Share

Bermain Sendiri

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2025-09-17 12:08:23

"Tapi, Tuan. Nanti Tuan Thomas akan marah padaku," ujar pelayan itu dengan suara bergetar.

"Masalah Tuan Thomas biar aku yang urus. Jangan pernah berikan obat ini pada Nona Alexa lagi! Paham?!" tegas Arsenio.

"Ba-baiklah, Tuan," jawab pelayan itu ketakutan.

"Sejak kapan kamu memberikan obat ini pada Nona Alexa?" tanya Arsenio lagi.

"Sudah lama, Tuan. Setelah Nona Alexa kecelakaan dan menjadi buta. Kira-kira, 7 tahun yang lalu," jawab si pelayan.

"Apa?" Arsenio terperangah, "Sudahlah, Pergi!" bisik Arsenio.

Dengan langkah gontai dan tergesa pelayan itu akhirnya pergi dari tempat ia berdiri.

"Tuan Thomas, apa maksudnya dengan ini? Semoga apa yang ada di pikiranku tak benar," gumamnya menghela nafas.

Malam itu, Arsenio diam-diam menyelinap ke kamar Alexa. Di dalam cahaya remang ruangan itu kedua bola matanya berkeliling mencari sesuatu yang ia curiga. Dan benar saja, ia menemukan kamera penyadap di setiap sudut kamar.

‘Dasar lelaki brengsek! Sungguh tak berkelas! Bisa-bisanya dia melakukan hal rendah seperti ini?!’ batin Arsenio beringsut. Dengan cekatan ia segera mencabut semua kamera itu.

Tanpa sengaja Arsenio menjatuhkan sebuah buku kecil di atas meja samping ranjang Alexa.

"Emh…," gadis itu melenguh saat mendengar suara benda terjatuh.

Seketika Arsenio mematung, ia menahan napasnya sejenak, kemudian mendesak tubuhnya ke sudut lemari, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

"Apa ada orang?" seru Alexa, ia terdiam, mencoba menelisik sekitar dengan pendengarannya. "Mungkin aku hanya mimpi," gumamnya kemudian.

Alexa kemudian terduduk di ranjangnya, kedua matanya menghadap ke depan, badannya tiba-tiba merasakan hawa panas, "Eumh... Hhh..." Nafasnya terengah, ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya yang hanya dibalut gaun tidur tipis.

"Kenapa ini terus terjadi? Aku … sangat menginginkannya …," ucapnya tersendat-sendat.

Dalam persembunyiannya, kedua mata Arsenio terbelalak lebar, menahan nafasnya. Arsenio terkejut saat melihat Alexa melepaskan semua pakaiannya. Kini, gadis itu terbaring tanpa sehelai kain pun.

Melihat wanita itu, mata Arsenio terpaku tanpa kedip. Tubuhnya kini bergetar, jiwa dan raganya berperang dalam diam, menahan gejolak yang nyaris meruntuhkan akalnya. Memicu gelombang hasrat yang mendadak membakar setiap nadi.

Napas Arsenio tercekat, diam-diam ia menyelinap keluar dari kamar Alexa, memastikan jika gadis itu tidak mendengar gerak-geriknya. Kemudian dengan cepat Arsenio masuk ke dalam kamarnya lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang empuk.

‘Sial! Kalau aku tak bisa tidur malam ini, itu berarti semuanya gara-gara dia,’ batin Arsenio.

Waktu pun berlalu dengan cepat, bulan telah berganti dengan fajar yang mulai menampakkan cahayanya. Di bawah selimut, Arsenio masih terlelap dalam tidurnya

"Hhh... Hhh... Hhh..." Nafas pria itu tiba-tiba memburu, dadanya naik dan turun.

Bunga tidurnya datang melalui suara letusan pistol kini menggema di telinga. "Hhh... Hhh.... Tidak!" teriaknya diikuti kedua mata yang terbuka lebar. Keringat bercucuran di dahi, kemudian perlahan membasahi seluruh tubuhnya.

