LOGIN“Panas banget, ya Allah!”
Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah. Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan. Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub malam, mereka bekerja di sana sebagai pemandu karaoke. Bersyukur aku masih mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa melanjutkan kuliah nantinya. Sekeras apa pun hidup, aku yakin bisa melewatinya. Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui batas kemampuan hamba-Nya. “Maaf, panas banget ini, Mas!” Aku segera memakai jilbab. Kain persegi empat yang kulipat menjadi dua bagian hingga membentuk segitiga. Kupakai asal dan menalinya di bawah dagu. Belum selesai memakai jilbab, sudah ada pelanggan datang. “Fotokopi, Mbak.” Seorang lelaki memakai jaket datang bersama turunnya air hujan. “Aku mau ke kamar mandi, tolong kamu yang fotokopi!” Mas Herman lari ke belakang. Aku segera ke depan menggantikan Mas Herman. “Mau fotokopi apa, Mas?” tanyaku sopan. Lelaki ini terlihat tidak seperti mahasiswa, tetapi jika kupanggil ‘Pak' juga kurang pantas. Dia masih cukup muda, tapi sepertinya sudah matang. Ah mikir apa, sih, aku ini? Memangnya dia buah-buahan? Aku menggelengkan kepala. “Undangan hajatan, Mbak. Tujuh hari nenek saya!” jawab lelaki di depanku sambil menunduk. Dia mengambil sebuah lembaran kertas dari dalam tasnya. Tidak biasanya ada lelaki pemalu seperti ini. Biasanya mahasiswa yang fotokopi di toko ini suka menggodaku. Tidak tanggung-tanggung terkadang sampai membuatku melarikan diri ke kamar mandi. “Jejer dua ini, Mas?” tanyaku memastikan. “Iya, seratus lembar, ya, Mbak!” Jika dia meminta fotokopi menjadi seratus lembar, maka cukup bagiku memfotokopi menjadi 50 lembar karena setiap lembar akan dipotong menjadi dua. Tanpa menunggu lama segera kuselesaikan tugasku. Aku tidak lupa memotong kertas undangan tersebut menjadi dua supaya dia tidak kesusahan memotong sendiri. Saat aku sedang menulis nota, tiba-tiba Mas Herman datang mengagetkanku. “Eh, ada Pak Daren. Sudah masuk lagi, Pak?” Pak Daren? Ternyata Mas Herman mengenal laki-laki ini. “Alhamdulillah sudah, Mas. Banyak yang harus saya selesaikan di kampus,” jawab lelaki yang kutahu namanya Daren. “Semuanya sepuluh ribu, Pak.” Aku mengikuti cara Mas Herman memanggilnya. Padahal sebelumnya aku memanggil dengan sebutan ‘Mas’. Dia memberikan selembar uang kertas berwarna hijau. Aku undur diri setelah memberikan kembalian kepadanya. “Duduk dulu, Pak! Hujannya deras.” Mas Herman mempersilakan lelaki itu duduk. Mereka berbincang cukup lama dan aku tidak memedulikannya. Lebih baik aku kembali ke belakang untuk beristirahat. Hujan deras seperti ini pasti tidak ada pelanggan yang datang. Aku memainkan ponsel membuka sosial media, tetapi hingga azan asar hujannya tidak kunjung reda. Aku segera menunaikan kewajiban supaya nanti bisa langsung pulang setelah toko tutup. Aku mulai cemas karena hujan tidak kunjung reda. Lebih baik aku menghubungi Ibu supaya beliau tidak khawatir. Mereka pasti mengkhawatirkanku. “Assalamu’alaikum, Bu. Maaf Rosi sepertinya pulang terlambat. Di sini hujannya tidak kunjung reda. Aku lupa bawa jas hujan, Bu.” “Ya sudah, kamu pulang nanti saja kalau hujannya reda. Hati-hati jalanan licin. Nggak usah ngebut, yang penting selamat sampai rumah.” “Baik, Bu. Rosi akan hati-hati.” Aku menutup telepon setelah Ibu mengucapkan salam. Kulihat Mas Herman masih menemani lelaki yang fotokopi tadi. Betah sekali mereka berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, aku sama sekali tidak ingin mengetahuinya. Seulas senyum terbit di bibir mengingat sebentar lagi aku akan mendaftar kuliah. Hal yang selama ini aku impikan. Kulihat mahasiswa di sini tidak ada yang spesial. Yang paling terlihat menonjol adalah cara berpakaiannya. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya. Bisa kuliah saja sudah syukur alhamdulillah. Tidak perlu neko-neko dan sok banyak gaya. Mereka tidak akan tahu kalau aku sudah menganggur selama satu tahun. Mereka pasti berpikir aku sama dengan mereka yang baru lulus sekolah. Di kampus ini tidak hanya anak muda yang kuliah. Banyak juga bapak dan ibu guru yang melanjutkan kuliah karena belum memiliki gelar sarjana. Jadi, aku harus percaya diri dan tidak perlu khawatir. Bisa jadi di kelasku nanti juga ada bapak-bapak dan ibu-ibu. “Ros, pulang, yuk! Hujannya sudah reda.” Mas Herman sudah bersiap-siap menutup pintu. Beberapa mahasiswa terlihat sudah pulang karena hari mulai gelap. Aku membereskan toko terlebih dahulu. Mesin fotokopi dan komputer harus ditutup dengan plastik supaya tidak kebocoran dan rusak. Mas Herman membersihkan lantai depan dan teras toko, sedangkan aku membersihkan yang di dalam. Kami segera menutup pintu dan keluar setelah toko bersih. “Aku balik dulu, Ros. Hati-hati jangan ngebut! Jalanan licin.” Mas Herman memperingatiku sebelum menjalankan motornya. Kulihat jam di ponsel menunjukkan pukul 16.20. Mahasiswa kelas siang pasti belum pulang, tetapi mahasiswa kelas pagi sudah tidak terlihat batang hidungnya. Aku segera memakai helm kemudian menghidupkan motor, tetapi mesinnya malah tidak bisa hidup. Mampus aku! Sepertinya businya mati terkena air hujan. Mana jauh lagi bengkelnya. Di sini tidak ada bengkel. Kunci ruko sudah dibawa Mas Herman karena dia katanya pulang melewati rumah Pak Bos. Rasanya aku ingin menangis. Kupikir hujannya tidak terlalu deras dan motorku aman. Ternyata businya terkena air. Tamat sudah riwayatku. Aku mondar-mandir mencari ide supaya bisa pulang sebelum Maghrib. Namun, otakku seakan berhenti bekerja di saat lapar seperti ini. Lebih baik aku segera menghubungi Mas Herman, semoga dia belum sampai di rumah. Aku bisa meminta tolong untuk mengantarkanku pulang. Namun, belum sempat aku menelepon, seorang laki-laki memakai jaket almamater turun dari motor ninja. Saat dia membuka helm, aku dibuat terkejut olehnya. Dia adalah lelaki yang tadi siang membuatku merasa sangat malu. “Hai, Ros. Belum pulang?” tanyanya santai. “Belum, motorku mati. Bisa tolong bantuin aku?” Di saat seperti ini aku harus mengesampingkan gengsi. Biar pun dia lelaki menyebalkan, Irfan pasti mau menolongku. Namun, ada yang berbeda. Dia tidak seperti Irfan yang kutemui tadi siang. Dia terlihat lebih angkuh. “Minta tolong?” dia mengerutkan kening. “Bisa antarkan aku ke bengkel? Motorku businya mati. Aku tidak berani pulang jika sudah malam. Mataku sedikit minus, aku bisa menabrak orang jika berkendara di malam hari.” Semenjak SMA aku selalu duduk di bangku paling depan karena penglihatanku semakin berkurang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas jika duduk di belakang. Semua tulisan di papan tulis seolah kabur. Mungkin mereka takut jika aku menangkapnya. “Hem? Yang benar saja? Pantas kamu tidak terpesona dengan ketampananku.” Huek! Rasanya aku ingin muntah mendengarnya. “Iya! Aku beneran nggak bisa lihat jelas kalau malam.” Aku berusaha menahan diri dari keinginan untuk membalas ejekannya. Irfan tertawa kecil, suaranya terdengar jelas di tengah-tengah suasana senja yang mulai berubah gelap. Namun, aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dalam tawanya. Ada yang aneh dengan caranya memandangku, lebih tajam, lebih dingin. “Aku bisa bantuin ....” ucapnya pelan, sambil berjalan mendekat dengan langkah lambat yang terasa mengintimidasi. “Tapi ada syaratnya.” Aku menelan ludah, tenggorokanku tiba-tiba kering. “Syarat apa?” Aku berusaha terdengar tenang meskipun hatiku mulai gelisah. Dia menghentikan langkahnya tepat di depanku, senyumnya berubah dingin, sama sekali tidak seperti pria yang kutemui siang tadi. Tatapannya membuat bulu kudukku berdiri. “Syaratnya … kamu harus ikut aku dulu,” ucapnya lirih, matanya menatap dalam ke arahku. Aku terpaku. "Ikut ... ke mana?" Dia tersenyum lebar. Dalam hitungan detik, hujan yang sudah berhenti terasa semakin dingin di kulitku. Aku bergidik, dadaku mulai berdebar tak keruan. Di sini tinggal aku dan Irfan. Hanya berdua. Mau apa dia?“Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub
“Hoam!” Aku menguap berkali-kali semenjak duduk di depan computer.Rasanya aku sangat mengantuk. Semalam tidurku tak nyenyak gara-gara misteri ketukan pintu depan. Bapak dan Ibu bahkan tidak mendengarnya. Apakah ada makhluk tak kasat mata yang menggangguku? Dih! Serem!Pagi ini langit mendung. Matahari masih enggan muncul, menyisakan udara dingin yang menyusup melalui celah pintu toko. Aku sudah datang lebih awal seperti biasa, tapi Mas Herman belum terlihat batang hidungnya.Aku menyiapkan sumpah serapah untuknya. Mentang-mentang aku anak baru, dia seenaknya mempermainkan waktu. Pukul sembilan lewat, barulah dia muncul. Dengan gaya sok asik, dia membawa sebuah bingkisan di tangannya. Mau nyogok aku, pasti. Tapi aku tidak mudah dibodohi.“Pagi, Ros! Tumben sepi.” Dia masuk ke toko kemudian melepas jaketnya. “Ini ada oleh-oleh buat kamu dari Ibuk.”Jumat adalah hari pendek, sebentar lagi dia pergi jumatan. Enak sekali dia menjadi seorang laki-laki. Datang terlambat dan pulang lebih awa
Lelaki yang menabrakku memungut beberapa kertas yang jatuh tadi. Wajahnya tampak panik, terlihat jelas keringat bercucuran di pelipisnya. “Duh, malah luntur tulisannya. Bisa minta tolong diprint dan difotokopi, Mbak? Saya buru-buru ini. Sudah ditunggu sama dosen. Saya bisa mengulang tahun depan jika tidak segera membawanya ke kampus,” katanya panik.Aku melirik jam dinding. Menyebalkan sekali bukan? Lantai yang sudah kubersihkan jadi kotor lagi.“Maaf, Mas. Toko udah tutup.” Aku mencoba menjelaskan, berharap dia paham. Bagaimanapun, aku juga punya kehidupan di luar toko dan sekarang sudah waktunya pulang. “Please, Mbak. Rumah saya jauh. Dosennya juga hanya seminggu sekali ke kampus. Saya tidak bisa menunggu selama itu.”Aku mulai merasa kasihan melihatnya memohon. Sepertinya dia tidak membawa kendaraan dan berjalan dari kampus hanya demi fotokopi revisi skripsi dari dosen, tetapi aku bisa pulang terlambat jika menolongnya. “Mbak, jangan kelamaan mikir, dong! Tolong bantuin saya.”
“Mas Herman?” Aku mengernyitkan dahi. “Yups,” jawabnya. Aku belum pernah melihat perempuan ini meski sudah bekerja selama satu minggu. Apa dia pacarnya Mas Herman? Ah, ngapain juga aku pusing mikirin dia. Bukan urusanku juga mau pacarnya, selingkuhan, istri atau apa pun itu. “Mas Herman kuliah, Mbak. Bimbingan skripsi katanya.”Sebelum pergi, Mas Herman berpesan kalau dia sedang bimbingan skripsi jika ada yang mencarinya. Dia sudah sampai bab tiga dan akan segera selesai secepatnya. “Mau ambil fotokopi, Mbak?” Wanita itu menggeleng kemudian sibuk dengan ponselnya. Beberapa pelanggan sudah tak terhitung datang dan pergi dari toko ini, tetapi dia sabar menunggu meskipun Mas Herman tak kunjung pulang.“Dek, aku balik dulu, deh. Mas Herman kelamaan. Nanti bilangin suruh telepon aku, ya! Ponselnya tidak aktif.” Wanita itu akhirnya menyerah juga. Dia mengambil tasnya kemudian pergi tanpa menyebutkan nama.Hari ini toko ramai sekali. Aku bahkan tidak sempat memegang ponsel. Apalagi meno
“Kamu siapa?” tanya lelaki itu sambal mengacungkan jari telunjuknya ke arahku.Pria itu berjalan mendekat, menatap sekeliling toko sebelum mengarahkan pandangannya kembali padaku. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna biru dari tas punggungnya, lalu meletakkannya di atas meja.“Mas Herman mana?” tanyanya pelan, tapi nadanya terdengar agak mendesak.“Mas Herman belum pulang. Tapi, kalau Mas mau menitipkan sesuatu, nanti saya sampaikan.”Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu membuka map biru yang sepertinya berisi skripsi. Kertas-kertas di dalamnya penuh coretan tinta merah.“Saya baru saja selesai sidang, Mbak. Skripsi ini harus segera direvisi dan diprint ulang. Tapi, saya nggak punya waktu banyak. Saya benar-benar butuh bantuan Mas Herman,” ucapnya, suaranya terdengar frustasi.Aku mengangguk meski sebenarnya tidak begitu paham. Tapi aku sedikit tahu bagaimana susahnya revisi skripsi bagi mahasiswa yang baru selesai sidang. Bukan hal aneh kalau mereka panik dan ingin semuanya cepat se
“Mbak, fotokopi jadi 25 lembar. Diperkecil, perpanjang, bolak-balik, dan pakai kertas buram.” Seorang lelaki muda memakai jas almamater warna hijau memberikan sebuah makalah kepadaku. Pagi ini terasa panas meskipun aku sudah menghidupkan kipas angin. Mungkin mesin fotokopi ini grogi didampingi dan disentuh oleh gadis manis sepertiku. “Maaf, Mas. Kalau bolak-balik nggak bisa pakai kertas buram. Bisanya pakai kertas putih.” Aku menolak dengan halus. Kata Mas Herman aku harus bersikap santun terhadap pelanggan karena mereka adalah raja. Lagian zaman sekarang mana ada fotokopi pakai kertas buram? Bahannya sangat tipis dan sering membuat mesin reject. Aku tidak bisa mengoperasikannya jika mesin rusak. Apalagi aku baru belajar satu minggu di sini, masih sangat kaku dan belum mahir. “Biasanya sama Mas Herman bisa, Mbak,” ujar lelaki itu.Aku menggaruk kepala yang berbalut jilbab segi empat ini. Lelaki di hadapanku ini sepertinya sangat perhitungan. Padahal biasanya laki-laki itu tidak pe







