เข้าสู่ระบบBaru beberapa langkah Eden meninggalkan kamar, ia kembali lagi ke dalam kamar Lintang, membuat wanita yang hampir saja terpejam seketika kembali tegak duduk
Matanya menyiratkan kebingungan yang kentara. Tubuhnya waspada dan siaga. Eden berdiri di ambang pintu, menatap Lintang yang linglung. Entah mengapa, melihat wajah polos Lintang membuat Eden bersemangat. ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, namun saat melihat wanita itu ia menyukainya. Namun Eden berusaha mengenyahkan rasa itu dari hatinya. Ia tak akan membiarkan seseorang datang kedalam hidupnya dan mengacaukannya. Kakinya maju satu langkah, namun kemudian ia memutar tubuh dan membanting pintu dengan kuat. Eden meninggalkan Lintang yang menatap kepergiannya dengan kebingungan. Kakinya melangkah panjang menuju kamarnya sendiri. Alis Lintang terangkat dan dahinya berkerut, jari kecilnya menggaruk pipi yang tak gatal. “Ada apa dengan monster itu?” tanyanya pada keheningan ruangan. Ia mengangkat bahu singkat, lalu kembali meringkuk dalam balutan selimut hangat dan terpejam. Sementara itu, di kamarnya, Eden mengumpat kasar sambil mengacak-acak rambutnya karena frustrasi. Entah ada apa dengan dirinya hari ini yang mendadak aneh. “Sial, bisa-bisanya aku melakukan hal bodoh itu.” Eden meraup wajahnya yang terasa panas. Ia merasa malu karena bertingkah konyol di depan Lintang seperti tadi. Namun, ingatan wajah Lintang yang menatapnya tanpa kedip membuat sesuatu dalam dirinya bangkit dalam sekejap. Apalagi saat bibir wanita itu sedikit terbuka benar-benar seperti gadis polos yang bodoh. Ia memilih pergi karena tak mau Lintang melihat sesuatu yang memalukan darinya, atau mungkin wanita itu akan ketakutan setengah mati jika melihat batang penisnya yang menggembung karena ereksi. Eden memasuki kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kepalanya mendongak ke atas, membiarkan tetesan air membasahi wajahnya, sedangkan tangannya mengelus dan memainkan batang kemaluan yang tegak menjulang. Nafasnya memberat. Air dingin tak mampu menyurutkan gairah justru terasa semakin panas dan membara saat bayangan Lintang terus berputar di kepalanya. “Ahh, Lintang!” Eden semakin mempercepat gerakan tangannya. Bibirnya tak henti mengeluarkan suara desahan yang menggema di kamar mandi itu. Rasa saat dijepit begitu kuat, rasa hangat dan licin sangat ingin kembali ia rasakan. Bagaimana dengan kuatnya ia menghentak Lintang hingga gadis itu terkapar tak berdaya. Rasa saat ia mencapai puncak dan memaksa lintang menelannya. Membuatnya kian panas. “Sshh, Lintang, lebih cepat!” Entah apa yang akan wanita itu pikirkan jika mengetahui namanya dijadikan fantasi oleh monster yang menahannya. “Yeah, kulum milikku dengan cepat!” Kepala Eden terasa pening dan berdenyut. Sesuatu terasa berkumpul di ujung kepala penis, namun tak kunjung keluar, membuatnya kesal. Tangannya bergerak semakin cepat dan kasar. Bayangan Lintang berputar semakin kuat, menggodanya untuk naik ke atas ranjang. Tubuh seputih susu, kulit selembut bayi, wajah polos, dan aroma mawar yang terus menguar membuat Eden semakin gila. membayangkan wanita itu menghisap miliknya membuatnya semakin tak tahan, darahnya mendidih seperti di rebus, hawa tubuhnya memanas dibawah dinginnya air. “Fuck, ahh Lintang!” Eden menggigit bibir kuat hingga