Arsenio mengusap wajahnya, raut wajahnya frustasi. Setelah kejadian mengerikan di masa lalunya, pria itu sering dihantui mimpi buruk.

Perlahan ia melihat jam weker di meja samping ranjangnya. "Sial! Aku bisa terlambat!" pekiknya.

Arsenio bergegas pergi ke kamar mandi, kemudian bersiap-siap untuk memulai pekerjaan sekaligus misinya. Pria bertubuh tegap itu memakai setelan jas serba hitam. Sebuah earpiece hitam terpasang di telinga kanannya.

Ia perlahan menuruni anak tangga dan mendekat menghampiri Alexa yang tengah menikmati sarapannya.

"Kamu datang, Arsen?" Alexa bertanya sambil memasukkan potongan telur ke dalam mulutnya.

"Ya," sahut Arsenio.

"Duduklah, kamu harus sarapan sebelum bekerja, " ucap Alexa tersenyum.

Arsenio menatap wajah Alexa yang dengan anggun dan tenang melahap makanannya. Namun seketika ingatannya liar pada kejadian mencengangkan tadi malam. Tubuh dan desahan gadis itu masih terngiang di benaknya.

"Arsen, hari ini kita akan ke kantor, banyak berkas yang harus aku tandatangani," pinta Alexa.

"Baiklah," sahut Arsenio.

"Arsen,” panggil Alexa lagi. “Aku ingin bertanya sesuatu padamu, boleh?" tanya Alexa.

"Kenapa?" singkat Arsenio.

"Apakah kamu punya keluarga? Di mana keluargamu sekarang?" Alexa bertanya dengan antusias, wajahnya penuh keingintahuan.

"Keluargaku jauh," jawab Arsenio tegas. Dingin. Datar.

"Di mana?" tanya Alexa lagi.

"Pokoknya jauh," jawabnya. Kali ini pria itu terdengar sedikit kesal.

"Oh," kata Alexa, ia terdiam, tak meneruskan pertanyaannya lagi. Namun dalam hatinya tak berhenti bersuara, 'Sepertinya masalah keluarga sangat sensitif untuknya,’ pikirnya.

"Apa kamu sudah selesai sarapan? Jika sudah, ayo kita pergi," ajak Alexa, mencoba mencairkan suasana.

***

Dua jam kemudian mereka akhirnya sampai di sebuah perusahaan, nama ALGENIO terpampang di atas gedung itu. Perusahaan elektronik terbesar di kota itu—perusahaan utama milik dari Tn. Genio, ayah dari Alexa.

'Dia begitu kaya raya, tapi kenapa dia tak operasi matanya agar bisa melihat lagi?' tanya Arsen dalam hati, penasaran.

Mereka berdua memasuki gedung pencakar langit itu dengan langkah yang pasti. Setiap staf dan karyawan segera menunduk, menyunggingkan rasa hormat yang mendalam saat Alexa berjalan melewati mereka.

Wajah gadis buta itu, menunjukkan ketegasan yang tak tergoyahkan. Di balik kacamata hitamnya, mata Alexa memancarkan sinar tajam yang mencerminkan kekuatan dan determinasinya. Tongkat di tangannya bukanlah pertanda kelemahan, melainkan simbol kekuasaan yang ia pegang erat, menolak segala bantuan karena kepercayaan dirinya yang luar biasa.

Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika suara pintu lift lantai 1 terbuka.

“Selamat pagi, Nona Alexa,” ujar suara yang begitu ia kenal.

Alexa mematung.

Itu suara pengacara keluarga yang selama ini menekan dirinya untuk mengambil alih perusahaan sepeninggal ayahnya.

Dan seperti yang ditakutkannya, suara serak pria paruh baya itu melanjutkan:

“Rapat direksi menunggu Anda di lantai 15. Mereka mendesak Anda menandatangani dokumen final pengambilalihan hari ini.”

Alexa merasakan dadanya menegang. Jemarinya memegang tongkat sedikit lebih kuat. “Aku… sudah bilang. Bukan hari ini.”

