Share

Bab IV

Author: Alya Tan
last update Last Updated: 2026-02-09 01:27:42

Layaknya seseorang yang baru saja lulus dari universitas, aku mendaftar untuk program magang di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta bernama PT. Rich Karya Industri & Kontraktor. Aku tidak berharap banyak berhubung masuk perusahaan ini adalah impian banyak orang, terutama mahasiswa jurusan teknik di seluruh negeri. Dan ya, dari ratusan orang yang mendaftar, ternyata aku adalah salah satu dari dua orang diterima untuk magang dengan perjanjian kontrak selama 6 bulan.

Sebagai lulusan Teknik Lingkungan, aku ditempatkan di departemen HSE (Health, Safety, and Environment). Singkatnya, tugas utama kami adalah memastikan proyek memenuhi regulasi lingkungan, mengelola dampak pembangunan, serta melakukan audit teknis. Membosankan bukan? Tapi tugas kami tidak bisa dianggap remeh, karena keberhasilan sebuah proyek dapat dinilai dari awal perencanaan, pengawasan, hingga tahap audit akhir. Dan tentu saja departemen kami selalu terlibat dalam semua proses ini.

Seorang lagi yang lulus program magang yang sama denganku adalah seorang pria lulusan Teknik Sipil dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Jakarta. Namanya Kenny Julian. Tentu saja dia ditempatkan di departemen Teknik yang lebih"fancy" dan timnya sangat bangga bisa memiliki anak didik dari lulusan terbaik negeri ini.

Walau kelihatan angkuh, sebenarnya Kenny adalah pria yang lumayan mudah didekati dan diajak berdiskusi. Mungkin karena dia dasarnya orang yang cerdas secara IQ dan EQ.

"Hai, kenalin aku Canna. Anak magang baru juga." Sapaku lebih dulu saat hari pertama kami bekerja.

"Oh, hai. Aku Kenny. Salam kenal." Balasnya ramah. "Lucu, ya." Tambahnya sambil tersenyum mencurigakan.

"Apanya yang lucu?" Aku benar-benar bingung.

"Nama kita mirip lho. Kenny and Canna against the world." Katanya masih sambil tersenyum. Kedua jari telunjuknya bergantian menunjuk ke arah kami masing-masing.

"Hahaha. Bener juga." Tawaku akhirnya pecah setelah mengerti joke rekan baruku ini.

Sejak saat itu kami benar-benar tak terpisahkan di kantor. Walau berbeda departemen, tapi Kenny selalu mencari cara agar kami bisa bertemu. Entah dia mengajakku pergi mencari makan siang, atau malah menawarkan diri mengantarku pulang dengan mobilnya. Kebiasaan ini terbawa sebelum akhirnya suatu peristiwa membuat Kenny kecewa padaku dan mulai menjauh.

***

Aku tidak ingat sudah berjalan berapa lama. Untungnya aku cukup sadar untuk menyusuri lorong-lorong yang aku kenal saja agar tidak tersesat. Kuharap Audrey tidak khawatir menungguku. Pasti dia sudah kelaparan.

Kulihat jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 12.42. Sedikit lagi waktu jam makan siang berakhir sedangkan aku belum membeli apapun. Tempat makan yang ingin dipesan Audrey juga selalu ramai dengan antrean panjang. Apa aku ke tempat lain saja?

Setelah menimbang beberapa detik, kuputuskan untuk tetap ke warung ayam geprek favorit Audrey. Warung itu sebenarnya hanya berjarak 4 menit dari toko bungaku. Tapi aku bisa beralasan antrean sedang panjang padanya kelak jika dia bertanya. Toh Audrey tidak akan banyak kepo seperti biasanya. Jadilah aku berbalik arah.

Tak lama berjalan aku akhirnya tiba di warung yang ternyata sudah sepi. Hanya sisa beberapa orang yang makan di tempat. Para pelanggan sudah selesai makan atau membungkus makanan berhubung jam makan siang sudah hampir usai. Aku tersenyum sambil bersyukur dalam hati.

