Gadis Fotokopi

Gadis Fotokopi

last update最後更新 : 2026-07-01
作者:  Shofie Widdianto 連載中
語言: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
評分不足
6章節
2閱讀量
閱讀
加入書架

分享:  

檢舉
作品概覽
目錄
掃碼在 APP 閱讀

故事簡介

Wanita Kuat

Cinta yang Manis

POV 1

Novel Ringan

Menjalani hidup dengan aturan keras dari sang ayah, Rosi harus bekerja di toko fotokopi demi membiayai kuliahnya. Syaratnya satu, dia tidak boleh pacaran. Namun, saat cinta terlarang datang, ayahnya tidak tinggal diam. Jodoh yang tak pernah diinginkan kini hadir hingga membuat hidup Rosi berubah drastis. Akankah Rosi bisa mewujudkan cita-citanya atau menikah muda seperti kedua kakak perempuannya?

查看更多

第 1 章

Bab 1

“Duduk!” perintah lelaki di hadapanku ini. Dia adalah pemilik restoran tempatku bekerja, Pak Arkan.

Aku langsung duduk tanpa berani menatap wajahnya. Kulihat tadi saat masuk mukanya sudah merah padam. Kali ini kesalahanku masih sama seperti sebelumnya. Kupikir dia sudah hafal dan bisa memakluminya lagi, tetapi ternyata semua di luar dugaanku. Pak Arkan marah besar.

“Ini yang terakhir, Rosi!” Pak Arkan menggebrak meja di depanku, wajahnya merah padam.

Panci gosong itu tergeletak di antara kami, seperti benda mati yang bersaksi atas semua kesalahanku. Aku menahan napas, tenggorokanku tercekat. Semua kata tertahan di bibirku. Aku tahu, kali ini tidak ada ruang untuk alasan. Namun, tanpa pekerjaan ini, apa yang akan terjadi padaku?

Brak!

Pak Arkan sekali lagi menggebrak meja di depanku hingga membuatku terperanjat. Kupegang dadaku yang mulai berdebar-debar.

“Astaga, Rosi! Ini adalah kelima kalinya kamu menggosongkan panci saya. Gajimu satu bulan nggak akan bisa menggantikannya. Mulai sekarang kamu saya pecat!” ucap Pak Arkan. “Aku nggak peduli lagi berapa lama kamu kerja di sini. Kali ini, kamu keluar!”

Dia memijit pelipisnya dan melempar panci gosong itu tepat di depanku, beruntung aku bisa menangkapnya dan tidak melukai wajahku.

“Tapi, Pak, saya butuh pekerjaan ini.”

“Saya sudah lelah menegur kamu. Selama lima bulan ini kamu sudah melakukan banyak kesalahan. Dan kali ini saya tidak bisa memberikan toleransi lagi. Ini gaji kamu selama dua puluh hari dan kamu bisa angkat kaki dari sini sekarang juga.”

Dengan lemah kuambil amplop coklat bertuliskan gaji 20 hari Rosita. Hari itu adalah terakhir kalinya aku datang ke ruangannya. Di hari yang sama juga aku keluar dari tempat itu membawa gaji terakhir plus bonus panci gosong.

Mungkin memang aku tidak memiliki bakat memasak, masak air saja gosong. Apalagi masak mie instan, ambyar sudah. Selama ini aku tidak pernah belajar memasak. Apalagi sebagai anak terakhir, aku selalu dimanjakan kedua kakakku.

Sekarang aku bingung harus mencari pekerjaan ke mana lagi. Aku tidak mau dinikahkan muda oleh orang tuaku. Aku harus mencari pekerjaan dan melanjutkan kuliah supaya tidak bernasib sama seperti kedua kakakku.

Bagi orang tua kami, perempuan itu tidak perlu berpendidikan tinggi. Ujung-ujungnya bakal ngurus dapur, tetapi aku memiliki keinginan yang berbeda dengan kedua kakakku. Aku ingin sukses dulu baru menikah. Sekarang zaman modern, bukan lagi zaman Siti Nurbaya yang menikah karena dijodohkan, apalagi nikah muda.

Kupandangi gedung dua lantai yang menjadi tempatku bekerja selama setengah tahun ini. Aku sudah terlanjur nyaman meski hanya sebagai pelayan. Wajah pas-pasan dan tidak memiliki pengalaman, sudah lumayan bisa diterima bekerja di restoran mewah di Bumi Mina Tani ini.