“Jika Anda menundanya lagi,” suara itu merendah, “posisi Anda sebagai penerus akan dipertanyakan. Dewan menganggap Anda… tidak stabil.”

‘Tidak stabil’ Itu kata yang paling ia benci.

Kata yang membuatnya merasa kecil, tidak mampu, dan tak pantas memimpin perusahaan ayahnya. Kata yang terus menghantuinya semenjak ia kehilangan penglihatannya.

Arsenio melihat bahu Alexa menegang.

“Baik,” Alexa berkata akhirnya, meski suaranya bergetar halus. “Ayo.”

Langkah menuju ruang rapat seolah perjalanan yang panjang.

Sebuah ingatan berputar liar, tentang ayahnya yang pernah berkata:

“Walau kamu tak melihat, Alexa… kamu harus tetap kuat. Demi perusahaan. Demi keluarga."

Namun kini, saat pintu ruang rapat terbuka, suara bisik-bisik menyerangnya:

“…dia benar-benar buta, bagaimana bisa memimpin?”

“…jika Tn. Genio masih hidup, dia pasti tidak akan…”

“…kita butuh seseorang yang bisa melihat dengan jelas…”

Setiap bisikan itu adalah duri yang menancap di hatinya.

Alexa menandatangani dokumen-dokumen rapat tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha keras tidak memperlihatkan kelemahan. Bibirnya menekan kuat, seakan itu satu-satunya cara agar dirinya tidak pecah di tempat.

Ketika rapat usai, ia memberi hormat kecil dan keluar tanpa sepatah kata.

Begitu pintu ruangannya tertutup di belakangnya, Alexa akhirnya melepaskan napas ia tahan.

Ia segera memasuki ruangannya, diikuti Arsenio di belakang, seketika itu juga, Alexa menjatuhkan diri di atas kursi putarnya.

Seluruh emosi yang ia tekan di ruang rapat, di lobi, setelah sekian lama… bergejolak keluar sekaligus.

Nafasnya memburu. Dada terasa sesak. Jemarinya gemetar tak terkendali.

“Hhh… hhh…”

Suaranya pecah, tidak mampu lagi menahan beban.

Wajahnya yang semula tegas kini berubah seraut cemas yang dalam, mata berkaca-kaca dan jelas memancarkan kepanikan. Setiap helaan nafasnya seolah mengguncang seluruh tubuhnya yang mulai menggigil tidak terkendali.

Arsenio mengerutkan dahi, ia segera mendekat sambil membawa segelas air putih. "Anda baik-baik saja, Nona?"

Ia menggenggam tangan kanan Alexa yang dingin dan menaruhnya di gelas yang dibawanya, "Minumlah, ini akan membuatmu lebih tenang," lanjut Arsenio.

Alexa meneguk air itu sampai habis, "Aku baik-baik saja, kamu pergilah dulu! Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan bantuanmu," perintahnya tegas. Dalam hatinya, ia tak ingin seorang pun mengetahui perasaan sebenarnya.

"Baik, Nona," sahut Arsenio, tanpa ragu ia melangkah dari ruangan Alexa. Namun ia tak benar-benar pergi, ia berdiri tepat di depan pintu ruangannya yang sengaja ia buat sedikit terbuka.

Seketika itu, Alexa tidak bisa lagi melawan. Air mata akhirnya pecah. Diam-diam—patah—menyayat.

"Hiks... hiks... hiks..."

Suara isak tangis menggema di dalam, Arsenio sontak mengintip. Alexa—gadis buta yang terlihat kuat dan mandiri, sedang menangis sendirian. "Ma… Pa... kuatkan aku... " bisiknya lirih.

Beberapa menit kemudian, Alexa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, mengusap air matanya kasar, lalu menepuk lengannya sendiri. Itu adalah sebuah upaya untuk menguatkan hatinya sendiri.

