แชร์

Rasa Ingin Tahu

ผู้เขียน: NisfiDA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-10 12:32:50

"Kamu sudah selesai?" tanya Bi Ina saat melihat Aluna sedang menyusun peralatan di ruang alat.

Aluna menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada Bi Ina.

"Ternyata kerjamu cepat juga, ya," puji Bi Ina.

Aluna hanya tersenyum malu. Sebenarnya, itu sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari.

Namun, ada satu hal yang membuat Aluna penasaran. Akhirnya, dia memberanikan diri untuk bertanya kepada Bi Ina.

Aluna mengambil buku kecilnya dan mulai menulis.

"Bi, apa Tuan orangnya pelupa?"

Setelah selesai menulis, dia menunjukkan buku itu kepada Bi Ina. Bi Ina pun mulai membacanya.

Bi Ina sedikit mengernyit saat membaca tulisan Aluna. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan penuh tanda tanya.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Bi Ina.

Aluna segera mengambil kembali buku kecilnya. Dengan cepat dia menulis sesuatu, lalu kembali menunjukkannya kepada Bi Ina.

"Tadi Tuan menanyakan sesuatu yang sudah dia tanyakan sebelumnya."

Bi Ina membaca tulisan itu dengan saksama. Setelah itu, dia menghela napas pelan.

"Oh, jadi itu," gumamnya.

Aluna menatap Bi Ina dengan rasa penasaran yang semakin besar. Ia berharap wanita paruh baya itu akan menjelaskan sesuatu kepadanya.

Bi Ina kemudian tersenyum tipis. "Bukan pelupa," jawabnya pelan.

Aluna terlihat semakin bingung. Dia kembali menulis di buku kecilnya.

"Lalu kenapa Tuan bertanya dua kali?"

Bi Ina terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan jawaban yang tepat. Ia lalu menatap Aluna dengan lembut.

"Mungkin Tuan hanya ingin memastikan saja," ujar Bi Ina.

Aluna membaca jawaban itu dengan raut wajah yang masih penuh tanda tanya. Namun, dia tidak bertanya lagi.

Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu menyimpan kembali buku kecilnya.

Bi Ina menepuk bahu Aluna dengan lembut. "Sudahlah, sekarang kamu istirahat dulu. Pekerjaanmu hari ini sudah cukup banyak," katanya.

Aluna tersenyum kecil dan kembali menganggukkan kepalanya.

Ada satu hal lagi yang masih membuat Aluna penasaran. Sebelum Bi Ina benar-benar pergi, Aluna menarik lengannya dengan lembut. Hal itu membuat wanita paruh baya itu berhenti dan membalikkan badannya.

"Ada apa?" tanya Bi Ina.

Aluna langsung menulis kembali di buku kecilnya.

"Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, Bi."

Bi Ina mengernyitkan keningnya, lalu kembali bertanya, "Apa itu?"

Aluna kembali menulis.

"Aku mendengar dari agen bahwa Tuan adalah seorang pria hiper. Apakah itu benar, Bi?"

Bi Ina langsung terdiam saat membaca tulisan itu. Matanya sedikit membesar, lalu ia menatap Aluna dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

"Kamu dengar itu dari agen?" tanya Bi Ina dengan nada sedikit terkejut.

Aluna menganggukkan kepalanya pelan.

Bi Ina menghela napas panjang, lalu menatap ke arah lorong rumah yang sepi, seolah memastikan tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka.

"Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu," ujar Bi Ina akhirnya.

Aluna terlihat semakin penasaran. Dia kembali menulis di buku kecilnya dengan cepat.

"Lalu... itu tidak benar?"

Bi Ina terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Yang penting, kamu lakukan saja pekerjaanmu dengan baik," jawabnya lembut. "Tuan sebenarnya bukan orang yang buruk."

Aluna membaca tulisan itu dengan perasaan yang masih dipenuhi tanda tanya.

Namun, dia tidak bertanya lagi. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.

Bi Ina kemudian menepuk bahu Aluna dengan lembut sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.

Sementara itu, Aluna masih berdiri di tempatnya, memandangi buku kecil yang ada di tangannya.

Rasa ingin tahunya justru semakin besar.

**

Saat hari berganti malam, Aluna sudah selesai membantu para pelayan lain menyiapkan makan malam.

Ia berdiri di dekat meja makan yang panjang dan mewah itu, memastikan semuanya telah tertata dengan rapi. Piring-piring porselen, gelas kristal, serta sendok dan garpu perak tersusun dengan sempurna.

Aluna menatap semua itu sejenak. Rumah ini benar-benar berbeda dari tempat-tempat yang pernah ia tinggali sebelumnya.

Langkah kaki seseorang tiba-tiba terdengar dari arah dapur.

"Aluna, semuanya sudah siap?" tanya Bi Ina yang baru saja keluar dari dapur.

Aluna menganggukkan kepalanya pelan.

Bi Ina melihat ke arah meja makan dan mengangguk puas. "Bagus. Sebentar lagi Tuan akan turun."

Mendengar itu, Aluna langsung menegakkan tubuhnya. Tanpa sadar, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.

Ini mungkin pertama kalinya dia akan melihat Tuan dari dekat.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga besar di ruang tengah.

