Beranda / Mafia / Gadis Desa Itu Istri CEO / Niko dan laras makan bareng

Share

Niko dan laras makan bareng

Penulis: Agnura
last update Tanggal publikasi: 2026-04-19 14:33:53

Tidak butuh waktu lama, Laras sudah menyajikan semua hidangan di atas meja makan kayu yang sudah dilapisi kain taplak bersih. Di atas meja itu tersaji dengan rapi: nasi putih yang masih mengepul hangat, sayur bening bayam segar, tahu dan tempe goreng tepung yang renyah, ikan goreng krispi, serta sambal terasi yang warnanya merah menggoda.

"Yok, ayo makan dulu Nak Niko. Sudah siap semua kok," ajak Mbok Yem ramah.

"Siap Bok. Terima kasih banyak," jawab Niko. Ia berjalan mendekati meja makan, dan di sana sudah ada Laras yang sedang merapikan piring dan sendok.

"Sini Tuan, silakan duduk di sini," kata Laras lembut sambil menunjuk sebuah kursi kayu yang empuk. Gadis itu menunduk sopan, pipinya sedikit merona saat mata mereka bertemu.

"Makasih Laras," balas Niko, suaranya terdengar lembut namun berwibawa. Ia duduk dengan sikap yang tetap rapi dan gagah, meski di meja makan sederhana ini.

Mbok Yem, Niko, dan Laras pun duduk melingkar di sekitar meja. Sementara Pak Budi, dengan kerendahan hatinya, memilih untuk duduk sedikit di pinggir dekat dapur agar tidak mengganggu, dan Laras pun sudah menyiapkan porsi khusus untuk beliau juga.

"Silakan dimakan Tuan Niko. Maaf ya masakannya seadanya saja, tidak ada lauk yang istimewa," kata Laras sambil menyendokkan sayur ke dalam piring Niko dengan gerakan tangan yang halus.

Niko menatap piringnya yang sudah penuh diisi oleh tangan mungil itu. Hatinya terasa hangat membara.

"Tidak perlu yang istimewa, Laras. Cukup ini saja sudah lebih dari cukup," jawab Niko tulus. "Lagipula... kalau yang masak kamu, pasti rasanya jadi sepuluh kali lipat lebih enak."

Laras tersenyum malu-malu mendengar pujian itu, lalu segera menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah. Mbok Yem hanya terkekeh melihat interaksi keduanya yang terasa begitu manis.

Mereka pun mulai menyantap hidangan pagi itu. Suasana makan siang (pagi) terasa begitu akrab dan keluarga.

Suara sendok beradu dengan piring terdengar pelan. Niko mengambil suapan pertama nasi dan sayur. Begitu masuk ke mulut, lidahnya seakan menari kegirangan. Rasanya sangat pas! Gurih, manis, dan segar. Benar-benar rasa masakan rumahan yang autentik, jauh berbeda dengan makanan restoran mahal yang sering ia makan namun terasa hambar.

"Wah... enak sekali!" seru Niko tak bisa menahan kekagumannya. Ia menelan ludah dengan lahap. "Rasanya luar biasa, Laras. Bumbunya pas, sayurnya juga manis sekali. Kamu jago masak ya?"

Laras tersenyum bangga namun tetap rendah hati. "Alhamdulillah kalau suka Tuan. Laras belajar masak dari kecil sama Nenek. Di desa kan memang harus bisa segala hal."

"Pantas saja... Ini masakan terenak yang pernah aku makan belakangan ini," puji Niko lagi, matanya tak lepas menatap wajah gadis di hadapannya itu. Ia makan dengan sangat lahap, seolah tidak ada hari esok.

Melihat Niko makan dengan sangat nikmat, Laras merasa senang sekali. Ia terus menyodorkan lauk-pauk ke arah piring Niko.

"Makan yang banyak Tuan, biar kuat kerjanya. Ini ikannya juga silakan dimakan, baru digoreng tadi pagi masih hangat," kata Laras sambil meletakkan sepotong ikan goreng besar ke piring Niko.

"Iya, makasih banyak. Kamu juga makan yang banyak dong, Laras. Lihat tuh badanmu kurus sekali," sahut Niko refleks, nada suaranya terdengar protektif dan perhatian.

Laras tertawa kecil. "Iya Tuan, Laras juga makan kok."

Mereka terus mengobrol ringan di sela-sela makan. Mbok Yem sesekali menimpali cerita, membuat suasana semakin cair dan hangat. Niko merasa sangat nyaman. Rasanya ia tidak sedang berada di rumah sederhana di desa, melainkan merasa seperti sedang makan bersama keluarga sendiri di rumahnya sendiri.