Segera aku menuju ke kasir dan memesan, "Permisi. Mau bungkus nasi ayam gepreknya dua ya, bu. Satu paha satu dada tapi sambelnya dipisah. Hmm... Es jeruknya dua sekalian, ya."

"Tunggu bentar ya, mbak." Jawab si ibu penjaga kasir warung.

Aku duduk di salah satu kursi kosong dekat meja kasir sambil merenung. Apa yang sebenarnya kukhawatirkan? Bukankah tidak masalah jika orang dengan nama yang sama memesan bunga di tokoku? Kalaupun orang itu adalah Pak Arion yang aku kenal, memangnya kenapa? Selama kami tidak bertemu kembali, kurasa hatiku akan baik-baik saja. Benar bukan?

Renunganku berlanjut. Tapi kalau buket itu benar-benar pesanan Pak Arion, ditujukan buat siapa? Apa dia dan istrinya sedang bertengkar? Kalau iya, gara-gara apa? Apa pernikahan mereka sedang diambang perpisahan? Pikiranku benar-benar melantur sekarang. Kenapa aku malah berdebar-debar memikirkan keretakan rumah tangga orang lain?

Si ibu kasir sepertinya sudah beberapa kali memanggilku namun tak sengaja kuabaikan karena aku begitu tersesat dalam lamunanku.

"Mbak, pesanannya sudah jadi." Sang kasir malah menghampiri tempatku duduk.

"Oh iya, bu. Maaf. Berapa semuanya?" Ucapku tergagap.

"Totalnya 60 ribu, mbak." Jawabnya sambil berjalan kembali ke meja kasir.

Kuserahkan uang kertas 50 ribu dan 20 ribu, "Kembaliannya ngga usah, bu. Makasih." Ucapku langsung buru-buru pergi dalam keadaan malu sekaligus merasa bersalah atas kejadian tadi.

Perjalanan pulang tentu akan mulus-mulus saja, pikirku. Terutama jalan yang kulalui adalah jalan utama yang langsung mengarah ke tokoku, tanpa melalui lorong kecil lagi. Aku mempercepat langkah seraya menyusun alasan yang akan kulontarkan pada saat bertemu Audrey nanti.

Sampai akhirnya, mobil itu lagi. Aku yakin itu mobil Audi yang sama yang selalu terparkir di dekat toko bungaku tiap aku pulang kerja. Kali ini lampunya tidak menyala berhubung masih di siang bolong. Tapi aku tetap tidak dapat melihat ke dalam karena kaca mobil yang gelap. Hanya saja dapat kulihat dengan jelas pelatnya bertuliskan AR 1 CH.

Deg. Apakah itu dia? Orang yang selalu menghantui tidur malamku? Orang yang susah payah kulupakan selama 2 tahun ini? Orang yang ingin kuhindari di sisa akhir hidupku? Tidak mungkin. Tapi pelat ini sangat mirip dengan inisial namanya. Tidak mungkin ini kebetulan lainnya.

Seorang Arion Richie yang kukenal tidak mungkin mengikutiku sampai menguntit keseharianku, bukan? Tapi kalau dipikir lagi, aku sebenarnya tidak begitu mengenalnya. Kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan berciuman atau bermesraan saat ada waktu berdua. Bukan bercerita tentang masalah pribadi masing-masing. Berdiskusi pun paling mengenai pekerjaan.

Aku juga tidak ingin mendengar kisah rumah tangganya, walaupun kadang-kadang dia menawarkan diri untuk menjawab apa saja pertanyaan dariku. Hanya saja aku terlalu cemburu dan terlalu malu untuk mengakuinya. Aku tidak ingin dianggap berlebihan dalam menjalin hubungan kasual itu, padahal sudah jelas aku hanya sementara baginya.

Tanpa sadar aku mematung di jalanan sambil menatap pelat mobil, hingga seseorang turun dari kursi pengemudi. Si pria pelanggan bulanan kami. Ternyata pria itu kebetulan hanya memiliki nama yang sama. Aku bersyukur dan baru saja berniat tersenyum padanya, sampai si pria yang kuanggap bernama Arion bergerak ke pintu belakang dan membukanya. Mencoba menyuruhku masuk ke dalam mobil.

"Pak Arion ingin bertemu dengan Anda." Ucap pria itu santai. SUPIR SIALAN.

Aku punya dua pilihan, tapi sebelum sempat berpikir kuputuskan untuk kabur kembali ke tokoku. Itu tindakan paling pengecut yang pernah kulakukan, selain mengundurkan diri sebagai sekretaris Arion Richie 2 tahun yang lalu hanya melalui e-mail. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku tidak ingin mengulang nostalgia yang dulu lagi. Aku hanya ingin melanjutkan hidupku tanpa drama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab V

    Beberapa minggu pertama perkenalan kami di lingkungan PT. Rich Karya, semuanya berjalan lancar. Semua orang bersikap profesional, walaupun ada pula yang lumayan ketus, tapi masih dalam batas yang wajar. Untungnya aku dan Kenny diberi mentor yang sangat sabar dan kompeten, baik di lingkungan kantor maupun saat turun ke lapangan. Tugas kami memang kebanyakan di lapangan untuk mengawasi proyek-proyek perusahaan yang tengah dikerjakan.Itulah sebabnya aku belum pernah bertemu dengan para petinggi perusahaan ini. Akupun tidak berharap mereka akan menemui kami pegawai magang yang hanya dikontrak 6 bulan, kecuali perusahaan berniat merekrut kami sebagai pegawai tetap. Itu bukan hal yang mustahil, hanya saja kami (terutama aku yang lulusan universitas swasta) belum cukup pengalaman untuk bekerja di perusahaan sebesar ini. Pikirku.Hingga suatu hari datanglah seorang pria tampan yang kurasa berusia akhir 20an atau awal 30an saat kami kebetulan sedang bertugas di kantor. Arion Richie namanya, k

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab IV

    Layaknya seseorang yang baru saja lulus dari universitas, aku mendaftar untuk program magang di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Jakarta bernama PT. Rich Karya Industri & Kontraktor. Aku tidak berharap banyak berhubung masuk perusahaan ini adalah impian banyak orang, terutama mahasiswa jurusan teknik di seluruh negeri. Dan ya, dari ratusan orang yang mendaftar, ternyata aku adalah salah satu dari dua orang diterima untuk magang dengan perjanjian kontrak selama 6 bulan. Sebagai lulusan Teknik Lingkungan, aku ditempatkan di departemen HSE (Health, Safety, and Environment). Singkatnya, tugas utama kami adalah memastikan proyek memenuhi regulasi lingkungan, mengelola dampak pembangunan, serta melakukan audit teknis. Membosankan bukan? Tapi tugas kami tidak bisa dianggap remeh, karena keberhasilan sebuah proyek dapat dinilai dari awal perencanaan, pengawasan, hingga tahap audit akhir. Dan tentu saja departemen kami selalu terlibat dalam semua proses ini. Seorang lagi yang lul

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab III

    Namaku Canna Jolene. Nama yang diberikan ibuku sejak lahir. Nama yang dulunya kusukai karena sangat unik dan langka, namun belakangan menjadi batu sandungan dalam kehidupan percintaanku. Tetapi sekarang belum waktunya untuk kuceritakan arti nama tengahku. Canna (dibaca "Kana") diambil dari nama bunga kesukaan ibuku. Beliau dulunya adalah seorang guru TK di salah satu sekolah swasta di Bogor, dan di kota kelahiranku itu beliau menanam berbagai bunga di halaman rumah kami. Salah satunya bunga Canna, yang sebagian orang menganggapnya sejenis dengan bunga lili tapi sebenarnya beda spesies. Bunga ini mudah tumbuh di iklim manapun, bahkan di wilayah tropis seperti Indonesia. Itu juga salah satu alasan ibu memberiku nama itu. Agar mudah beradaptasi dimanapun katanya. Dan tentu saja, minim perawatan. Kenapa tak ada nama belakang? Karena ayahku meninggalkan kami saat aku masih dalam kandungan. Orang tuaku tidak pernah memiliki foto pernikahan maupun akta cerai. Mereka menikah saat masih sang

