Share

Bab 8

last update publish date: 2026-10-03 23:15:47

"Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”

“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.

Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.

“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”

“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.

“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.

“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”

“Yakin?” tanyanya memastikan.

“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”

Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja.  Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”

Bengkel paling dekat dari sini jaraknya sekitar 2 kilometer, sedangkan sore hari seperti ini biasanya bengkel sudah tutup.

“Kalau aku pulang sama kamu, gimana besok pagi aku berangkat ke toko?”

Rumah Mas Herman berbalik arah dengan rumahku. Aku tidak mungkin memintanya menjemputku. Butuh waktu lama dan toko bisa kesiangan bukanya.

“Besok aku jemput lagi, tapi dengan satu syarat.” Dia mengacungkan jari telunjuknya.

“Syarat? Kamu nolongnya nggak ikhlas, ih. Aku mau cari bantuan lain aja!”

Lebih baik aku mencari tumpangan anak-anak reguler daripada pulang bersama Irfan. Dia meminta syarat pula, jelas ada udang dibalik tepung. Dia pasti menginginkan sesuatu dariku.

“Eh, eh, tunggu dulu, Ros! Bukan gitu maksudku.” Dia mencekal tanganku saat aku hendak mencari bantuan.

Sejenak kami terdiam, dia tengah lancang memegang tanganku. “Lepasin tanganku!”

“Aku tidak akan melepasmu. Dengerin aku dulu, Ros! Aku hanya mau ajakin kamu makan. Please temenin aku makan!” ucapnya dengan nada memohon.

Makan? Kalau masalah perut aku tidak akan menolaknya. Lagi pula aku memang sudah lapar. Lumayan dapat traktiran.

“Sekarang atau besok?”

Sepertinya dia anak ekstensi Kamis-Jumat. Kalau besok tentu dia tidak akan datang. Eh, tapi kenapa dia mau menjemputku?

“Sekarang dan besok. Tenang aja, uangku tidak akan habis meski mentraktirmu setiap hari. Besok aku akan izin sama Herman pas jam makan siang.” Dia menjawab kebingunganku.

Sombong sekali lelaki ini. Apa karena ucapanku tadi siang? Dia pasti menganggapku cewek materialistis. Mungkin lebih baik aku menikmati peran ini.

Namun, jika dia mau meminta izin di saat jam makan siang? Rasanya aku ingin tertawa. Mas Herman tidak akan pernah mengizinkanku pergi, apalagi saat weekend.

Hari Sabtu-Minggu adalah sejarah, di mana toko selalu ramai dan penuh dengan pelanggan. Terkadang kami sampai telat makan karena pelanggan berdatangan secara bersama-sama. Jika Pak Bos dan istrinya tidak sibuk, mereka bahkan tidak segan-segan membantu kami di toko.

“Buruan naik! Tidak usah kelamaan mikir sebelum aku berubah pikiran!”

Dengan terpaksa aku naik dan duduk di belakang Irfan. Obrolan kami didominasi olehnya. Sebenarnya aku adalah orang yang pendiam. Namun, di toko ini aku dipaksa menjadi orang yangharus pandai berbicara dan cerewet. Terkadang aku juga menjadi wanita yang galak. Seperti saat aku bersama dengannya, aku selalu menjadi gadis jutek. Semua itu hanya untuk menutupi kekuranganku. Aku hanyalah wanita lemah yang harus pura-pura kuat.

Setelah perjalanan selama sepuluh menit, kami sampai di sebuah warung bakso. Cocok sekali bukan? Habis hujan dan makan yang anget-anget. 

Dia memesan dua mangkuk bakso dan teh hangat. Kami makan bersama dalam diam. Namun, dia lebih dulu menyelesaikan makannya. Setelah itu dia mengisap rokok.

Aku terbatuk kala asap rokoknya masuk ke indera penciuman. Aku tidak tahan dengan baunya. Sejak kecil, aku tidak pernah melihat Bapak merokok. Keluargaku tidak ada yang merokok karena tidak baik untuk kesehatan. Kakekku masih hidup meskipun umurnya menginjak 90 tahun karena selalu menjaga kesehatan dan meninggalkan rokok.

“Minumlah!” Irfan menyodorkan minumannya kepadaku.

Dia membuang rokok dan menginjak dengan sepatunya. Dia cukup baik menjadi seorang perokok. Mengetahui jika aku tidak menyukainya, dia langsung berhenti merokok.

