Share

Bab 7

last update Tanggal publikasi: 2026-09-05 08:30:15

“Panas banget, ya Allah!”

 

Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.

 

Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin.

 

Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin.

 

“Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.

 

Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub malam, mereka bekerja di sana sebagai pemandu karaoke.

 

Bersyukur aku masih mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa melanjutkan kuliah nantinya. Sekeras apa pun hidup, aku yakin bisa melewatinya. Allah tidak akan memberikan cobaan melampaui batas kemampuan hamba-Nya.

 

“Maaf, panas banget ini, Mas!” Aku segera memakai jilbab. Kain persegi empat yang kulipat menjadi dua bagian hingga membentuk segitiga. Kupakai asal dan menalinya di bawah dagu.  Belum selesai memakai jilbab, sudah ada pelanggan datang.

 

“Fotokopi, Mbak.” Seorang lelaki memakai jaket datang bersama turunnya air hujan.

 

“Aku mau ke kamar mandi, tolong kamu yang fotokopi!” Mas Herman lari ke belakang.

 

Aku segera ke depan menggantikan Mas Herman. “Mau fotokopi apa, Mas?” tanyaku sopan.

 

Lelaki ini terlihat tidak seperti mahasiswa, tetapi jika kupanggil ‘Pak' juga kurang pantas. Dia masih cukup muda, tapi sepertinya sudah matang. Ah mikir apa, sih, aku ini? Memangnya dia buah-buahan? Aku menggelengkan kepala.

 

“Undangan hajatan, Mbak. Tujuh hari nenek saya!” jawab lelaki di depanku sambil menunduk. Dia mengambil sebuah lembaran kertas dari dalam tasnya.

 

Tidak biasanya ada lelaki pemalu seperti ini. Biasanya mahasiswa yang fotokopi di toko ini suka menggodaku. Tidak tanggung-tanggung terkadang sampai membuatku melarikan diri ke kamar mandi.

 

“Jejer dua ini, Mas?” tanyaku memastikan.

 

“Iya, seratus lembar, ya, Mbak!”

 

Jika dia meminta fotokopi menjadi seratus lembar, maka cukup bagiku memfotokopi menjadi 50 lembar karena setiap lembar akan dipotong menjadi dua.

 

Tanpa menunggu lama segera kuselesaikan tugasku. Aku tidak lupa memotong kertas undangan tersebut menjadi dua supaya dia tidak kesusahan memotong sendiri.

 

Saat aku sedang menulis nota, tiba-tiba Mas Herman datang mengagetkanku.

“Eh, ada Pak Daren. Sudah masuk lagi, Pak?”

 

Pak Daren? Ternyata Mas Herman mengenal laki-laki ini.

 

“Alhamdulillah sudah, Mas. Banyak yang harus saya selesaikan di kampus,” jawab lelaki yang kutahu namanya Daren.

 

“Semuanya sepuluh ribu, Pak.” Aku mengikuti cara Mas Herman memanggilnya. Padahal sebelumnya aku memanggil dengan sebutan ‘Mas’.

 

Dia memberikan selembar uang kertas berwarna hijau. Aku undur diri setelah memberikan kembalian kepadanya.

 

“Duduk dulu, Pak! Hujannya deras.” Mas Herman mempersilakan lelaki itu duduk.

 

Mereka berbincang cukup lama dan aku tidak memedulikannya. Lebih baik aku kembali ke belakang untuk beristirahat. Hujan deras seperti ini pasti tidak ada pelanggan yang datang.

 

Aku memainkan ponsel membuka sosial media, tetapi hingga azan asar hujannya tidak kunjung reda. Aku segera menunaikan kewajiban supaya nanti bisa langsung pulang setelah toko tutup.

 

Aku mulai cemas karena hujan tidak kunjung reda. Lebih baik aku menghubungi Ibu supaya beliau tidak khawatir. Mereka pasti mengkhawatirkanku.

 

“Assalamu’alaikum, Bu. Maaf Rosi sepertinya pulang terlambat. Di sini hujannya tidak kunjung reda. Aku lupa bawa jas hujan, Bu.”

 

“Ya sudah, kamu pulang nanti saja kalau hujannya reda. Hati-hati jalanan licin. Nggak usah ngebut, yang penting selamat sampai rumah.”

 

“Baik, Bu. Rosi akan hati-hati.”