Ia melirik ke arah Pak Budi yang juga sudah mulai makan dengan lahap di pojok sana. "Pak Budi, silakan dimakan juga ya masakannya enak loh!" teriak Niko.

"Siap Tuan! Terima kasih Non Laras, masakannya wangi sekali!" jawab Pak Budi santai.

Di tengah keasyikan makan, Niko menyadari satu hal. Laras sangat telaten. Gadis itu tidak banyak makan, lebih banyak memerhatikan piring Niko dan Mbok Yem. Setiap kali piring Niko sedikit kosong, tangan Laras dengan sigap akan menambahkannya lagi tanpa diminta.

Perhatian yang tulus dan alami itu semakin membuat hati Niko meleleh. Wanita-wanita di kota yang biasa ia temui, mana ada yang mau repot-repot menyuapi atau menambahkan nasi ke piring pria seenaknya. Mereka biasanya lebih mementingkan penampilan dan gengsi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Felly murka dan ingin menjatuhkan Laras

    Pesta yang penuh kemewahan, kehangatan, dan perhatian luar biasa itu akhirnya pun berakhir. Para tamu satu per satu mulai berpamitan dan pulang, meninggalkan ruangan yang tadinya riuh penuh tawa dan percakapan, perlahan menjadi sepi kembali. Laras pun akhirnya diantar pulang oleh James dengan penuh kehati-hatian, hatinya masih terasa hangat dan dipenuhi perasaan bahagia yang sulit diungkapkan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa malam yang begitu indah itu ternyata justru menjadi pemicu semakin membakar api kebencian di hati dua wanita yang diam-diam mengawasinya dari kejauhan. Tak lama setelah pesta usai, tepat keesokan harinya, Felly dan Ina sepakat untuk bertemu di sebuah kafe tenang yang letaknya agak terpencil, jauh dari pusat keramaian agar pembicaraan mereka tidak diketahui oleh siapa pun. Tempat itu dipilih dengan sangat hati-hati—suasananya sepi, dikelilingi tanaman hijau, dan tidak ada orang asing yang bisa menguping apa yang akan mereka bicarakan. Begitu duduk

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Persaingan antara James dan Niko semakin ketat

    Sejak Laras melangkah turun dan menginjakkan kakinya di lantai dasar ruangan pesta itu, tak pernah sekalipun tatapan kedua pria itu terlepas darinya. Baik James maupun Niko seolah lupa akan keberadaan orang lain di sekeliling mereka—seluruh perhatian, seluruh pikiran, hingga setiap gerak mata mereka sepenuhnya tercurah hanya untuk Laras. Persaingan diam-diam di antara keduanya semakin terasa nyata, bukan lagi sekadar terlihat dari tatapan tajam yang saling bertaut, melainkan mulai tampak nyata lewat perbuatan-perbuatan penuh perhatian yang terus-menerus mereka tunjukkan, seolah berlomba-lomba membuktikan siapa yang paling sanggup melindungi, merawat, dan membuat wanita itu merasa menjadi orang paling istimewa malam ini. Tak lama setelah Laras duduk di salah satu meja yang telah disediakan, Niko lah yang pertama kali bergerak mendahului. Dengan langkah tenang namun cepat, ia berjalan menuju meja prasmanan yang dipenuhi beragam hidangan mewah—mulai dari hidangan pembuka yang

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Penampilan Laras yang memukau

    Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya pun tiba. Suasana di dalam gedung hotel bintang lima tempat pesta berlangsung sudah terasa begitu meriah dan megah. Lampu gantung kristal yang besar berkilau memancarkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan, musik orkestra yang lembut mengalun pelan mengisi keheningan, dan aroma bunga-bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan menciptakan suasana yang sungguh istimewa. Hampir seluruh tamu undangan yang terdiri dari para pengusaha ternama, pejabat tinggi, serta tokoh masyarakat sudah hadir dan berbaur satu sama lain, saling menyapa, bercengkerama, atau sekadar menikmati jamuan yang tersaji. Hanya tersisa beberapa orang yang belum tiba, sehingga semua orang masih menanti dengan penuh rasa penasaran. Sementara itu, di salah satu kamar mewah di lantai atas gedung itu, Laras sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk bersiap-siap. Sejak pagi tadi, ia sudah menata segalanya dengan sangat teliti, tanpa meninggalkan satu pun celah