Di toko tempatku bekerja memang menjual rokok, tetapi Pak Bos tidak mengizinkan Mas Herman merokok. Dia hanya akan merokok jika tidak sedang bekerja. Apalagi di toko banyak kertas berserakan. Akan memicu bahaya kebakaran jika merokok di toko.

Minumanku sudah habis karena aku kepedasan. Aku tidak sengaja menuang sambel terlalu banyak hingga membuatku menghabiskan teh sekali teguk.

“Lain kali kalau ambil sambal jangan lihat aku! Kamu jadi terpesona, kan?” ucapnya sambil mengerlingkan mata.

Aku jadi malu dibuatnya. Dia benar-benar menyebalkan. Aku menghabiskan bakso dan menyisihkan kuah sambal. Aku yakin setelah ini perutku akan berdemo. Bahkan saat ini rasa panas sudah menguasai perutku.

“Ya ya ya! Aku akui kamu memang tampan, tetapi sayang mulutmu tidak ada remnya!” ucapku setelah meminum tehnya hingga tandas.

“Eh, itu sedotan bekasku, loh!”

“Lalu?”

“Secara tidak langsung kita sudah—”

“Sudah apa?”

“Berciuman,” ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.

“Hah?” Aku tertawa hingga memegangi perut. “Kamu terlalu banyak nonton drama korea. Ciuman itu saling bersentuhan kulitnya. Ini hanya sedotan.”

“Kamu sudah pernah ciuman?” tanyanya lagi.

Benar-benar tidak sopan. Mana ada lelaki menanyakan hal seperti itu kepada wanita yang baru dikenal?

“Memangnya kenapa?” Aku tidak mengiyakan atau pun menyanggah.

“Mau tahu aja, tetapi kalau dilihat-lihat sepertinya belum pernah tersentuh.” Dia menatapku intens hingga membuatku salah tingkah.

Aku mengambil tisu dan hendak mengelap bibir, tetapi dia mengambil alih tisuku. Aku terdiam atas perlakuannya. Dia mengelap bibirku kemudian menyentuh dengan jari telunjuknya.

Tubuhku mematung, rasanya bagaikan disengat listrik. Perasaan apa ini? “Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan?” Untung aku segera sadar.

“Aku hanya membantumu,” ucapnya sambil tersenyum.

Ya Allah, mengapa aku bertemu dengan makhluk semanis ini? Aku takut tergoda olehnya. Sebisa mungkin aku menjaga diri dan hatiku agar tidak jatuh terlena kepada seorang lelaki. Aku takut menggantungkan perasaan ini selain hanya kepada Allah.

Aku menggelengkan kepala. Aku hanya gadis miskin, aku tidak pantas bersanding dengannya. Dia terlalu sempurna dengan semua yang telah Allah anugerahkan untuknya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama,” ucapnya kemudian beranjak pergi ke kasir.

"Ayo aku antar pulang, sebentar lagi Maghrib," suaranya kembali mengagetkanku. Dia sudah berdiri di depanku lagi, seolah tidak ada jeda antara percakapan kami tadi dan sekarang.

Aku menunduk sejenak, ragu. Perasaanku berkecamuk. Seharusnya aku menolak, tetapi ada sesuatu dalam cara dia menatapku yang membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Dia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Namun, dia menarik tangannya kembali dengan cepat. Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

“Kita harus cepat!”

Aku menatapnya bingung. “Hah?”

Dia melangkah lebih dulu menuju motornya. Entah kenapa bersama Irfan membuatku menjadi lola. Aku merasa seperti orang yang bodoh. Aku lekas berdiri dan mengejarnya sebelum dia berubah pikiran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Fotokopi   Bab 12

    Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.“Baik, Pak!” jawab kami serempak.Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herman dulu memanggilnya dengan sebutan "Pak". Saat di toko fotokopi, dia terlihat jauh lebih santai dan banyak bicara, terutama dengan Mas Herman. Tapi di sini, dia terlihat lebih serius. Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa sekarang aku adalah mahasiswanya.Saat namaku disebut dalam absen, jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar suara datarnya."Rosi, sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanyanya tiba-tiba.Mataku melebar sedikit, tapi aku buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak. Mungkin Ba

  • Gadis Fotokopi   Bab 11

    Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.“Udah, baru aja.”“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”“Beda lagi kasusnya! Mas Herman

  • Gadis Fotokopi   Bab 10

    Pagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk bela

  • Gadis Fotokopi   Bab 9

    “Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?Aku tidak mungkin mena

  • Gadis Fotokopi   Bab 8

    "Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”“Yakin?” tanyanya memastikan.“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja. Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”Beng

  • Gadis Fotokopi   Bab 7

    “Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status