 

Aku menutup telepon setelah Ibu mengucapkan salam. Kulihat Mas Herman masih menemani lelaki yang fotokopi tadi. Betah sekali mereka berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, aku sama sekali tidak ingin mengetahuinya.

 

Seulas senyum terbit di bibir mengingat sebentar lagi aku akan mendaftar kuliah. Hal yang selama ini aku impikan. Kulihat mahasiswa di sini tidak ada yang spesial. Yang paling terlihat menonjol adalah cara berpakaiannya.

 

Namun, aku tidak terlalu memikirkannya. Bisa kuliah saja sudah syukur alhamdulillah. Tidak perlu neko-neko dan sok banyak gaya. Mereka tidak akan tahu kalau aku sudah menganggur selama satu tahun. Mereka pasti berpikir aku sama dengan mereka yang baru lulus sekolah.

 

Di kampus ini tidak hanya anak muda yang kuliah. Banyak juga bapak dan ibu guru yang melanjutkan kuliah karena belum memiliki gelar sarjana. Jadi, aku harus percaya diri dan tidak perlu khawatir. Bisa jadi di kelasku nanti juga ada bapak-bapak dan ibu-ibu.

 

“Ros, pulang, yuk! Hujannya sudah reda.” Mas Herman sudah bersiap-siap menutup pintu.

 

Beberapa mahasiswa terlihat sudah pulang karena hari mulai gelap. Aku membereskan toko terlebih dahulu. Mesin fotokopi dan komputer harus ditutup dengan plastik supaya tidak kebocoran dan rusak. 

 

Mas Herman membersihkan lantai depan dan teras toko, sedangkan aku membersihkan yang di dalam. Kami segera menutup pintu dan keluar setelah toko bersih.

 

“Aku balik dulu, Ros. Hati-hati jangan ngebut! Jalanan licin.” Mas Herman memperingatiku sebelum menjalankan motornya.

 

Kulihat jam di ponsel menunjukkan pukul 16.20. Mahasiswa kelas siang pasti belum pulang, tetapi mahasiswa kelas pagi sudah tidak terlihat batang hidungnya.

 

Aku segera memakai helm kemudian menghidupkan motor, tetapi mesinnya malah tidak bisa hidup. Mampus aku! Sepertinya businya mati terkena air hujan. Mana jauh lagi bengkelnya. Di sini tidak ada bengkel. Kunci ruko sudah dibawa Mas Herman karena dia katanya pulang melewati rumah Pak Bos.

 

Rasanya aku ingin menangis. Kupikir hujannya tidak terlalu deras dan motorku aman. Ternyata businya terkena air. Tamat sudah riwayatku.

 

Aku mondar-mandir mencari ide supaya bisa pulang sebelum Maghrib. Namun, otakku seakan berhenti bekerja di saat lapar seperti ini. Lebih baik aku segera menghubungi Mas Herman, semoga dia belum sampai di rumah. Aku bisa meminta tolong untuk mengantarkanku pulang.

 

Namun, belum sempat aku menelepon, seorang laki-laki memakai jaket almamater turun dari motor ninja. Saat dia membuka helm, aku dibuat terkejut olehnya. Dia adalah lelaki yang tadi siang membuatku merasa sangat malu.

 

“Hai, Ros. Belum pulang?” tanyanya santai.

 

“Belum, motorku mati. Bisa tolong bantuin aku?”

 

Di saat seperti ini aku harus mengesampingkan gengsi. Biar pun dia lelaki menyebalkan, Irfan pasti mau menolongku.

 

Namun, ada yang berbeda. Dia tidak seperti Irfan yang kutemui tadi siang. Dia terlihat lebih angkuh.

 

“Minta tolong?” dia mengerutkan kening.

 

“Bisa antarkan aku ke bengkel? Motorku businya mati. Aku tidak berani pulang jika sudah malam. Mataku sedikit minus, aku bisa menabrak orang jika berkendara di malam hari.”

 

Semenjak SMA aku selalu duduk di bangku paling depan karena penglihatanku semakin berkurang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas jika duduk di belakang. Semua tulisan di papan tulis seolah kabur. Mungkin mereka takut jika aku menangkapnya.

 

“Hem? Yang benar saja? Pantas kamu tidak terpesona dengan ketampananku.”

 

Huek! Rasanya aku ingin muntah mendengarnya.

 

“Iya! Aku beneran nggak bisa lihat jelas kalau malam.” Aku berusaha menahan diri dari keinginan untuk membalas ejekannya.

 

Irfan tertawa kecil, suaranya terdengar jelas di tengah-tengah suasana senja yang mulai berubah gelap. Namun, aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres dalam tawanya. Ada yang aneh dengan caranya memandangku, lebih tajam, lebih dingin.

 

“Aku bisa bantuin ....” ucapnya pelan, sambil berjalan mendekat dengan langkah lambat yang terasa mengintimidasi.

 

“Tapi ada syaratnya.”

 

Aku menelan ludah, tenggorokanku tiba-tiba kering. “Syarat apa?” Aku berusaha terdengar tenang meskipun hatiku mulai gelisah.

 

Dia menghentikan langkahnya tepat di depanku, senyumnya berubah dingin, sama sekali tidak seperti pria yang kutemui siang tadi. Tatapannya membuat bulu kudukku berdiri.

 

“Syaratnya … kamu harus ikut aku dulu,” ucapnya lirih, matanya menatap dalam ke arahku.

 

Aku terpaku. "Ikut ... ke mana?"

 

Dia tersenyum lebar. Dalam hitungan detik, hujan yang sudah berhenti terasa semakin dingin di kulitku. Aku bergidik, dadaku mulai berdebar tak keruan.

 

Di sini tinggal aku dan Irfan. Hanya berdua. Mau apa dia?

 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Fotokopi   Bab 12

    Dosen kami mulai berbicara, memperkenalkan dirinya dengan suara yang tegas“Baik, perkenalkan nama saya Daren Wijayatno. Usia 30 tahun, tinggal di Pati Kidul. Saya akan mengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan semester ini. Sebelum mulai, saya akan absen dulu. Sebutkan nama panggilan dan alamat kalian, ya,” katanya sambil tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih terlihat agak kaku.“Baik, Pak!” jawab kami serempak.Aku menatapnya sambil berpikir, Jadi benar, dia dosennya. Tidak heran kalau Mas Herman dulu memanggilnya dengan sebutan "Pak". Saat di toko fotokopi, dia terlihat jauh lebih santai dan banyak bicara, terutama dengan Mas Herman. Tapi di sini, dia terlihat lebih serius. Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa sekarang aku adalah mahasiswanya.Saat namaku disebut dalam absen, jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar suara datarnya."Rosi, sepertinya kita pernah bertemu, ya?" tanyanya tiba-tiba.Mataku melebar sedikit, tapi aku buru-buru menggeleng. “Tidak, Pak. Mungkin Ba

  • Gadis Fotokopi   Bab 11

    Lelaki itu tersenyum seperti biasanya. Senyum yang mampu membuat hatiku bergetar. Astaga! Aku menggelengkan kepala. Tidak sepantasnya aku mengharapkannya. Aku tidak pantas untuknya. Perbedaan kasta yang cukup jauh membuatku sadar siapa diriku. Dia hanya membual saja, aku tidak boleh terlena.“Herman dah pergi?” tanyanya kemudian duduk di kursi depan meja toko.“Udah, baru aja.”“Kenapa nggak bales pesanku?” tanyanya lagi. Dia meletakkan kedua tangannya di meja. Menatapku cukup lama hingga membuatku salting. Menyebalkan sekali dia.“Maaf, aku baru aja lihat ponsel. Dari tadi toko rame.”Sejenak kemudian dia diam, tetapi matanya menatapku terus hingga membuatku risih. Akhirnya aku pergi ke belakang meninggalkannya.“Kenapa pergi? Jangan menghindar, Ros! Aku bela-belain ke sini malah ditinggal.”“Aku tidak menghindar. Tidak baik kita berduaan di toko seperti ini.”Irfan memutar bola matanya malas. “Bukankah setiap hari kamu selalu berduaan dengan Herman?”“Beda lagi kasusnya! Mas Herman

  • Gadis Fotokopi   Bab 10

    Pagi ini aku bersiap berangkat bekerja. Bapak sudah memanaskan motor karena akan mengantarkanku. Aku tidak membawa bekal makan karena sudah sarapan.“Buruan, Ros! Nanti kamu terlambat, loh!” ujar Bapak dari depan rumah.Aku hendak keluar rumah, tetapi kuurungkan kala mendengar suara motor gede berhenti di depan rumah. Aku menepuk jidat. Apakah Irfan datang menjemputku?Aku mengintip dari jendela. Benar saja Irfan melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Bapak sepertinya sudah mengetahui jika kedatangan lelaki itu untuk menjemput putrinya.“Assalamu’alaikum, Pak. Rosi masih di rumah?” tanya Irfan.Bukannya menjawab, bapak malah balik bertanya. “Kamu siapa? Berani-beraninya deketin anak saya!”“Saya Irfan, temannya Rosi. Mau anterin Rosi buat ambil motor di bengkel,” jawab Irfan.Bapak diam dan tidak menjawab. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Saya akan mengantarkannya.”“Terus bagaimana ambil motornya? Bapak mau ikut sekalian?” Irfan terlihat bingung, dia menggaruk-garuk bela

  • Gadis Fotokopi   Bab 9

    “Kamu kedinginan?” tanya Irfan. Aku pun mengangguk.Usai hujan turun langit kembali cerah menyisakan udara dingin. Sisa air hujan masih menggenang di jalan yang berlubang. Aku tidak membawa jaket karena tadi pagi buru-buru. Mas Herman bilang datang terlambat sehingga aku harus datang lebih awal ke rumah Pak Bos terlebih dahulu mengambil kunci.Irfan melepaskan jas almamater dan memakaikannya padaku. Aku mendongak menatapnya. Dia sangat tinggi, sedangkan aku hanya sedadanya.Aku speechless dibuatnya. Baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Kayak nonton film drakor rasanya, aku yang jadi tokoh utama. Aku bukanlah wanita yang sempurna, cantik di bawah standar, miskin pula. Apa yang bisa kubanggakan?Irfan menjalankan motornya dengan pelan. Rumahku sudah dekat, sebentar lagi sampai.“Makasih sudah mau nganterin aku.” Aku berhenti di pinggir jalan, bukan di depan rumah. Aku takut Bapak marah.“Sama-sama,” ucapnya, tapi kenapa dia tidak lekas pergi?Aku tidak mungkin mena

  • Gadis Fotokopi   Bab 8

    "Ikut ... ke mana? Udah sore, aku nggak boleh pulang terlalu malam.”“Aku lapar, temenin jajan, ya!” ucapnya sambil duduk di motorku dan mencoba menghidupkan mesinnya.Aku tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaanya. Hanya dia orang yang kukenal di sini selain Mas Herman. Kurasa dia bisa dipercaya meskipun terlihat sedikit genit.“Kalau kamu beneran minus, kenapa enggak pakai kacamata? Bahaya loh! Apalagi kalau mendung begini, semua terasa gelap bukan?”“Aku belum ada uang untuk membeli kacamata. Yang paling penting aku masih bisa melihat wajahmu dari kejauhan.” Aku menutup mulutku sendiri, bisa-bisanya keceplosan.“Ngomong apa barusan?” tanyanya sambil menatapku serius.“Eh enggak! Aku nggak ngomong apa-apa. Kamu salah denger.”“Yakin?” tanyanya memastikan.“Iya, anggap saja kamu salah dengar.”Dia turun dan mulai mengecek busi motor, sejenak kemudian dia berdiri. “Aku antar kamu pulang aja. Nanti biar temanku yang urus motormu. Butuh waktu lama jika sampai ke bengkel.”Beng

  • Gadis Fotokopi   Bab 7

    “Panas banget, ya Allah!” Aku menggunakan kertas karton sisa sebagai kipas karena kipas angin tak cukup untuk digunakan berdua. Kipas meja yang kecil sudah dikuasai Mas Herman sehingga aku harus mengalah.Siang ini langit gelap tertutup awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Hawa panas sangat terasa di ruangan berukuran 4x6 meter ini. Aku menuju ke ruang belakang toko, melepas jilbab dan menghidupkan kipas angin. Kamar di belakang ruko ini lebih nyaman dibandingkan dengan toko. Luasnya memang tidak seberapa, tetapi sangat cocok untuk bersantai. Ada sebuah kasur lantai, televisi dan kipas angin. “Astaghfirullah, Rosi! Kamu kok lepas jilbab.” Mas Herman terkejut melihatku duduk di depan kipas angin tanpa jilbab. Dia segera mengalihkan pandangan.Padahal dia sudah terbiasa melayani pembeli yang hanya memakai tangtop. Kemarin aku tanpa sengaja melihat dua wanita cantik dibonceng oleh seorang lelaki. Mereka memakai baju yang kurang bahan. Kudengar di dekat sini ada sebuah klub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status