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Undangan pesta mewah

    Setelah rangkaian acara presentasi berakhir dan semua peserta mulai bersiap untuk pulang, panitia acara membagikan sebuah amplop elegan berwarna emas kepada setiap perwakilan perusahaan dan tamu penting yang hadir hari itu. Amplop itu terlihat mewah dengan logo perusahaan penyelenggara tercetak indah di bagian depannya. Laras menerima amplop itu dengan rasa penasaran, lalu membukanya perlahan. Ternyata isinya adalah undangan resmi untuk menghadiri pesta makan malam dan jamuan kehormatan yang akan diadakan dua hari ke depan. Pesta tersebut diselenggarakan oleh salah satu pengusaha ternama yang juga menjadi penasihat dalam proyek besar ini, sebagai bentuk apresiasi bagi semua pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi. Dalam tulisan undangan disebutkan bahwa acara ini akan diadakan di salah satu hotel bintang lima paling megah di kota, dengan dress code black tie yang sangat formal dan eksklusif. Laras membaca tulisan itu berulang kali, menyadari bahwa ini b

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Perencanaan jahat Felly dan sekretaris Niko

    Sementara sorak-sorai dan tepuk tangan meriah menggema di udara, memuji kehebatan presentasi yang baru saja ditampilkan oleh Laras, suasana hati di sudut lain tempat itu justru terasa sangat gelap dan mencekam. Di balik senyum-senyum ramah dan jabatan tangan yang penuh basa-basi, tersembunyi niat jahat yang sedang dirancang dengan sangat rapi, seolah-olah menjadi bayang-bayang kelam yang siap menelan kesuksesan Laras dalam sekejap mata. Tidak jauh dari tempat Niko berdiri, tepatnya di balik tiang besar yang sedikit tertutup oleh tanaman hias, terdapat tiga wanita yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan mereka dari Laras. Namun berbeda dengan Niko yang memandang dengan rasa bangga dan cinta, tatapan ketiga wanita ini penuh dengan kebencian, iri hati, dan dendam yang sudah membara cukup lama. Mereka adalah Felicia—atau yang biasa dipanggil Felly—wanita yang selama ini mengaku sebagai tunangan sekaligus pacar Niko, dan bersama dengannya ada Ina, sekretaris priba

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Niko yang memperhatikan dari jauh

    Matahari pagi baru saja mulai menyibakkan sinarnya di ufuk timur, namun Laras sudah sampai di area parkir kantor. Hari ini ia datang jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum sebagian besar karyawan lain datang. Rasa tanggung jawab dan sedikit rasa gugup karena adanya meeting penting membuatnya tidak bisa berlama-lama di rumah. Ia ingin memastikan semuanya sudah siap 100% sebelum acara dimulai. Namun, begitu ia sampai di lantai kantor, ternyata tidak ada persiapan rapat di ruang meeting biasa. Justru ia melihat beberapa staf sedang sibuk mengumpulkan berkas-berkas tebal dan peralatan presentasi untuk dibawa keluar. Salah satu rekan kerjanya segera memberitahu informasi penting yang membuat Laras sedikit terkejut. "Laras, kita nggak meeting di sini kok. Pak James sudah atur semuanya. Lokasinya di outdoor venue, di taman konvensi kota. Katanya biar suasananya lebih segar dan formal buat presentasi tender besar ini," jelas temannya. Laras mengangguk pa

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Rendy menghubungi niko karena mau menyusul niko ke desa

    Berbeda dengan Laras... ia melakukan itu semua dengan ikhlas dan natural, seolah itu adalah tugas mulianya untuk menyenangkan orang lain. "Kamu memang istimewa, Laras..." batin Niko berbicara sambil menatap gadis itu dalam-dalam. "Pintar, cantik, baik hati, rajin, dan perhatian. Apa lag

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Laras masak untuk Niko

    "Eh Laras... Gue ada kabar nih. Jauh-jauh gue datang pagi-pagi gini bukan cuma main-main, tapi mau nyampein pesan penting," kata Mia dengan nada misterius. Laras menoleh, matanya berkedip polos. "Pesan apa? Emangnya ada yang nyariin gue?" "Iya dong! Ada yang titip salam buat k

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Niko bangun dari tidurnya

    Mentari pagi mulai mengintip malu-malu dari balik deretan pohon kelapa, menyebarkan cahaya keemasan yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kayu. Suara ayam berkokok bersahutan dan kicauan burung menciptakan alunan musik alami yang membangunkan suasana desa. Niko membuka matany

  • Gadis Desa Itu Istri CEO   Niko berbincang bincang dengan mbok yem

    "Benar-benar cucu kandung, Bok?" tanya Niko lagi, kali ini suaranya sedikit lebih menekan, tatapan matanya tajam menyelidik. "Maaf ya Bok kalau saya bertanya begini. Tapi jujur saja... Laras itu cantiknya bukan main. Kulitnya putih, wajahnya halus, sopan santunnya juga begitu terawat. Terlalu...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status