共有

Bab 11

last update 公開日: 2026-10-04 11:25:11

Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.

“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.

“Udah, baru aja.”

“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.

“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”

Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.

“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”

“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”

Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”

“Beda lagi kasusnya! Mas Herman itu teman kerja. Kami enggak memiliki hubungan apa-apa.”

“Kalau sama aku?”

“Kita bukan mahram! Enggak baik kalau lama-lama seperti ini.”

“Mau aku halalin?” tanya Irfan.

Sepertinya dia memang pandai membual. Ya Allah, selamatkan jantungku. Seumur-umur belum ada lelaki yang kurang ajar sepertinya. Dia bisa membuat kesehatan jantungku terancam, aku merasakan debarannya lebih hebat kali ini.

“Diam berarti mau!” imbuhnya lagi.

“Dih! Pede banget jadi orang.” Aku menggeleng, “Kamu tidak perlu membualku karena semua itu tidak akan berhasil.”

“Oh ya? Kenapa bisa begitu?”

“Karena aku sudah membentengi diriku untuk tidak jatuh cinta.”

“Omong kosong! Aku akan membuatmu jatuh hati padaku.”

“Percuma, sia-sia dan hanya akan membuang waktumu!”

“Whatever!” Irfan pergi keluar meninggalkanku sendiri. Dia terlihat sangat kesal.

Menjelang pukul empat sore, toko mulai rame. Jelas terlihat di balik jendela kaca jika Irfan sedang berbicara dengan seorang perempuan. Dasar buaya! Dia itu pandai menggombal, Ros! Pasti banyak sekali wanitanya.

Tepat pukul setengah lima aku menutup toko. Kulihat Irfan masih sibuk memainkan ponselnya. Dia tidak mengganggu lagi semenjak aku menolaknya tadi. Apakah kata-kataku terlalu kasar dan menyakitinya?

“Sudah tutup?” tanya Irfan kala melihatku sudah naik motor dan bersiap pulang.

“Iya, sudah sore.”

Seperti biasanya aku akan salat dahulu sebelum pulang supaya tenang saat perjalanan. Meski sibuk bekerja, kita tidak boleh lupa akan kewajiban kita sebagai muslim.

“Aku antar sampai rumah, ya!” tawar Irfan sambil menghidupkan motornya.

“Tidak perlu! Kamu akan digorok Bapak jika berani muncul di depannya. Terima kasih sudah menemaniku hingga toko tutup.”

“Ongkosnya mana?” Irfan mengulurkan tangannya di depanku.

“Oh iya lupa, aku belum memberikan uang ganti ke bengkel. Maaf aku benar-benar lupa!” Aku hendak mengambil uang di dalam dompet, tetapi dengan segera dia mencegahnya.

“Aku tidak mau uang. Aku hanya ingin mengantarkanmu pulang. Ini perintah, bukan tawaran.”

Aku menghela napas panjang, “Baiklah, tapi tetap jaga jarak dan jangan terlalu dekat. Setelah aku sampai rumah, kamu harus langsung pergi. Jangan sampai terlihat oleh Bapak.”

“Oke!”

Akhirnya aku menerima tawarannya untuk mengantarkanku pulang. Dia berada lima meter di belakangku. Aku bisa melihatnya dari kaca spion.

Aku tak henti-hentinya tersenyum hingga sampai di rumah. Namun, seperti kemarin … Irfan akan menunggu sampai aku benar-benar masuk rumah. Padahal aku sudah memintanya untuk segera pulang sebelum ketahuan Bapak, tetapi dia tetap kukuh ingin melakukannya.

“Pulanglah! Aku takut Bapak marah.” Aku mengirimkan pesan untuknya setelah sampai di depan rumah.

“Masuklah, aku akan pergi setelah melihatmu aman.”

“Aku tidak ingin Bapak melihat kehadiranmu.”

Dia akhirnya pergi juga hingga bisa membuatku bernapas lega.

Hari-hari yang kulalui terasa lebih indah dengan kehadirannya. Terkadang aku tersenyum sendiri membayangkan tingkahnya. Apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya? Aku ingin menepis rasa itu, tetapi semakin aku Melupakannya, semakin nyata bayang dirinya.

*** 

Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah. Aku tidak sabar melihat dunia perkuliahan di kampus.

Perasaan gugup membuatku tidak nyaman berada di kampus. Tempat ini penuh dengan mahasiswa dan mahasiswi yang keren. Penampilan mereka jelas terlihat berbeda denganku. Aku terlihat mencolok karena memakai baju atasan selutut dan bawahan rok sepan.

Banyak mata melirikku hingga membuatku tidak nyaman. Namun, kehadiran seseorang membantuku melewati semua ini.

“Ayo aku antar ke kelas!” Irfan menarik tanganku paksa. Semua mata menatap heran. Apakah mereka tidak pernah melihat adegan seperti ini?