rasa asin memenuhi mulutnya. Sesuatu yang ia tunggu-tunggu akhirnya keluar, menyembur kuat ke tembok yang basah, kemudian luruh bersama air yang terus mengalir. Nafasnya tak beraturan, namun kepuasan tercetak jelas di wajahnya. “Sialan, bisa-bisanya aku membayangkan wanita itu!” Umpatnya kesal. Eden meninju tembok dengan kepalan tangannya, lalu menyandarkan dahinya di sana. Lintang. Nama itu terus terucap di bibirnya tanpa suara. Tanpa ia tahu, seseorang yang telah mengacaukan pikirannya sedang terlelap dalam mimpi yang sangat indah. Eden melilitkan handuk di pinggang. Rasa dingin yang tadi tak terasa kini cukup membuat kulitnya sedikit mengerut. Langkahnya kemudian menuju tempat tidur tanpa lebih dulu memakai pakaian. Ia menghempaskan tubuhnya keras ke ranjang. Matanya terpejam, namun ia tak tidur. Jam telah menunjukkan pukul empat pagi, namun seperti malam sebelumnya, ia tak pernah bisa terpejam dengan tenang. Berbeda saat bersama Lintang—ia mampu tertidur walau tak lebih dari tiga jam, namun itu sudah menjadi hal langka yang belum pernah ia rasakan. Sejak masa kecilnya yang penuh keburukan, tepat di usia lima belas tahun, Eden tak pernah lagi merasakan tidur tenang. Sekalipun bisa tidur hanya beberapa menit, setelahnya ia akan menyibukkan diri dengan dokumen yang menumpuk. Ketika Rendi melihatnya, tangan kanannya itu akan berkata, “Tuan, beristirahatlah. Anda terlalu memforsir diri sendiri.” Namun semua itu hanya angin lalu baginya. Eden meraih handphone di nakas. Tangannya menggulir deretan tulisan dan beberapa foto yang baru saja ia lihat. Pesan itu telah terkirim seminggu yang lalu, namun baru hari ini ia bisa membukanya. “Jadi dia sudah memiliki kekasih?” monolognya. Eden menatap gambar sepasang kekasih yang tertawa bahagia di sebuah pantai. Si wanita duduk menyamping di bagian depan sepeda, dan di belakangnya si lelaki yang mengendarai. Dari belakang pose mereka terlihat seperti berpelukan, normal layaknya sepasang kekasih yang bahagia. Mereka terlihat sangat romantis, namun entah mengapa Eden tak suka melihatnya. “Cih, memangnya siapa yang mau dengan gadis bisu itu?” gumamnya lagi. Ia terus menggulir setiap informasi yang dikirimkan anak buahnya. Eden telah mengirimkan beberapa pengawal bayangan untuk mencari informasi tentang Lintang. Walau tak menemukan kecurigaan apa pun dalam informasi yang ia terima, Eden tetap harus waspada. Karena musuh bisa datang dari yang terlihat lemah. “Rega Bani, 20 th, waiter, miskin, tinggal di kontrakan, berpacaran dengan Lintang 1 tahun,” Eden membaca setiap tulisan itu dengan rasa kesal. Ia tak tahu rasa kesal itu datang dari mana, hanya saja melihat Lintang tertawa lebar dengan pria lain membuat darahnya mendidih. Sedangkan saat melihatnya, Lintang selalu menunjukkan ketidaksukaan dan kebencian. “Sama-sama orang miskin rupanya.” "Bahkan tidak ada apa-apanya seujung kukupun." Eden menggulir semakin ke bawah. Room chat itu penuh dengan informasi yang menurutnya tak penting, namun ia tetap membacanya sampai tuntas. Terakhir, sebuah foto yang membuat jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak. Lintang, gadis itu terpejam menatap langit yang cerah, memamerkan senyumnya yang sangat menawan. Kulit putihnya bersinar di balik baju merah. Jika dilihat lebih teliti, baju itu telah usang dan rusak—ada beberapa bagian yang telah dijahit tangan. Namun entah mengapa, saat Eden melihatnya, baju itu nampak sangat mewah. Lintang tak terlihat seperti gadis kumuh sesuai lingkungannya. “Cantik. Dia memang berbeda," gumamnya halus, "tapi aku tetap harus hati-hati,” Tangannya kemudian menekan keyboard dengan cepat, memberikan balasan pada orang seberang. [Tetap pantau dan cari apapun yang mencurigakan.] Selang beberapa detik, balasan datang. [Baik Tuan.] Eden hanya melirik singkat. Fokusnya kembali pada satu foto yang mencuri perhatiannya. Ia terus menatap foto itu hingga tanpa sadar kantuk menjemputnya. Eden tertidur dengan tangan masih mengelus foto Lintang.Setelah seharian tak melihat Lintang rasa rindu membuncah di dada Eden. Karena kesibukannya di kantor ia tak bisa menemui wanita itu.Dan sekarang di jam yang masih sangat pagi Eden datang dengan nampan berisi sarapan. Langkahnya yang tegap berbalut jas mahal melekat. Bibirnya lurus tak beriak, namun sorot matanya sedikit hangat.Cklek!Eden membuka pintu, matanya berpendar. Menatap tubuh berbalut selimut putih yang meringkuk. Kemudian meletakkan nampan di atas nakas.Eden duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur menyingkap anak rambut yang menutupi wajah Lintang.Merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan mata Lintang terbuka. Netra elang dengan sorot datar menjadi hal pertama yang menyambutnya. Wajah datar tanpa sedikitpun garis kebahagian, namun sayangnya sangat tampan.Lintang menatap Eden dari atas hingga bawah. Pria itu hanya diam menaikan alisnya. Sedikit geli dengan respon wanita itu.Lintang masih belum sadar. Jika pria pria yang di depanya adalah monster yang selalu menyiksa
Di tempat yang lain,Sepasang suami istri mengintimidasi seorang wanita yang menurut mereka mencurigakan. Berpakaian pelayan dan menunduk hormat . Bahunya sedikit bergetar seperti ketakutan.“Jadi apa jaminan kau setia pada kami?” Pelayan itu menaikan wajahnya. Menatap Julia dan Arthur dengan berani. Kegelisahan dalam hatinya ia buang jauh-jauh.“Saya menggadaikan nyawa saya. Jika saya berkhianat saya rela mati. Asal…” ia menghentikan kalimatnya. Matanya terpejam erat seolah untuk mengatakan kalimat selanjutnya membutuhkan tenaga besar.Arthur dan Julia saling pandang. Kedua alisnya naik, menanti kalimat selanjutnya.“Asal Tuan dan Nyonya memberikan bayaran yang setimpal.” Lanjutnya kemudian.Ia sudah merasa sangat frustasi. Ibunya yang sangat ia cintai terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Gagal jantung yang ibunya derita membuatnya dilanda ketakutan. Takut akan kehilangan.Pihak rumah sakit mengatakan harus menjalani transplantasi jantung. Dan semua itu membutuhkan bi
“Nona, atas nama Tuan, saya meminta maaf. Beliau selalu kasar padamu.” Aku hanya diam, menatap hamparan mawar dari balik jendela dengan tatapan kosong. Di tengah ruangan, Rendi sibuk mengganti seprai. Suaranya mengalun pelan, namun entah mengapa, aku menangkap nada kesungguhan yang ganjil di sana. “Tuan memang keras, tapi semua itu ada sebabnya,” lanjutnya lagi. Aku tetap tak bergeming. Namun saat aku menoleh, dia rupanya sudah menatapku lebih dulu. “Tuan tidak menyukai pembangkangan. Kebetulan, Nona selalu melawan dan memancing amarahnya. Itulah yang membuatnya bertindak lebih kasar.” Cih. Aku mendengus sinis. Dia bilang aku yang memancingnya? Bahkan sejak detik pertama aku menginjakkan kaki di neraka ini, pria itu sudah hampir membunuhku dengan siksaannya. Dia binatang. Monster menjijikkan yang bersembunyi di balik setelan mahal. Tatapanku menajam. Selama hampir sebulan ini, Rendi adalah satu-satunya wajah yang rutin kulihat. Dia yang memberiku makan, mengganti seprai, atau
