LOGINPagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.
“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.
Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?
Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.
“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.
Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”
“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.
Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”
“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk belakang kepalanya.
“Bukankah kamu pasti punya banyak teman? Saya akan mengantarkan putri saya dan saya minta tolong ambilkan motornya. Terima kasih sudah peduli dengan Rosi. Silakan pergi!” Bapak meninggalkan Irfan yang masih terlihat kebingungan.
“Tunggu, Pak! Boleh saya bertemu dengan Rosi? Sebentar saja, ada hal yang mau saya omongin.”
Bapak berhenti dan berbalik menatap Irfan. “Tidak! Silakan pergi atau saya gorok kamu!” Bapak melirik ke arah tumpukan rumput di pojokan rumah, makanan buat kambing kami. Di atasnya ada sebuah sabit yang sangat lancip dan berkilau.
“Baik, saya pergi dulu, Pak!” Irfan pergi dengan segera. Sepertinya dia benar-benar ketakutan.
Dari dalam rumah aku tertawa melihat tingkahnya. Dia berbeda, dia berani dengan Bapak meski pada akhirnya dia juga lari terbirit-birit.
Tidak lama setelah kepergian Irfan, aku keluar dan pergi diantar Bapak. Sepanjang perjalanan bapak tidak henti-hentinya menasihatiku. “Kalau motormu mogok lagi, telepon bapak saja. Jangan merepotkan temanmu.”
“Aku tidak merepotkannya, Pak. Dia sendiri yang menawarkan bantuan.”
“Ingat, ya! Jangan sampai kamu terlena olehnya. Kamu harus fokus ke tujuanmu.”
Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, kami sampai di toko. Mas Herman sudah membuka toko. Namun, belum ada pelanggan karena masih pagi.
Aku mencium tangan Bapak kemudian segera masuk setelah dia pergi. Aku hanya melihat motor Mas Herman di samping toko. Sepertinya aman, tidak ada siapa pun.
“Assalamu’alaikum, Mas.” Aku melewati Mas Herman yang sedang main game di komputer.
Seperti biasa aku langsung menuju ruangan di belakang toko. Di sana aku biasa meletakkan tas. Namun, betapa terkejutnya aku kala melihat seorang laki-laki berbaring di kasur lantai tempatku istirahat.
“Astaghfirullah, Irfan? Ngapain kamu ke sini? Mas Herman! Ada penyusup.”
“Ssst!” Irfan berdiri dari tidurnya. “Aku cuma mau ketemu kamu. Hari ini gak ada kuliah. Kamu kerja aja! Aku akan nunggu kamu di sini. Nanti sore aku traktir makan lagi.”
“Gabisa gitu, dong! Kemarin sore murni karena hujan dan motor mogok. Aku nggak mau pulang terlambat lagi. Nanti aku bisa digorok sama Bapak. Pergilah, aku sangat berterima kasih kamu sudah mau menolongku. Untuk traktirannya lain kali saja. Aku tidak mau kena marah lagi.”
Sudah cukup sekali aku pergi dengannya. Aku tidak mau lagi berurusan dengan lelaki. Aku takut melibatkan perasaan. Apalagi ada sesuatu yang bergejolak di hati tiap bertemu dengan Irfan.
“Baiklah! Aku pulang. Motormu akan segera datang.”
“Motor kamu di mana?” Aku tidak melihat motornya di depan.
“Motorku di kampus, aku minta anak-anak ambil motormu. Kalau ketahuan bapakmu melihat motorku di sini, dia pasti akan menggorokku juga,” ucapnya terkekeh, tetapi mampu membuatku tersenyum.
Aku mengabaikannya yang katanya mau pergi, tetapi tidak lekas pergi. Kugantungkan tas di cantolan belakang pintu kemudian kembali ke toko.
Bisa kulihat Mas Herman menertawakanku. “Katanya kemarin nggak mau, nyatanya malah makan bareng dan pulang bareng. Dih, romantis banget!”
Malu sekali rasanya, bagaimana bisa Irfan mengatakannya pada Mas Herman? Kini aku harus siap diledeki Mas Herman sepanjang hari.
“Hebat kamu, Fan! Aku dukung kalian,” ujar Mas Herman lagi.
Irfan berdiri dan menyusul kami. “Makasih, Man.”
“Masama.”
Mereka melakukan tos di hadapanku.
Aku memutar bola mata malas. Entah apa yang mereka bicarakan sebelum kedatanganku. Sepertinya tidak hanya tentang hal kemarin sore. Aku menggeleng dan tidak mau memikirkannya.
“Aku sudah punya nomormu, barusan nomorku yang kirim wa.” Irfan pergi setelah mengucapkan kalimat itu.
“Mas Herman!” Aku berkacak pinggang hendak meninjunya, tetapi dia menghindar.
“Sudahlah, tidak perlu gengsi. Kamu juga sepertinya menyukainya.”
“Tidak!” Aku meyakinkan Mas Herman jika aku tidak menyukai Irfan.