“Mas Irfan, lepas! Malu dilihatin banyak orang.”

Aku mencoba melepaskan tanganku, tetapi tangan Irfan lebih kuat. Dia tidak memedulikanku hingga sampailah kami di depan kelas.

“Masuklah! Tidak akan ada yang berani mengganggumu setelah ini.” Setelah mengatakan itu, Irfan pergi begitu saja.

Aku segera masuk kelas dan mencari tempat duduk. Hari pertama kuliahku masih sepi. Aku belum memiliki teman sama sekali. Padahal aku berangkat lebih awal karena ingin berkenalan dengan teman-teman.

Tidak lama kemudian datang tiga wanita memakai jilbab dengan warna yang berbeda. Mereka langsung duduk tanpa menyapaku. Aku sudah terbiasa tidak dianggap, perlakuan mereka tidak akan membuatku tersinggung.

Entah mengapa rasanya aku sangat mengantuk. Padahal sebelum berangkat sudah meminum kopi. Aku menopang dagu dengan sebelah tangan sambil bermain ponsel. Tiba-tiba ada seseorang yang sengaja menyenggolnya hingga membuatku hampir terjatuh.

“Maaf, aku tidak sengaja,” ucapnya terlihat menyesal, tetapi semua orang menertawakanku.

Bel berbunyi. Semua orang kembali duduk ke tempatnya masing-masing. Seorang lelaki muda masuk ke kelas. Sambutan riuh dan tepuk tangan memenuhi ruangan ini. Sepertinya dia dosen muda yang akan menjadi pengisi mata kuliah pertama hari ini. Penampilannya jelas berbeda dengan mahasiswa pada umumnya.

“Assalamu’alaikum, selamat siang semuanya?”

“Wa’alaikum salam.” Semua mahasiswa menjawab salam, sedangkan para mahasiswi bengong kecuali aku.

Aku masuk kuliah siang karena paginya harus bekerja. Pulang kuliah aku bisa langsung pulang karena toko sudah tutup. Aku hanya bekerja sampai siang hari. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

“Hello! Apa kabar semuanya?” ucapan Dosen tampan itu menyadarkanku, tetapi semua mahasiswi makin dibuat bengong.

“Alhamdulillah, baik, Pak.” Aku menjawab sendiri karena yang lain diam.

“Hari ini kita perkenalan dulu, ya! Bukankah tak kenal maka tak sayang?”

Kami memulai perkenalan dari dosen tersebut. Namanya Pak Arif. Dia sudah memiliki anak dan istri. Beberapa mahasiswi tampak kecewa. Aku bosan dan mengantuk mendengarkan teman-teman berkenalan satu per satu.

Muka memang sangat menipu. Yang terlihat ganteng dan muda ternyata sudah berkeluarga. Tidak diragukan lagi jika akhir-akhir ini marak sekali kasus perpelakoran. Mereka pasti mengira jika si lelaki masih lajang. Padahal dia sudah memiliki anak dan istri di rumah.

Setelah perkenalan selesai, kami langsung diperkenalkan dengan mata kuliah yang akan diampu olehnya.

Dia mengajar mata kuliah bahasa Inggris, pelajaran yang sangat tidak aku sukai. Bahasa Inggrisku lemah karena lidahku susah mengucapkannya. Lisanku masih kaku, namanya juga lidah orang jawa. Sangat medok.

Aku hanya memiliki sedikit vocabulary dalam bahasa Inggris. Satu yang mudah kuingat yaitu “I love you!”

“How are you?” tanya Pak Arif.

Kulihat kanan dan kiri mereka senyum-senyum menatap Pak Arif. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjawabnya. “I love you too.”

Aku mengucapkannya terlalu keras hingga membuat seisi kelas meneriakiku. “Huuu!”

“Sudah! Jangan berantem. Kita lanjut lagi.”

Aku terlalu mengantuk dan juga bersemangat hingga salah menjawab. Betapa malunya aku.

***

Jam pertama berakhir pukul 15.30 WIB. Aku pergi ke musala sebentar untuk menunaikan salat Asar. Kulihat teman-teman tidak lekas salat, padahal kami pulang jam lima sore. Sudahlah, tidak perlu memikirkan orang, lebih baik fokus pada diri sendiri.

Sepi sekali. Hanya ada beberapa mahasiswa yang salat. Tidak ada salat jamaah di sini. Mereka semua salat sendiri-sendiri bagaikan dikejar deadline. Aku hendak berwudu, tetapi aku terperanjat kala seorang lelaki berwudu di sebelahku.

Musala di kampus ini bisa dibilang unik. Tempat wudunya di luar dan tidak ada kamar mandinya. Aku menyibakkan jilbab ke belakang kemudian menghidupkan keran. Di samping tempat wudu ada taman bunga kecil yang indah. Bunga sepatu di taman itu bergoyang-goyang menyaksikan kami membasuh anggota wudu.

