan ya, dari ratusan orang yang mendaftar, ternyata aku adalah salah satu dari dua orang diterima untuk magang dengan perjanjian kontrak selama 6 bulan. Sebagai lulusan Teknik Lingkungan, aku ditempatkan di departemen HSE (Health, Safety, and Environment). Singkatnya, tugas utama kami adalah memastikan proyek memenuhi regulasi lingkungan, mengelola dampak pembangunan, serta melakukan audit teknis. Membosankan bukan? Tapi tugas kami tidak bisa dianggap remeh, karena keberhasilan sebuah proyek dapat dinilai dari awal perencanaan, pengawasan, hingga tahap audit akhir. Dan tentu saja departemen kami selalu terlibat dalam semua proses ini. Seorang lagi yang lul
Namaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku. Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan. Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sang
Aku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini.Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja."Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian."Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong ap
Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang. Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami. Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu l
Your Decision Defines Who You Really are...Khilafkah jika menginginkan milik orang lain secara sadar?Khilafkah jika membiarkan diri kita terbuai oleh cinta semu yang tidak akan bisa dimiliki?Khilafkah jika perasaan terlarang dibiarkan berkembang dalam waktu lama?Atau mungkin itu semua hanya godaan nafsu yang tidak ingin kita kendalikan dan malah bersembunyi di belakang kata cinta?Kisahku bermula sebagai seorang sekretaris dan berakhir sebagai penjual bunga. Namun diantaranya ada kisah cinta yang tidak indah dan sulit dijelaskan kata-kata.Mataku tiba-tiba tertuju ke luar pintu kaca tebal itu, pada langit yang malam ini terlihat sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Tanpa kusadari sesuatu yang basah terasa nyata di pelupuk mataku. Lagi-lagi aku harus membuang setidaknya dua tetes air mata mengingat sosok itu. Pria yang kucoba abaikan dan sangat ingin kulupakan, namun jelas saja belum bisa.Aku membenci diriku karena masih mencintainya, tapi aku lebih membenci takdir karena tida