Sementara itu Arsenio menatap tajam, dahinya mengernyit tipis, ia hendak masuk kembali, namun…

Kring!

Tiba tiba ia dikejutkan oleh suara ponselnya yang berdering.

"Tuan Thomas?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Riska Risdiyanita
kasian sekali alexa , rasanya berat banget yaaa jadi alexa tuh
goodnovel comment avatar
Miss Wang
maacih kk .........
goodnovel comment avatar
Yulia Ningrum
seru thor .........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Masih Misteri

    Ruang interogasi itu dingin.Terlalu dingin untuk seseorang yang hatinya sedang diguncang ketakutan.Ny. Eli duduk di kursi besi dengan tangan gemetar. Matanya sembab, wajahnya pucat, seolah semalam tak tidur sama sekali. Di hadapannya, dua penyidik menatap tanpa ekspresi. Sebuah map tebal terbuka di meja—berisi foto lokasi kejadian, hasil autopsi, dan satu bukti yang paling mengerikan: sidik jari.“Sidik jari Anda ditemukan di pisau yang digunakan untuk menusuk Ny. Kelly,” ucap salah satu penyidik datar. “Bagaimana Anda menjelaskannya?”Ny. Eli menelan ludah.“Aku… aku memang datang menemuinya malam itu,” suaranya bergetar. “Tapi aku tidak membunuhnya. Demi Tuhan… aku tidak.”“Lalu kenapa Anda berada di sana?”Air mata mengalir.“Aku ingin meminta maaf. Aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan damai…”Tangannya mengepal.“Tapi saat aku datang, dia sudah marah. Kami bertengkar. Aku pergi sebelum terjadi apa-apa.”“Lalu bagaimana dengan pisau ini?”

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Misteri Pembunuhan

    Hujan kembali turun malam itu, lebih deras dari sebelumnya, seolah langit ikut meratap atas sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.Di ruang rawat rumah sakit jiwa, suara alat medis mendesing panjang—menandai satu kehidupan yang telah benar-benar padam.Ny. Kelly dinyatakan meninggal dunia pukul 23.47.Tusukan itu menembus punggungnya, tepat di antara tulang belikat. Luka yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Darah membasahi lantai dingin, bercampur dengan sisa-sisa kegilaan dan penyesalan yang tak sempat terucap.Dan keesokan paginya—Berita itu meledak.“NY. KELLY TEWAS MISTERIUS — DUGAAN PEMBUNUHAN BERENCANA”“SOSOK WANITA DALAM KASUS ARSENIO TEWAS DI RUMAH SAKIT JIWA”Media kembali gaduh.Nama Dania kembali disebut.Nama Arsenio kembali diseret.Dan satu nama lain… mulai muncul dalam bisik-bisik tajam.Ny. Eli.Dania sedang duduk di ruang makan mansion saat berita itu muncul di layar televisi.Sendoknya terjatuh.Wajahnya memucat seketika.“Apa…?” suaranya tercekat.Layar me

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Ditikam

    Hujan belum juga reda saat mobil yang ditumpangi Dania dan Kelvin melaju meninggalkan bangunan tua itu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kota, seperti serpihan kenangan yang tak mau padam.Mereka duduk diam di kursi belakang, wajahnya pucat, matanya kosong. Tangannya menggenggam erat ponsel—di dalamnya tersimpan rekaman suara Ny. Kelly. Rekaman pengakuan. Rekaman yang bisa menyelamatkan… atau menghancurkan segalanya.Ia memejamkan mata.Dadanya sesak.Ia tidak menangis. Air matanya sudah habis.Sementara itu, di sisi lain kota, Alexa mondar-mandir gelisah di ruang kerja mansion. Arsenio berdiri di dekat jendela, menatap gelap dengan rahang mengeras."Kenapa dia nekat? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya," ucap Alexa pelan, tapi penuh kecemasan. “Seharusnya dia menghubungi kita.”Arsenio meraih ponselnya lagi, menelpon. Tidak aktif. Ia menekan nomor Kelvin, tak aktif juga. “Ini tidak benar,” gumamnya. “Dia ingin menemui wanita itu. Seharusnya aku melarang sejak awal.”Alexa m