“Ngapain bengong? Buruan wudu, nanti aku imami!” Irfan menyadarkanku dari lamunan.

Entah mengapa dia selalu ada di mana-mana. Aku segera mengikutinya masuk ke musala setelah wudu. Aku tidak membawa mukena, kupikir di sini sudah disediakan, ternyata zonk.

“Kamu salat dulu aja! Aku nungguin mbaknya, enggak bawa mukena,” ucapku kala Irfan menoleh ke belakang.

“Aku akan menunggumu.”

“Sebenarnya kamu kuliah hari apa, sih? Tiap hari perasaan di kampus terus.”

“Tiap hari, biar cepet selesai.”

Ada-ada saja jawaban Irfan. Namun, sepertinya ada yang berbeda dengannya. Omongannya tidak sereceh ketika di toko. Apakah dia sedang jaim?

Tidak lama kemudian wanita di sampingku selesai melaksanakan salat. Aku meminjam mukenanya kemudian salat dengan diimami Irfan. Beberapa orang yang baru masuk langsung berbaris di belakangnya. Beberapa mahasiswi juga berbaris di sampingku.

“Kembalilah ke kelas! Aku akan menunggumu sampai pulang.” Kulihat Irfan merebahkan diri di atas sajadah.

Bukankah dia biasanya pulang jam empat? Kenapa malah menungguku? Aku merasa tidak enak.

“Em, maaf. Bukankah kamu biasanya pulang jam empat?”

“Aku lagi jagain bidadariku.” Haish! Dia menggombal lagi.

“Dasar buaya!”

Aku meninggalkannya yang menertawakanku kemudian segera kembali ke kelas.

Ruangan ini terasa panas karena sinar matahari sore menembus jendela.  Beberapa mahasiswa masih sibuk dengan laptopnya. Aku kembali duduk di meja paling belakang, tetapi tasku tidak ada di tempat.

“Kamu cari ini?” Aku berbalik mendengar suara seorang wanita.

“Terima kasih sudah menemukan tas saya!” Aku hendak mengambil tasku, tetapi wanita yang bernama Antik ini menggodaku. Dia mengangkat tas tinggi-tinggi hingga membuatku kesusahan.

Aku malas meladeninya karena hanya akan jadi bahan candaan. Mereka hanya akan membuang-buang waktuku saja. Aku kembali duduk tanpa memikirkan tasku.

Sore ini aku sudah tidak mengantuk lagi. Mungkin karena sudah terkena air wudu atau karena bertemu Irfan? Pikiranku mulai terkontaminasi olehnya.

Suara salam yang lantang dari seorang laki-laki membuat seisi kelas hening. Wanita yang mengambil tasku melemparkannya begitu saja ke mukaku. Ruangan terasa semakin hening saat dosen itu berdiri di depan kelas. Semua mata tertuju padanya, termasuk aku.

“Bisa kita mulai mata kuliah sore ini?” tanya dosen tersebut.

Tunggu! Bukankah dia adalah lelaki yang beberapa waktu lalu terjebak hujan di toko? Jadi dia itu dosen?

Matanya tiba-tiba bertemu dengan mataku. Tatapan itu ... bukan sekadar tatapan biasa. Sepertinya dia juga mengenaliku, meskipun belum mengatakan apa-apa.

“Kamu,” gumamnya, hampir tak terdengar.

Perasaan aneh mulai menyelinap. Apa yang sebenarnya dia ketahui tentangku? Kenapa dia menatapku seperti itu?

Tiba-tiba, ponselku bergetar di dalam tas, membuatku tersentak. Aku melirik layar, satu pesan masuk. Dari nomor yang tak kukenal.

“Ada yang perlu kita bicarakan. Segera!”

Dadaku berdegup kencang. Siapa ini?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Gadis Fotokopi   Bab 12

    Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.“Baik, Pak!” jawab kami serempak.Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herman dulu memanggilnya dengan sebutan "Pak". Saat di toko fotokopi, dia terlihat jauh lebih santai dan banyak bicara, terutama dengan Mas Herman. Tapi di sini, dia terlihat lebih serius. Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa sekarang aku adalah mahasiswanya.Saat namaku disebut dalam absen, jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar suara datarnya."Rosi, sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanyanya tiba-tiba.Mataku melebar sedikit, tapi aku buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak. Mungkin Ba

  • Gadis Fotokopi   Bab 11

    Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.“Udah, baru aja.”“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”“Beda lagi kasusnya! Mas Herman

  • Gadis Fotokopi   Bab 10

    Pagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk bela

  • Gadis Fotokopi   Bab 9

    “Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?Aku tidak mungkin mena

  • Gadis Fotokopi   Bab 8

    "Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”“Yakin?” tanyanya memastikan.“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja. Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”Beng

  • Gadis Fotokopi   Bab 7

    “Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status