Share

Bab I

Author: Alya Tan
last update Last Updated: 2026-02-03 08:03:39

Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang.

Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami.

Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu lobi saat melihatku tiba sambil menyapa, "Selamat malam, mbak Canna. Untung ga kehujanan ya?"

"Malam, Tio. Ada yang kirim malaikat penolong," ucapku sambil tersenyum dan mengangkat payung basahku.

"Wah, mungkin penggemar rahasia tuh, mbak. Hehe".

"Hmm... kok tau sih kamu?" Balasku sambil melangkah pergi.

Aku bergegas memasuki lift yang sudah berpenghuni 2 orang pria paruh baya yang baru pulang kerja; terlihat dari setelan kemeja lusuh dan dasi yang sudah miring. Mereka masing-masing turun di lantai 3 dan 5. Sedangkan unitku berada di lantai 8 dengan pemandangan luar biasa pusat kota. Bunyi "ting" lift diiringi suara pintunya yang terbuka menandakan aku telah tiba. Pintu kedua di sebelah kanan adalah unitku yang lumayan besar untuk ditinggali seorang diri.

Kutekan 6 angka pin di gagang pintu untuk masuk. Setelahnya aku menanggalkan semua pakaian termasuk sepatu dan tas di depan pintu kamar mandi lalu berdiri di bawah shower untuk membilas semua bekas air hujan, lumpur, dan debu yang seharian ini menempeliku.

Kedua tangannya mulai menyentuh rambutku perlahan, kemudian turun ke kedua pipiku sambil mengucapkan kalimat-kalimat termanis yang bisa didengar telinga manusia. Jari-jarinya panjang dan ramping. Tanganya begitu lembut dan hangat sehingga aku tidak takut akan tersakiti. Tatapannya membuatku percaya apapun yang ia ucapkan adalah tulus adanya. Dia tahu bagaimana cara melumpuhkanku, cara mengacak-acak isi pikiranku, bahkan dia tahu jalan masuk kehatiku.

Kudekatkan tubuhku ke arahnya, seolah-olah membutuhkan lebih dari yang dia lakukan saat ini. Mataku terus terpejam sepanjang sentuhannya, takut dia akan menjauh dan menghilang. Kedua tangannya menangkup pipiku dengan erat lalu menciumku dengan begitu lembutnya di awal. Semakin lama semakin dalam kami larut dalam suasana ini, bahkan terdengar suara erangan pelan dari dalam tenggorokannya. Seolah-olah diapun tidak sanggup menjauh dari ciuman ini, setidaknya itu yang kupercayai.

Tangannya mulai berpindah menyusuri setiap sudut tubuhku yang bisa dijangkaunya. Ciuman ini semakin menggila dengan tumbukan bibir dengan bibir, gigi dengan gigi, bahkan lidah kami saling bertautan, menghirup, menjilat, menghisap. Apapun yang tersisa dari diriku dapat dia peroleh dengan mudah. Debaran jantung kami begitu jelas terasa dan terdengar dengan jarak yang begitu dekat ini.

Kakiku mulai lemah bersamaan dengan getaran dan adrenalin yang kami hasilkan. Dia menyadari hal ini sehingga dia meletakkan kedua tangannya di bawah pahaku lalu mengangkat tubuh kecilku ke atas tubuhnya. Kulingkarkan kedua kakiku di sekeliling pinggangnya, kedua tanganku di belakang lehernya agar tidak terjatuh terlebih agar tubuhku bisa semakin dekat padanya.

Aku butuh lebih dekat dari ini sampai-sampai tidak sadar rok spandeks hitamku telah tergulung hingga ke pangkal paha. Dia bisa dengan mudah melihat warna dalamanku hari ini. Aku tidak peduli lagi. Dia bisa menyuruhku terjun ke lantai dasar tanpa parasut yang akan kulakukan dengan patuh asal dia tidak menjauh sedikitpun.

Seperti mengetahui isi kepalaku, dia segera melangkah perlahan ke arah meja kerjanya. Jarak yang seharusnya begitu dekat namun terasa sangat lama untuk kami capai dalam posisi ini. Aku terus menciuminya seolah takkan ada lagi hari esok, kususuri rambut lembutnya dengan salah satu tanganku sambil tangan yang lain tetap mencengkeram kerah di lehernya. Waktu terasa begitu lama sampai akhirnya bokongku menyentuh permukaan kayu yang keras. "Oh, thank God..." batinku dengan lega.