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Bertemu

    Di kantor pusat perusahaan AJ, suasana berubah mencekam.Karyawan berbisik-bisik. Saham turun drastis. Media berkumpul di gerbang."Tuan Arsenio! Apakah benar Anda melindungi pelaku penculikan?”“Benarkah Ny. Eli mengambil anak secara ilegal untuk kepentingan keluarga Anda?”“Apakah yayasan hanya kedok?”Satu pertanyaan lebih tajam dari yang lain.Di ruang rapat, para direksi bersitegang.“Ini serangan sistematis,” ujar salah satu petinggi. “Ada pihak yang menginginkan perusahaan jatuh. Mereka tahu kelemahan Anda ada pada sisi kemanusiaan.”Arsenio menghela nafas panjang.“Mereka menyentuh hal yang paling sensitif,” katanya pelan. “Anak. Masa lalu. Dan rasa bersalah.”Sementara itu, di sudut lain kota, Dania terkunci di kamarnya.Ia membaca berita demi berita, tangannya gemetar.'Dugaan eksploitasi anak oleh keluarga konglomeratPerempuan bernama Dania diduga korban penculikanNy. Eli dan Arsenio terancam proses hukum'Dania menjatuhkan ponselnya.“Kak Arsen..., ini karena aku...," b

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Dendam Masa Lalu

    Pagi itu, berita menyebar lebih cepat daripada angin.Nama Dania mendadak ramai dibicarakan—bukan karena pernikahannya yang megah, bukan pula karena statusnya sebagai istri Kelvin, melainkan karena satu isu yang menggemparkan:“Wanita yang mengaku ibu kandung Dania—keluarga Arsenio Alvier muncul kembali.”Seseorang telah membocorkan informasi itu.Dan tidak butuh waktu lama hingga gosip berubah menjadi tuduhan.Di ruang keluarga mansion, suasana mencekam.Alexa berdiri di depan televisi yang menampilkan berita daring. Judulnya menyala terang:“Kontroversi Keluarga Elite: Ibu Kandung Muncul Setelah Puluhan Tahun Menghilang? Nama Arsenio Alvier terseret dalam kasus ini. Tangan Alexa gemetar saat membaca.“Siapa yang membocorkan ini?” suaranya pecah.Arsenio berdiri kaku, rahangnya mengeras. “Tidak mungkin kebetulan. Mereka ingin menghancurkan aku. Ini pasti pesaing bisnis.”***Kelvin yang baru datang dari kantor langsung mematikan televisi. “Ini gila. Mereka mengorek luka lamamu. Dan

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Terkuak

    Hujan kembali turun malam itu, lebih deras dari sebelumnya, seolah langit pun tak sanggup lagi menahan rahasia yang selama puluhan tahun terkubur.Arsenio berdiri di depan meja kerjanya, mata terpaku pada tumpukan berkas yang berserakan. Tangannya gemetar saat membuka map terakhir—map yang baru saja ia dapatkan dari seorang kenalan lama di kepolisian.Isinya membuat dadanya serasa dihantam berkali-kali.Dokumen lama. Laporan kebakaran. Catatan psikiater. Dan… satu surat tulisan tangan yang mulai pudar tintanya.Nama di sudut kertas itu membuat nafasnya tercekat.Eleanor Widjaja.Nama muda Ny. Eli.Dan di bawahnya, tertulis satu nama lagi.Kelly Widjaja.“Jadi… kalian saudara…” gumam Arsenio lirih.Ia membaca dengan seksama.Tahun demi tahun mulai tersusun seperti kepingan puzzle yang kejam.Kelly dan Eli adalah sepupu. Tumbuh bersama. Besar di lingkungan yang sama. Namun hidup memilih jalan berbeda untuk mereka. Kelly—cantik, lembut, penuh kasih—jatuh cinta pada seorang pria yang sam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status