로그인“Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.
Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.
Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.
Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?
Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.
“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.
“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?
Aku tidak mungkin menawarkannya untuk singgah sejenak meski sudah terdengar suara azan. Bapak dan Ibu bisa marah jika tahu anak perempuannya diantar pulang oleh laki-laki. Aku bisa dikawinkan sekarang juga dan tidak jadi kuliah.
“Udah, pergi sana!” Aku segera mengusirnya sebelum ketahuan Bapak.
“Jasku ketinggalan!” ucapnya sambil menunjuk diriku.
Aku bahkan lupa jika sedang memakai jasnya. Dia pasti sangat kedinginan. Aku segera melepas dan memberikan jas almamaternya. “Makasih atas bantuannya.”
“Aku nggak disuruh mampir?” tanyanya menggoda. Aku menggeleng dan mendorongnya supaya segera pulang.
“Aku nggak akan pergi sebelum melihatmu benar-benar masuk rumah,” ucap Irfan. Mungkin dia tidak percaya jika rumah kecil itu adalah rumahku.
Aku melambaikan tangan sebelum masuk rumah. Saat aku sampai di depan pintu, kulihat Bapak dan Ibu sedang berkacak pinggang.
“Assalamu’alaikum, Bu.” Aku mencium tangan mereka bergantian.
“Siapa lelaki itu? Di mana motormu? Kenapa pulang diantar lelaki? Bapak tidak akan mengizinkanmu bekerja jika akhirnya seperti ini. Kamu bilang ingin bekerja dan kuliah supaya tidak seperti kakak-kakakmu. Lalu apa bedanya kamu sama mereka? Bapak menyesal telah menolak Pak Malik. Seharusnya kamu mau dijadikan istri keduanya.” Bapak menampar pipiku hingga terjatuh di lantai.
“Pak, dengerin Rosi dulu!” Ibu melindungiku kala Bapak hendak memukulku lagi.
Aku sudah terbiasa dipukul Bapak sejak kecil. Tidak ada yang berani menentangnya termasuk Ibuku. Kedua kakak perempuanku dinikahkan muda supaya mengurangi beban keluarga. Kini tinggal aku satu-satunya anak yang masih menumpang di rumah ini.
Aku menangis di pelukan Ibu. Bapak pergi tanpa mendengarkan penjelasan dariku. Aku tidak pernah membantah jika Bapak marah karena dia akan memukulku jika melawan. Lebih baik diam dan menangis. Toh esok Bapak sudah lupa.
Beberapa bulan yang lalu Bapak memintaku menerima lamaran Pak Malik untuk menjadi istri keduanya. Tentu saja aku tidak mau menikah dengan lelaki bau tanah sepertinya. Dia lebih pantas menjadi Bapakku. Masa depanku masih panjang, aku tidak mau menikah dengan lelaki yang usianya lebih tua dari Bapak.
Bersyukur Bapak mau menghargai keputusanku dan mengizinkan kuliah dngan syarat aku tidak akan pacaran sampai lulus kuliah.
“Kalau kamu mau kuliah, kamu harus bisa menjaga diri dari lelaki, kamu tidak boleh pacaran! Pacaran hanya akan membuang-buang waktumu dengan percuma. Kamu janji sama Bapak hanya akan menikah setelah lulus kuliah.” Nasihat Bapak kala aku meminta izin untuk melanjutkan kuliah masih terekam jelas di kepala.
Tujuan Bapak sebenarnya baik. Dia ingin melihatku lulus tanpa ada gangguan yang melibatkan perasaan. Pacaran hanya akan membuang waktuku sia-sia.
Sudah banyak perempuan yang kuliah kemudian menikah. Mereka tidak mampu melanjutkan kuliah karena sibuk mengurus keluarga. Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar kuliah malah digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Terlebih mereka sudah disibukkan dengan kehadiran anak.
Lalu, hari ini aku tanpa sengaja melanggar syarat dari Bapak. Aku mulai dekat dengan lelaki.
“Bersihkan tubuhmu dan salatlah. Bapak hanya sedang mengkhawatirkanmu.” Ibu mengusap kepalaku. Aku mengangguk, segera mandi dan salat Maghrib.
Aku menangis dalam sujudku. Bapak bukannya tidak menyayangiku. Dia sangat menyayangi kami hingga tidak membiarkan kami pacaran. Kedua kakakku langsung menikah setelah ada lelaki yang melamarnya. Mereka juga sama sepertiku tidak pernah pacaran.
Pacaran dilarang dalam agama karena mendekati zina. Aku mengusap bibirku, seorang laki-laki bernama Irfan telah berani menyentuhnya. Aku beristighfar berkali-kali meminta pengampunan kepada Allah.
“Nduk, makan dulu. Kamu pasti lapar. Ibu memasak sayur asem-asem buncis kesukaanmu,” ucap Ibu sambil mengetuk pintu kamarku dari luar.
“Iya, Bu. Rosi beres-beres dulu.” Aku segera membereskan seperangkat alat salat yang kukenakan.
