Share

Bab 12

last update publish date: 2026-10-04 11:31:46

Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas

“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.

“Baik, Pak!” jawab kami serempak.

Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herm
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Kokom Komariah
ayo ka lanjut ceritsya
goodnovel comment avatar
Kokom Komariah
ayo ka lanjut ceritsya
goodnovel comment avatar
Kokom Komariah
mana mie ka lanjutan y.aku suka ngikutin novel Kaka seru2
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Fotokopi   Bab 12

    Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.“Baik, Pak!” jawab kami serempak.Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herman dulu memanggilnya dengan sebutan "Pak". Saat di toko fotokopi, dia terlihat jauh lebih santai dan banyak bicara, terutama dengan Mas Herman. Tapi di sini, dia terlihat lebih serius. Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa sekarang aku adalah mahasiswanya.Saat namaku disebut dalam absen, jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar suara datarnya."Rosi, sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanyanya tiba-tiba.Mataku melebar sedikit, tapi aku buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak. Mungkin Ba

  • Gadis Fotokopi   Bab 11

    Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.“Udah, baru aja.”“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”“Beda lagi kasusnya! Mas Herman

  • Gadis Fotokopi   Bab 10

    Pagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk bela

  • Gadis Fotokopi   Bab 9

    “Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?Aku tidak mungkin mena

  • Gadis Fotokopi   Bab 8

    "Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”“Yakin?” tanyanya memastikan.“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja. Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”Beng

  • Gadis Fotokopi   Bab 7

    “Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status