Bibirnya mulai berpindah dengan rakus ke arah leherku. Tangan kanannya gemetar sambil membuka kancing blouse putihku satu per satu dengan tidak sabar. Aku bersyukur dia juga menginginkanku sebanyak aku menginginkannya. Dari semua proses ini aku tidak membiarkan kaitan kakiku melonggar sedikitpun dari tubuhnya. Semoga saja high heelsku tidak menyakiti pinggangnya. Aku tidak ingin dia berubah pikiran lagi dan meninggalkan keadaan menjadi lebih canggung.

Belum sampai pada kancing terakhir, dia dengan tidak sabar mulai menciumi bagian dadaku yang sudah terekspos tepat di hadapannya. Kalau saja aku tahu hari ini akan tiba, aku akan menggunakan pakaian dalam yang lebih menarik dan seksi. Untung saja dia tidak peduli pada bra lama warna pink muda dengan busa tipis yang kupakai hari ini karena dia tidak berkomentar apapun tentang itu. Atau dia hanya terlalu sibuk dengan hormon sehingga menjadi agak rabun. Kita tunggu saja bagaimana reaksinya melihat celana dalam katun polos warna senada yang kukenakan.

Setelah proses mencium, menjilat, bahkan menggigit, dia akhirnya menatap mataku seolah meminta persetujuan untuk adegan selanjutnya. Tanpa berpikir panjang, atau lebih tepatnya hormonku yang berpikir, aku mengangguk sebelum mencium bibirnya sekali lagi dengan brutal. Aku tahu bibirku sudah sepenuhnya pucat setelah dia menjilat seluruh lipstikku. Aku hanya berharap semoga penampilanku tidak begitu menyeramkan di pandangannya.

Dia tiba-tiba melepaskan bibirnya dariku lalu membuka paksa kancing terakhir dari blouseku dengan menariknya kencang. Aku tidak punya waktu memikirkan akan memakai apa setelah ini, aku bahkan tidak peduli kalau keperawananku hilang di atas sebuah meja yang keras dan dingin ini. Andai saja aku bisa memilih... ah, sudahlah. Aku menggeleng membuyarkan impianku yang akan segera sirna.

Sambil menatap dadaku dia terus mengucapkan kalimat-kalimat pujian yang membuatku semakin menggila dan tak sabar dengan sentuhannya. Tangan kanannya menurunkan salah satu tali braku sambil berucap, "Kau begitu cantik dan lembut, Canna," desahnya, "tapi aku tidak pantas memilikimu...."

"Aaahhh!!!" teriakku sambil menjauh dari siraman air _shower_. Seketika sentuhan lembut dan hangat itu berganti menjadi kebakaran di sekujur tubuhku. Tanpa sadar ternyata tanganku memainkan keran air panas sepanjang lamunanku tadi. Aku benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya aku memikirkan pria itu hingga saat ini. Aku harusnya malu pada diriku sendiri dan terutama padanya yang memang tidak pantas kumiliki.

Segera kuselesaikan ritual mandiku yang terpaksa harus kupersingkat karena insiden tadi. Aku tidak akan bisa lagi masuk ke sini tanpa memikirkan sentuhan pria itu, aku bergidik. Setelah mengenakan piyama motif beruangku, aku memanaskan susu yang kukeluarkan dari dalam kulkas sambil memeriksa pesan-pesan di ponsel.

Akhir-akhir ini tidak begitu banyak pesanan karena memang sedang tidak banyak momen khusus yang harus dirayakan dengan bunga. Hanya beberapa klien yang sudah memesan buket beberapa minggu sebelumnya untuk merayakan ulang tahun orang terkasih, maupun kiriman kepada kolega yang sakit.

Baru saja ingin kumatikan, ponselku bergetar tanda ada telpon yang masuk. "Selamat malam." sapaku.

"Malam, Can. Kamu udah di rumah kan? Maaf ya aku nggak bisa jemput kamu tadi soalnya aku sibuk banget di kantor. Ini aja aku masih ada kerjaan yang harus ditinjau buat rapat besok. Kamu kehujanan nggak? Kamu udah makan?" Cerocos Dennis dari seberang telepon.

"Wow wow... pelan-pelan, Den. Kamu bisa kehabisan napas kalau nanyanya sekaligus gitu." kataku sambil tersenyum. "Pertama, aku udah sampe rumah dengan selamat tanpa lecet sedikitpun. Kedua aku udah biasa pulang sendiri jadi kamu nggak perlu jemput. Ketiga, ada orang baik yang kasih aku payungnya. Keempat, aku udah makan camilan tadi di toko sama Audrey. Sekarang lagi minum susu dan dikit lagi mau tidur. Puas?" jawabku.