“Terserah apa katamu, tetapi semua orang juga tahu kalau kamu terlihat tertarik dengannya.”
Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menundukkan mataku. Namun, Irfan adalah satu-satunya lelaki yang berani mendekatiku secara terang-terangan. Tentu aku speechless dibuatnya. Aku tidak bisa menghindari tatapan matanya, justru aku ingin berlama-lama menatap mata beningnya.
“Tuh ‘kan melamun, pasti lagi mikirin Irfan.” Lagi-lagi Mas Herman meledekku.
“Mbak, fotokopi!”
Bersyukur ada pelanggan datang. Aku bisa menghindar dari ledekan Mas Herman.
Siang ini Pak Bos pamit pergi setelah mengantarkan makan siang. Mereka sekeluarga akan pergi liburan ke luar kota selama dua hari. Toko harus tetap buka meskipun mereka pergi. Namun, Mas Herman malah menyerahkan kunci toko kepadaku.
“Kamu aja yang bawa kuncinya.” Apa maksudnya? Bukankah dia yang diamanahi oleh Pak Bos?
“Nggak bisa gitu, Mas! Kan Pak Bos minta kamu yang bawa kuncinya.”
Aku yakin dia pasti merencanakan sesuatu. Tidak biasanya dia seperti ini.
“Malam minggu, aku mau pulang cepet. Sudah ada janji ama pacarku.”
“Astaghfirullah, Mas. Jadi, kamu mau ninggalin aku sendirian? Ini hari Sabtu, Mas. Toko rame banget kalau sore. Tega banget kamu!”
“Ya sudah gini aja. Kamu bisa istirahat makan siang sama Irfan sebagai gantinya.”
Apa? Dia mau menyogokku? Atau dia mau menjebakku bersama temannya?
“Maksud kamu apa, Mas?”
“Bukankah Irfan tadi mengajakmu makan? Sesekali tidak apa-apa. Aku nggak akan bilang ke siapa-siapa. Aman pokoknya. Bapak kamu tidak akan mengetahuinya.”
Aku menggelengkan kepala. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Cukup kemarin aku membohongi Bapak.
“Tidak, Mas. Aku makan di sini saja. Lagian sudah ada makanan. Ngapain pergi ke luar?”
Mas Herman menarik napas panjang. “Terserah kamu saja. Aku akan tetap pergi sebelum Asar. Kalau kamu takut sendiri, aku akan meminta Irfan menemanimu. Aku jamin dia tidak akan berani macam-macam. Dia lelaki yang baik sebenarnya.”
Mas Herman benar-benar pergi sebelum azan Asar. Padahal aku sudah memintanya menunggu sebentar saja. Kini tinggal aku sendiri di toko. Kulihat motorku sudah terparkir rapi di samping toko. Seorang laki-laki gendut memberikan kuncinya kepadaku tadi siang.
Aku mengecek ponselku, sebuah pesan dari seseorang mengagetkanku.
“Mau aku temenin?”
Aku mengabaikannya. Mas Herman pasti sudah mengatakan kepadanya.
Aku menarik napas panjang, berusaha tetap tenang saat mendengar suara motor Irfan berhenti di depan toko. Suara langkah kaki mendekat, semakin dekat. Irfan muncul sambil tersenyum santai seolah-olah tak ada yang aneh.
“Kenapa nggak balas pesanku?”
Aku diam, menunduk, pura-pura sibuk merapikan sesuatu di meja kasir. "Aku nggak lihat hape. Toko rame. Aku dah terbiasa sendiri, aku baik-baik aja.”
“Serius?” Dia mendekat, tubuhnya kini hanya berjarak beberapa langkah dariku. “Kenapa? Kamu takut sama aku?”
Aku menelan ludah. Ada yang berbeda dari caranya bicara. Aku menatapnya, aku merasa ada sesuatu yang lain di balik sikap ramahnya.
“Eng-nggak!”
Tiba-tiba ponselku bergetar di saku. Sebuah pesan masuk. Saat aku membukanya, darahku seakan membeku.
"Jangan pernah percaya siapa pun. Aku tahu siapa dia sebenarnya."
Jantungku berdetak kencang. Pesan itu dikirim dari nomor tak dikenal. Siapa yang mengirimkan pesan itu?
Jan lupa like dan komen yaaa
Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.“Baik, Pak!” jawab kami serempak.Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herman dulu memanggilnya dengan sebutan "Pak". Saat di toko fotokopi, dia terlihat jauh lebih santai dan banyak bicara, terutama dengan Mas Herman. Tapi di sini, dia terlihat lebih serius. Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa sekarang aku adalah mahasiswanya.Saat namaku disebut dalam absen, jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar suara datarnya."Rosi, sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanyanya tiba-tiba.Mataku melebar sedikit, tapi aku buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak. Mungkin Ba
Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.“Udah, baru aja.”“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”“Beda lagi kasusnya! Mas Herman
Pagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk bela
“Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?Aku tidak mungkin mena
"Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”“Yakin?” tanyanya memastikan.“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja. Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”Beng
“Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub