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab II

    Aku selalu suka hari baru. Setidaknya sehari lagi terlewati dalam proses melupakan pria itu. Orang bijak mengatakan, "Waktu akan sembuhkan luka", benar bukan? Aku sedang menunggu waktu itu tiba.Aku sampai di toko lebih awal pagi ini. Rasanya menyenangkan bisa tidur lebih awal dan nyenyak tanpa terbangun dalam keadaan menangis. Hal yang sangat jarang terjadi dalam kurun waktu 2 tahun ini.Kusiapkan semua peralatan untuk merangkai dan membungkus bunga. Kuperiksa semua chiller untuk memastikan tidak ada bunga yang rusak dan layu. Bunga-bunga di sini lebih banyak yang impor dibanding lokal, berhubung iklim di sini memang kurang cocok untuk berkebun bunga. Apalagi tanah di daerah ini sudah tidak tersisa, habis untuk gedung dan perumahan saja."Pagi, mbak Can... Mbak udah dari tadi? Semalam gak kehujanan kan?" sapa Audrey yang tiba 20 menit kemudian."Pagi jg, Drey. Baru kok." Jawabku. "Tau nggak sih, Drey, semalam ada cewek baik banget ngasih payungnya ke aku. Tapi dianya nggak ngomong ap

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Bab I

    Tak terasa aku telah sampai di depan gedung apartemenku. Tempat dengan harga sewa terendah yang bisa kudapatkan di daerah yang dikelilingi pemukiman dan gedung perkantoran mewah. Unit ini merupakan milik temanku, Poppy, yang sedang kuliah magister jurusan Kimia Terapan di Jepang. Dia sengaja memberiku harga rendah sebagai imbalan untuk menjaga rumahnya tetap bersih dan tidak rubuh katanya. Tapi aku tahu dia hanya selalu berbaik hati padaku karena setiap pulang liburanpun dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dibanding di sini. Entah akan jadi apa dia setelah lulus beberapa bulan lagi. Dia gadis yang sangat bersemangat namun paling tulus bagiku. Tiba-tiba aku merindukan masa-masa awal kuliah kami. Aku menutup payung kuning penyelamatku setelah kupastikan telah berdiri di bawah naungan langit-langit drop off apartemen. Baru kusadari ternyata sepatu pump warna beige yang kupakai telah sepenuhnya basah. Tio, sekuriti sekaligus juru parkir berusia awal 20-an, membukakan pintu l

  • GOLDILOVE (Catatan Seorang Pelakor)   Pengantar & Prolog

    Your Decision Defines Who You Really are...Khilafkah jika menginginkan milik orang lain secara sadar?Khilafkah jika membiarkan diri kita terbuai oleh cinta semu yang tidak akan bisa dimiliki?Khilafkah jika perasaan terlarang dibiarkan berkembang dalam waktu lama?Atau mungkin itu semua hanya godaan nafsu yang tidak ingin kita kendalikan dan malah bersembunyi di belakang kata cinta?Kisahku bermula sebagai seorang sekretaris dan berakhir sebagai penjual bunga. Namun diantaranya ada kisah cinta yang tidak indah dan sulit dijelaskan kata-kata.Mataku tiba-tiba tertuju ke luar pintu kaca tebal itu, pada langit yang malam ini terlihat sangat gelap. Lebih gelap dari biasanya. Tanpa kusadari sesuatu yang basah terasa nyata di pelupuk mataku. Lagi-lagi aku harus membuang setidaknya dua tetes air mata mengingat sosok itu. Pria yang kucoba abaikan dan sangat ingin kulupakan, namun jelas saja belum bisa.Aku membenci diriku karena masih mencintainya, tapi aku lebih membenci takdir karena tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status