登入Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang.
Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami. Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu lobi saat melihatku tiba sambil menyapa, "Selamat malam, mbak Canna. Untung ga kehujanan ya?" "Malam, Tio. Ada yang kirim malaikat penolong," ucapku sambil tersenyum dan mengangkat payung basahku. "Wah, mungkin penggemar rahasia tuh, mbak. Hehe". "Hmm... kok tau sih kamu?" Balasku sambil melangkah pergi. Aku bergegas memasuki lift yang sudah berpenghuni 2 orang pria paruh baya yang baru pulang kerja; terlihat dari setelan kemeja lusuh dan dasi yang sudah miring. Mereka masing-masing turun di lantai 3 dan 5. Sedangkan unitku berada di lantai 8 dengan pemandangan luar biasa pusat kota. Bunyi "ting" lift diiringi suara pintunya yang terbuka menandakan aku telah tiba. Pintu kedua di sebelah kanan adalah unitku yang lumayan besar untuk ditinggali seorang diri. Kutekan 6 angka pin di gagang pintu untuk masuk. Setelahnya aku menanggalkan semua pakaian termasuk sepatu dan tas di depan pintu kamar mandi lalu berdiri di bawah shower untuk membilas semua bekas air hujan, lumpur, dan debu yang seharian ini menempeliku. Kedua tangannya mulai menyentuh rambutku perlahan, kemudian turun ke kedua pipiku sambil mengucapkan kalimat-kalimat termanis yang bisa didengar telinga manusia. Jari-jarinya panjang dan ramping. Tanganya begitu lembut dan hangat sehingga aku tidak takut akan tersakiti. Tatapannya membuatku percaya apapun yang ia ucapkan adalah tulus adanya. Dia tahu bagaimana cara melumpuhkanku, cara mengacak-acak isi pikiranku, bahkan dia tahu jalan masuk kehatiku. Kudekatkan tubuhku ke arahnya, seolah-olah membutuhkan lebih dari yang dia lakukan saat ini. Mataku terus terpejam sepanjang sentuhannya, takut dia akan menjauh dan menghilang. Kedua tangannya menangkup pipiku dengan erat lalu menciumku dengan begitu lembutnya di awal. Semakin lama semakin dalam kami larut dalam suasana ini, bahkan terdengar suara erangan pelan dari dalam tenggorokannya. Seolah-olah diapun tidak sanggup menjauh dari ciuman ini, setidaknya itu yang kupercayai. Tangannya mulai berpindah menyusuri setiap sudut tubuhku yang bisa dijangkaunya. Ciuman ini semakin menggila dengan tumbukan bibir dengan bibir, gigi dengan gigi, bahkan lidah kami saling bertautan, menghirup, menjilat, menghisap. Apapun yang tersisa dari diriku dapat dia peroleh dengan mudah. Debaran jantung kami begitu jelas terasa dan terdengar dengan jarak yang begitu dekat ini. Kakiku mulai lemah bersamaan dengan getaran dan adrenalin yang kami hasilkan. Dia menyadari hal ini sehingga dia meletakkan kedua tangannya di bawah pahaku lalu mengangkat tubuh kecilku ke atas tubuhnya. Kulingkarkan kedua kakiku di sekeliling pinggangnya, kedua tanganku di belakang lehernya agar tidak terjatuh terlebih agar tubuhku bisa semakin dekat padanya. Aku butuh lebih dekat dari ini sampai-sampai tidak sadar rok spandeks hitamku telah tergulung hingga ke pangkal paha. Dia bisa dengan mudah melihat warna dalamanku hari ini. Aku tidak peduli lagi. Dia bisa menyuruhku terjun ke lantai dasar tanpa parasut yang akan kulakukan dengan patuh asal dia tidak menjauh sedikitpun. Seperti mengetahui isi kepalaku, dia segera melangkah perlahan ke arah meja kerjanya. Jarak yang seharusnya begitu dekat namun terasa sangat lama untuk kami capai dalam posisi ini. Aku terus menciuminya seolah takkan ada lagi hari esok, kususuri rambut lembutnya dengan salah satu tanganku sambil tangan yang lain tetap mencengkeram kerah di lehernya. Waktu terasa begitu lama sampai akhirnya bokongku menyentuh permukaan kayu yang keras. "Oh, thank God..." batinku dengan lega. Bibirnya mulai berpindah dengan rakus ke arah leherku. Tangan kanannya gemetar sambil membuka kancing blouse putihku satu per satu dengan tidak sabar. Aku bersyukur dia juga menginginkanku sebanyak aku menginginkannya. Dari semua proses ini aku tidak membiarkan kaitan kakiku melonggar sedikitpun dari tubuhnya. Semoga saja high heelsku tidak menyakiti pinggangnya. Aku tidak ingin dia berubah pikiran lagi dan meninggalkan keadaan menjadi lebih canggung. Belum sampai pada kancing terakhir, dia dengan tidak sabar mulai menciumi bagian dadaku yang sudah terekspos tepat di hadapannya. Kalau saja aku tahu hari ini akan tiba, aku akan menggunakan pakaian dalam yang lebih menarik dan seksi. Untung saja dia tidak peduli pada bra lama warna pink muda dengan busa tipis yang kupakai hari ini karena dia tidak berkomentar apapun tentang itu. Atau dia hanya terlalu sibuk dengan hormon sehingga menjadi agak rabun. Kita tunggu saja bagaimana reaksinya melihat celana dalam katun polos warna senada yang kukenakan. Setelah proses mencium, menjilat, bahkan menggigit, dia akhirnya menatap mataku seolah meminta persetujuan untuk adegan selanjutnya. Tanpa berpikir panjang, atau lebih tepatnya hormonku yang berpikir, aku mengangguk sebelum mencium bibirnya sekali lagi dengan brutal. Aku tahu bibirku sudah sepenuhnya pucat setelah dia menjilat seluruh lipstikku. Aku hanya berharap semoga penampilanku tidak begitu menyeramkan di pandangannya. Dia tiba-tiba melepaskan bibirnya dariku lalu membuka paksa kancing terakhir dari blouseku dengan menariknya kencang. Aku tidak punya waktu memikirkan akan memakai apa setelah ini, aku bahkan tidak peduli kalau keperawananku hilang di atas sebuah meja yang keras dan dingin ini. Andai saja aku bisa memilih... ah, sudahlah. Aku menggeleng membuyarkan impianku yang akan segera sirna. Sambil menatap dadaku dia terus mengucapkan kalimat-kalimat pujian yang membuatku semakin menggila dan tak sabar dengan sentuhannya. Tangan kanannya menurunkan salah satu tali braku sambil berucap, "Kau begitu cantik dan lembut, Canna," desahnya, "tapi aku tidak pantas memilikimu...." "Aaahhh!!!" teriakku sambil menjauh dari siraman air _shower_. Seketika sentuhan lembut dan hangat itu berganti menjadi kebakaran di sekujur tubuhku. Tanpa sadar ternyata tanganku memainkan keran air panas sepanjang lamunanku tadi. Aku benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya aku memikirkan pria itu hingga saat ini. Aku harusnya malu pada diriku sendiri dan terutama padanya yang memang tidak pantas kumiliki. Segera kuselesaikan ritual mandiku yang terpaksa harus kupersingkat karena insiden tadi. Aku tidak akan bisa lagi masuk ke sini tanpa memikirkan sentuhan pria itu, aku bergidik. Setelah mengenakan piyama motif beruangku, aku memanaskan susu yang kukeluarkan dari dalam kulkas sambil memeriksa pesan-pesan di ponsel. Akhir-akhir ini tidak begitu banyak pesanan karena memang sedang tidak banyak momen khusus yang harus dirayakan dengan bunga. Hanya beberapa klien yang sudah memesan buket beberapa minggu sebelumnya untuk merayakan ulang tahun orang terkasih, maupun kiriman kepada kolega yang sakit. Baru saja ingin kumatikan, ponselku bergetar tanda ada telpon yang masuk. "Selamat malam." sapaku. "Malam, Can. Kamu udah di rumah kan? Maaf ya aku nggak bisa jemput kamu tadi soalnya aku sibuk banget di kantor. Ini aja aku masih ada kerjaan yang harus ditinjau buat rapat besok. Kamu kehujanan nggak? Kamu udah makan?" Cerocos Dennis dari seberang telepon. "Wow wow... pelan-pelan, Den. Kamu bisa kehabisan napas kalau nanyanya sekaligus gitu." kataku sambil tersenyum. "Pertama, aku udah sampe rumah dengan selamat tanpa lecet sedikitpun. Kedua aku udah biasa pulang sendiri jadi kamu nggak perlu jemput. Ketiga, ada orang baik yang kasih aku payungnya. Keempat, aku udah makan camilan tadi di toko sama Audrey. Sekarang lagi minum susu dan dikit lagi mau tidur. Puas?" jawabku. "Hehe. Bagus deh kalau kamu udah di rumah. Aku cuma khawatir aja. Apalagi sekarang udah masuk musim hujan." katanya terdengar lega. "Ya udah kamu tidur deh. Selamat malam dan selamat tidur ya, Can... Mimpi yang indah, kalau bisa mimpiin aku ya?" lanjutnya dengan nada riang. "Mending aku mimpiin Lee Min Ho." kataku. "Kamu juga selamat bekerja tapi jangan telat istirahatnya ya, Den." "Cie... Seneng banget tau diperhatiin kayak gini sama kamu, Can. Aku sanggup lembur tiap hari nih." Ucapnya menggodaku. "Hmm... jangan mulai deh," ucapku sebal, "udah dulu ya. Bye, Dennis." "Bye, Canna." Kudengar jawaban sedihnya sebelum menutup telepon.Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan warna keemasan yang hangat. Aku mengerjapkan mata, merasakan beban berat namun nyaman di lenganku. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa aku masih berada dalam dekapan Arion. Aku melirik jam digital di nakas. Pukul delapan pagi. Aku tersentak kecil—aku bangun kesiangan. Biasanya, jam segini aku sudah sibuk membongkar stok bunga mawar di toko bersama Audrey. Namun, rasa panikku bukan karena pekerjaan, melainkan karena satu nama: Bik Mina. Pikiran itu menghantamku seketika. Bagaimana kalau Bik Mina sudah ada di dapur? Bagaimana kalau beliau melihatku keluar dari kamar utama ini bersama Arion? Meskipun Arion sudah bebas secara hukum, sisa-sisa rasa maluku sebagai mantan sekretaris sekaligus kekasih rahasia masih menghantui. Aku menoleh ke samping, menatap wajah Arion yang masih terlelap. Dia tidur dengan posisi yang sangat posesif—kepalanya bersandar di dadaku, tangannya
Malam semakin larut di penthouse, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan. Setelah percakapan panjang yang membongkar semua rahasia dua tahun terakhir, Arion bangkit dari sofa. Ia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membebani pergelangan kakiku yang masih dibalut perban. "Canna, tidurlah. Ini sudah hampir tengah malam," ucapnya lembut. Ia menuntunku menuju kamar utama, kamar yang dulu menjadi tempatku beristirahat saat masih bekerja di sini. "Semuanya masih sama, tidak ada yang aku ubah. Pakaianmu yang dulu kamu tinggalkan, semuanya masih tertata rapi di lemari." Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap ruangan yang terasa asing namun sangat familiar. Aroma room spray lavender yang kusukai masih tercium di sana. "Aku akan tidur di kamar sebelah," lanjut Arion. Ia mengusap kepalaku sebentar, memberikan tatapan yang menenangkan. "Istirahatlah dengan tenang. Tidak ada yang akan mengganggumu." Aku menganggu
Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela penthouse seolah menjadi saksi bisu atas kebenaran yang baru saja tumpah. Aku menyandarkan punggungku di sofa, membiarkan uap dari teh hangat yang baru saja Arion siapkan membelai wajahku. Pergelangan kakiku sudah tidak terlalu nyeri, namun hatiku justru terasa semakin berat setelah mendengar cerita perjuangannya selama aku menghilang. Arion menatapku dalam-dalam, tangannya masih setia berada di dekat kakiku, seolah memastikan aku tidak akan tiba-tiba menghilang kembali menjadi asap. "Kenapa harus dua tahun, Arion?" bisikku. "Kenapa prosesnya begitu lama dan berdarah?" Arion menghela napas panjang, gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan kini terpampang nyata. "Wichita tidak semudah itu melepaskan statusnya sebagai menantu keluarga Richie, Canna. Dia tidak peduli padaku, tapi dia sangat peduli pada kekuasaan. Dan yang paling menyakitkan adalah... dia menggunakan Kimi sebagai senjata." Aku tersentak. "Kimi?" "Dia menunt
Suasana di penthouse itu terasa seperti waktu yang membeku. Setelah mangkuk ramen yang kosong disingkirkan, Arion masih duduk di lantai, bersandar pada sofa tepat di dekat kakiku yang sudah dibalut perban tipis. Keheningan ini tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan tanya yang menumpuk selama hampir dua tahun.Aku menarik napas panjang, menatap pantulan lampu kota dari jendela besar yang menghadap ke jalanan Sudirman. "Bagaimana kamu bisa menemukanku, Arion? Aku sudah melakukan segalanya. Aku mengganti namaku, aku pindah ke Bogor, lalu ke Bandung, dan saat kembali ke Jakarta pun, aku sangat berhati-hati. Bagaimana bisa kamu tahu soal Marigold Florist?"Arion terdiam sejenak. Ia mengambil ponselnya dari saku jas, lalu menunjukkan sebuah foto lama. Itu adalah foto manifes penerbangan palsu yang kubuat saat aku melarikan diri dulu."Awalnya, aku benar-benar kehilangan jejakmu, Canna," Arion memulai dengan suara rendah, seolah mengenang masa-masa tergelapnya. "Aku percaya pada tiket p
Seluruh tenagaku seolah tersedot habis oleh pengakuan Arion. Tubuhku lemas, pikiranku buntu, dan pergelangan kakiku yang berdenyut nyeri membuatku tak punya daya untuk melawan saat Arion tiba-tiba mengangkat tubuhku. Ia menggendongku dengan protektif, seolah-olah aku adalah porselen yang nyaris hancur.Mobil Audi hitam itu mendadak sudah berada di sisi kami, seakan sang sopir memang selalu siap siaga dalam bayang-bayang. Begitu pintu terbuka, Arion membawaku masuk ke kursi belakang yang luas. Namun, ia tidak mendudukkanku di kursi sebelah. Ia justru mendudukkanku di pangkuannya, merangkul pinggangku dengan tangan yang gemetar halus, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku sejenak. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu dan detak jantungnya yang berpacu liar di dadaku."Arion, turunkan aku... aku bisa duduk sendiri," bisikku, mencoba mendorong bahunya yang kokoh."Diamlah, Canna. Sebentar saja. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar di sini," suaranya serak, penuh dengan ketakutan
Satu setengah tahun menjalankan Marigold Florist telah mengubahku menjadi wanita yang tangguh. Aku sudah terbiasa dengan ritme Jakarta, bau tanah basah di pagi hari, dan peluh yang bercucuran saat merangkai dekorasi besar. Bagiku, toko ini adalah benteng pertahanan yang suci, tempat di mana nama "Canna Jolene" yang terluka telah terkubur dan digantikan oleh "Nara", sang perangkai bunga.Pagi itu, seorang pria dengan kemeja rapi masuk ke toko. Wajahnya asing, namun sikapnya sangat sopan. Ia memesan sebuah buket sebagai ungkapan permintaan maaf."Pria ini lagi, Kak," bisik Audrey saat aku mulai mengambil beberapa tangkai Tulip putih. "Dia datang setiap bulan, lho. Tapi biasanya Kakak lagi di gudang atau kirim pesanan, jadi aku yang terima."Aku tidak terlalu memikirkannya. Bagiku, dia hanyalah pelanggan setia lainnya. Aku merangkai buket itu dengan penuh perasaan—Tulip putih yang melambangkan kerendahan hati, baby's breath untuk ketulusan, dan dedaunan ruscus agar terlihat segar. Aku me
Malam di apartemen Poppy selalu terasa lebih hangat saat aroma bawang putih yang ditumis mulai memenuhi dapur minimalis ini. Di atas konter marmer, ponselku bersandar pada tumpukan buku resep, menampilkan wajah Poppy yang tampak sedikit mengantuk namun tetap antusias dengan latar belakang kamar asr
Malam Jakarta yang lembap terasa semakin berat saat mobil sedan perak milik Denis berhenti tepat di depan lobi apartemen. Cahaya lampu lobi yang putih kebiruan memantul di kaca depan, menciptakan sekat antara kebisingan jalan raya di luar dan keheningan yang tiba-tiba menyergap di dalam kabin mobil
Dinding kaca Audi hitam ini adalah penjara sekaligus suaka bagiku. Di balik lapisan film yang gelap pekat, aku bisa melihat duniaku yang sebenarnya—sebuah toko mungil dengan lampu kuning hangat bernama Marigold Florist. Dan di sana, di balik etalase kaca itu, ada Canna. Setiap malam, selama berbul
Kehadiran Denis dalam hidupku pasca perjumpaan tak terengaja itu membawa warna yang berbeda. Pria itu sungguh menepati janjinya; ia tidak membocorkan keberadaanku pada orang-orang kantor, namun ia menjadi pengunjung paling setia di Marigold Florist. Hampir setiap kali ia pulang lebih awal atau hany