"Hehe. Bagus deh kalau kamu udah di rumah. Aku cuma khawatir aja. Apalagi sekarang udah masuk musim hujan." katanya terdengar lega. "Ya udah kamu tidur deh. Selamat malam dan selamat tidur ya, Can... Mimpi yang indah, kalau bisa mimpiin aku ya?" lanjutnya dengan nada riang.

"Mending aku mimpiin Lee Min Ho." kataku. "Kamu juga selamat bekerja tapi jangan telat istirahatnya ya, Den."

"Cie... Seneng banget tau diperhatiin kayak gini sama kamu, Can. Aku sanggup lembur tiap hari nih." Ucapnya menggodaku.

"Hmm... jangan mulai deh," ucapku sebal, "udah dulu ya. Bye, Dennis."

"Bye, Canna." Kudengar jawaban sedihnya sebelum menutup telepon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab V

    Beberapa minggu pertama perkenalan kami di lingkungan PT. Rich Karya, semuanya berjalan lancar. Semua orang bersikap profesional, walaupun ada pula yang lumayan ketus, tapi masih dalam batas yang wajar. Untungnya aku dan Kenny diberi mentor yang sangat sabar dan kompeten, baik di lingkungan kantor maupun saat turun ke lapangan. Tugas kami memang kebanyakan di lapangan untuk mengawasi proyek-proyek perusahaan yang tengah dikerjakan.Itulah sebabnya aku belum pernah bertemu dengan para petinggi perusahaan ini. Akupun tidak berharap mereka akan menemui kami pegawai magang yang hanya dikontrak 6 bulan, kecuali perusahaan berniat merekrut kami sebagai pegawai tetap. Itu bukan hal yang mustahil, hanya saja kami (terutama aku yang lulusan universitas swasta) belum cukup pengalaman untuk bekerja di perusahaan sebesar ini. Pikirku.Hingga suatu hari datanglah seorang pria tampan yang kurasa berusia akhir 20an atau awal 30an saat kami kebetulan sedang bertugas di kantor. Arion Richie namanya, k

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab IV

    Layaknya seseorang yang baru saja lulus dari universitas, aku mendaftar untuk program magang di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta bernama PT. Rich Karya Industri & Kontraktor. Aku tidak berharap banyak berhubung masuk perusahaan ini adalah impian banyak orang, terutama mahasiswa jurusan teknik di seluruh negeri. Dan ya, dari ratusan orang yang mendaftar, ternyata aku adalah salah satu dari dua orang diterima untuk magang dengan perjanjian kontrak selama 6 bulan. Sebagai lulusan Teknik Lingkungan, aku ditempatkan di departemen HSE (Health, Safety, and Environment). Singkatnya, tugas utama kami adalah memastikan proyek memenuhi regulasi lingkungan, mengelola dampak pembangunan, serta melakukan audit teknis. Membosankan bukan? Tapi tugas kami tidak bisa dianggap remeh, karena keberhasilan sebuah proyek dapat dinilai dari awal perencanaan, pengawasan, hingga tahap audit akhir. Dan tentu saja departemen kami selalu terlibat dalam semua proses ini. Seorang lagi yang lul

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab III

    Namaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku. Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan. Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sang

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab II

    Aku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini.Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja."Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian."Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong ap

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab I

    Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang. Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami. Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu l

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Pengantar & Prolog

    Your Decision Defines Who You Really are...Khilafkah jika menginginkan milik orang lain secara sadar?Khilafkah jika membiarkan diri kita terbuai oleh cinta semu yang tidak akan bisa dimiliki?Khilafkah jika perasaan terlarang dibiarkan berkembang dalam waktu lama?Atau mungkin itu semua hanya godaan nafsu yang tidak ingin kita kendalikan dan malah bersembunyi di belakang kata cinta?Kisahku bermula sebagai seorang sekretaris dan berakhir sebagai penjual bunga. Namun diantaranya ada kisah cinta yang tidak indah dan sulit dijelaskan kata-kata.Mataku tiba-tiba tertuju ke luar pintu kaca tebal itu, pada langit yang malam ini terlihat sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Tanpa kusadari sesuatu yang basah terasa nyata di pelupuk mataku. Lagi-lagi aku harus membuang setidaknya dua tetes air mata mengingat sosok itu. Pria yang kucoba abaikan dan sangat ingin kulupakan, namun jelas saja belum bisa.Aku membenci diriku karena masih mencintainya, tapi aku lebih membenci takdir karena tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status