Kami makan malam bersama dalam kesunyian. Tidak ada obrolan malam ini. Hanya suara dentingan sendok yang mendominasi.
“Motormu ke mana?” tanya Bapak. Matanya memancarkan amarah. Aku takut dan tidak berani memandangnya jika Bapak dalam mode ini.
“Businya mati, bengkelnya jauh. Jadi, aku meninggalkannya di toko.”
“Lelaki yang tadi siapa?” tanya Bapak lagi. Kali ini dia tidak menatapku.
“Irfan, temannya Mas Herman. Dia yang mau bantuin bawa motorku ke bengkel.”
Bapak tidak melontarkan pertanyaan lagi. Kami diam hingga makanan di piringku habis.
“Jangan terlalu dekat dengannya! Ingat tujuan awalmu.” Bapak pergi setelah mengucapkan kalimat itu.
Ibu tersenyum kepadaku. “Bapak menyayangimu, Nduk. Dia takut putrinya terluka.” Ibu menunjuk ke arah dadaku.
Aku tahu yang dimaksud oleh Ibuku. Mereka tidak ingin aku mengalami patah hati, itulah salah satu alasan mengapa aku tidak diperbolehkan pacaran.
“Rosi janji, Bu. Insya Allah bisa menjaga hati dan perasaanku.”
Aku sering melihat teman sekolahku bergonta-ganti pacar, tetapi aku tidak pernah berpacaran sekali pun. Lucu sekali memang hidup ini. Mereka sering pergi kencan, jalan-jalan dan nonton bareng. Namun, aku tidak pernah mengkhawatirkannya. Aku yakin Allah sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukku.
Aku kembali ke kamar setelah semuanya usai. Semua perlengkapan makan sudah dibereskan Ibu. Aku hanya membantu mencuci piring dan gelas.
“Rosi, tunggu!” Aku berbalik sebelum masuk kamar. Bapak sepertinya baru pulang dari masjid. Dia masih memakai koko, sarung, dan peci.
“Dalem, Pak. Ada apa?”
“Maafkan Bapak terlalu kasar padamu.” Tiba-tiba Bapak memelukku.
Aku bergeming, ternyata Bapak sangat menyayangiku. Kupikir dia tidak akan memaafkanku.
“Maafkan Rosi juga, Pak. Tanpa sengaja sudah melanggar aturan dari Bapak.”
“Kamu tidak salah, Nduk. Bapak terlalu mengkhawatirkanmu karena tidak kunjung pulang, dan ternyata kamu pulang bersama lelaki. Hal itu membuat Bapak lepas kendali. Bapak tidak mau kamu nantinya akan patah hati.
Bapak pernah muda juga. Patah hati bisa membuatmu terpuruk. Bapak tidak mau kamu gagal dalam menggapai impian hanya karena memiliki hubungan dengan lelaki. Di dunia ini tidak ada persahabatan yang kekal antara perempuan dan laki-laki.”
Ternyata sejauh itu pemikiran Bapak. Aku bisa tidur tenang malam ini karena sudah berbaikan dengan Bapak.
“Makasih, Pak. Rosi sayang sama Bapak.”
“Tidur dan istirahatlah, besok Bapak yang akan anterin kamu kerja,” ujar Bapak sambil tersenyum lembut, mengusap rambutku dengan penuh kasih sayang.
Deg! Jantungku berdetak kencang. Aku tiba-tiba teringat akan janji Irfan. Besok dia akan menjemputku. Mati aku!
Aku menelan ludah, tubuhku terasa kaku. Bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada Bapak? Jika besok Irfan benar-benar datang, Bapak pasti marah besar. Aku menatap wajahnya yang penuh kasih, rasa bersalah menguasai hatiku. Aku tidak ingin mengecewakannya lagi.
“Pak … besok itu Rosi ….” Aku mencoba membuka pembicaraan, tapi suaraku tersendat di tenggorokan.
Bapak menatapku dengan lembut, tanpa tahu apa yang sedang bergolak dalam pikiranku. "Apa, Nduk?"
Aku tidak bisa menjawab. Pikiranku kacau. Sementara itu, bayangan wajah Irfan dan tatapan Bapak yang penuh harap berputar di kepalaku.
Apa yang harus kulakukan?
Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.“Baik, Pak!” jawab kami serempak.Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herman dulu memanggilnya dengan sebutan "Pak". Saat di toko fotokopi, dia terlihat jauh lebih santai dan banyak bicara, terutama dengan Mas Herman. Tapi di sini, dia terlihat lebih serius. Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa sekarang aku adalah mahasiswanya.Saat namaku disebut dalam absen, jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar suara datarnya."Rosi, sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanyanya tiba-tiba.Mataku melebar sedikit, tapi aku buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak. Mungkin Ba
Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.“Udah, baru aja.”“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”“Beda lagi kasusnya! Mas Herman
Pagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk bela
“Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?Aku tidak mungkin mena
"Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”“Yakin?” tanyanya memastikan.“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja. Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”Beng
“Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub







