LOGIN"Eh Laras... Gue ada kabar nih. Jauh-jauh gue datang pagi-pagi gini bukan cuma main-main, tapi mau nyampein pesan penting," kata Mia dengan nada misterius.
Laras menoleh, matanya berkedip polos. "Pesan apa? Emangnya ada yang nyariin gue?" "Iya dong! Ada yang titip salam buat kamu loh... dari pemuda kampung sebelah," bisik Mia dengan nada menggoda. "Katanya... nanti siang dia mau main ke sini. Mau nemuin kamu katanya." Niko yang masih mengintip dari kejauhan tiba-tiba menegang. Alisnya yang tegas langsung terangkat naik, dan senyum di wajahnya lenyap seketika. Tatapan matanya yang tadinya lembut berubah menjadi tajam dan dingin. Pemuda kampung sebelah? Mau main ke sini? Api cemburu mulai muncul di dada Niko. Siapa berani dia? Berani-beraninya mengincar wanitanya? Namun, reaksi Laras justru sangat berbeda. Gadis itu justru tertawa kecil, senyumnya tetap manis dan polos, tidak terlihat ada getaran cinta atau kegirangan berlebihan. "Oh... dia toh," ucap Laras santai sambil kembali memetik daun kangkung. "Loh? Kamu tahu?" tanya Mia heran. "Ya tahu lah. Kemarin sore kan aku sempat ketemu pas dia lewat depan rumah mau ke sawah," jawab Laras enteng. "Terus... gimana? Ganteng kan? Katanya anak orang kaya juga di kampung sana loh," desak Mia makin penasaran. Laras hanya mengangkat bahu, wajahnya tetap datar dan tenang. "Emangnya siapa namanya Mia? Aku juga kurang tahu," jawab Laras polos. "Aku cuma ketemu dia kemarin sore doang. Ngobrol juga enggak, cuma saling pandang sebentar terus dia lewat." Niko yang mendengar percakapan itu dari jauh tiba-tiba merasa dadanya lega. Bahkan senyum tipis kembali terbit di bibirnya, kali ini disertai rasa bangga. Hahaha! Niko tertawa dalam hati. Gadis ini hebat. Pemuda kampung sebelah yang katanya ganteng dan anak kaya saja tidak dihiraukan. Bahkan namanya pun tidak mau diingat. Rasa percaya diri Niko meningkat drastis. Ternyata standar Laras tinggi. Dan Niko yakin, dengan status, ketampanan, dan kekayaannya, ia jauh di atas level pemuda kampung sebelah itu. "Yah, padahal kan lumayan loh buat jadi kenalan," kata Mia sedikit kecewa. "Ah, biarin aja Mia. Aku nggak terlalu mikirin itu. Yang penting sekarang aku harus cepet masak, takutnya Nenek sama Tuan Niko sudah lapar," potong Laras, lalu berdiri sambil membawa keranjang sayuran yang sudah penuh. "Waduh, iya deh kalau gitu. Aku bantuin bawa ya," sahut Mia. Mereka berdua pun berjalan meninggalkan kebun, tertawa dan bercanda lepas. Sementara Niko masih berdiri mematung di tempatnya. Pemandangan tadi pagi ini semakin membuatnya yakin. Laras bukan gadis biasa. Dia cantik, tapi tidak murahan. Dia sederhana, tapi punya harga diri yang tinggi. "Pemuda kampung sebelah..." gumam Niko pelan dengan senyum miring yang penuh tantangan. "Silakan saja kalau mau datang. Tapi ingat ya... Laras itu... akan jadi milikku." Setelah selesai memetik sayuran, Laras bergegas menuju dapur kecil yang berada di bagian samping rumah. Asap putih mulai mengepul dari cerobong dapur, bercampur dengan aroma harum masakan yang mulai tercium menggugah selera. Niko yang masih berdiri di dekat jendela, tak bisa mengalihkan pandangannya. Ia melihat Laras yang begitu lincah dan cekatan. Mula dari mencuci beras, membersihkan sayuran, hingga menyiapkan bumbu. Gerakan tangannya luwes dan terampil, menunjukkan betapa terbiasa gadis itu mengurus rumah tangga. Di mata Niko, bahkan saat sedang memasak pun Laras tetap terlihat cantik luar biasa. Keringat kecil yang membasahi pelipisnya justru membuatnya terlihat semakin mempesona, alami, dan sangat seksi dengan cara yang sopan. "Cantik sekali..." gumam Niko pelan, senyum tipis tak pernah lepas dari bibirnya. Tak berapa lama, aroma masakan yang sangat sedap mulai menyebar ke seluruh penjuru rumah. Aroma tumisan bumbu rempah yang khas, berpadu dengan wangi sayur bening dan ikan asin goreng yang gurih. "Ya ampun... wanginya sampai ke sini," seru Niko dalam hati, perutnya tiba-tiba terasa berbunyi minta diisi. Mbok Yem yang duduk di ruang tengah pun tersenyum lebar. "Wah, masakan Laras memang juara. Wanginya saja sudah bikin lapar ya Nak Niko?" Niko tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya Bok, jujur saja perut saya sudah keroncongan. Tidak pernah saya mencium aroma masakan rumah yang seenak ini di Jakarta."Pesta yang penuh kemewahan, kehangatan, dan perhatian luar biasa itu akhirnya pun berakhir. Para tamu satu per satu mulai berpamitan dan pulang, meninggalkan ruangan yang tadinya riuh penuh tawa dan percakapan, perlahan menjadi sepi kembali. Laras pun akhirnya diantar pulang oleh James dengan penuh kehati-hatian, hatinya masih terasa hangat dan dipenuhi perasaan bahagia yang sulit diungkapkan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa malam yang begitu indah itu ternyata justru menjadi pemicu semakin membakar api kebencian di hati dua wanita yang diam-diam mengawasinya dari kejauhan. Tak lama setelah pesta usai, tepat keesokan harinya, Felly dan Ina sepakat untuk bertemu di sebuah kafe tenang yang letaknya agak terpencil, jauh dari pusat keramaian agar pembicaraan mereka tidak diketahui oleh siapa pun. Tempat itu dipilih dengan sangat hati-hati—suasananya sepi, dikelilingi tanaman hijau, dan tidak ada orang asing yang bisa menguping apa yang akan mereka bicarakan. Begitu duduk
Sejak Laras melangkah turun dan menginjakkan kakinya di lantai dasar ruangan pesta itu, tak pernah sekalipun tatapan kedua pria itu terlepas darinya. Baik James maupun Niko seolah lupa akan keberadaan orang lain di sekeliling mereka—seluruh perhatian, seluruh pikiran, hingga setiap gerak mata mereka sepenuhnya tercurah hanya untuk Laras. Persaingan diam-diam di antara keduanya semakin terasa nyata, bukan lagi sekadar terlihat dari tatapan tajam yang saling bertaut, melainkan mulai tampak nyata lewat perbuatan-perbuatan penuh perhatian yang terus-menerus mereka tunjukkan, seolah berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling sanggup melindungi, merawat, dan membuat wanita itu merasa menjadi orang paling istimewa malam ini. Tak lama setelah Laras duduk di salah satu meja yang telah disediakan, Niko lah yang pertama kali bergerak mendahului. Dengan langkah tenang namun cepat, ia berjalan menuju meja prasmanan yang dipenuhi beragam hidangan mewah—mulai dari hidangan pembuka yang
Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya pun tiba. Suasana di dalam gedung hotel bintang lima tempat pesta berlangsung sudah terasa begitu meriah dan megah. Lampu gantung kristal yang besar berkilau memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan, musik orkestra yang lembut mengalun pelan mengisi keheningan, dan aroma bunga-bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan menciptakan suasana yang sungguh istimewa. Hampir seluruh tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha ternama, pejabat tinggi, serta tokoh masyarakat sudah hadir dan berbaur satu sama lain, saling menyapa, bercengkerama, atau sekadar menikmati jamuan yang tersaji. Hanya tersisa beberapa orang yang belum tiba, sehingga semua orang masih menanti dengan penuh rasa penasaran. Sementara itu, di salah satu kamar mewah di lantai atas gedung itu, Laras sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersiap-siap. Sejak pagi tadi, ia sudah menata segalanya dengan sangat teliti, tanpa meninggalkan satu pun celah
Setelah rangkaian acara presentasi berakhir dan semua peserta mulai bersiap untuk pulang, panitia acara membagikan sebuah amplop elegan berwarna emas kepada setiap perwakilan perusahaan dan tamu penting yang hadir hari itu. Amplop itu terlihat mewah dengan logo perusahaan penyelenggara tercetak indah di bagian depannya. Laras menerima amplop itu dengan rasa penasaran, lalu membukanya perlahan. Ternyata isinya adalah undangan resmi untuk menghadiri pesta makan malam dan jamuan kehormatan yang akan diadakan dua hari ke depan. Pesta tersebut diselenggarakan oleh salah satu pengusaha ternama yang juga menjadi penasihat dalam proyek besar ini, sebagai bentuk apresiasi bagi semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi. Dalam tulisan undangan disebutkan bahwa acara ini akan diadakan di salah satu hotel bintang lima paling megah di kota, dengan dress code black tie yang sangat formal dan eksklusif. Laras membaca tulisan itu berulang kali, menyadari bahwa ini b
Sementara sorak-sorai dan tepuk tangan meriah menggema di udara, memuji kehebatan presentasi yang baru saja ditampilkan oleh Laras, suasana hati di sudut lain tempat itu justru terasa sangat gelap dan mencekam. Di balik senyum-senyum ramah dan jabatan tangan yang penuh basa-basi, tersembunyi niat jahat yang sedang dirancang dengan sangat rapi, seolah-olah menjadi bayang-bayang kelam yang siap menelan kesuksesan Laras dalam sekejap mata. Tidak jauh dari tempat Niko berdiri, tepatnya di balik tiang besar yang sedikit tertutup oleh tanaman hias, terdapat tiga wanita yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan mereka dari Laras. Namun berbeda dengan Niko yang memandang dengan rasa bangga dan cinta, tatapan ketiga wanita ini penuh dengan kebencian, iri hati, dan dendam yang sudah membara cukup lama. Mereka adalah Felicia—atau yang biasa dipanggil Felly—wanita yang selama ini mengaku sebagai tunangan sekaligus pacar Niko, dan bersama dengannya ada Ina, sekretaris priba
Matahari pagi baru saja mulai menyibakkan sinarnya di ufuk timur, namun Laras sudah sampai di area parkir kantor. Hari ini ia datang jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum sebagian besar karyawan lain datang. Rasa tanggung jawab dan sedikit rasa gugup karena adanya meeting penting membuatnya tidak bisa berlama-lama di rumah. Ia ingin memastikan semuanya sudah siap 100% sebelum acara dimulai. Namun, begitu ia sampai di lantai kantor, ternyata tidak ada persiapan rapat di ruang meeting biasa. Justru ia melihat beberapa staf sedang sibuk mengumpulkan berkas-berkas tebal dan peralatan presentasi untuk dibawa keluar. Salah satu rekan kerjanya segera memberitahu informasi penting yang membuat Laras sedikit terkejut. "Laras, kita nggak meeting di sini kok. Pak James sudah atur semuanya. Lokasinya di outdoor venue, di taman konvensi kota. Katanya biar suasananya lebih segar dan formal buat presentasi tender besar ini," jelas temannya. Laras mengangguk pa
Gadis itu, Laras Wati, sedikit bingung melihat tamu kota yang tampan dan gagah itu hanya diam menatapnya tanpa berkedip. Pipinya sedikit memerah karena malu diperhatikan sedemikian rupa, membuatnya terlihat semakin manis dan menggoda. "Pa?" panggilnya sekali lagi pelan, matanya berkedip
Langit malam itu begitu indah. Hembusan angin malam yang sejuk berhembus pelan, membelai dedaunan dan membawa aroma tanah basah serta wangi bunga-bunga liar yang tumbuh di sekeliling area tanah luas itu. Tidak ada polusi cahaya seperti di kota, membuat bintang-bintang di angkasa tampak berkelap-k
Di sebuah desankecil yang dikelilingi oleh hutan lebat dan bukit hijau, di tengah tengah ada lahan kosong yang ditinggalkan oleh waktu. Di sana, Niko berdiri yang sedari tadi ia pandangi pemandangan yang familiar namun penuh misteri. Lahan ini adalah tempat kelahirannya, sebuah kawasan yang dipenuh
Pagi itu, matahari baru saja menyingsing, menyinari gedung-gedung tinggi ibukota. Di sebuah kompleks perumahan eksklusif, sebuah mobil sedan mewah warna hitam mengkilap sudah siap menanti di halaman depan. Niko Adhitama, pria berusia 27 tahun, melangkah keluar dari pintu utama rumahnya.