Semua pelayan yang ada di sana langsung berdiri lebih tegak.

Aluna pun ikut menoleh ke arah tangga.

Seseorang mulai menuruni tangga itu dengan langkah tenang dan berwibawa.

Aluna menatap sosok itu tanpa berkedip.

Pria itu... pasti Tuan rumah ini.

Bi Ina sedikit mendekat ke arah Aluna, lalu membisikkan sesuatu.

"Kamu tidak boleh pergi sebelum Tuan selesai makan," bisik Bi Ina kepada Aluna.

Aluna menoleh dan menatap Bi Ina sejenak, lalu menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda mengerti.

Tak lama kemudian, langkah kaki dari arah tangga terdengar semakin jelas. Semua pelayan yang berada di ruang makan langsung berdiri dengan lebih rapi.

Suasana yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi sedikit tegang.

Aluna ikut menundukkan kepalanya, meskipun rasa penasarannya membuatnya ingin sekali melihat wajah Tuan rumah itu.

Beberapa detik kemudian, sosok pria itu akhirnya sampai di ruang makan.

Tanpa sadar, Aluna sedikit mengangkat pandangannya.

Ia ingin tahu seperti apa pria yang menjadi majikan di rumah besar ini.

Arsen muncul di ruang makan. Serentak semua pelayan menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat.

"Selamat malam, Tuan," ucap para pelayan hampir bersamaan.

Arsen hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai balasan. Langkahnya tenang saat berjalan menuju kursi utama di meja makan yang panjang itu.

Suasana ruang makan mendadak menjadi hening.

Aluna ikut menundukkan kepalanya seperti pelayan lainnya. Namun, rasa penasarannya membuatnya sedikit mengangkat pandangan.

Dari tempatnya berdiri, dia akhirnya bisa melihat wajah Tuan rumah itu dengan jelas.

Pria itu terlihat tinggi dengan aura yang tegas. Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya tampak dingin dan sulit ditebak.

Aluna segera menundukkan kembali kepalanya, takut jika ketahuan sedang memperhatikan Tuannya terlalu lama.

Sementara itu, Arsen sudah duduk di kursinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Sebuah Keinginan

    "Sayang."Aluna yang sedang duduk di sofa langsung membelalakkan matanya.Tatapannya beralih kepada Arsen.Panggilan itu begitu asing di telinganya.Arsen sendiri terlihat tenang, seolah tidak menyadari bahwa satu kata sederhana tadi berhasil membuat Aluna terkejut.Aluna perlahan mengangkat kedua tangannya."Kenapa?" tanyanya dengan bahasa isyarat.Arsen mengernyitkan dahi."Apa?"Aluna mengulangi gerakannya, lalu menunjuk dirinya sendiri."Sayang?"Arsen akhirnya memahami maksudnya."Oh… kamu mempertanyakan panggilanku tadi?"Aluna langsung mengangguk.Arsen tersenyum tipis."Memangnya kenapa?"Aluna kembali menggerakkan tangannya."Kamu tidak pernah memanggilku seperti itu.""Aku tahu.""Lalu kenapa sekarang?"Arsen mendekat beberapa langkah."Karena aku ingin mulai membiasakan diri."Aluna menatapnya bingung."Membiasakan diri dengan apa?" tanya Arsen sambil tersenyum kecil.Aluna menggelengkan kepalanya.Arsen terkekeh pelan."Baiklah, aku akan menjelaskannya."Ia kemudian duduk

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Perubahan Drastis

    "Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Luka yang Tersisa

    "Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Hidup yang Berubah

    "Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Hidup Sedikit Tenang

    "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Amarah

    "Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Murka

    "Aluna, kamu di sini?" ucap Rena saat akhirnya menemukan Aluna di taman belakang, napasnya terdengar sedikit terengah. Aluna langsung menoleh saat mendengar suara Rena. Matanya sedikit melebar karena terkejut. Belum sempat ia mengambil buku kecilnya, Rena sudah lebih dulu menarik tangannya. "Ayo

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Pelayan Pribadi

    "Bi, ada apa?" tulis Aluna di buku kecilnya, lalu menunjukkannya saat melihat Bi Ina berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah bingung. Bi Ina tampak sangat gelisah. Ia tidak tahu bagaimana harus menyampaikan kabar itu kepada Aluna. Beberapa detik ia hanya terdiam, membuat Aluna semakin pena

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Mencoba Melindungi

    "Ada apa, Bi?" tanya pelayan lain dengan nada penasaran saat melihat Bi Ina keluar dari kamar Aluna. Wajahnya terlihat bingung, menunggu penjelasan. Bi Ina menghela napas panjang, menundukkan kepala sejenak. Ekspresinya menunjukkan rasa tidak percaya sekaligus prihatin. "Tuan baru saja memperlaku

  • Gadis Bisu Kesayangan Majikan Hyper   Ketakutan

    "Kemarilah," ucap Arsen kepada Aluna. Aluna mengangguk. Langkahnya begitu gemetar. Ada rasa takut yang jelas dirasakannya dalam diri. Arsen berdiri di depan jendela kamarnya. Sesekali ia menoleh, menatap Aluna dengan tatapan tajam. "Taruh nampan itu di meja," ucapnya singkat. Aluna menganggukka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status