Lintang terbangun dengan rasa frustrasi yang menggantung. Pikirannya hancur berantakan, sama seperti hatinya. Ia memikirkan bagaimana nasib Damar dan Ema, juga kekasih serta sahabatnya, Sasa. Semuanya bercampur menjadi satu, menyesakkan dada."Aw, milikku sakit," rintihnya pelan.Ia bangkit, melangkah menuju kamar mandi yang letaknya sedikit jauh. Kamar Eden selalu gelap, dan Lintang sudah terbiasa dengan kegelapan itu. Dengan langkah tertatih, ia memasuki kamar mandi.Bersandar pada wastafel, Lintang menatap pantulan dirinya di cermin. Kantung mata hitam, rambut berantakan, sudut bibir pecah dan berdarah, serta wajah yang sama sekali tidak memancarkan aura kehidupan. Ia terlihat semakin kurus setiap harinya. Tulang selangkanya menonjol dan garis pipinya semakin tirus.Tangannya menengadah, menyiramkan air dingin ke wajahnya yang kuyu. "Bagaimana bisa semua ini menimpaku?"Tubuhnya luruh, jatuh ke lantai dengan rasa putus a
Setelah menyiksa Lintang seminggu terakhir, kini Eden kembali menginjakkan kakinya di perusahaan. Namun, baru saja tiba di lobi, pemandangan Julia dan Arthur yang bercumbu panas membuat darahnya mendidih.Langkahnya kian cepat. Begitu sampai di dekat mereka, Eden menarik tangan Arthur dengan kasar lalu melayangkan tonjokan keras ke wajah pria itu.Serangan tiba-tiba itu mengejutkan semua orang. Beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menghentikan langkah mereka. Napas Eden memburu, ia menatap bengis Arthur yang terjerembab di lantai. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah, matanya menatap Eden dengan penuh kebencian.Julia yang menyadari perlakuan mengejutkan Eden langsung membantu Arthur berdiri, lalu menatap sang anak dengan tajam."Apa yang kamu lakukan, Eden?!" teriaknya penuh amarah.Suara Julia memancing perhatian. Dalam sekejap, mereka dikelilingi oleh para karyawan yang penasaran."Kau merebut kursi kuasaku, dan sekarang kau mengotori perusahaanku dengan hal men
Penyiksaan belum usai.Setelah Damar, Lintang diseret menuju tempat di mana Ema berada. Wanita itu terlihat sangat lemah, bahkan sekadar bernapas saja tampak kesulitan.Lintang spontan berlari menghampirinya, namun tarikan kasar dari Eden membuat tubuhnya terhempas dan menubruk tubuh besar pria itu. Tatapan tajam dari Eden seolah memperingatinya, membuat Lintang seketika patuh.Namun pandangannya terus terpaku pada Ema yang terbaring di ranjang seperti pasien rumah sakit. Wanita itu memang mengenakan pakaian pasien, benar-benar seperti orang yang sedang dirawat – tapi yang terjadi di ruangan ini sungguh berbeda dengan rumah sakit yang sebenarnya.Di sisi kanan ranjang, seorang pria memegang pisau yang sangat tajam. Kilauan logamnya menyilaukan mata Lintang. Setelah menatap Eden sebentar, tangannya perlahan bergerak menuju tubuh lemah Ema yang masih memejamkan mata.Ruangan ini lebih tenang dan sunyi ketimbang tempat Damar. Sekecil apapun gerakan terasa begitu nyaring di telinga, seper