Aku bisa masuk sini tentunya karena orang dalam. Restoran ini milik saudara Pak Kades. Dulu aku pernah bekerja dengannya meski hanya bantu bersih-bersih di rumah.

Dengan langkah berat aku keluar menuju gerbang yang sudah dibuka lebar untukku. Beberapa teman mengantarkan kepergianku hingga ke parkiran.

“Kamu masih bisa datang ke sini, Ros. Kita masih bisa bertemu lagi, kamu sebagai pelanggan dan kami sebagai pelayan,” ucap Dwik. Dia salah satu temanku di sini.

“Doakan aku semoga setelah ini bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.” Kupeluk Dwik erat. Dia yang selama ini sangat dekat denganku karena kami sama-sama miskin.

Kami merasa memiliki ikatan yang erat meski bukan saudara. Terkadang kami merasa seperti saudara kembar. Nasib kami tidak jauh berbeda, hanya saja dia lebih beruntung dariku. Orang tuanya mampu membiayai dia kuliah, sedangkan aku harus berjuang sendiri.

Kulambaikan tangan kepada semua teman-teman kemudian pergi. Setengah tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kenangan terukir di sini bersama teman seperjuangan.

Sekarang aku bingung harus pergi ke mana. Jika pulang sekarang, Bapak dan Ibu pasti akan marah. Ini belum waktunya pulang. Mereka sering mengatakan aku harus betah kerja di restoran itu. Katanya tidak enak sama Pak Kades. Namun, bagaimana aku mengatakan kepada mereka jika aku sudah dipecat?

Motorku berhenti di taman hutan kota. Entah mengapa belakangan ini aku suka sekali mampir ke sini, salah satu RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang sering kedatangan pengunjung sepertiku. Udaranya sejuk meski tempatnya di tengah kota. Banyak pohon menjulang tinggi sehingga sinar matahari tak mampu menerobos celah-celah daun.

Aku berjalan menuju ayunan yang masih kosong setelah membeli es degan. Di sini ada beberapa ayunan yang sudah penuh. Kulihat beberapa pasangan kekasih sedang asyik bersenda-gurau di sana. Segera kuhabiskan minumanku supaya mataku tidak ternoda.

Lama termenung dalam kesendirian, kuputuskan untuk pulang ke rumah. Lebih baik jujur meskipun pedih. Aku akan mencari pekerjaan lain sesegera mungkin. Sebentar lagi usiaku 20 tahun. Aku tidak mau dijodohkan seperti kakak-kakakku sebelumnya.

Kembali kulajukan motor menuju ke rumah. Sekarang baru jam sepuluh. Bapak dan Ibu pasti sudah pulang. Namun, ketika berhenti di sebuah perempatan, mataku berbinar melihat ada lowongan pekerjaan yang ditempelkan di pohon palem.

Bagai mimpi di siang bolong, baru saja dipecat dan aku sudah menemukan jalan keluar dari semua permasalahanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kertas tersebut dan datang ke alamat yang tertera di sana.

“Fotokopi, Mbak?” tanya seorang laki-laki yang ada di sebuah toko fotokopi.

“Bukan, Mas. Saya mau ....” Aku bingung harus mengatakan apa. Bahkan aku tidak membuat surat lamaran sebelumnya. Lelaki di depanku ini mengerutkan kening hingga membuat kedua alisnya terangkat.

“Mau apa?” tanyanya lagi. Dia berjalan mendekat sambil membawa kertas fotokopi.

“Saya mau bekerja di sini. Apakah masih ada lowongan?”

Lelaki di depanku ini menatapku dari ujung kepala hingga kaki. Beberapa saat kemudian dia langsung memintaku masuk ke toko.

“Masuk! Kamu diterima bekerja. Langsung latihan mulai hari ini.”

Aku mengerjap, bingung.

“Tunggu, tapi saya belum—”

“Masuk!”

Aku mengikuti lelaki itu masuk ke dalam toko fotokopi meski sebenarnya ada rasa waswas. Mendadak jantungku berdebar lebih kencang.

“Sudah siap? Latihan sekarang atau pekerjaan ini aku kasih ke orang lain!”

Kata-katanya terasa seperti ultimatum.

Aku menelan ludah. Belum sempat bertanya lebih lanjut, pintu di belakangku menutup perlahan.

Duh! Mau diapain aku?

展開
下一章
下載

最新章節

更多章節

致讀者

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

暫無評論。
6 章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status